NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:285
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

POROS YANG BERGETAR

"Kak Elly, pegangan! Jangan lepas!"

Viona—atau kini ia mulai terbiasa dengan getaran nama Nirmala di jiwanya—berteriak histeris saat gravitasi seolah menghilang dari pijakan kakinya. Bus itu terjun bebas, terbalik di udara hingga kaca-kaca jendelanya pecah berkeping-keping menjadi butiran debu kristal. Di bawah sana, jutaan roda gigi emas raksasa berputar dengan suara menderu yang sanggup meremukkan tulang. Angin kencang berbau oli mesin dan tembaga menyerbu masuk, mengacak-acak rambut dan menyesakkan napasnya.

"Jangan urusin saya, Vio! Fokus ke payungnya! Arahkan ke poros pusat!" Elly balas berteriak. Suaranya mulai menjauh saat tubuhnya terlempar ke arah pintu bus yang sudah hancur.

"Tapi Kak Elly—"

"Lompat, Viona! Ayah kamu nggak punya banyak waktu buat nahan poros itu!"

Viona memejamkan mata saat bus itu hancur sepenuhnya, meledak menjadi serpihan logam perak yang menguap sebelum menyentuh roda gigi. Ia merasakan sensasi jatuh yang mengerikan, namun payung biru di genggamannya mendadak menyentak kuat. Kain kusam itu mengembang sempurna, bukan tertiup angin, melainkan mengeluarkan pendar cahaya biru safir yang menahan laju jatuhnya. Viona melayang, seolah-olah payung itu adalah parasut yang terbuat dari energi murni.

Di atas sana, di sisa jembatan gantung yang masih berdiri, sang Auditor menatapnya dengan pandangan dingin. Pria itu tidak mengejar. Ia hanya berdiri diam, mengamati jam saku emasnya seolah sedang menghitung mundur waktu kepunahan Viona. Bagi Ordo, jatuh ke dalam Jurang Roda Gigi adalah akhir dari segala eksistensi. Tak ada materi yang bisa bertahan dari gesekan mesin waktu purba itu.

"Nirmala... fokus..." Viona membisikkan nama itu pada dirinya sendiri.

Setiap kali ia menyebut nama itu, payung birunya berpendar lebih terang. Ia mulai mengarahkan payung itu, meluncur di antara celah-celah roda gigi raksasa yang diameternya mungkin seluas lapangan sepak bola. Di permukaan roda-roda gigi itu, Viona melihat bayangan yang melintas cepat—potongan-potongan hidup manusia, tawa, tangis, dan ribuan hujan yang pernah jatuh ke bumi. Ini adalah mesin yang memproses sejarah, dan ia sedang terjun langsung ke jantungnya.

Viona melihat Elly. Wanita itu tampak terjatuh lebih cepat, tubuhnya bercahaya keemasan sebelum akhirnya mendarat di sebuah platform logam yang bergetar hebat di dekat poros pusat.

"Kak Elly!" Viona mendarat dengan kasar di sampingnya. Ia segera menutup payungnya dan menggunakannya sebagai tongkat untuk menyeimbangkan diri.

"Kamu telat dua detik, Vio," Elly mengatur napasnya, wajahnya tampak lebih pucat dari sebelumnya. Kulit lengannya mulai terlihat retak, menyingkapkan pendar cahaya di dalamnya.

Viona melihat ke depan. Di pusat poros yang dikelilingi oleh pusaran energi perak, berdiri seorang pria. Pria itu tidak lagi memakai jaket denim. Tubuhnya kini menyatu dengan mesin; separuh wajah dan dadanya tertutup lempengan perunggu dan kabel-kabel cahaya yang berdenyut biru. Matanya yang satu masih berwarna cokelat hangat, sementara yang satunya lagi telah berubah menjadi lensa jam yang berputar cepat.

"Ayah?" Viona melangkah maju dengan ragu.

Nathan—atau apa pun yang tersisa darinya—mendongak. Senyumnya muncul, meski tampak kaku karena logam yang menarik sudut bibirnya. "Vio... akhirnya kamu sampai. Maaf Ayah nggak bisa jemput ke atas. Ayah harus jagain poros ini supaya nggak berhenti total."

"Yah, kenapa Ayah jadi begini? Kita harus pergi dari sini! Alfred bilang—"

"Alfred nggak tahu semuanya, Vio," potong Nathan. Suaranya bergema, bercampur dengan dentang logam. "Ordo nggak cuma mau materi kamu. Mereka mau pake kamu buat menghapus konsep 'perasaan' dari aliran waktu. Mereka pikir perasaan manusia itu adalah bug, kesalahan sistem yang bikin sejarah jadi berantakan. Kalau mereka dapet kamu, mereka bakal reset dunia tanpa ada lagi rasa sedih, tapi juga tanpa ada rasa cinta."

