Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Lima
Malam itu, bayangan kota berpendar di balik kaca jendela ruang kerja Arka. Lampu-lampu gedung tinggi tampak seperti bintang palsu, dingin dan tak bernyawa. Tangannya masih mengepal sejak tadi, urat-uratnya menonjol, seolah amarah yang ia tekan ingin meledak kapan saja.
Nama itu kembali terucap di benaknya. Rafael, nama yang selalu berhasil merobek luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.
Arka memejamkan mata. Dan tanpa izin, masa lalu menyeretnya kembali ke hari paling kelam dalam hidupnya.
Empat tahun lalu,
Rumah sakit itu bau antiseptik dan darah. Lampu-lampu putih menyilaukan, membuat kepala Arka berdenyut sejak pertama kali ia berlari memasuki lorong IGD. Jas hitam yang ia kenakan sudah kusut, rambutnya berantakan, napasnya tersengal.
“Aurelia mana?!” bentaknya pada perawat yang terkejut.
“Ruang bersalin, Tuan. Tapi ....”
Arka tak menunggu penjelasan. Ia langsung berlari, langkahnya berat tapi cepat. Jantungnya berdegup tidak karuan. Sejam lalu ia menerima telepon dari asisten rumah tangga kakaknya. Suaranya gemetar, hampir menangis.
“Tuan Arka … Nyonya Aurelia pendarahan. Kontraksinya parah. Dokter bilang kondisinya kritis.”
Dan satu kalimat lain yang membuat Arka hampir menghancurkan ponselnya. “Tuan Rafael belum bisa dihubungi.”
Rafael. Suami Aurelia. Pria yang seharusnya berada di sisi istrinya saat ini.
Arka mendorong pintu ruang tunggu bersalin. Ia melihat ibunya duduk di kursi, wajahnya pucat, matanya sembab. Begitu melihat Arka, wanita itu langsung berdiri.
“Arka .…” Suaranya bergetar.
“Mana Aurelia?” tanya Arka cepat.
“Masih di dalam. Dokter bilang … bayinya sungsang. Pendarahannya banyak.”
Dada Arka terasa diremas. Ia mengepalkan tangan. “Rafael?”
Ibunya menggeleng pelan. “Belum datang.”
“Di mana dia?” suara Arka merendah, tapi mengandung amarah yang berbahaya.
“Kata sekretarisnya … dia ke luar kota. Urusan bisnis.”
Arka tertawa pendek, pahit. “Bisnis?”
Ia tahu betul apa yang disebut Rafael sebagai “urusan bisnis” akhir-akhir ini. Perjalanan mendadak. Ponsel sering mati. Pulang larut. Senyum palsu. Dan yang paling membuat Arka muak, kehadiran Vanessa. Adik tiri Rafael.
Vanessa yang terlalu sering berada di rumah itu. Vanessa yang terlalu akrab dengan Rafael. Vanessa yang sering memandang Rafael dengan cara yang salah. Dan Aurelia … kakaknya yang lembut, selalu mencoba berpikir baik.
Arka berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Suara langkah sepatunya menggema di lantai rumah sakit. Setiap detik terasa seperti siksaan.
Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah serius. “Keluarga Nyonya Aurelia?”
Arka dan ibunya langsung mendekat.
“Kondisi ibu sangat kritis,” ucap dokter itu hati-hati. “Kami akan lakukan operasi sesar darurat. Tapi kami butuh persetujuan suami.”
Arka tertawa tanpa humor. “Suaminya tidak ada. Saya adiknya. Lakukan apa pun yang perlu dilakukan. Selamatkan kakak saya dan bayinya.”
Dokter itu ragu sesaat, lalu mengangguk. “Kami akan berusaha semaksimal mungkin.”
Pintu ruang operasi tertutup. Dan Arka merasa seperti berdiri di ambang neraka.
Beberapa jam berlalu.
