NovelToon NovelToon
2 Hari 1 Malam

2 Hari 1 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kriminal
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: M. A. K

Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.

Kecuali Karina.

Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.

Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24 - Permainan

Pesan itu datang pukul 22.13.

Tidak ada nomor pengirim.

Tidak ada identitas.

Hanya satu kalimat.

Permainan ini belum selesai.

Karina tidak langsung membalas.

Ia membiarkan layar ponselnya menyala beberapa detik lebih lama dari biasanya, seolah memberi ruang pada kalimat itu untuk kehilangan maknanya.

Permainan.

Ia membaca ulang kata tersebut.

Kasus ini bukan permainan.

Ini rangkaian pembunuhan.

Ini investigasi.

Ini prosedur hukum.

Tapi orang yang mengirim pesan itu memilih kata yang berbeda.

Dan pilihan kata selalu mencerminkan struktur pikir.

Karina membuka laptopnya, menuliskan satu kata di tengah layar kosong:

Permainan.

Lalu ia mulai membedahnya.

Permainan memiliki aturan.

Permainan memiliki pemain.

Permainan memiliki tujuan.

Permainan memiliki penonton.

Ia berhenti di poin terakhir.

Penonton.

Jika ini permainan, maka seseorang sedang menonton.

Dan jika seseorang sedang menonton, maka setiap langkah memiliki makna lebih dari sekadar hasil.

Ia tidak merasa takut.

Ia merasa tertarik.

Di kantor keesokan harinya, suasana tetap stabil.

Media sudah tidak agresif.

Arga masih ditahan.

Tidak ada korban baru.

Semua terlihat seperti akhir dari sesuatu.

Namun bagi Karina, akhir selalu terlalu rapi.

Ia memanggil timnya untuk rapat singkat.

“Kita tidak akan memperlambat ritme hanya karena situasi terlihat tenang,” katanya datar.

Salah satu anggota tim mengangkat tangan.

“Bukannya ini justru waktu untuk konsolidasi, Bu?”

“Tenang bukan berarti selesai.”

Ia tidak menjelaskan lebih jauh.

Ia hanya mengalihkan layar presentasi ke bagan alur komunikasi media.

“Jika seseorang menyebut ini permainan,” lanjutnya, “berarti dia melihat pola. Kita pastikan tidak ada celah yang bisa ia manfaatkan.”

Kalimat itu terdengar profesional.

Strategis.

Tidak ada yang menyadari bahwa ia sedang menjawab pesan yang tidak mereka ketahui.

Siang itu, ia kembali menemui Arga.

Bukan untuk mencari pengakuan.

Bukan untuk menekan.

Ia ingin menguji satu hal.

“Menurutmu,” katanya tanpa membuka map, “kenapa seseorang menyebut kasus ini permainan?”

Arga menatapnya lama.

“Karena dia tidak melihat manusia di dalamnya.”

“Semua pelaku seperti itu,” jawab Karina cepat.

“Tidak,” Arga menggeleng pelan. “Yang ini berbeda. Dia ingin kamu sadar.”

“Sadar akan apa?”

“Bahwa kamu sedang berada di papan yang dia susun.”

Karina diam beberapa detik.

Bukan karena tersentak.

Tapi karena menganalisis struktur kalimat Arga.

Papan yang dia susun.

Jika memang ada papan, maka ada titik awal.

Dan jika ada titik awal, berarti ada logika desain.

Ia berdiri tanpa emosi.

“Kamu terlalu banyak berasumsi.”

“Tapi kamu tidak menyangkalnya,” balas Arga pelan.

Karina tidak menjawab.

Ia tidak merasa perlu.

Malamnya, pesan kedua datang.

Kamu cepat belajar.

Ia membaca tanpa perubahan ekspresi.

Belajar.

Itu kata yang lebih menarik.

Belajar berarti ada proses.

Belajar berarti ada pengamatan.

Belajar berarti ada kurikulum.

Ia mengetik balasan singkat.

Belajar selalu dua arah.

Beberapa detik kemudian balasan muncul.

Tepat.

Hanya itu.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada lokasi.

Tidak ada tuntutan.

Karina mematikan ponselnya.

Ia berdiri di dekat jendela apartemennya, memandang kota yang tenang.

Jika ini permainan, maka ia tidak akan memainkannya secara reaktif.

Ia akan memetakan strukturnya.

Ia mulai menyusun kemungkinan:

Jika pelaku menganggapnya pemain utama, maka setiap keputusan yang ia ambil sedang dinilai.

Jika ia dinilai, maka kesalahan kecil akan diperbesar.

Berarti ia tidak boleh ragu.

Ragu adalah celah.

Dan ia tidak menyukai celah.

Keesokan harinya, seorang saksi tambahan menunjukkan inkonsistensi kecil dalam keterangannya.

Biasanya Karina akan memberinya waktu.

Hari itu tidak.

Ia duduk berhadapan dan berkata pelan,

“Ketidakkonsistenan selalu muncul ketika seseorang mencoba melindungi sesuatu.”

