Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: PILIHAN TERAKHIR (THE SACRIFICE CHOICE)
Hanggar itu berbau ozon dan kematian yang sunyi. Di tengah ruangan, Elara terikat di sebuah kursi medis logam, kepalanya terhubung dengan lusinan kabel yang berpendar biru elektrik. Matanya terbuka lebar, namun pupilnya bergetar hebat—ia sedang dipaksa masuk ke dalam fase overdrive sistem Silk.
"Satu menit lagi, Elara," bisik Kael, jemarinya menari di atas layar kendali. "Setelah ini, kau tidak akan lagi merasakan perihnya kenangan. Kau akan menjadi murni. Senjata yang paling indah."
BRAK!
Pintu hanggar terbuka paksa. Julian berdiri di sana, terengah-engah, tubuhnya basah kuyup dan penuh luka. Ia tidak lagi terlihat seperti pewaris Moretti yang angkuh; ia terlihat seperti pria yang sudah kehilangan segalanya dan tidak punya apa pun lagi untuk ditakuti.
"Lepaskan dia, Kael!" raung Julian. Suaranya serak, pecah oleh amarah dan keputusasaan.
Kael tidak terkejut. Ia perlahan berbalik, memutar sebuah sakelar kecil di tangannya. "Kau datang tepat waktu untuk pemutaran perdana, Julian. Tapi aku punya kabar buruk. Sistem Silk di otaknya sudah mencapai titik kritis. Jika aku menghentikannya sekarang secara paksa, otaknya akan hangus."
Julian melangkah maju, namun Kael menekan sebuah tombol yang membuat Elara berteriak kesakitan saat lonjakan listrik kecil menghantam sarafnya. Julian berhenti seketika. "Jangan... kumohon, jangan sakiti dia lagi."
"Ada satu cara untuk mengalihkan beban datanya," Kael tersenyum licik, matanya berkilat penuh kegilaan. "Sistem ini butuh host biometrik Moretti untuk menerima sisa enkripsi yang rusak. Jika kau menghubungkan dirimu ke terminal itu, beban sistem di otak Elara akan berpindah padamu."
Kael menunjuk ke sebuah kursi kosong di sebelah Elara yang dilengkapi dengan jarum-jarum saraf.
"Tapi kau tahu konsekuensinya, kan, Julian?" Kael melanjutkan dengan nada meremehkan. "Sistem sarafmu tidak memiliki modifikasi seperti Elara. Kau akan mengalami pendarahan otak dalam hitungan menit. Kau akan menyelamatkannya, tapi kau akan mati sebagai orang asing yang bahkan tidak ia ingat namanya."
Julian menatap Elara. Wanita itu menatapnya balik, air mata mengalir dari matanya yang bergetar. Dalam keremangan itu, Elara membisikkan satu kata yang membuat jantung Julian berhenti sejenak.
"J... per... gi..."
Elara masih ingat nama samaran itu. Meski memorinya hancur, instingnya masih mencoba melindungi pria yang ia labeli sebagai "penipu".
Julian memejamkan matanya sejenak. Ia teringat janji yang ia buat sepuluh tahun lalu—bahwa ia akan menjadi perisai bagi Elara, apa pun taruhannya.
"Lakukan," ucap Julian tegas. Ia melangkah menuju kursi medis itu tanpa ragu sedikit pun.
"Julian, jangan!" Elara meronta, namun kabel-kabel itu menahannya. "Kau akan mati!"
"Lebih baik aku mati agar kau bisa mengingat siapa dirimu yang sebenarnya, Elara," jawab Julian, suaranya kini tenang, penuh kedamaian yang mengerikan. "Daripada aku hidup melihatmu menjadi boneka tanpa jiwa."
Julian duduk di kursi itu. Kael segera memasangkan perangkat saraf ke pelipis Julian.
"Selamat tinggal, Julian Moretti," bisik Kael.
DET.
Rasa sakit yang belum pernah dirasakan manusia sebelumnya menghantam Julian. Ia merasa seolah-olah ribuan jarum panas ditusukkan ke dalam otaknya sekaligus. Ia berteriak, tubuhnya mengejang hebat saat data-data korup dari chip Elara mulai mengalir masuk ke dalam sistem sarafnya yang rapuh.
Bersamaan dengan itu, cahaya merah di mata Elara mulai memudar, berganti menjadi warna biru yang jernih. Beban di kepalanya menghilang. Bayangan-bayangan palsu dari Kael runtuh satu per satu, digantikan oleh arus memori asli yang membanjir kembali.
Elara melihat semuanya.
Ia melihat Julian yang melindunginya di laboratorium.
Ia melihat Julian yang menangis saat memberikan mawar di studio.
Ia melihat Julian yang rela dihancurkan oleh Dewan hanya agar ia bisa bebas.
"Julian!" teriak Elara, suaranya kini penuh dengan pengenalan dan cinta yang menyayat hati. "Aku ingat! Aku ingat semuanya! Julian, hentikan! Jangan lakukan ini!"
Julian membuka matanya yang mulai memerah karena pendarahan kecil di pembuluh darah matanya. Ia menatap Elara, mencoba memberikan satu senyum terakhir. Mulutnya bergerak tanpa suara, mengucapkan kata-kata yang hanya bisa dibaca dari gerak bibirnya:
“Aku... tidak... menyesal.”
Kepala Julian terkulai. Mesin itu berbunyi panjang, menandakan beban data telah selesai berpindah sepenuhnya, menghancurkan sisa-sisa kesadaran Julian.
Kael tertawa puas, namun tawa itu terhenti saat Elara, dengan kekuatan yang didorong oleh amarah murni, berhasil memutuskan kabel-kabel di tangannya. Matanya kini bersinar dengan intensitas yang menakutkan—bukan karena teknologi, tapi karena dendam.
"Kau..." Elara berdiri, menatap Kael dengan kebencian yang bisa membakar seluruh isi hanggar itu. "Kau akan membayar untuk setiap detak jantungnya yang kau curi."
Di kursi medis itu, Julian diam tak bergerak. Napasnya sangat tipis, nyaris tak ada. Ia telah memberikan segalanya. Dan sekarang, Elara adalah satu-satunya pelindung yang tersisa.