Viona mendekat, menyentuh tangan perunggu ayahnya. Rasanya panas, seolah dialiri listrik jutaan volt. "Terus Vio harus gimana? Auditor itu masi di atas, dia nunggu Vio hancur."

Nathan menunjuk ke arah lubang hitam di tengah poros pusat. "Kamu harus masuk ke sana, Nirmala. Itu adalah Origin, tempat di mana materi murni pertama kali diciptakan. Di sana, kamu bisa menulis ulang hukum dasar identitas kamu tanpa campur tangan Ordo. Tapi harganya..."

"Harganya apa, Yah? Vio sudah siap kalau harus lupa lagi," sahut Viona mantap.

Nathan menggeleng sedih. "Bukan cuma lupa, Nak. Kalau kamu masuk ke sana, realitas yang Ayah bangun buat lindungin kamu bakal runtuh. Ayah, Kak Elly, dan semua memori tentang 'keluarga Mahendra' bakal bener-bener ilang. Kamu bakal jadi manusia baru di dunia yang bener-bener asing. Nggak ada lagi payung biru, nggak ada lagi halte bus."

Viona terdiam. Ia menoleh ke arah Elly yang kini sudah duduk bersimpuh di lantai logam, tubuhnya mulai memudar menjadi butiran cahaya.

"Kak Elly juga bakal ilang?" tanya Viona pelan.

Elly tersenyum tulus, air mata emas mengalir di pipinya. "Saya cuma sisa-sisa, Vio. Sebuah draf yang nggak pernah selesai. Tugas saya cuma nganter kamu sampai sini. Masa depan itu punya kamu, bukan punya memori yang sudah kedaluwarsa."

Tiba-tiba, getaran hebat mengguncang seluruh tempat itu. Dari atas, sang Auditor meluncur turun. Ia tidak jatuh, ia berjalan di udara seolah-olah ada anak tangga tak kasat mata di bawah kakinya. Jam sakunya kini terbuka lebar, memancarkan cahaya merah yang menyakitkan mata.

"Waktu habis, Nathan," ucap sang Auditor dengan suara dingin yang membelah keriuhan mesin. "Materi itu harus kembali ke gudang. Penundaan ini sudah cukup mengacaukan statistik abad ini."

Auditor itu menjentikkan jarinya, dan ribuan jarum jam raksasa melesat dari dinding jurang, mengarah tepat ke jantung Nathan.

"AYAH, AWAS!" teriak Viona.

Nathan menggunakan tangan perunggunya untuk menepis jarum-jarum itu, namun tubuh mesinnya mulai mengeluarkan percikan api. "Lari, Vio! Masuk ke Origin! Sekarang!"

Viona menggenggam payung birunya. Ia menatap Auditor yang kini tinggal beberapa meter lagi dari mereka. Pria itu mengangkat tangannya, siap untuk menarik paksa cahaya dari telapak tangan Viona.

"Bapak bilang saya materi tanpa pemilik, kan?" Viona menantang, pendar biru di matanya kini menyala terang, lebih terang dari energi poros pusat. "Bapak salah lagi. Saya bukan cuma pemilik diri saya sendiri. Saya adalah kesalahan sistem yang bakal bikin rencana Bapak berantakan!"

Viona tidak lari ke arah lubang hitam. Ia justru berlari ke arah sang Auditor. Ia menusukkan ujung payung birunya ke tengah jam saku emas pria itu.

KRAAAKK!

Kaca jam saku itu pecah. Waktu di sekeliling mereka mendadak melambat hingga hampir berhenti. Auditor itu membelalakkan mata, tampak tak percaya bahwa sebuah materi 'mentah' bisa menyentuh artefak Ordo.

"Kamu... apa yang kamu lakukan?!" raung sang Auditor. Suaranya terdengar seperti kaset yang diputar sangat lambat.

Viona merasakan energi dari jam saku itu merambat masuk ke tubuhnya, bertabrakan dengan energi Jantung Waktu yang sudah pecah. Ia merasa tubuhnya mulai retak, namun ia terus menekan payungnya.

"Kak Elly! Yah! Sekarang!" teriak Viona.

Nathan dan Elly saling berpandangan, lalu mereka berdua menyentuh punggung Viona secara bersamaan. Mereka memberikan sisa-sisa eksistensi mereka untuk menjadi daya dorong terakhir bagi Viona.

"Jadilah manusia yang bebas, Nirmala," bisik Nathan di telinganya.

Seketika, sebuah ledakan cahaya putih-emas yang luar biasa besar terjadi di pusat poros. Seluruh roda gigi berhenti berputar selama satu detik yang abadi, sebelum akhirnya semuanya hancur berkeping-keping.

