Radit hanyalah pecundang yang hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan, sampai sebuah Sistem Misterius memberikan kunci menuju takdir yang gelap. Mengambil identitas sebagai sang Topeng Putih, ia merayap dari titik terendah menuju puncak tertinggi dunia bawah. Kekuasaan dan darah menjadi makanannya sehari-hari, hingga kehadiran Rania menyuntikkan kembali setitik cahaya di hatinya.
Namun, dunia tak membiarkannya bahagia. Tragedi berdarah di kampus menghancurkan dunianya dan merenggut Rania. Saat air mata berubah menjadi api, Radit melepas kemanusiaannya untuk meratakan dunia dengan dendam. Kini, setelah badai pembalasan mereda, Radit melangkah pergi meninggalkan singgasana berdarahnya. Ia memulai pencarian terakhir: menemukan kembali kepingan cintanya yang hilang, meski ia harus melawan takdir itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Gedung paviliun senyap berdiri di tengah taman batu putih, terpisah dari hiruk - pikuk kota oleh formasi sunyi tingkat tinggi.
Hari itu, tempat tersebut hanya menerima empat orang, bulan tetua , bukan penjaga. Melain kan pewaris langsung dari empat keluarga besar.
Utara - Tengku Guntara.
Tengku Guntara duduk tegak, postur nya lurus seperti tombak yang tidak pernah goyah. Rambut nya hitam pendek, tatapan nya tenang namun berat .
Wilayah Utara di kenal keras, dingin, dan di siplin dan Tengku adalah cerminan nya.
" Falcon mundur " ucap nya.
Membuka pembicaraan, suara nya stabil.
" Ini bukan kejadian kecil."
Selatan - Aqilla Dewantara.
Aqilla Dewantara tersenyum tipis, namun mata nya menyimpan kecerdasan yang tajam. Gaun sederhana nya tidak menyembunyikan aura kepemimpinan yang mengalir alami.
" Bukan Falcon yang menarik perhatian Ku." Kata nya lembut.
" Melain kan alasan mereka mundur ."
Ia mengait kan jari.
" Topeng Putih."
Timur - Arsha Kusuma.
Arsha Kusuma bersandar santai di kursi nya, namun aura tersembunyi di balik sikap itu membuat udara bergetar samar. Timur di kenal licik dan penuh perhitungan.
" Keluarga kelas satu panik." Kata nya ringan.
" Falcon memasang bendera hitam."
Ia tersenyum miring.
" Dan satu orang bertopeng mengacak peta."
Barat - Wijaya Kusuma
Wijaya Kusuma menatap meja batu, jari nya mengetuk pelan - ritme teratur. Wajah nya tampak tenang, namun fikiran nya berkerja cepat.
Barat adalah pusat ekonomi dan strategi jangka panjang.
" Yang menarik." Kata nya akhir nya.
" Dia tidak mengambil alih wilayah, tidak membangun faksi."
" Dia menghilang."
Ke empat nya terdiam sejenak. Empat pewaris, empat arah mata angin. Satu topik.
" Menurut laporan ." Ujar Aqilla.
" Topeng putih masih sangat muda."
Tengku mengangguk.
" Jika itu benar, maka dia lebih berbahaya dari pada tetua mana pun."
Arsha tertawa kecil.
" Anak muda dengan kekuatan besar dan tanpa bendera ?". Ia mengangkat bahu.
" Entah pahlawan... Ata bencana !"
Wijaya mengangkat pandangan. " " Pertanyaan sederhana ." Kata nya tenang.
" Apakah kita mendekat atau menjauh?"
Keheningan menebal Adit menjawab pertama.
" Utara tidak akan memprovokasi."
Aqilla menyusul. " Selatan memilih observasi aktif."
Arsha menyeringai. " Timur ingin... Berkenalan."
Semua mata beralih ke Wijaya.
Barat selalu penentu keseimbangan. Wijaya menghela napas pendek.
" Barat akan menunggu." Kata nya.
" Orang seperti itu... Akan muncul lagi dengan sendiri nya."
Di akhir pertemuan empat pewaris berdiri bersamaan. Tidak ada sumpah. Tidak ada perjanjian. Namun satu kesepakatan tak terucap telah lahir.
Topeng putih bukan musuh – belum. Tapi ia akan menentukan generasi mereka.
Di tempat lain Radit sedang mengantri di kantin kampus, tidak sadar bahwa empat pewaris keluarga besar. Baru saja membicarakan masa depan nya.
Dan pertemuan hari ini hanyalah awal dari persimpangan yang tidak bisa di hindari . Keputusan telah di buat di paviliun senyap.
Tidak tertulis ,tidak di umum kan namun roda takdir mulai berputar.
Empat pewaris kembali ke wilayah mereka masing-masing, dna bergerak.
Utara — Langkah diam Tengku Guntara.
Di benteng es wilayah utara, Tengku Guntara berdiri di hadapan dinding peta, tidak ada kemerahan , tidak ada ambisi berlebihan.
" Nonaktifkan semua patroli provokatif." Perintah nya singkat.
" Tarik unit luar. Para perwira terkejut.
" Pusat kan pada pertahanan internal." Lanjut Tengku .
" Dan—". Ia berhenti sejenak.
" Cari tahu siapa topeng putih, bukan apa dia."
Metode Utara sederhana. Stabilitas lebih penting dari pada kemenangan cepat. Jika topeng putih adalah badai — Utara akan menjadi gunung .
Selatan — jaringan halus. Aqilla Dewantara.
Di paviliun air wilayah selatan, Aqilla Dewantara memandangi kolam lotus.
