NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Tirai Luka

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden sutra di mansion Arkananta tidak membawa kehangatan yang biasa bagi Alana. Setelah badai besar di pesta ulang tahun Tuan Besar Arkananta semalam, suasana rumah megah itu justru terasa semakin mencekam dalam kesunyian yang dingin. Kevin telah diusir, namanya dihapus dari silsilah ahli waris, namun kemenangan itu menyisakan rasa getir yang pekat di pangkal tenggorokan Alana.

Alana duduk di depan meja rias, menatap bayangannya sendiri. Di lehernya masih tertinggal bekas kemerahan samar akibat kalung zamrud yang terlalu berat—simbol takhta yang ia pinjam. Namun, yang lebih menyiksanya bukanlah beban perhiasan itu, melainkan ingatan tentang tatapan mata Elena di lorong hotel semalam. Mata yang seharusnya identik dengan miliknya, namun kini memancarkan kebencian yang begitu murni.

Pintu kamar terbuka. Arkan masuk tanpa mengetuk, masih mengenakan kemeja hitam dari semalam dengan kancing atas yang terbuka. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang nyata, namun otoritasnya tidak berkurang sedikit pun.

"Dia sudah stabil," ucap Arkan tanpa basa-basi. "Tim dokter telah memindahkannya kembali ke paviliun rahasia dengan pengamanan tiga lapis. Tidak akan ada lagi insiden seperti semalam. Kevin tidak akan bisa menjangkaunya lagi."

Alana bangkit, membalikkan badannya menghadap Arkan. "Tapi dia sudah bangun, Tuan. Elena sudah sadar sepenuhnya. Dia melihatku... dia melihatku memakai gaunnya, perhiasannya, dan berada di sampingmu. Bagaimana kita bisa terus menyembunyikan ini darinya?"

Arkan melangkah mendekat, langkahnya berat. "Dia tidak punya pilihan, Alana. Begitu juga kau. Jika dia muncul ke publik sekarang dalam kondisi mental yang tidak stabil, dia akan menghancurkan dirinya sendiri dan juga kau. Aku melindunginya dengan cara ini."

"Melindunginya? Atau melindungi takhtamu?" tanya Alana dengan nada yang sedikit berani.

Arkan berhenti tepat di depan Alana. Ia meraih dagu gadis itu, memaksanya menatap matanya yang kelam. "Keduanya. Takhtaku adalah satu-satunya alasan mengapa ibumu masih bisa mendapatkan perawatan terbaik. Jangan pernah lupakan itu."

Alana terdiam. Kalimat itu selalu menjadi pengingat yang menyakitkan tentang posisinya. Ia adalah pion, dan pion tidak berhak mempertanyakan langkah sang raja.

Siang itu, atas izin Arkan yang sangat enggan, Alana diperbolehkan mengunjungi paviliun rahasia. Paviliun itu terletak di bagian paling belakang perkebunan mansion, tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus dan pagar tinggi yang dialiri listrik. Bagi orang luar, itu mungkin tampak seperti rumah peristirahatan yang indah, namun bagi Elena, itu adalah penjara emas.

Alana melangkah masuk dengan tangan yang gemetar. Bau antiseptik yang tajam menyambutnya, bercampur dengan aroma bunga lili yang menusuk. Di atas tempat tidur besar bertiang empat, sesosok wanita duduk bersandar pada tumpukan bantal.

Elena.

Wajahnya yang pucat tampak lebih tirus dari Alana. Rambutnya yang biasanya dirawat dengan produk mahal kini tampak kusam. Saat Elena mendengar langkah kaki, ia menoleh. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Alana yang mengenakan pakaian kantor yang rapi—pakaian yang seharusnya menjadi milik Elena.

"Jadi, sang pencuri datang menjenguk korbannya?" suara Elena terdengar serak, namun penuh dengan bisa.

Alana mendekat dengan ragu. "Kak... ini aku, Alana. Aku melakukannya karena—"

"Jangan panggil aku 'Kak' dengan mulutmu yang kotor oleh kebohongan itu!" Elena berteriak, meski suaranya pecah karena sesak napas. Ia mencoba meraih gelas air di meja samping tempat tidur untuk dilemparkan, namun tangannya terlalu lemah. Gelas itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.

Alana tersentak mundur. "Aku melakukannya untuk membiayai pengobatan Ibu, Elena. Dan pengobatanmu juga. Arkan setuju membiayai semuanya asalkan aku menggantikan posisimu agar perusahaan tidak jatuh ke tangan Kevin."

Elena tertawa sumbang, suara tawanya terdengar seperti gesekan logam yang memilukan. "Arkan? Kau pikir dia melakukan ini karena peduli padaku? Dia hanya butuh boneka untuk memuaskan obsesi Kakek terhadap pewaris. Dan kau... kau tampak sangat menikmati peran itu, bukan? Memakai berlianku, tidur di kamarku, dan mungkin... tidur di ranjang suamiku?"

Wajah Alana memerah. "Aku dan Arkan... kami hanya memiliki hubungan kontrak. Tidak lebih."

