Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 17
Rumah itu tidak pernah benar-benar sunyi.
Bahkan ketika tidak ada suara langkah, tidak ada percakapan, selalu ada sesuatu yang bergerak—entah pikiran, firasat, atau bayangan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Yurie menyadari itu sejak lama. Namun pagi ini, perasaan itu terasa berbeda. Lebih berat. Lebih dekat.
Ia berdiri di depan jendela kamar, tirai setengah terbuka. Cahaya masuk lembut, menyentuh lantai dan dinding dengan warna pucat. Tidak ada yang tampak salah di luar sana. Langit bersih, udara tenang. Tapi dada Yurie terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menunggu untuk terjadi.
Ketukan pelan di pintu membuatnya menoleh.
“Masuk,” ucapnya.
Kaiden muncul di ambang pintu. Kemeja gelap, lengan digulung rapi, wajahnya tenang seperti biasa. Tapi Yurie cukup lama bersamanya untuk tahu—ketenangan itu bukan tanpa beban.
“Kau belum turun,” kata Kaiden.
Yurie mengangguk kecil. “Aku sedang berpikir.”
Kaiden melangkah masuk. Ia tidak langsung bicara, hanya berdiri beberapa langkah dari Yurie, membiarkan keheningan berjalan lebih dulu. Kebiasaan kecil itu selalu membuat Yurie merasa dihargai—ia tidak pernah dipaksa bicara sebelum siap.
“Ada yang berubah?” tanya Kaiden akhirnya.
Yurie menarik napas. “Aku merasa… mereka akan datang.”
Kaiden tidak bertanya siapa. Ia hanya mengangguk pelan. “Aku juga merasakannya.”
Mata mereka bertemu. Tidak ada panik di sana, hanya kesiapan yang belum sepenuhnya matang.
Perasaan Yurie terbukti lebih cepat dari yang ia duga.
Menjelang siang, mobil asing memasuki halaman rumah. Tidak mencolok, tidak tergesa. Mobil itu berhenti rapi, seolah kehadirannya sudah dijadwalkan sejak lama.
Yurie berdiri di dekat tangga ketika Kaiden turun dari lantai atas. Pandangan mereka bertemu lagi.
“Devano,” kata Kaiden singkat.
“Datang sendiri?” tanya Yurie.
“Tidak,” jawab Kaiden. “Mereka tidak pernah benar-benar sendiri.”
Kaiden memberi isyarat agar Yurie tetap di tempat. Namun sebelum ia sempat melangkah ke ruang depan, pintu sudah terbuka.
Seorang pria paruh baya masuk lebih dulu. Rambutnya rapi, jasnya mahal, senyumnya tipis—senyum yang tidak pernah benar-benar menyentuh mata.
“Kaiden Gelano Reynard,” sapanya. “Akhirnya kita bertemu lagi.”
Kaiden berdiri tegak. “Tuan Devano.”
Yurie menahan napas. Nama itu seperti dentuman di kepalanya. Devano—keluarga yang selama ini hanya muncul sebagai bayangan, kini berdiri di hadapannya dalam wujud nyata.
Di belakang pria itu, dua orang lain menyusul masuk. Salah satunya Yurie kenal. Terlalu kenal.
Agnesa.
Wajah wanita itu hampir tidak berubah. Tetap rapi, tetap anggun, tetap dengan tatapan yang membuat Yurie kecil dulu merasa mengecil. Di sampingnya, Kayla berjalan santai, senyum tipis terukir di bibirnya.
Dunia Yurie terasa menyempit.
“Yurie,” sapa Agnesa, seolah mereka hanya bertemu setelah lama berpisah dengan hubungan yang baik. “Kau terlihat sehat.”
Yurie tidak langsung menjawab. Tangannya mengepal tanpa sadar. Kaiden melangkah sedikit ke depan, posisinya jelas—tidak menutupi Yurie, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia ada.
“Apa tujuan kalian datang?” tanya Kaiden, suaranya datar.
Devano terkekeh pelan. “Langsung ke inti, ya. Aku suka itu.”
Ia duduk tanpa diminta. Agnesa dan Kayla ikut duduk, seolah ruang itu memang milik mereka.
“Kami datang untuk memastikan satu hal,” lanjut Devano. “Bahwa perjanjian tetap berjalan sebagaimana mestinya.”
