NovelToon NovelToon
ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Duniahiburan
Popularitas:15
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan yang Berbeda

Mas Indra dan Sekar Arum menemukan Bapak, Ibu, dan Lintang di dekat pintu masuk lapangan. Wajah mereka tampak cemas dan khawatir.

"Sekar, kamu tidak apa-apa kan, Nak?" tanya Ibu, berlari menghampiri Sekar Arum dan memeriksanya dari atas hingga bawah.

"Aku baik-baik saja, Bu," jawab Sekar Arum dengan suara lirih.

Mas Indra menghela napas dalam dan berbicara kepada Bapak dan Ibu. "Maaf, Bapak, Ibu. Sekar Arum tidak jadi tampil malam ini," kata Mas Indra.

Bapak dan Ibu saling bertukar pandang. "Kenapa? Ada apa?" tanya Bapak dengan nada penasaran.

Mas Indra menceritakan semua kejadian yang terjadi antara Sekar Arum dan Ranti. Semakin mendengar, semakin terlihat kemarahan di wajah Bapak dan Ibu.

"Kurang ajar sekali orang itu!" seru Bapak dengan geram.

Mas Indra merasa tidak enak hati karena telah membawa masalah bagi keluarga Sekar Arum. Ia tahu bahwa kejadian ini akan membuat Bapak dan Ibu semakin khawatir pada Sekar Arum.

"Saya mohon maaf sebesar-besarnya, Bapak, Ibu. Saya tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini," kata Mas Indra dengan tulus.

"Tidak, Mas Indra tidak salah. Ini bukan salah siapa-siapa," kata Bapak dengan nada menenangkan.

"Yang penting Sekar selamat," timpal Ibu.

Mas Indra mengangguk. Ia merasa lega karena Bapak dan Ibu tidak menyalahkannya.

"Kalau begitu, saya pamit dulu. Saya harus kembali ke grup. Pertunjukan akan segera dimulai," kata Mas Indra.

"Oh, iya, Mas. Silakan," kata Bapak.

Mas Indra menatap Sekar Arum dengan tatapan simpati. "Jaga diri baik-baik, Kar," kata Mas Indra dengan lembut.

Sekar Arum tersenyum tipis. "Terima kasih, Mas," jawab Sekar Arum.

Mas Indra berpamitan dan berjalan meninggalkan mereka. Sekar Arum memperhatikan punggung Mas Indra hingga menghilang di tengah keramaian. Ia merasa sedih karena harus berpisah dengan Mas Indra, tetapi ia juga tahu bahwa ia harus kembali ke keluarganya.

Bapak, Ibu, dan Lintang mengajak Sekar Arum untuk pulang. Mereka berjalan beriringan menuju rumah dengan suasana yang hening.

Sesampainya di rumah, Ibu meminta Sekar Arum untuk segera berganti pakaian dan istirahat. Sekar Arum menuruti perkataan Ibunya.

Setelah berganti pakaian, Sekar Arum berbaring di tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang kosong. Pikirannya penuh dengan berbagai macam perasaan: sedih, kecewa, bingung, dan takut.

Tidak lama kemudian, Ibu masuk ke kamar Sekar Arum. Ia duduk di tepi tempat tidur dan menatap Sekar Arum dengan tatapan sayang.

"Nak, Ibu ingin kamu mendengarkan Ibu baik-baik," kata Ibu dengan suara lembut, mengusap lembut rambut Sekar Arum.

Sekar Arum menoleh dan menatap Ibunya dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Ibu dan Bapak sudah sepakat. Mulai sekarang, kamu tidak boleh bernyanyi lagi," kata Ibu dengan nada yang serius, namun tetap lembut.

Sekar Arum terkejut mendengar perkataan Ibunya. Jantungnya berdebar kencang dan napasnya terasa sesak.

"Tapi, Bu... kenapa?" tanya Sekar Arum dengan suara yang bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Ibu tidak mau kamu mengalami kejadian seperti tadi lagi. Dunia hiburan itu keras, Nak. Penuh dengan persaingan dan orang-orang jahat. Ibu tidak mau kamu terluka," kata Ibu dengan nada khawatir, menggenggam erat tangan Sekar Arum.

"Tapi, Bu... bernyanyi itu impianku. Aku sudah berlatih keras selama ini. Aku ingin membanggakan Bapak dan Ibu," kata Sekar Arum dengan suara yang semakin lirih, air mata mulai menetes membasahi pipinya.

