Dia amanah yang harus dijaga, sekaligus godaan neraka!.
12 tahun yang lalu sebuah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sepasang suami istri , namun sebelum kepergian nya presiden direktur menitipkan putrinya sekaligus semua harta warisan untuk nya pada Hans yang berstatus sebagai asisten pribadi .
Sebagai balas budi Hans menerima tanggungjawab itu mengingat jasa Pak Bobby yang sudah membesarkan dan menyekolahkan nya hingga bisa seperti sekarang.
" Iya Pak, Saya akan menjaga dan Melindungi Ayra seperti bapak menjaga nya " ucap Hans ketika Pak Bobby menggenggam tangan nya dengan nafas tersengal.
" Sa, sayangi , dia , " pesan terakhirnya presiden direktur mengelus kepala putri kecilnya yang sudah menangis sesenggukan memeluk nya sementara sang ibu sudah pergi lebih dulu .
" Papa" teriak Ayra ketika Papa nya juga pergi meninggalkan nya .
" Tenang kamu masih punya Om " ucap Hans memeluk gadis kecil itu.
Tapi bagaimana jika gairah Hans muncul disaat gadis itu menginjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mul_yaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 Ayra yang keras kepala
Sesampai diruangan nya Hans menenangkan Ayra dan memberinya air begitu mereka duduk disofa .
" Ayra tenang lah , Om akan selalu melindungi kamu " ucap Hans memeluk Ayra dengan perasaan khawatir karena untuk saat ini Ferdinand benar-benar telah menemukan Ayra.
" Tapi kenapa pria itu bilang aku calon istrinya Om?" ucap Ayra yang jadi kepikiran.
" Ayra dengarkan Om baik-baik ya, mulai hari ini dan seterusnya siapapun itu yang mengaku-ngaku sebagai calon suami kamu jangan dipercaya , mereka sedang mengincar harta warisan kamu " jelas Hans memegang kedua tangan Ayra dan menatapnya dalam .
" Tapi baru dia yang mengaku sebagai calon suami aku Om, jangan-jangan dia beneran orang yang dijodohkan Papa sama aku" pikiran Ayra .
" Ayra, Om nggak nyangka ya kamu lebih percaya orang yang baru kamu temui hari ini ketimbang Om yang sudah bersama kamu sejak lama" ucap Hans dengan kecewa tidak menyangka Ayra akan langsung percaya.
" Om tidak begitu maksud aku , aku , percaya sama Om, tapi ,"
" Yaudah mulai sekarang kamu boleh percaya sama apapun yang kamu lihat dan kenal tidak perlu mendengarkan ucapan Om " ucap Hans yang membuat Ayra terdiam dan menunduk takut , jika sudah begitu berarti Hans sudah marah dan tidak akan mau bicara lagi dengan Ayra .
" Om aku tidak bermaksud begitu " kata Ayra memegang tangan Hans namun langsung ditepis nya dan pergi .
...........
Malam harinya.
" Om buka pintu nya , maafin aku " kata Ayra yang masih setia berdiri didepan pintu kamar Hans yang tidak lagi terbuka sejak pria dewasa itu masuk di sore hari .
Jika Hans sudah marah dia akan diam seribu bahasa bahkan tidak akan bicara dan mengabaikan Ayra .
" Om maafin lah aku janji nggak bakal percaya apa yang dibilang orang lain, janji bakal percaya sama Om doang , Om " ucap Ayra .
Hans jika sudah marah dia tidak akan menemui Ayra sementara Ayra juga tidak akan pernah berhenti minta maaf bahkan pergi dari depan pintu sebelum Hans menemui nya .
" Non duduk lah dulu sudah 3 jam lebih Non berdiri mungkin tuan Hans sedang tidur " ucap seorang bodyguard menghampiri Ayra karena iba .
" Nggak , mau disini , nggak mau , kemana-mana sebelum Om Hans maafin " kata Ayra keras kepala mengusap air matanya.
" Yaudah , kita disini Non bisa cerita sama Om kenapa tuan Hans jadi marah " ucap Bodyguard itu yang sudah bekerja sejak Ayra kecil jadi dia cukup paham Ayra .
" Om Hans marah karena aku percaya sama orang lain " cerita Ayra mengusap air matanya yang terus jatuh .
" Astaga , itu artinya tuan Hans tidak marah tapi kecewa pada Non Ayra" pendapat bodyguard itu.
" Kecewa?" ketakutan Ayra , memikirkan Hans marah saja sudah membuatnya menjadi takut apalagi jika sampai Hans kecewa padanya .
" Non mengapa bisa lebih percaya pada orang baru ketimbang tuan Hans, dia sudah menjaga dan merawat nona dari kecil dengan tulus , wajar dia tersinggung" pendapat bodyguard itu.
" Tapi pria itu bilang dia calon suami aku, bisa aja kan dulu sebelum Papa meninggal beliau sudah merencanakan sebuah perjodohan untuk ku " ucap Ayra mengatakan apa yang terpikir oleh nya .
" Non jika memang begitu tidak mungkin rasanya tuan Hans akan berbohong , lagian untuk apa juga dia berbohong Tuan Hans sangat menyayangi Non Ayra namun dengan bersikap begitu Non Ayra secara tidak langsung sudah meragukan tuan Hans" jelas Bodyguard itu.