Jarum jam bergerak lambat, seolah sengaja menyiksa. Ibunya sudah menangis sejak tadi. Arka duduk dengan tubuh kaku, matanya menatap kosong ke lantai.
Lalu ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal.
Arka mengangkatnya dengan cepat. “Halo?”
Suara di seberang terdengar ragu, lalu berkata pelan, “Tuan Arka … saya tidak tahu harus bicara ini ke siapa, tapi saya rasa Anda perlu tahu.”
“Siapa kamu?” tanya Arka dingin.
“Saya … teman Nyonya Aurelia. Saya tidak bisa diam lagi. Tuan Rafael … dia tidak ke luar kota sendiri.”
Jantung Arka berdegup keras. “Maksudmu?”
“Ada yang melihatnya di hotel di Bali. Bersama Vanessa.”
Sunyi. Kata-kata itu jatuh seperti palu, menghantam kepala Arka tanpa ampun.
“Kamu yakin?” suaranya nyaris berbisik.
“Saya punya foto,” jawab orang itu cepat. “Saya kirim sekarang.”
Beberapa detik kemudian, ponsel Arka berbunyi lagi. Sebuah foto masuk.
Rafael. Tanpa keraguan. Kemeja putihnya terbuka di dua kancing atas. Tangannya melingkari pinggang Vanessa. Wanita itu bersandar manja di dadanya, tersenyum lebar, kepalanya menempel di bahu Rafael.
Foto itu diambil di lobi hotel. Terang. Jelas. Tak terbantahkan. Dunia Arka runtuh.
Tangannya gemetar. Rahangnya mengeras. Napasnya tercekat. Amarah bercampur muak dan sakit mengalir di darahnya.
“Kakak …,” gumamnya lirih.
Ia bangkit berdiri, langkahnya goyah. Ibunya menatapnya cemas. “Arka, ada apa?”
Arka menelan ludah. “Ma … kalau … kalau kakak tahu sesuatu yang menyakitkan, seharusnya dia tahu dari siapa?”
Ibunya terdiam, menatap wajah Arka yang pucat. “Maksudmu apa?”
Arka menggeleng, tidak menjawab. Ia berbalik, berjalan cepat menuju ruang rawat sementara Aurelia, sebelum operasi. Ia harus memastikan sesuatu. Ia mendorong pintu perlahan.
Aurelia terbaring di ranjang, tubuhnya lemah, wajahnya pucat seperti kertas. Selang infus terpasang di lengannya. Rambut panjangnya terurai acak di bantal.
Begitu melihat Arka, ia tersenyum lemah. “Arka .…”
Arka mendekat, duduk di sisi ranjang. Ia menggenggam tangan kakaknya. Tangan itu dingin.
“Kakak harus kuat,” ucap Arka lirih. “Sebentar lagi semuanya selesai.”
Aurelia menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca. “Rafael … belum datang?”
Arka tercekat. Ia tidak bisa berbohong. Tidak pada kakaknya.
“Kak Aurelia .…” suaranya serak.
Aurelia menelan ludah. “Katakan saja.”
Arka menutup mata sejenak, lalu membuka kembali. “Dia … tidak bisa datang.”
“Karena urusan bisnis?” tanya Aurelia, masih mencoba tersenyum.
Arka menggenggam tangannya lebih erat. “Kak … aku minta maaf.”
Nada suara itu membuat Aurelia terdiam. Senyumnya memudar. “Arka … apa yang kau sembunyikan?”
Arka ragu. Ia ingin melindungi kakaknya. Tapi foto itu seperti membakar dadanya. Dan seseorang sudah membocorkannya. Jika bukan darinya, Aurelia akan tahu dari orang lain. Itu akan lebih kejam.
Arka mengeluarkan ponselnya. Tangannya gemetar saat memperlihatkan layar itu ke Aurelia.
Aurelia menatap layar itu. Satu detik. Dua detik. Wajahnya membeku.
“Ini … apa?” bisiknya Aurelia. Arka tidak menjawab.
