Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Hiruk Pikuk yang Mengejutkan
Genevieve baru saja selesai mengancingkan kardigan rajutnya ketika telinganya menangkap suara yang sudah lama tidak ia dengar di gedung tua ini: kebisingan manusia. Bukan sekadar derit lantai kayu atau desau angin, melainkan gumaman suara, gesekan langkah sepatu yang serempak, dan tawa kecil yang tertahan.
Dengan dahi berkerut karena heran, ia menuruni tangga loteng dengan perlahan. Begitu sampai di lantai utama perpustakaan, matanya terbelalak.
Perpustakaan yang biasanya sunyi dan hanya dikunjungi satu-dua orang tua atau peneliti sejarah, kini dipenuhi oleh orang-orang. Sebagian besar adalah mahasiswa dan remaja dari kota sebelah yang tampak asyik membolak-balik buku di sela-sela rak kayu yang tinggi. Kursi-kursi baca yang biasanya berdebu kini terisi penuh.
"Ada apa ini?" bisik Genevieve pada dirinya sendiri.
Hidungnya yang masih sedikit tersumbat menangkap aroma yang berbeda dari biasanya. Bukan lagi hanya bau kertas tua dan mawar liar, melainkan bau parfum murah, aroma kopi dari botol minum yang dibawa pengunjung, dan keringat manusia. Suasana ini terasa begitu asing baginya setelah berhari-hari hanya berinteraksi dengan kesunyian dan sosok gelap Valerius.
"Permisi, apakah Anda penjaga di sini? Bisa bantu aku mencari koleksi sastra klasik abad ke-18?" seorang pemuda dengan kacamata tebal tiba-tiba menghampirinya.
Genevieve tersentak, sedikit tergagap karena sudah lama tidak berbicara dengan orang asing. "Ah, ya... sebelah sana, di lorong ketiga setelah meja sirkulasi."
Sambil melayani satu per satu pengunjung, pikiran Genevieve bercabang. Mengapa tiba-tiba tempat ini menjadi sangat populer? Apakah Mr. Henderson melakukan promosi besar-besaran? Ataukah ada alasan lain?
Genevieve berdiri mematung di balik meja sirkulasi, menatap pemandangan di depannya dengan rasa haru yang bercampur heran.
Di antara rak-rak buku tua yang menjulang, tampak anak-anak kecil dengan pakaian lusuh dan sepatu yang sudah menipis solnya. Mereka memegang buku-buku bergambar dengan tangan yang sangat hati-hati, seolah benda itu adalah harta karun paling berharga yang pernah mereka temukan.
Ia tahu betul kondisi kota kecil ini. Di zaman sekarang, orang-orang seolah berlomba-lomba mengejar angka di rekening bank, bekerja siang malam hingga lupa caranya membaca, apalagi membawa anak-anak mereka ke tempat "sunyi" seperti ini.
"Kak, apakah benar membaca di sini tidak perlu membayar?" tanya seorang anak laki-laki kecil dengan wajah penuh noda debu, sambil mendekap buku tentang petualangan luar angkasa.
Genevieve tersenyum lembut, meski hidungnya masih sedikit perih akibat sisa demam. "Tentu saja, Dik. Kamu bisa membaca apa saja yang kamu mau di sini."
Ia memandangi mereka satu per satu. Anak-anak ini tidak mampu membeli buku di toko kota yang harganya selangit, namun di sini, di bawah atap perpustakaan tua yang penuh rahasia ini, mereka menemukan dunia yang luas.
Namun, di balik keheranannya, sebuah pemikiran melintas. Mengapa mereka bisa datang serempak hari ini? Siapa yang memberi tahu anak-anak dari pinggiran kota ini bahwa perpustakaan Henderson adalah tempat yang aman untuk mereka?
Pikiran Genevieve terasa seperti benang kusut yang sulit diurai. Kepalanya yang masih sedikit pening akibat sisa demam kini dipaksa bekerja keras memproses segala kejanggalan yang terjadi secara beruntun.
"Kak? Kakak tidak apa-apa?" Suara cicitan gadis kecil di depannya membuyarkan lamunan Genevieve. Gadis kecil itu menyodorkan sebuah buku dongeng tua yang sampulnya sudah mengelupas.
"Ah, iya... maafkan Kakak," Genevieve tersenyum kaku, tangannya yang masih sedikit gemetar mengambil buku itu untuk dicatat.
Sambil menulis, mata Genevieve terus mencuri pandang ke arah sudut-sudut gelap perpustakaan. Ia merasa Valerius sedang menertawakannya dari kegelapan—menertawakan kebingungannya, menertawakan kenaifannya, dan mungkin menikmati bagaimana Genevieve terjebak dalam rasa hutang budi yang diciptakan pria itu dengan sengaja.
keren
cerita nya manis