Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rencana elena [Visual]
Elena berdiri di meja kue paling pojok, dia memakan kue dengan tenang. Dia tidak memiliki teman jadi ya mau bagaimana lagi, melihat banyak nona bangsawan bergerombol dia ingin bergabung tapi malu.
"Hmmm pesta semewah ini jadi terasa membosankan." Batin Elena.
Mata Elena menangkap sosok blonde di tengah-tengah kerumunan. Benar saja, itu Isabella yang datang bersama pengawal Istana. Daniel mendekat pada Isabella dan keduanya berbincang akrab dengan bahagia, Elena melihat kesekitar berharap Theor hadir di sana.
"Dia benar-benar tidak datang? benar-benar menjengkelkan." Batin Elena kesal.
"Haloo Lady Elena, padahal anda sudah hidup lama di kalangan rakyat jelata tapi dalam waktu singkat anda bisa secantik ini. Apa ada tips tertentu yang bisa kami tiru?." Gerombolan nona bangsawan mendekat pada Elena.
"Haiii, mungkin karena aku bahagia membuat hatiku senang dan kecantikan itu datang begitu saja. Justru aku yang ingin bertanya, kalungmu sangat indah dan cocok untukmu apa kau memesan khusus?." Elena harus menjadi wanita anggun yang tenang.
"Ah benar, keluarga ku adalah pengrajin perhiasan bangsawan. Apa kau ingin memesan juga?." Ucapnya jadi ramah.
"Mungkin aku akan mengirim surat padamu suatu saat, Lady." Ucap Elena tersenyum dewasa.
"Wahhh anda benar-benar sangat cantik saat tersenyum, apa benar anda berusia 17 tahun?." Ucap mereka terpukau.
"Hahahah aku belum genap 17 tahun, tapi sebentar lagi hari itu akan tiba. Apa aku jauh lebih tua dari umurku?." Elena menyentuh pipinya salting.
"Tidak-tidak, anda terlihat dewasa tapi wajah anda benar-benar cantik. Ah tapi kenapa anda memakai kalung yang menakutkan? apa anda kesulitan mencari pengrajin sebelum nya?." Ucap mereka menyayangkan.
"Hahahahah, maaf untuk ini. Tapi ini kalung milik seseorang." Elena tersenyum malu-malu, ini dia rencananya.
Elena ingin menarik Theor agar tersandung rumor bersamanya, dia ingin tau bagaimana tanggapan Theor jika terjadi hal seperti ini. Jika dia memilih menyangkal, maka Elena akan memberikan perhitungan.
"Kyaaaa!! apa anda memiliki kekasih?." Pekik mereka ikutan salting.
"Hahahahah hanya teman lama." Elena jujur.
"Astaga itu sangat romantis, apa kau pernah membaca buku romansa tentang sahabat yang berakhir menikah? sungguh itu kisah cinta yang luar biasa." Ucap mereka excited.
"Astaga benarkah? karena tidak memiliki teman aku jadi bingung harus kemana, mungkin setelah ini kalian bisa mengundang ku untuk pergi bersama." Ucap Elena ramah, merayu dengan santai.
"Tentu saja, apa kau pernah mengikuti pesta teh?." Tanya mereka.
"Emm tidak, tidak ada satupun surat yang datang padaku hahaha." Elena kikuk.
"Oh astaga, mungkin karena kau belum banyak di kenal. Tapi setelah ini pasti akan banyak undangan pesta teh, kau harus datang dan tau siapa saja yang terkenal diantara nona bangsawan." Ucap mereka bergosip.
"Wah memangnya siapa? apa ada diantara kalian?." Elena seperti sedang bicara dengan anak-anak.
"Kyaaaaa!! mana mungkin, kami hanya bagian menonton. Yang paling terkenal adalah Lady Isabella dan Lady Roxane." Ucap mereka berbisik-bisik.
"Hmm aku tidak mengenal mereka, sayang sekali." Elena pura-pura murung.
"Wahh itu sangat wajar untukmu, tapi hubungan mereka tidak baik." Bisik mereka lirih.
Semakin lirih suaranya maka semakin akurat gosipnya, Elena mendengarkan dengan sangat penasaran. Dia harus tau apa yang sedang terjadi di kehidupan nona bangsawan sebenarnya.
"Memangnya kenapa?." Elena ikut berbisik.
"Seperti saingan cinta, Lady Roxane itu teman masa kecil putra mahkota. Sepertinya Lady jatuh hati namun putra mahkota justru menjalin kasih dengan Lady Isabella. Seperti itu lah awalnya, meskipun Lady Roxane masih memimpin tapi pengikut Lady Isabella juga sangat banyak." Bisik mereka.