"Kontrak?" Elena menyipitkan mata, menatap Alana dari atas ke bawah. "Lihat caramu berdiri, caramu menatap. Kau sudah jatuh cinta padanya, bukan? Kau mencintai pria yang mengurung kakakkmu sendiri di lubang ini!"

Alana tidak bisa menjawab. Kebenaran itu terasa seperti hantaman di dadanya. Ia memang mulai memiliki perasaan pada Arkan—pria dingin yang sesekali menunjukkan sisi rapuhnya hanya padanya. Tapi di depan Elena, perasaan itu terasa seperti sebuah pengkhianatan yang paling rendah.

Di kantor pusat Arkananta Group, Arkan sedang menatap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV dari paviliun. Ia melihat interaksi antara si kembar itu. Jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang tidak teratur.

Baskara masuk membawa laporan harian. "Tuan, Tuan Besar meminta Anda dan 'Elena' hadir dalam rapat dewan direksi besok pagi. Beliau ingin meresmikan pengangkatan Anda sebagai CEO tetap pasca insiden Kevin."

Arkan mengangguk tanpa menoleh. "Siapkan semuanya. Dan pastikan Alana mendapatkan pengarahan lebih dalam soal laporan keuangan tahun lalu. Aku tidak ingin ada satu pun celah yang bisa digunakan para pemegang saham untuk meragukannya."

"Baik, Tuan. Namun... ada satu hal lagi," Baskara ragu sejenak. "Nona Elena yang asli... dokter melaporkan bahwa kondisinya secara fisik membaik, namun kondisi psikologisnya sangat tidak stabil. Dia terus menerus menyebut tentang 'pencuri' dan mengancam akan menyakiti dirinya sendiri."

Rahang Arkan mengeras. "Tingkatkan dosis penenangnya jika perlu. Dia tidak boleh merusak apa yang sudah kita bangun."

Setelah Baskara keluar, Arkan menyandarkan tubuhnya. Ia teringat akan janjinya pada Alana semalam. Jangan pernah tinggalkan aku. Kalimat itu bukan sekadar rayuan, melainkan peringatan. Arkan sadar ia telah menyeret Alana ke dalam kegelapan yang sangat dalam. Ia menggunakan Alana sebagai tameng, namun di saat yang sama, ia merasa ingin menjadi tameng bagi gadis itu.

Malam harinya, Alana kembali ke mansion dengan perasaan yang hancur. Pertemuannya dengan Elena meninggalkan luka yang menganga. Ia merasa seperti parasit yang menghisap kehidupan kakaknya sendiri.

Ia menemukan Arkan di balkon lantai dua, sedang menatap langit malam yang mendung. Alana mendekat, berdiri di sampingnya tanpa bicara.

"Dia membenciku, Tuan," bisik Alana. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Dia benar. Aku telah mencuri hidupnya. Aku memakai wajahnya untuk mendapatkan kasih sayang dari Kakek yang bahkan tidak mengenalku, dan aku... aku merasa bersalah karena merasa nyaman di sini."

Arkan berbalik, menatap wajah Alana yang basah oleh air mata. Di bawah cahaya bulan yang redup, Alana tampak begitu rapuh namun luar biasa cantik dalam kejujurannya.

"Dunia ini tidak memberikan tempat bagi mereka yang terlalu banyak merasa bersalah, Alana," Arkan mengulurkan tangannya, menghapus air mata di pipi Alana dengan ibu jarinya. "Elena tidak akan pernah bisa bertahan di posisi ini. Dia terlalu liar, terlalu emosional. Kau... kau memberikan sesuatu yang tidak bisa dia berikan. Kau memberikan ketenangan."

"Tapi ini semua palsu," bantah Alana.

"Tidak semuanya palsu," Arkan mendekatkan wajahnya. "Rasa takutmu, keberanianmu saat menghadapi Kevin, dan caramu menatapku... itu bukan sesuatu yang bisa kau tiru dari Elena."

Sentuhan Arkan berpindah ke tengkuk Alana, menariknya perlahan hingga dahi mereka bersentuhan. Alana bisa merasakan napas Arkan yang hangat di wajahnya. Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka—rahasia paviliun, ancaman dewan direksi, dan kebencian Elena—seakan lenyap.

"Tetaplah menjadi bayanganku, Alana. Sampai aku bisa membuat dunia ini menjadi tempat yang aman bagimu untuk menunjukkan wajahmu yang sebenarnya," gumam Arkan.

Malam itu, di bawah langit Jakarta yang kelam, mereka berdua terikat lebih dari sekadar kontrak kertas. Namun di balik kegelapan paviliun, Elena sedang merencanakan sesuatu. Ia tidak akan membiarkan bayangannya mencuri cahayanya begitu saja. Benang merah itu belum benar-benar terurai; ia justru sedang menjerat mereka semua dalam pusaran dosa yang lebih dalam.

Alur menuju kehancuran Arkananta Group sudah dimulai, bukan dari musuh di luar, melainkan dari api kecemburuan dan pengkhianatan di dalam rumah mereka sendiri.

1
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!