" Jangan kirim mata-mata bersenjata." Kata nya lembut .
" Gunakan jalus sosial.". Seorang wanita paruh baya membungkuk.
" Undangan akademik , seminar, beasiswa ." Lanjut Aqilla.
" Anak muda selalu muncul di sana.". Ia tersenyum samar.
" Jika topeng putih muda seperti dugaan, maka ia pasti masih terikat dengan dunia normal."
Selatan memilih merangkul, bukan mengintimidasi.
Timur — Senyum berbahaya Arsha Kusuma. Di menara kaca timur Arsha Kusuma tertawa kecil sambil memutar cincin di jari nya.
" Kirimi aku semua data kampus elit.,". Kata nya santai.
" Mahasiswa jenius. Peneliti muda, siapa pun yang terlalu bersih untuk dunia ini."
" Dan keluarga kelas satu.?" Tanya bawahan nya.
" Biar kan mereka ribut ." Jawab Arsha.
" Kita tidak mengejar topeng putih.". Ia menyeringai.
" Kita menunggu dia menyentuh seseorang."
Timur percaya, tidak ada manusia tanpa celah.
Barat — kesabaran Wijaya Kusuma.
Di kantor tinggi wilayah Barat, Wijaya Kusuma menanda tangani laporan tanpa emosi.
" Bekukan semua ekspansi agresif." Kata nya datar.
" Alih kan modal ke... Pengamatan pasar manusia."
Asisten nya mengerut kan kening.
" Pasar manusia ?"
" Pendidikan, teknologi, budaya." Jawab Wijaya.
" Tempat orang kuat muda menyembunyikan diri."
Barat tidak berburu , barat menunggu arus, karena arus... Selalu membawa ikan besar ke permukaan.
Penutup , empat pewaris, empat cara. Tidak ada pandangan terhunus, tidak ada darah tertumpah, namun justru itu lah yang berbahaya.
Karena ketika kekuatan sebesar itu bergerak diam diam, dunia tidak akan menyadari perubahan hingga semuanya sudah terlambat. Dan di tengah semua langkah itu— Radit berjalan ke kelas sore, mendengar kan musik dari earphone murah. Ia tidak tahu bahwa, Utara sedang menguat kan fondasi, selatan sedang membuka pintu. Timur sedang mengintai celah, Barat sedang membaca arus. Dan pada akhir nya, semua langkah itu akan bertemu pada nya.
Sore itu, kampus di selimuti cahaya ke emasan. Mahasiswa duduk ber kelompok di bawah pepohonan tua, membahas tugas, masa depan. Dan hal-hal sepele yang terasa besar di usia dua puluhan .
Radit berjalan santai melewati jalur setapak , sebuah buku tipis di tangan. Ia tidak merasa di ikuti . Tidak merasakan aura asing. Dan justru itu — yang membuat langkah nya melambat.
" Permisi."
Suara itu tenang. , sopan. Radit menoleh , seorang pria sedang berdiri di dekat bangku taman . Usia nya tidak jauh berbeda dari nyaa. Mungkin dia atau tigak tahun lebih tua. Kemeja sederhana, jam tangan biasa.
Namun mata nya — terlalu tenang untuk sekedar mahasiswa.
" Boleh saya duduk?" Tanya pria itu.
Kemudian Radit mengangguk.
" Silah kan.". Beberapa detik berlalu tanpa percakapan . Angin menggoyang daun.
Pria itu membuka suara lebih dulu.
" Kampus ini menarik." Kata nya ringan.
" Banyak orang pintar... Dan banyak yang bersembunyi."
Radit melirik sekilas .
" Berlibur ke sini ?"
" Bisa di bilang." Jawab nya sambil tersenyum tipis.
" Nama saya Wijaya."
" Radit."
Tidak ada gelar, tidak ada basa basi. Wijaya menatap halaman buku Radit.
" Ekonomi terapan." Kata nya.
" Tidak banyak yang memilih topik itu."
" Praktis." Jawab Radit singkat.
Wijaya tertawa kecil.
" Saya suka jawaban itu."
Ia menyandar kan punggung, menatap langit senja.
" Kadang syaa berpikir." Lanjut nya.
" Orang memilih hidup sederhana bukan karena tidak mampu lebih — tapi karena mereka mengerti harga ketenangan."
Kalimat itu tepat sasaran... Radit tidak menjawab. Namun Wijaya memperhatikan — napas Radit tetap stabil. Tidak ada penolakan. Tidak ada pengakuan.
" Kalau suatu hari." Ujar Wijaya pelan. " Kamu di tawari kesempatan, untuk masuk ke dunia yang lebih besar..."
Ia berhenti, menoleh.
" Apa kamu akan mengambil nya ?"
Radit menutup buku nya. Menatap lurus ke depan.
" Kalau dunia itu menganggu hidup ku sekarang ." Kata nya tenang, " aku akan menolak nya."
Senyum Wijaya semakin tipis. Namun mata nya bersinar.
" Jawaban yang sangat... Mahal."
Bel berbunyi dari gedung utama. Mahasiswa mulai bergerak. Wijaya berdiri.
. " Senang bertemu dengan mu Radit."
Ia melangkah pergi dan menghilang di antara kerumunan.
Bersambung.....
alurnya lambat,terlalu Datar dan tidak jelas disetiap babnya.
tidak ada ruang disetiap bab yg membuat pembaca berimajinasi.
yg patut ditunggu apakah akhir dari skenario film ini happy end atau malah sad end.
Ku baca pelan" , Jdi radit emng g mudah.. 😥😭