Air mata mulai menggenang di mata Aurelia. Tangannya gemetar hebat. “Itu … Vanessa?”
Arka mengangguk pelan. Dada Aurelia naik turun cepat. Nafasnya terengah. “Tidak … tidak mungkin .…”
“Kak ....”
“Tidak!” Aurelia menarik tangannya dari genggaman Arka. Matanya liar, penuh kepanikan. “Dia adiknya Rafael suamiku .…”
“Kak Aurelia, dengarkan aku ....”
“Keluar,” ucap Aurelia tiba-tiba. Suaranya lemah, tapi tegas. “Arka … keluar.”
“Kak Aurel ....”
“KELUAR!” teriak Aurelia histeris, membuat monitor jantungnya berbunyi lebih cepat.
Perawat masuk dengan panik. “Tuan, silakan keluar. Kondisi pasien tidak stabil.”
Arka berdiri kaku. Matanya bertemu mata Aurelia. Ada kehancuran di sana. Luka yang terlalu dalam.
“Aku di sini, Kak,” ucap Arka pelan. “Aku tidak ke mana-mana.”
Ia keluar dengan langkah berat. Dan sejak detik itu, ia tahu ia telah terlambat.
Beberapa jam kemudian.
Lampu ruang operasi padam. Dokter keluar dengan wajah letih.
“Kami berhasil menyelamatkan bayinya,” ucap dokter itu.
Arka menghembuskan napas lega. “Dan ibunya?”
Dokter itu terdiam sejenak. “Kami melakukan yang terbaik. Tapi … Nyonya Aurelia mengalami syok berat sebelum operasi. Detak jantungnya berhenti beberapa menit.”
Ibunya menangis tersedu. “Apa maksud Anda?”
Dokter itu menunduk. “Kami berhasil mengembalikan detak jantungnya. Tapi … setelah operasi selesai, dia kembali mengalami henti jantung.”
“Kakak saya …?” suara Arka nyaris tidak keluar.
Dokter itu menghela napas panjang. “Mohon maaf sebesar-besarnya. Tim medis telah berupaya semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain dan nyawa Ibu Aurelia tidak dapat kami selamatkan.”
Dunia berhenti. Arka tidak mendengar suara apa pun lagi. Tidak tangisan ibunya. Tidak suara perawat. Tidak detak jam di dinding.
Hanya satu kalimat yang berulang di kepalanya. Aurelia meninggal.
Kakinya lemas. Ia jatuh terduduk di kursi. Dan dalam kabut kesedihan itu, satu nama terbakar jelas di pikirannya. Rafael.
Hari pemakaman.
Hujan turun deras, seolah langit ikut berkabung. Jenazah Aurelia diturunkan perlahan ke liang lahat. Arka berdiri tegak, wajahnya dingin, mata merah tapi kering.
Di kejauhan, Rafael akhirnya datang. Memakai setelan hitam. Rambutnya rapi. Wajahnya terlihat sedih. Entah pura-pura atau memang sedih.
Di sampingnya berdiri Vanessa.
Arka melihat dengan mata merah. Ia melangkah cepat, menghampiri Rafael, tangannya langsung mencengkeram kerah jas pria itu.
“KAU TERLAMBAT,” bentaknya rendah, penuh kebencian.
Rafael terkejut. “Arka, aku ....”
“Kau tahu kakakku sekarat!” Arka mendorongnya keras. “Dan kau memilih bercinta dengan adik tirimu!”
Vanessa menjerit kecil. “Arka! Jangan ....”
Arka menoleh padanya dengan tatapan mematikan. “DIAM.”
Rafael menghela napas, wajahnya berubah dingin. “Kau pasti salah paham ....”
“Dia mati karena kau,” potong Arka. “Karena pengkhianatanmu.”
Rafael menegang. “Jangan menuduh sembarangan.”
Arka tertawa pahit. “Sembarangan?” Ia mendekat, berbisik di telinga Rafael. “Aku akan memastikan kau membayar semuanya.”
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