NovelToon NovelToon
Dua Kesayangan CEO Dingin

Dua Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ra za

Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Menepati Janji

Tak terasa, sudah sebulan Vara bekerja di Perusahaan Wisesa. Hubungannya dengan Luna semakin dekat. Hampir setiap hari, sepulang sekolah Luna akan meminta diantar langsung ke perusahaan. Bukan Arga yang ingin ia temui melainkan Vara, wanita yang selalu membuat nya bahagia.

“Kak Vara!” panggil Luna ceria begitu memasuki ruangan Vara.

Vara yang sudah hafal betul kebiasaan itu langsung menghampiri gadis kecil tersebut.

“Luna sudah sampai? Om Arga sudah tahu?” tanya Vara lembut.

Luna menggeleng.

“Belum. Luna langsung ke sini dulu.”

“Kalau begitu, Luna ke ruangan Om Arga, ya,” ucap Vara sambil tersenyum.

“Nanti Om Arga mencarimu.”

Vara lalu mengambil sebuah kotak kecil.

“Ini kue yang Luna mau.”

“Terima kasih, Kak!” seru Luna senang.

“Luna ke ruangan Om dulu!”

"Ia hati-hati." Pesan Vara.

Luna segera keluar dari ruangan Vara dan menuju lift untuk naik keruangan Om nya.

“Om!” panggil Luna begitu masuk ke ruangan Arga.

Arga yang tengah fokus memeriksa email di layar laptopnya langsung menoleh.

“Luna, kenapa baru sampai?” tanya Arga sambil menutup laptop.

“Dan itu apa yang kamu bawa?”

“Tadi Luna ke tempat Kak Vara dulu, Om,” jawab Luna ceria.

“Ini kue buatan Kak Vara.” Ucap Luna sambil mengangkat kotak kecil itu.

Luna berjalan menuju sofa, duduk manis, lalu membuka tutup kotak kue. Aroma cokelat langsung menyebar memenuhi ruangan.

“Eeemm… enak!” ucap Luna setelah menggigit kue tersebut.

Arga melirik sekilas.

“Om mau,” ucapnya singkat.

Luna mendekat sambil mengulurkan kue.

“Ayolah, Om. Sedikit saja.”

“Tidak,” jawab Arga,

Luna tak menyerah.

“Cuma satu gigitan. Kak Vara buatnya pakai cokelat kesukaan Om.”

Arga menghela napas, lalu akhirnya mengambil sedikit.

“Sedikit saja.”

Beberapa detik kemudian, Arga mengambil lagi.

“Katanya tidak mau,” goda Luna sambil tersenyum lebar.

Arga berdeham.

“Ini… hanya memastikan rasanya.”

Luna terkekeh.

“Tuh kan. Katanya tidak mau, tapi sekali makan tidak cukup satu.”

Arga mendengus pelan, namun tak membantah.

Setelah suasana sedikit tenang, Luna menatap Arga dengan wajah serius.

“Om, Luna mau tanya,” ucapnya pelan.

“Apa?” jawab Arga santai.

“Om punya perasaan suka sama Kak Vara, nggak?”

Arga langsung tersedak.

“Apa-apaan, Luna!” serunya.

“Kamu itu masih kecil. Tahu apa tentang perasaan?”

“Iya sih, Luna memang nggak tahu pasti,” jawab Luna jujur.

“Tapi dulu Luna pernah dengar Tante Julia sering bilang kalau dia suka Om Arga.”

Wajah Arga langsung berubah.

“Sudah. Jangan bahas itu lagi,” ucapnya tegas

“Om mau kerja.”

Luna mengangguk pelan, meski matanya masih menyimpan rasa penasaran. Ia kembali memakan kuenya, sementara Arga kembali menatap layar laptop, meski pikirannya tak lagi sepenuhnya di sana.

---

Tak terasa, jam pulang kantor telah tiba. Satu per satu karyawan berkemas dan meninggalkan Perusahaan Wisesa untuk kembali ke rumah masing-masing.

Begitu pula dengan Arga dan Luna. Tak ketinggalan Erick yang ikut pulang bersama sahabatnya dan keponakan kecil yang selalu berhasil membuat suasana menjadi lebih hidup.

Saat Vara keluar dari lift, tepat di waktu yang sama Luna juga melangkah keluar. Begitu melihat sosok yang dikenalnya, mata Luna langsung berbinar.

“Kak Vara!” panggil Luna nyaring.

Vara segera menoleh dan menghentikan langkahnya.

“Luna,” ucapnya sambil tersenyum hangat.

“Kak Vara mau langsung pulang?” tanya Luna sambil menghampiri.

“Iya. Kakak mau langsung pulang,” jawab Vara lembut.

“Ayo, kita keluar bareng.”

Tanpa sadar, Vara menggandeng tangan Luna. Luna pun menurut dengan senang hati, bahkan lupa menoleh ke arah Om nya

“Hm… kebiasaan. Kalau sudah ketemu Vara, Om nya langsung dilupakan,” gumam Arga dari belakang.

