NovelToon NovelToon
Pesona Kakak Posesif Season 2

Pesona Kakak Posesif Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Keluarga / Cintamanis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dwi Asti A

Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.

Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.

Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.

Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga ratus Juta Dalam Tiga Hari

“Kalian sudah tahu bagaimana keadaan ayahku, jadi hari ini aku mengumpulkan kalian. Ambillah ini sebagai gaji terakhir kalian.” Hanin maju dan memberikan amplop berwarna coklat itu pada masing-masing pegawai ayahnya.

“Apa maksudnya kami ini dipecat?” tanya Umar cemas.

“Aku tidak tahu bagaimana aku mengucapkan terima kasih pada kalian semua, yang selama ini sudah setia bekerja pada ayahku. Uang itu mungkin belum cukup bagi kalian, tapi saat ini hanya ada uang itu di tanganku. Aku minta maaf jika apa yang kuberikan tidak cukup untuk kalian.”

“Nona, tapi ini tidak perlu, Anda sedang membutuhkan uang ini untuk biaya pengobatan Tuan Aariz,” kata Zaenab.

“Tidak apa-apa, aku justru merasa berat jika masih berhutang pada kalian. Setelah ini aku akan fokus merawat ayahku sendiri.”

“Saya akan menemani Anda merawat, Tuan, tidak apa tidak bayar,” ujar Zaenab.

“Benar, Nona, biarkan kami tetap bersama Anda sampai Tuan Aariz sembuh,” kata Amaan.

“Saya ingin membantu, tapi ...” ucapan Umar tak berlanjut.

“Sudahlah, kalian tak perlu memaksakan diri. Aku tahu kalian juga butuh uang ini. Sekarang sebaiknya kalian cari pekerjaan lain, aku sudah tidak bisa membayar gaji kalian.” Antara sedih dan marah, Hanin mengatakan itu pada semua karyawannya, setelah itu dirinya pergi meninggalkan mereka semua.

“Kalian pulanglah! Nona tidak mungkin menarik kembali keputusannya,” ucap Daniyal, kemudian pergi menyusul Hanin. Gadis itu sangat cepat jalannya, tapi Daniyal berhasil mengejarnya.

“Nona, tunggu sebentar!” seru Daniyal mencegah langkah Hanin yang buru-buru, tapi Hanin tak menghiraukan panggilannya. Dia tahu Daniyal hanya ingin membujuknya. Sampai akhirnya Daniyal berhasil meraih tangan Hanin dan menariknya dengan cepat.

“Nona, dengarkan saya!”

Tubuh Hanin membentur tubuh Daniyal, Mereka kini berada pada posisi sangat dekat, sesaat pandangan mata saling bertemu dan Daniyal merasakan hal yang aneh tak biasanya, tapi begitu menyadari kekeliruannya, Daniyal mundur menjaga jarak.

“Maaf, tapi Nona dengarkan saya dulu. Anda tidak perlu melakukan semua ini,” kata Daniyal.

“Aku sudah tidak bisa menggaji kalian, jadi ini cara yang terbaik,” balas Hanin.

“Maaf kalau saya tak bisa mempertahankan Tuan di perusahaan, tapi jika diizinkan saya masih bersedia membantu jika Nona membutuhkan saya.”

Baru saja Daniyal mengatakan hal itu ponselnya berdering, tampaknya dari perusahaan, Daniyal langsung mengangkatnya.

“Iya, baiklah aku akan kembali.”

Daniyal menutup teleponnya yang singkat itu dengan raut sedih.

Hanin bisa membaca sikap Daniyal saat itu yang serba salah, sepertinya memang panggilan dari perusahaan.

“Sudah, Kak, jangan memaksakan diri. Aku tahu niat baik Kak Daniyal ingin menjagaku dan ayah, tapi kakak juga masih terikat kerja dengan perusahaan. Soal ayahku kakak tak perlu mencemaskannya.” Hanin berlalu meninggalkan tempat itu dengan perasaan sedih.

“Nona!”

Daniyal kebingungan antara dia harus mengejar Hanin atau kembali ke perusahaan, tapi situasi memaksanya untuk lebih memilih kembali pada perusahaan.