" Tapi aku hanya bertanya saja tidak bermaksud menuduh Om Hans menyembunyikan semuanya, aku percaya Om Hans kok " jujur Ayra .
" Jika memang percaya lalu kenapa Non menanyakan soal itu , makanya tuan jadi kecewa karena berpikir Non meragukan moralitas nya dan jika memang Nona sudah dijodohkan sejak kecil pasti akan tertulis dalam surat wasiat atau beberapa dokumen tapi inikan tidak ada " ucap Bodyguard itu mengatakan yang sebenarnya.
" Tuan Hans sangat menyayangi Nona nanti kalau dia diami seminggu bagaimana?" tawa Bodyguard itu diakhir kalimat nya .
" Ya tapikan aku cuma nanya kenapa Om Hans sangat sensitif sekali sekarang" kata Ayra yang sungguh hanya bertanya sebagai bentuk penyelesaian dari rasa penasaran nya tapi Hans malah langsung tersinggung.
" Gini deh, Om nggak percaya Non sayang sama tuan Hans " ucap bodyguard itu yang membuat Ayra langsung emosi
" Aku sayang Om Hans " kata Ayra tanpa ragu .
" Mmmh, baru diragukan rasa sayang aja Non udah marah apalagi dituduh berniat jahat pada tuan Hans " pendapat Bodyguard itu lalu pergi begitu saja .
" Ohhhh, tuhan " Ayra menepuk jidatnya, sekarang punya jawaban kenapa Hans marah sampai mendiami nya ternyata Ayra telah melukai perasaan Hans dengan lebih percaya ucapan pria itu .
" Om , Buka pintunya, maafin aku " teriak Ayra dengan suara sangat keras menggedor-gedor pintu kamar Hans karena merasa sangat bersalah.
Ayra mengambil ponselnya dan duduk bersandar ke pintu kamar Hans benar-benar merasa sudah lelah berdiri dan kehabisan energinya.
Tidak lama Ayra diam Hans membuka pintu kamar karena tidak mendengar suara apapun lagi .
" Hwaaa, Om maafin aku " Ayra yang sudah terjatuh dilantai itu langsung menggapai kaki Hans dan memeluk nya .
Hans masih melek melihat Ayra yang ternyata tidak pergi tapi duduk bersandar ke pintu hingga jatuh begitu Hans membuka pintu .
" Ayra lepaskan Om " ucap Hans menepis tangan Ayra tidak mau Ayra memeluk kakinya.
" Om maafin aku " rengek Ayra berlari mengejar Hans yang menuju ranjang nya .
" Sekarang keluar dari kamar Om dan mandi " ketus Hans menatap penampilan Ayra masih sama seperti terakhir kali Hans melihatnya.
Hans membuka pintu karena berpikir Ayra benar-benar telah pergi .
" Nggak bakalan mandi sebelum Om kasih maaf " kata Ayra menatap Hans yang duduk diatas ranjang mengerjakan pekerjaan di laptop serta beberapa berkas
" Terserah kamu " ucap Hans dengan ekspresi tidak suka nya .
" Om maaf , nggak bakalan gitu lagi , janji bakalan selalu dengerin Om " kata Ayra duduk di karpet dan meletakkan kepalanya diatas ranjang Hans .
"Tidak perlu berjanji , sekarang kamu udah dewasakan jadi dengerin diri kamu sendiri tidak perlu mendengarkan apa perkataan yang keluar dari mulut Om lagi " ucap Hans yang duduk diatas ranjang sibuk dengan laptopnya.
" Om aku salah , aku percaya sama Om , nggak bakal mempertanyakan lagi apapun yang Om katakan " kata Ayra naik keatas ranjang dan memegang tangan Hans.
" Kamu punya hak untuk mempertanyakan apapun , tidak perlu patuh lagi pada perkataan Om, kamu udah dewasa kan sudah saat menentukan pilihan sendiri " ucap Hans menarik tangan nya yang dipegang Ayra.
" Enggak, aku mau tetap diatur Om " kata Ayra yang merasa dirinya tidak akan berada dijalan yang benar tanpa aturan dari Hans .
" Untuk apa aku mengatur orang yang meragukan diriku sendiri" pernyataan Hans sengaja ngambek ingin membuat Ayra benar-benar percaya padanya sampai tidak menghiraukan siapapun nanti yang mencoba mempengaruhi nya .
Ayra hanya akan percaya pada Hans saja !.
" Ommm, maafin aku , janji nggak bakal tanya-tanya lagi " kata Ayra.
" Tidak mau sekarang kamu akan hidup de,"
" Nggak mau, mau sama Om " kata Ayra berbaring menjadikan paha Hans bantal nya dan memeluk erat pinggang Hans .
" Lepas " teriak Hans yang tidak expect Ayra akan begitu membuatnya begitu tegang .
" Nggak bakal pergi sebelum Om maafin " keras kepala Ayra membenamkan wajahnya di perut Hans
yg dijodohkan dgn Ayra dah nongol, gmn tuh tindakan Hans selanjutnya ya
Ayra gak sengaja dengerin gak ya saat Hans ngomong mencintainya, mungkin dengerin dan sikapnya berubah 🤔