Yurie menelan ludah. “Perjanjian apa?”
Agnesa menoleh, senyumnya menipis. “Jangan berpura-pura lupa, Yurie.”
Kaiden menatap Agnesa tajam. “Dia tidak sedang berpura-pura. Dan aku tidak suka caramu bicara.”
Kayla menyilangkan kaki. “Tenang saja. Kami hanya ingin memastikan tidak ada… penyimpangan.”
“Penyimpangan dari apa?” tanya Kaiden.
Devano menyandarkan punggungnya. “Dari rencana besar.”
Yurie melangkah maju, kali ini berdiri sejajar dengan Kaiden. “Rencana yang mana? Yang melibatkan hidupku tanpa persetujuanku?”
Agnesa tersenyum tipis. “Hidupmu sudah lama tidak sepenuhnya milikmu, Yurie.”
Kalimat itu menusuk. Tapi Yurie tidak mundur.
“Tidak lagi,” katanya pelan, tapi tegas.
Keheningan jatuh. Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Kayla menatap Yurie dari ujung rambut sampai kaki, lalu tertawa kecil.
“Kau berubah,” katanya. “Dulu kau tidak berani bicara seperti itu.”
Yurie menatapnya lurus. “Dulu aku sendirian.”
Kaiden melirik Yurie sekilas. Ada sesuatu di matanya—bukan sekadar perlindungan, tapi pengakuan.
Devano berdehem. “Kami tidak datang untuk bertengkar. Kami hanya ingin mengingatkan.”
“Mengingatkan apa?” tanya Kaiden.
“Bahwa ada banyak hal yang bisa menjadi… rumit,” jawab Devano. “Keluarga, reputasi, masa lalu.”
Yurie tertawa kecil, getir. “Kalian sudah merumitkannya sejak lama.”
Agnesa menghela napas, pura-pura lelah. “Yurie, kami hanya ingin yang terbaik.”
“Untuk siapa?” tanya Yurie. “Untukku, atau untuk kalian?”
Kayla berdiri. “Jangan terlalu emosional. Ini urusan orang dewasa.”
Yurie menatapnya. “Aku sudah cukup dewasa untuk tahu kapan aku dimanfaatkan.”
Kaiden melangkah setengah langkah ke depan. “Jika itu saja yang ingin kalian sampaikan, pertemuan ini selesai.”
Devano ikut berdiri. “Belum.”
Ia menoleh ke arah Yurie. “Kami tahu tentang Elif.”
Dunia Yurie terasa berhenti.
Kaiden tidak bergerak, tapi seluruh tubuhnya menegang.
“Apa maksudmu?” tanya Yurie, suaranya nyaris tak terdengar.
Devano tersenyum. “Kami tahu kau dan Kaiden sedang mencarinya. Dan kami tahu… ke mana arah pencarian itu.”
Agnesa menambahkan dengan nada ringan, “Kami hanya berharap kalian tidak melangkah terlalu jauh.”
“Dan kalau kami tetap melangkah?” tanya Kaiden.
Devano menatapnya lurus. “Akan ada konsekuensi.”
Yurie merasakan dadanya bergetar. Tapi alih-alih takut, sesuatu yang lain muncul—kemarahan yang selama ini terkubur.
“Ancaman?” tanyanya.
Devano tersenyum samar. “Peringatan.”
Kaiden menoleh ke Yurie. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kata, tapi ada keputusan yang sama.
“Kalau begitu,” kata Kaiden, “peringatan diterima.”
Devano tertawa kecil. “Aku berharap kau bijak, Kaiden Reynard.”
“Kebijaksanaan bukan berarti mundur,” jawab Kaiden.
Mereka pergi tak lama kemudian. Tidak ada teriakan, tidak ada keributan. Hanya pintu yang tertutup pelan, meninggalkan ruangan dengan udara yang terasa lebih dingin.
Yurie berdiri kaku beberapa saat sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang.
“Mereka tahu,” katanya.
Kaiden mengangguk. “Dan itu berarti kita semakin dekat.”
Yurie menatap lantai. “Aku takut.”
Kaiden mendekat, berdiri di depannya. Tidak menyentuh, tapi cukup dekat untuk membuat Yurie merasa tidak sendirian.