“Menurutku, Vara cocok jadi Tante Luna,” celetuk Erick santai.

Arga langsung menoleh tajam. Tatapan itu membuat Erick refleks nyengir, meski dalam hati ia tahu ucapannya bukan sepenuhnya candaan.

Mereka pun menyusul dua perempuan beda generasi itu menuju parkiran.

“Kak, nanti kita jalan-jalan lagi, ya,” pinta Luna begitu sampai diparkiran.

“Iya, nanti kita jalan-jalan lagi,” jawab Vara.

“Sekarang Kak Vara pulang dulu.”

“Om, kita antar Kak Vara pulang dulu, ya,” pinta Luna begitu Arga berdiri di sisi mobil.

Arga terdiam sejenak.

Belum sempat ia menjawab, Vara lebih dulu angkat suara.

“Tidak usah, Luna. Kak Vara pulang bareng Kak Nita saja. Lagi pula kak Vara mau cari sesuatu dulu."

Luna menghela napas kecil.

“Iya deh, Kak. Kak Vara pulangnya hati-hati, ya.”

Lalu dengan wajah serius khas anak kecil, Luna menambahkan,

“Kalau ada yang ganggu Kak Vara, bilang ke Om. Biar nanti Om yang kasih pelajaran.”

Vara makin merasa tidak enak.

Ucapan anak ini lama-lama makin ke mana-mana, batinnya.

Sementara itu, Erick dan Nita hanya bisa menahan senyum.

“Ayo, Luna. Kita pulang,” ujar Arga cepat, tak ingin keponakannya makin ngelantur.

Luna pun menurut dan masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil itu melaju meninggalkan area parkir.

Vara menatap punggung mobil itu sejenak sebelum akhirnya melangkah menuju halte bus yang jaraknya tak terlalu jauh dari kantor.

Di tengah jalan, Nita menyenggol lengan Vara iseng.

“Aku yakin Luna ingin kamu jadi tantenya. Dan jujur saja, kamu memang cocok sama Tuan Arga.”

“Kamu jangan ngomong yang aneh-aneh,” sahut Vara cepat.

“Sudah, ayo jalan. Nanti ketinggalan bus.”

---

Sore itu Vara kembali ke rumah dengan perasaan bahagia, karena. Hari ini bukan hari biasa, ini hari pertama ia menerima gaji dari hasil jerih payahnya sendiri.

Selesai mandi dan berganti pakaian, Vara bersiap untuk keluar lagi. Malam ini Vara ingin menunaikan janjinya pada Mona. Gadis yang selama ini selalu membantunya, memberinya tempat tinggal sementara, dan menguatkannya saat ia berada di titik terendah.

Tepat di jam yang disepakati, ponsel Vara berdering.

“ Vara aku sudah di depan,” suara Mona terdengar dari seberang.

"Ia Mon, tunggu sebentar aku keluar."

Begitu mobil jalan, Vara segera mengatakan tempat yang akan mereka datangi. Mona pun segera melaju. Tak berapa lama mereka pun tiba di sebuah restoran yang cukup nyaman tidak terlalu mewah, namun jelas bukan tempat makan sederhana.

“Ra, kamu yakin mau makan disini?" Tanya Mona ragu begitu melihat nama restoran itu.

“Yakin,” jawab Vara tegas namun tetap lembut.

“Ini bentuk terima kasihku. Ini pun tidak sepadan dengan apa yang telah kamu lakukan pada ku."

Mona menatap Vara beberapa detik, lalu tersenyum kecil.

“Ya sudah. Terserah kamu, yang pasti apa pun yang aku lakukan itu ikhlas." Ucap Mona terharu.

Mereka masuk dan duduk di sudut restoran.

Namun tanpa Vara sadari, di sisi lain restoran itu duduk dua orang yang sama-sama terkejut melihat keberadaannya.

"Kenapa dia bisa ada di sini? Kenapa dia terlihat… baik-baik saja?"

Kiran menatap Vara dengan rahang mengeras. Ada rasa tidak suka, bercampur cemburu dan amarah yang belum sepenuhnya padam.

Di depan nya, Jansen juga menatap Vara. Tatapannya begitu sulit diartikan.

1
merry
ia pgl om ikutan pglnn Luna 😄😄😄 biasa knn bgtuu ibu iktinn ank ya pgl om kcuali dblkng ank br pgl nama 😄😄😄
Ranasela
seruu banget kakm😍
erviana erastus
pasti si julia
erviana erastus
batas cinta ya om 🤭
erviana erastus
maksud bertopeng kan persahabatan 🤣 satu keluarga matre
Rian Moontero
lanjoooott👍👍😍
erviana erastus
habis kau jalang
erviana erastus
giliran ada yg tulus sama luna dicurigai lah yg kek julia dipercaya ... kekx kecelakaan kakax arga ulah bapakx julia 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!