Saksi itu gugup.

“Saya tidak—”

“Kita tidak sedang membicarakan benar atau salah,” potong Karina tenang. “Kita sedang membicarakan pola.”

Ia menekan dengan presisi.

Tidak keras.

Tidak emosional.

Hanya terstruktur.

Dua puluh menit kemudian, saksi itu kembali pada versi awal.

Saat keluar ruangan, salah satu juniornya berkata pelan,

“Cara Ibu tadi… berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

“Lebih… tajam.”

Karina mengangguk kecil.

“Tajam lebih efisien.”

Ia berjalan tanpa menunggu respons.

Sore itu ia membuka kembali catatan lamanya.

Beberapa istilah terasa familiar.

Ambang runtuh.

Isolasi sosial.

Efek tekanan berulang.

Ia menyadari sesuatu yang aneh.

Ia tidak sedang meniru siapa pun.

Ia hanya menggunakan metode yang terbukti efektif.

Efektivitas tidak punya moral.

Ia hanya punya hasil.

Dan hasil adalah yang terpenting.

Bukan?

Pesan ketiga datang dua hari kemudian.

Kamu sudah mulai memahami aturannya.

Karina membaca perlahan.

Ia tidak membalas.

Ia justru menuliskan satu kalimat di buku catatannya:

Jika ini permainan, maka tujuan akhirnya bukan korban.

Tujuan akhirnya adalah perubahan.

Ia menatap kalimat itu cukup lama.

Lalu menutup buku.

...****************...

Di tempat lain, seseorang mematikan layar monitor.

Ia tidak tersenyum lebar.

Tidak tertawa.

Ia hanya mengamati laporan perkembangan kasus dan potongan konferensi pers terbaru.

Karina berbicara lebih singkat.

Lebih presisi.

Lebih dingin.

Tidak ada kesalahan.

Tidak ada emosi berlebihan.

Ia berkembang.

Dan perkembangan itu bukan dipaksakan.

Ia memilihnya.

Itulah bagian terpenting dari permainan.

Subjek yang berkembang karena percaya itu adalah keputusannya sendiri.

...****************...

Malam itu, sebelum tidur, Karina berdiri di depan cermin.

Ia tidak melihat bayangan sebagai musuh.

Ia melihatnya sebagai strategi.

Jika seseorang sedang mengujinya, maka ia akan memastikan hasilnya tidak mengecewakan.

Bukan untuk pembuktian.

Bukan untuk ego.

Tapi karena ia tidak pernah menyukai kekalahan.

Ia mematikan lampu.

Kota tetap tenang.

Tidak ada sirene.

Tidak ada headline baru.

Semuanya stabil.

Namun di dalam stabilitas itu, sesuatu telah bergeser.

Bukan pada kasusnya.

Bukan pada pelakunya.

Tapi pada cara Karina memandang permainan yang mungkin tidak pernah ia sadari telah ia masuki.

Dan yang paling berbahaya—

Ia tidak merasa sedang dipaksa bermain.

Ia merasa sedang memahami aturan.

1
Amelia
Bab ini sangat menegangkan 😢
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y
Amelia
😱😱😱😱😱
Amelia
😱😱😱
Amelia
Udah terjawab. Jangan tamat dl dong
Amelia
Dari awal emang udah curiga sama orang ini. Semangat thor
Amelia
Antono😱
Amelia
Semangat ya author 👍
Amelia
Semangat up thor👍
Emily
Alur ceritanya seru. Penulisan juga udah rapi, kata2nya hampir nggak ada yg typo. Semangat ya
Delyana.P
Terjawab sudah. ternyata tebakan ku benar siapa yg jahat thor 😂 Karina ibumu dalam bahaya, buruan selamatkan 🤔
Dinda Wei
Next
Dinda Wei
Aduhh masih juga mikir Agra pelakunya. keburu kamu yang di gorok Antono 😂 aku ngarah ya sipelaku ya Antono 🤔
Dinda Wei
Polisinya persis di Konoha, mudah terkecoh wkwk
Dinda Wei
Kayaknya sengaja bikin agra di tahan trus pelaku bebas ngancem karin. artinya yg di buru pelaku itu ya karin, korban2 itu hanya pengalihan
Amiera Syaqilla
semangat author
Amelia
Agra harus bebas, takut banget Karina di habisin psikopat gila
Dinda Wei: yup 👍
total 1 replies
Amelia
Agra harus di lepas. Bisa jd skenario pelaku buat ngabisin karina. Jd nggak ada yg bantu karin. Waspada lah karinaa
Amelia
Kok aku curiga sama atasan karina ya. Mencurigakan 🤔
Dinda Wei: sepemikiran. Antono mencurigakan
total 1 replies
Amelia
Hati2 Karina, pembunuh sebenarnya masih berkeliaran di luar sana. Kamu pasti masuk targetnya juga
Dinda Wei: iya takut banget, pelakunya nyasar ke kariin😡
total 1 replies
Amelia
Next 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!