“Aku juga,” katanya jujur. “Tapi kita tetap jalan.”
Yurie mengangkat wajahnya. “Kau tidak menyesal melibatkan aku?”
Kaiden menggeleng. “Aku menyesal tidak melindungimu lebih cepat.”
Untuk sesaat, dunia terasa lebih tenang.
Namun jauh di dalam, Yurie tahu—ini baru permulaan. Tekanan sudah datang. Dan langkah selanjutnya akan jauh lebih berbahaya.
......................
Setelah kepergian keluarga Devano, rumah itu kembali sunyi—namun bukan sunyi yang menenangkan. Ada sisa ketegangan yang tertinggal di udara, seperti bau hujan yang belum sempat jatuh. Yurie berdiri lama di tempatnya, menatap pintu yang sudah tertutup, seolah masih bisa mendengar gema suara Agnesa dan Devano di kepalanya.
Kaiden tidak langsung berbicara. Ia berjalan ke jendela, memastikan halaman benar-benar kosong, lalu kembali mendekati Yurie.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya akhirnya.
Yurie mengangguk, meski butuh beberapa detik sebelum kata itu keluar. “Aku… hanya tidak menyangka mereka berani datang sejauh itu.”
“Mereka datang karena merasa kehilangan kendali,” jawab Kaiden. “Orang seperti mereka tidak suka ketika sesuatu berjalan di luar rencana.”
Yurie menarik napas panjang, lalu duduk di sofa. Tubuhnya terasa lelah, bukan karena fisik, tapi karena ingatan yang bangkit bersamaan dengan wajah-wajah itu.
“Aku kira aku sudah kebal,” katanya pelan. “Tapi melihat Agnesa lagi… rasanya seperti kembali menjadi anak kecil yang tidak bisa melawan apa pun.”
Kaiden duduk berhadapan dengannya. “Kau tidak kembali ke titik itu.”
Yurie menatapnya. “Kau yakin?”
Kaiden mengangguk mantap. “Karena sekarang kau melihat mereka apa adanya. Bukan lagi sebagai orang yang berkuasa penuh atas hidupmu.”
Kata-kata itu tidak langsung menghapus rasa takut Yurie, tapi cukup untuk membuatnya bernapas lebih teratur.
Malam merayap perlahan. Lampu-lampu rumah dinyalakan satu per satu, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan kegelisahan di dalam kepala Yurie. Ia berada di dapur ketika Kaiden masuk membawa beberapa berkas.
“Kita perlu bicara,” kata Kaiden.
Yurie mematikan kompor dan menoleh. “Tentang Elif?”
“Dan tentangmu,” jawab Kaiden jujur.
Mereka duduk di meja makan. Berkas-berkas itu dibuka, memperlihatkan peta, catatan waktu, dan beberapa foto buram.
“Ini jalur yang sering digunakan,” jelas Kaiden sambil menunjuk satu garis. “Tidak resmi, tapi aman untuk orang-orang tertentu.”
“Devano,” gumam Yurie.
Kaiden mengangguk. “Dan beberapa nama lain. Tapi Devano yang paling aktif.”
Yurie menatap satu foto—sebuah sudut bandara yang tampak biasa. “Aku pernah ke sini,” katanya tiba-tiba.
Kaiden menoleh. “Kapan?”
“Beberapa tahun lalu,” jawab Yurie. “Agnesa membawaku… katanya untuk menemui kerabat jauh.”
Kaiden terdiam. “Dan kau baru ingat sekarang?”
Yurie mengangguk. “Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku dulu terlalu sering dipaksa lupa.”
Kaiden menatapnya lama. “Yurie, ini penting.”
“Aku tahu,” kata Yurie. “Dan itu sebabnya aku ingin ikut lebih jauh.”
Kaiden menghela napas. “Aku tidak ingin kau terluka.”
“Aku sudah lama terluka,” balas Yurie pelan. “Sekarang aku hanya ingin tahu kenapa.”
Kejujuran itu membuat Kaiden tidak bisa menyangkal lagi.
Beberapa hari berikutnya diisi dengan langkah-langkah kecil namun berarti. Yurie mulai ikut mendengarkan, ikut membaca, ikut mengingat. Tidak selalu berbicara, tapi selalu hadir. Dan Kaiden—perlahan—mulai mempercayakan lebih banyak hal padanya.
