NovelToon NovelToon
Cuz I'M Your Home

Cuz I'M Your Home

Status: tamat
Genre:Menjadi Pengusaha / Cintamanis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:661
Nilai: 5
Nama Author: Hyeon Gee

Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Kita pernah bertemu sebelumnyatapi, aku berusaha gak acuh karena posisinya aku udah punya pacar dan kamu pun gitu. Terlebih karena kita beda sekolah, dan kurasa dindingnya terlalu tinggi saat aku tahu kalau Adik sepupuku sendiri yang juga teman dekatmu, begitu menyukaimu. Namun, ada momen di mana terkadang Tuhan berpihak padaku hanya agar kenangan indah itu terselip dalam ingatan…

“Iya, aku ngumpul di tempat Reza. Kenapa?”

“Cewek itu ada?”

“Cewek siapa?”

“Udahlah, Gar. Aku cape. Kamu bilang, kamu masih sayang aku makanya kita balikan. Tapi, kenapa malah gini. Kamu jalan sama aku aja gak mau. Banyak banget alesan.”

“Haaa…Dhe? Kamu, tuh, instrospeksi bisa gak? Kita sudah pacaran dari kelas sembilan, lho. Ke mana-mana aku juga ngikut maumu apa.”

“Jadi, sekarang kamu ngitung jasa? Aku balik sama kamu karena kamu bilang, masih sayang aku. Tiap ketemu kamu periksa ponselku. Toxic banget tau, gak?”

“Haaa…nanti aku ke rumah. Gak usah debat di telepon.”

“Gak. Gak perlu lagi kamu ke rumah!”

“Kenapa? Kamu lagi di kos Tristan?”

“Ng…gak. Kenapa jadi tiba-tiba bahas dia. Kan, kamu yang ngemis balikan sama aku dan bilang masih sayang. Kenapa jadi nuduh aku gitu? Kamu pasti lagi asik sama cewek itu, kan?”

“Haaa..jam sembilan aku ke rumah.”

Sama sekali abai, Garra yang kala itu masih duduk di bangku SMA kelas sebelas tidak peduli lagi dengan sahutan dari gadis di seberang telepon. Dia mematikan sambungannya dan untuk kesekian kali dia menghela napas. Sejenak, ia yang tengah berada di balkon rumah temannya, Reza, pun memandang kosong ke langit malam yang dipenuhi bintang.

“Bintangnya banyak, ya?”

Teguran itu membuat Garra sontak menoleh. Dilihatnya gadis dengan senyum cerah hingga membuat kedua matanya tampak ikut tersenyum itu pun membuat Garra ikut tersenyum tipis.

“Sudah selesai kerja kelompoknya?” tanya Garra.

“Belum. Tapi, bagianku udah.”

“Echa Phalosa? Namamu bagus,” puji Garra sembari tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari langit bertabur bintang.

Tersipu? Tidak. Echa bingung dengan kalimat pujian yang dilontarkan Garra. Dia hanya melempar pandangan kosong sesaat sebelum kembali ikut melihat langit.

“Gak perlu merasa gak nyaman. Aku sudah biasa dikatain cewek gak betul. Sebenernya, dulu waktu SMP kelas sembilan, aku juga pernah salah. Aku salah, karena posisinya saat itu aku tahu, dia pacar temanku. Tapi, jujur dia orang yang mau berteman denganku tanpa memandang fisik. Aku pernah ditinggal orang yang kusukai di tempat biasa dia ngumpul. Dan kebetulan, pacar temanku ini satu kumpulan. Aku diantar pulang tanpa ragu, tanpa menolak. Aku sesak, aku kalut, bukan sengaja tapi, dalam kondisi sadar, aku meluk dia waktu dibonceng. Besoknya, aku di sidang sama pacarnya yang kebetulan satu kelas denganku.”

Penjelasan Echa yang sudah lebih dulu menatapnya membuat kening Garra berkerut.

“Kamu ngerusak jatuhnya,” ujar Garra tanpa bermaksud menghakimi.

“Ehehehe…sekarang baru sadar aku sudah ngerusak. Dulu aku menolak habis-habisan karena dia selalu jadi temen curhatku soal orang yang kusuka.”

“Terus? Dia kaya apa habis pacarnya nyidang kamu?”

“Dia putusin pacarnya.”

“Kenapa? Dia mau bela kamu? Atau dia suka sama kamu?”

Echa pun menggeleng singkat.

“Dia gak suka aku. Aku sama dia kaya Adek, Kakak aja.”

“HTS?(Hubungan tanpa Status)”

“Gak.”

“TTM?(**Teman tapi Mesra)**”

“Hahaha…gak juga. Aku betul-betul boncengan sama dia waktu dia anterin aku pulang itu aja. Habis itu biasa, cuma teguran di sekolah. Cuma kalo inget sekarang, rada geli aja. Karena dulu aku sama dia saling panggil, ‘Abang, Adek’.”

“Dia lebih tua dari kamu?”

“03 Maret 1991. Aku lahir, 06 Januari 1992. Cuma beda dikit. Kaya kamu sama David.”

“David, tuh, kejauhan. Aku lahir 1991.”

“Loh, tua kamu dari aku?”

“Iya. Aku lambat sekolah karena malas. Terus aku maunya sekolah sama David. Jadilah, diambil jalan tengah. Makanya, aku lambat sekolah, David kecepetan.”

Sesaat Echa tersenyum geli.

“Mau manggil aku, Koko?”

Seketika ledakan tawa Echa pun pecah.

“Hahaha…gak usah aneh-aneh. Udah, pulang. Kasian pacarmu.”

“Hahaha…maaf, ya.”

“Apaan?” ujar Echa dengan kening berkerut.

“Kalo orang baca kesannya kamu kaya perusak hubungan orang. Padahal cuma gak sengaja dengar.”

“Kalo dulu aku mungkin ngakuin aku salah. Tapi, sekarang kalo ada yang nuduh aku gitu lagi, aku bakal jauhin. Aku sudah kenyang soalnya dikatain begitu sama orang yang gak tau aku dan keadaan sebenernya kaya apa.”

“Kadang cuma karena gak sengaja, orang bisa salah kaprah.”

“Sudah cape. Jadi, terserah mereka. Pergi sudah. Aku mau masuk.”

“Iya. Bilangi, David, ya. Aku ke tempat Dhea.”

“Iya. Semangat.”

Kadang yang sudah baik pun akan terlihat salah di mata pembenci. Dan yang sebenarnya buruk, belum tentu tidak baik. Semua tergantung proses dan jalan cerita yang sebenarnya…

1
Amiera Syaqilla
beautiful story💕
goyangi13: thank u 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!