••

Hanin berada di ruang ICU menemui ayahnya. Pria itu masih belum membuka matanya. Sudah tiga hari keadaan itu masih sama. Hanin hanya bisa bicara sendiri berharap ayahnya akan mendengarkannya.

“Ayah tidak perlu khawatirkan Hani, Hani setiap hari akan menjaga ayah di sini. Yang terpenting ayah segera bangun,” ucapnya lirih.

Kembali air mata menetes di wajahnya melihat kondisi ayahnya. Seseorang yang kini menjadi tumpuan hidupnya justru terbaring lemah dalam keadaan koma.

Hanin teringat waktu yang kurang tiga hari lagi, operasi harus dilakukan, tapi biaya operasi baru dua ratus juta, masih butuh 300 juta lagi. Meskipun pihak rumah sakit memberinya keringanan dengan mengangsur biaya, operasi akan tetap berjalan meskipun belum lunas, tapi Hanin tidak ingin berhutang.

Hanin menghapus air matanya saat dokter dan perawat masuk ruangan dan melakukan pemeriksaan. Dokter Ibrahim menyadari situasi Hanin saat itu usai menangis.

Beberapa menit kemudian, Dokter Ibrahim telah selesai memeriksa.

“Tiga hari lagi operasi akan tetap dijalankan, Nak Hanin. Keadaan Pak Aariz tidak bisa untuk menunggu lagi,” kata dokter.

“Saya mengerti, Dokter.”

“Dari bagian administrasi juga meminta setidaknya lima puluh persen masuk sebelum operasi,” imbuh perawat.

“Akan saya usahakan, Sus.”

Dokter Ibrahim kali ini tak banyak berbicara, dia tahu keadaan itu sangat sulit bagi Hanin. Namun, tak banyak yang bisa dia lakukan sebagai seorang dokter. Pasien rumah sakit bukan hanya Pak Aariz. Kesulitan yang tengah dialami Hanin juga dirasakan banyak pasien lain yang mengalami situasi yang sama.

Tenggang waktu pembayaran yang diberikan rumah sakit sebenarnya karena usaha Dokter Ibrahim mendiskusikannya dengan pihak rumah sakit, karena mempertimbangkan Hanin satu-satunya keluarga Aariz saat ini. Gadis itu yang kini berjuang untuk kesembuhan ayahnya seorang diri.

Hanin meninggalkan ruangan, duduk di ruang tunggu. Dia tak memiliki ponsel, padahal dia harus menghubungi Daniyal, tapi tak bisa.

“Sus, bolehkah aku pinjam ponselnya sebentar, aku ingin menghubungi seseorang,” kata Hanin pada seorang perawat di bagian instalasi.

“Kau tak punya ponsel?” jawaban balik perawat.

“Ponselku hilang,” jawab Hanin jujur.

“Aku dengar kau ini anak orang kaya, ayah seorang CEO, tapi ponsel saja tidak punya,” ucap perawat lain dengan tatapannya yang sinis. “Apa ayahmu sudah bangkrut?” tanya perawat.

“Aku dengar juga pihak rumah sakit memberikan kelonggaran padanya untuk pembayaran biaya operasi ayahnya, padahal biasanya rumah sakit ini sangat ketat dalam administrasi.”

“Mungkin dia sudah melakukan sesuatu yang membuat Dokter Ibrahim bersedia membantunya, lihatlah wajahnya saja terlihat lugu pasti memanfaatkan orang lain dengan keluguannya.”

“Kalian bersedia bantu atau tidak? kalau tidak jangan menghina ayahku!” Hanin tidak terima dengan ucapan dua perawat itu.

“Benar sekali, dia memang sudah miskin, ponsel saja tidak punya.” Suara lain menambahkan. Suara itu adalah Luna.

Hanin memutar tubuhnya menghadap ke arah datangnya suara.

“Luna masih berani kau memperlihatkan wajahmu di sini, setelah apa yang kau dan ibumu lakukan dengan rumah ayahku?” Hanin berjalan mendekat. Luna mundur menghindar.

“Jangan dekat-dekat! Atau aku teriak panggil satpam untuk membawamu pergi dari sini!” cegah Luna ketakutan. “Dengan begitu aku bisa leluasa bertemu dengan mantan ayahku itu.”