Suatu sore, mereka berada di ruang kerja Kaiden. Hujan turun di luar, tidak deras, tapi cukup untuk menciptakan ritme yang menenangkan. Yurie duduk di lantai, bersandar pada rak buku, membaca catatan lama.
“Kaiden,” panggilnya tiba-tiba.
“Hm?”
“Ada satu nama yang sering muncul,” katanya. “Bimantara Nazeeran.”
Kaiden mengangguk. “Ayahmu.”
“Dia jarang muncul langsung,” lanjut Yurie. “Tapi selalu ada di belakang.”
“Orang seperti itu biasanya tidak bergerak sendiri,” kata Kaiden. “Mereka menyusun.”
Yurie menutup catatannya. “Aku mulai berpikir… semua ini bukan kebetulan.”
Kaiden menatapnya. “Tidak ada yang kebetulan di lingkaran mereka.”
Yurie tersenyum tipis. “Dulu aku pikir aku hanya korban.”
“Sekarang?” tanya Kaiden.
“Sekarang aku ingin tahu peranku.”
Kaiden tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Yurie dengan sorot yang sulit diartikan—campuran kagum dan kekhawatiran.
Malam itu, Yurie terbangun karena mimpi. Bukan mimpi buruk, tapi mimpi yang terlalu nyata. Ia melihat ibunya, Shella, berdiri di ujung lorong, tersenyum samar.
“Yurie,” panggil suara itu lembut.
Yurie duduk tegak di ranjang, napasnya terengah. Ia memandang sekeliling, memastikan dirinya sadar. Tanpa banyak berpikir, ia keluar kamar.
Lampu ruang tengah masih menyala. Kaiden duduk di sofa, membaca berkas.
“Kau belum tidur?” tanya Yurie.
Kaiden menggeleng. “Kau kenapa?”
Yurie duduk di sampingnya, jaraknya lebih dekat dari biasanya. “Aku bermimpi tentang Mama.”
Kaiden menutup berkasnya. “Apa yang dia katakan?”
“Tidak banyak,” jawab Yurie. “Tapi rasanya seperti… dia ingin aku tidak berhenti.”
Kaiden terdiam sejenak. “Mungkin karena kau sudah dekat.”
Yurie menatapnya. “Kau percaya hal seperti itu?”
Kaiden tersenyum tipis. “Aku percaya pada instingmu.”
Keheningan menyelimuti mereka. Tidak canggung. Tidak perlu diisi.
“Apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanya Yurie akhirnya.
“Kita akan bergerak lebih hati-hati,” jawab Kaiden.
“Dan lebih terbuka.”
“Termasuk aku?”
Kaiden menoleh. “Terutama kau.”
Yurie tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, kata-kata itu tidak terasa seperti beban.
Beberapa jam kemudian, telepon Kaiden berdering. Ia menjawab dengan cepat, suaranya rendah.
“Di mana?” tanyanya.
Yurie menegakkan tubuh. Ada sesuatu yang berubah di wajah Kaiden.
“Aku mengerti,” kata Kaiden sebelum menutup telepon.
“Ada apa?” tanya Yurie.
“Kami menemukan seseorang, tapi bukan Elif” jawab Kaiden.
“Lalu?”
“Orang yang pernah melihatnya.”
Jantung Yurie berdegup cepat. “Kapan?”
“Segera,” jawab Kaiden. “Tapi ada satu hal.”
“Apa?”
“Orang itu menyebut satu nama sebelum setuju bicara.”
Yurie menelan ludah. “Siapa?”
Kaiden menatapnya lurus. “Agnesa.”
Nama itu jatuh seperti palu.
Yurie menghembuskan napas panjang. “Kalau begitu… kita memang tidak bisa berhenti.”
Kaiden berdiri. “Tidak.”
Yurie ikut berdiri. Ada ketakutan, tapi lebih banyak tekad.
Di luar, hujan berhenti. Awan bergerak perlahan, membuka sedikit ruang di langit gelap. Seolah memberi isyarat bahwa sesuatu akan segera terungkap—entah siap atau tidak. Dan Yurie tahu, langkah selanjutnya akan mengubah segalanya.