Ibu menghela napas panjang dan mengusap air mata Sekar Arum dengan lembut. "Ibu tahu, Nak. Ibu tahu betapa besar cintamu pada musik. Tapi, Ibu lebih mencintaimu. Ibu tidak mau kamu mengorbankan kebahagiaanmu demi impian yang belum tentu bisa kamu raih," kata Ibu dengan nada yang penuh kasih sayang.

"Kamu sudah kelas tiga SMA. Sebentar lagi kamu akan ujian nasional. Lebih baik kamu fokus belajar dulu. Raih cita-citamu yang lain. Ibu ingin kamu menjadi orang yang sukses dan bahagia," lanjut Ibu, tersenyum lembut meski matanya juga berkaca-kaca.

Sekar Arum terdiam mendengar perkataan Ibunya. Ia tahu bahwa Ibunya hanya ingin yang terbaik untuknya. Ia juga tahu bahwa Ibunya sangat khawatir padanya setelah kejadian tadi.

"Tapi, Bu... aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain bernyanyi," kata Sekar Arum dengan nada yang putus asa.

"Kamu masih muda, Nak. Kamu punya banyak waktu untuk mencari tahu apa yang kamu inginkan sebenarnya. Jangan terlalu terpaku pada satu hal. Jelajahi dunia, temukan bakatmu yang lain, dan jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain," kata Ibu dengan nada yang penuh semangat, mencoba untuk memberikan harapan kepada Sekar Arum.

Sekar Arum menangis dalam diam, air matanya terus mengalir membasahi bantalnya. Ia merasa kehilangan segalanya.

Ibu memeluk Sekar Arum dengan erat, membisikkan kata-kata penyemangat dan penghiburan.

"Sudah, Nak. Jangan menangis lagi. Ibu akan selalu ada di sini untukmu. Apapun yang terjadi, Ibu akan selalu mendukungmu. Yang terpenting, kamu harus sehat dan bahagia," bisik Ibu, mengusap-usap punggung Sekar Arum dengan lembut, berusaha untuk menyalurkan kekuatan dan ketenangan kepada anaknya.

Setelah beberapa lama, Sekar Arum mulai tenang. Ia melepaskan pelukan Ibunya dan menatapnya dengan mata yang sembap, namun terlihat tekad yang baru.

"Baiklah, Bu. Aku akan menuruti apa kata Ibu. Aku akan fokus belajar dan mencari cita-cita yang lain," kata Sekar Arum dengan suara yang lebih tegas, meskipun masih terdengar sedikit parau.

Ibu tersenyum lega dan mencium kening Sekar Arum dengan penuh kasih sayang. "Itu baru anak Ibu. Ibu yakin kamu pasti bisa melakukannya," kata Ibu, mencoba untuk memberikan semangat kepada Sekar Arum.

Kemudian, Bapak masuk ke kamar Sekar Arum, raut wajahnya terlihat lembut dan penuh perhatian. Ia duduk di tepi tempat tidur dan mengambil tangan Sekar Arum, menggenggamnya dengan erat.

"Nak, Bapak tahu ini berat bagimu. Tapi, Bapak hanya ingin yang terbaik untukmu. Bapak tidak mau kamu mengalami hal-hal buruk di dunia yang penuh dengan kepalsuan ini," kata Bapak dengan suara yang dalam dan penuh wibawa.

"Kamu punya bakat yang luar biasa, Nak. Tapi, bakat itu tidak harus disalurkan melalui panggung hiburan. Kamu bisa menggunakan bakatmu untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti mengajar musik kepada anak-anak di desa kita, atau mengadakan acara amal untuk membantu orang-orang yang membutuhkan," lanjut Bapak, memberikan alternatif pilihan kepada Sekar Arum.

Sekar Arum terdiam mendengar perkataan Bapaknya. Ia mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain yang belum pernah terlintas di benaknya.

"Yang terpenting, kamu harus menjadi orang yang berpendidikan. Dengan pendidikan, kamu bisa meraih cita-citamu yang lain, dan kamu bisa membantu orang lain dengan lebih mudah," kata Bapak, memberikan motivasi kepada Sekar Arum.

Sekar Arum mengangguk pelan, air matanya sudah mengering, digantikan oleh semangat yang baru. Ia merasa lebih tenang dan lebih kuat setelah mendengar nasihat dari Bapak dan Ibunya.

"Terima kasih, Bu, Pak. Aku mengerti," kata Sekar Arum dengan suara yang penuh ketulusan.

Bapak tersenyum dan mengusap kepala Sekar Arum dengan penuh sayang. "Itu baru anak bapak dan ibu.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!