Plak!!

Tamparan keras Hanin pada Luna cukup keras.

“Beraninya kau menamparku?” mata Luna memerah. “Ayah ...!” teriak Luna meminta bantuan.

Hanin kaget, dia berpikir Luna memanggil ayah Aariz. Ternyata seorang laki-laki datang segera begitu Luna memanggilnya. Laki-laki itu tidak lain adalah selingkuhan Sabrina. Bagaimana Luna begitu dekat dengannya, dia bahkan langsung memeluk lengan laki-laki berusia sekitar dua puluh tujuh tahunan itu tanpa risi.

“Ada apa, sayang,” sahut laki-laki itu.

“Ayah, dia memukulku,” ucap Luna manja, menunjuk pada Hanin. Sedikit saja keluhan Luna, laki-laki itu langsung peduli. Mengusap wajah Luna yang memerah karena tamparan Hanin.

“Apa sakit?” tanya laki-laki itu.

Luna mengangguk.

“Apa kau ingin membalasnya?”

Luna tersenyum girang, itulah yang diharapkannya.

Laki-laki itu kemudian melangkah mendekati Hanin, tatapannya tajam. Hanin mundur menghindar, bayangan laki-laki itu saat keluar dari kamar ayahnya kembali melintas. Laki-laki itu juga penyebab ayahnya sekarang sakit.

“Kau mau apa?” tanya Hanin, tubuhnya sudah mentok di tembok. Sementara laki-laki itu sudah dekat dan tiba-tiba mengulurkan tangannya.

Hanin menepis tangan itu sebelum sampai menyentuhnya. Laki-laki marah dan membalas Hanin dengan mencengkeram leher Hanin.

“Aku tidak suka perempuan kasar, seharusnya kau bisa bersikap manis seperti ibu tiri dan adik tirimu itu, maka aku tidak akan menyakitimu. Aku justru akan membuatmu senang.”

“Laki-laki tidak tahu malu, apa kau tidak laku sampai harus mendekati istri orang? Sekarang kau juga mendekati Luna.”

“Apa maksudmu?”

“Kau kira aku bodoh, selain Sabrina kau juga mendekati Luna, kan?”

Laki-laki terkekeh.

“Kau pintar juga ternyata.” Laki-laki itu mendekatkan wajahnya berbisik di telinga Hanin. “Setelah bosan dengan ibunya, aku bisa mendapatkan anaknya, ide yang bagus. Setelah itu aku juga akan mendapatkanmu.”

Cengkeraman laki-laki itu melonggar, perlahan mulai meraba wajah Hanin, tiba-tiba ...,

Buck!!

Satu pukulan datang tak terduga membuat laki-laki itu terpental. Hanin kaget, Satya sudah berada di hadapannya saat ini.

“Singkirkan dia dari sini!” perintah Satya pada Rio dengan wajah marah.

Hanin masih berdiri terpaku, dia heran mengapa Satya bisa datang tepat waktu, apa jangan-jangan dia selama ini selalu mengawasinya. Mereka pernah bertemu sekali di rumah sakit itu, mungkin saja Satya mengawasinya. Apa dia juga mengetahui Ayah Aariz sakit?

“Apa kamu baik-baik saja? Sebenarnya kamu sakit apa, mengapa kau selalu berada di rumah sakit ini?”

Hanin merasa Satya sepertinya tidak tahu tentang Aariz, jadi dia sedikit merasa lega.

1
Muhammad Raihan
Rasain Satya ditinggal pergi😄
Muhammad Raihan
Nekat kabur juga Hanin, posisinya serba salah juga. Selalu dianggap anak nggak jelas
falea sezi
kalah pinter ma Luna hadeh oon lu nin
Muhammad Raihan
Sudah sampai seperti itu masih saja tidak mau ngaku suka, Satya breng*** juga
Muhammad Raihan
Semangat Kakak 👍🏻
D Asti
Selamat datang di novel ke dua aku, ayo kakak pembaca yang terkasih beri author dukungannya dengan like, komentar, saran dan ulasannya ya, terima kasih😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!