"Ya ampun, aku jadi ingin melihat langsung. Apa mereka datang?." Elena celingukan.
"Ah disana, kau lihat Lady berambut merah itu? dia lah Lady Roxane, dan Lady Isabella tentu saja yang bersama putra mahkota saat ini." Ucap mereka memberitahu.
"Ah begitu, aku jadi ingin berkenalan dengan Lady cantik itu." Jujur Elena.
"Ah kau sendiri saja, kami takut menyinggungnya." Mereka tiba-tiba bubar begitu saja.
Elena hanya tersenyum geli, dia menghampiri sosok yang diduga Lady Roxane. Terlihat sangat anggun hanya saja judes dan angkuh, selayaknya Lady bangsawan kelas atas yang lahir dari sendok emas.
"Haloo Lady Roxane." Ucap Elena ramah.
"Siapa kau?." Ketus Roxane.
"Ah perkenalkan saya Elena Van Denilen, senang bisa bertemu dengan anda." Ucap Elena membungkuk sopan.
"Ah kau yang sempat terkenal karena berbuat onar?." Sinisnya.
"Hahahah saya malu karena anda mengetahui sisi saya yang memalukan." Elena jadi kikuk.
Roxane melirik sekilas tapi langsung melotot saat melihat kalung Elena, dia sering datang ke istana dan bertemu Daniel. Tentu saja dia sering bertemu Theor, dia mengenal kalung itu milik Theor.
"Tunggu, bukankah itu kalung milik Theor?!." Pekik Roxane syok.
"A-ah..." Elena kikuk sendiri.
greb
"Hey katakan yang sejujurnya, apa hubunganmu dengan bocah itu?." Ucap Roxane, dia menggenggam tangan Elena.
"Emm.. hanya... hanya teman lama." Elena menghindari kontak mata.
"Bohong, bocah itu sangat pelit. Mana mungkin dia memberikan kalung yang sudah seperti jimat itu secara cuma-cuma." Roxane menatap Elena intens.
"Ekhem..ekhem... jadi." Elena bingung harus berkata apa.
"Jadi apa?." Roxane menantikan.
Gradaakkkk
tap
tap
tap
Situasi tiba-tiba hening saat pintu aula kembali terbuka, terlihat sosok tinggi jangkung memakai baju serba hitam masuk dengan gagahnya. Dia adalah Theor, Elena menatap Theor terkejut apalagi Roxane yang sudah menganga lebar.
Theor berjalan mendekat pada Elena dan Roxane saat ini, Roxane yang masih menggenggam tangan Elena mematung. Dia syok karena tidak menyangka Theor akan datang ke tempat seperti ini.
"Apa kau sedang merudung gadisku, Lady Bexxa?." Ucap Theor dengan suara deep.
(Bexxa adalah marga Roxane).
Elena merinding dengan panggilan "gadisku". Dia salting sampai mematung, dia yang berharap Theor datang tapi setelah datang dia justru membatu.
"K-kau.. kalian.. kalian... sungguh? kekasih?." Roxane sangat syok sampai gagap.
"I-ini salah paham Lady Roxane." Elena harus pura-pura menyangkal.
"Lalu apa-apaan dengan gadisku tadi." Roxane memeluk lengannya merinding.
"Dia hanya bercanda, benar begitu yang mulia Grand Duke." Elena tersenyum karir.
"Aku tidak berpikir demikian." Theor menyangkal ucapan Elena.
Elena jadi kikuk karena merasa menjadi pusat perhatian, apalagi Roxane dan Theor yang berdebat sengit layaknya musuh bebuyutan. Elena ingin menghilang, tapi suara lain mengintrupsinya.
"Wahhh ternyata dugaan ku benar, kau diam-diam bisa merayu gadis Theor?." Daniel datang bersama Isabella.
"Selamat ulangtahun yang mulai, maaf atas keterlambatan saya." Theor memberikan hadiahnya.
"Astaga kau ini, jadi hubungan kalian it..... Eh?? kemana dia?." Daniel heran karena Elena sudah menghilang dengan cepat.
Theor yang ditinggalkan merasa kesal, dia yang tinggi berusaha mencari kemana Elena pergi tapi tidak terlihat karena terlalu ramai.
"Benar-benar seperti belut." Batin Theor.
Visual Theor George Van Delon
(saat memasuki aula pesta).
semangat othorrrr....moga sehat selalu 😘😘