Viona merasa dirinya terlempar masuk ke dalam lubang hitam Origin. Semuanya menjadi gelap, sunyi, dan hampa. Tidak ada lagi suara mesin, tidak ada lagi aroma tembaga. Hanya ada dia sendiri.

Lalu, ia mendengar sebuah suara. Bukan suara ayahnya, bukan suara Elly. Suara itu berasal dari dalam dirinya sendiri.

"Siapa nama kamu?"

Viona mencoba menjawab, tapi lidahnya terasa kelu. Ia melihat ke arah tangannya. Roda gigi emas di telapak tangan kirinya sudah hilang, berganti dengan kulit halus yang hangat. Tulisan 'SEKARANG' di tangannya pun sudah lenyap.

Tiba-tiba, cahaya mulai muncul di ujung kegelapan. Viona merasa dirinya terdorong keluar. Ia membuka matanya dan merasakan sesuatu yang basah di wajahnya.

Bukan air hujan perak. Bukan minyak mesin.

Itu adalah air hujan biasa. Air hujan yang dingin dan berbau tanah kota.

Viona tersentak duduk. Ia berada di sebuah halte bus. Tapi ini bukan halte tua Alfred. Ini adalah halte bus biasa di pinggir jalan raya yang ramai. Mobil-mobil berlalu-lalang, orang-orang berjalan terburu-buru dengan payung warna-warni mereka. Kondisinya sangat Jakarta—macet, lembap, dan bising.

Viona melihat ke sampingnya. Di sana, tergeletak sebuah payung lipat biru yang sudah patah rangkanya. Ia meraba sakunya dan menemukan sebuah kartu identitas.

Nirmala Putri.

Viona menatap kartu itu dengan bingung. Ia merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang sangat besar, tapi ia tidak tahu apa. Ia mencoba mengingat wajah seorang pria berjaket denim, tapi yang muncul hanyalah kabut abu-abu. Memorinya tentang Ordo, Julian, dan Baskara terasa seperti potongan film yang sudah lama ia tonton dan hampir terlupakan detailnya.

"Kak, nggak apa-apa?"

Viona mendongak. Seorang pemuda berdiri di depannya, memegang dua gelas kopi panas. Pemuda itu memiliki tatapan yang sangat akrab, meski Viona yakin belum pernah bertemu dengannya. Pemuda itu memakai jaket hoodie hitam dengan logo teknis yang rumit di bahunya. Persis seperti Adrian, namun auranya terasa lebih tenang.

"Adrian?" gumam Viona tanpa sadar.

Pemuda itu mengerutkan kening, lalu tersenyum tipis. "Bukan, Kak. Nama saya Andre. Kakak  pingsan tadi di sini. Ini kopinya, biar anget."

Viona menerima kopi itu, tangannya masih gemetar. "Terima kasih... Andre."

Andre duduk di sampingnya, menatap hujan yang mulai mereda. "Kakak  kayak habis ngeliat hantu. Atau mungkin... Kakak  baru aja bangun dari mimpi buruk yang panjang?"

Viona terdiam, menyesap kopinya yang terasa pahit sekaligus nyata. Ia melihat ke arah jalan raya. Di seberang jalan, di bawah lampu jalan yang berkedip, ia melihat sesosok pria tua berdiri diam. Pria itu memakai setelan jas hitam yang kering sempurna. Ia memegang payung hitam dengan gagang kepala gagak.

Pria itu mengangguk kecil ke arah Viona—sebuah gestur pengakuan yang halus—lalu berjalan menghilang di balik kerumunan orang. Alfred masih ada.

Viona menatap payung birunya yang rusak. Ia menyadari satu hal; meskipun memori itu hilang secara administratif, rasa sakit dan kehangatan itu masih tersisa di suatu tempat di dalam dirinya sebagai pengalaman emosional.

Tiba-tiba, ponsel di saku Viona bergetar. Ia membukanya dan melihat sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.

Pesan itu hanya berisi satu kalimat:

"Jangan pernah tutup payungnya, Nirmala. Karena hujan yang sebenarnya baru saja dimulai."

Viona mendongak ke arah langit. Awan hitam kembali berkumpul, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Di tengah awan itu, ia melihat sebuah retakan cahaya berwarna perak yang perlahan-lahan mulai melebar.

"Andre," panggil Viona dengan suara bergetar.

"Iya, Kak Nirmala?"

Viona membeku. Ia belum memberi tahu namanya kepada pemuda ini. "Kamu... kamu tahu nama saya?"

Andre menoleh ke arah Viona. Senyum ramahnya tidak berubah, namun matanya mendadak berubah menjadi perak murni yang memantulkan angka-angka jam yang berputar cepat.

"Kak Nirmala... sepertinya Auditor nggak suka Kakak lolos secepat itu. Dan saya di sini bukan cuma buat nganter kopi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!