Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Aroma lemak daging yang terbakar di atas arang mengepul hebat di depan warung Sate Cak Kumis. Alano dan Ayra duduk di bangku kayu panjang yang sedikit bergoyang. Ayra, yang masih mengenakan seragam Pramuka lengkap tanpa baret, beberapa kali menepuk perutnya secara refleks. Suara keroncongan dari perutnya bahkan sempat terdengar di sela kebisingan jalan raya.
"Laper banget ya, Ay? Sabar, itu sate ayam bumbu kacang pesanan lo lagi dikipas-kipas biar makin juicy," goda Alano sambil menyesap es teh manisnya.
"Gimana nggak laper? Tadi rapat OSIS lanjut jaga barisan Pramuka. Tenagaku habis buat ngatur orang-orang bebal kayak kamu," sahut Ayra, meski kini nada bicaranya tidak benar-benar marah.
Tak lama, dua piring sate dengan kepulan asap yang menggoda mendarat di depan mereka. Ayra tidak menunggu lama. Ia melahap sate itu dengan tenang namun efisien. Gerakannya rapi, khas Ayra yang selalu teratur, namun kecepatan kunyahnya membuktikan bahwa ia benar-benar kelaparan. Alano hanya memperhatikan dengan senyum tipis, merasa gemas melihat pipi Ayra yang menggembung saat mengunyah.
Tiba-tiba, sebuah suara berat dan tawa yang sedikit keras memecah ketenangan mereka. Tiga orang cowok dengan jaket denim—kakak kelas 12 yang juga anggota klub futsal—berhenti tepat di depan meja mereka. Salah satu dari mereka, yang dikenal bernama Satria, menumpukan tangannya di meja.
"Wihh, mojok di sini ya lo berdua?! Pantesan tadi dicariin anak-anak di tongkrongan nggak ada, ternyata lagi kencan sama Sekretaris OSIS," seru Satria sambil melirik nakal ke arah Ayra.
Ayra berhenti mengunyah. Ia meletakkan tusuk satenya perlahan di pinggir piring, lalu menelan makanannya sebelum menatap Satria dengan tatapan datar yang biasa ia gunakan saat rapat.
"Mojok apa ya, Kak? Kita cuma makan sate. Warungnya juga terbuka begini, semua orang bisa liat," jawab Ayra tenang, namun ada ketegasan di setiap katanya.
Alano menyandarkan punggungnya, matanya langsung berubah waspada. Ia menaruh gelas es tehnya dengan bunyi klotak yang cukup keras. "Kenapa, Sat? Iri nggak bisa makan sate cantik begini?"
Satria tertawa, menyenggol bahu temannya. "Galak amat, Lan. Gue cuma nanya. Lagian, Ayra, lo nggak bosen apa sama Alano? Dia mah di lapangan basket manisnya ke semua orang. Mending sama yang pasti-pasti aja, yang nggak bakal bikin lo pusing jaga hasduknya tiap hari."
Teman-teman Satria tertawa menyetujui. Suasana di warung sate yang tadinya hangat mendadak terasa sedikit tegang.
Ayra tidak tampak terintimidasi. Ia justru meraih tisu, menyeka sudut bibirnya dengan anggun, lalu berdiri sebentar untuk mengambil kecap di ujung meja—sebuah gerakan yang sangat tenang.
"Makasih saran dan perhatiannya, Kak Satria," ucap Ayra sambil kembali duduk. "Tapi sejauh ini, Alano nggak pernah bikin saya pusing. Justru orang-orang yang terlalu sibuk ngurusin hubungan orang lain yang biasanya bikin pusing. Oh iya, Kak, denger-dengar Kakak masih ada tunggakan iuran anggota klub futsal ke bendahara OSIS ya? Mungkin mending bahas itu daripada bahas sate kami."
Skakmat. Wajah Satria mendadak berubah sedikit kaku. Teman-temannya mulai berbisik, "Anjir, dia hafal data iuran kita?"
Alano hampir saja tertawa lepas mendengar jawaban Ayra. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Satria, suaranya rendah namun penuh peringatan. "Denger kan? Sekretaris gue ini nggak cuma jago ngatur jadwal, tapi jago jaga apa yang udah jadi miliknya. Jadi, mending lo pergi sebelum gue bahas soal lo yang sering telat latihan futsal ke pelatih."
Satria mendengus, mencoba menjaga imejnya. "Yaelah, baperan banget lo berdua. Cuma bercanda kali. Yuk, cabut!"
Setelah mereka pergi, Alano langsung tertawa keras sambil menepuk-nepuk meja. "Gila! Ay, lo beneran inget tunggakan mereka?"
Ayra kembali mengambil tusuk satenya dengan santai. "Enggak lah. Aku cuma nebak, biasanya cowok-cowok model kayak mereka itu paling males bayar iuran. Ternyata bener kan?"
Alano menatap Ayra dengan kekaguman yang semakin besar. "Lo bener-bener ya... di lapangan galak, di rapat tegas, pas makan sate pun bisa bikin orang kena mental. Gue makin ngeri sekaligus makin cinta."
Ayra terhenti sejenak, wajahnya memerah mendengar kata "cinta" yang diucapkan Alano dengan begitu lugas. Ia memberikan satu tusuk sate ke piring Alano. "Udah, cepet diabisin. Habis ini pulang, aku mau ngerjain laporan."
"Ay," panggil Alano lembut.
"Apa?"
"Makasih ya udah belain gue tadi. Gue tau lo nggak suka digosipin, tapi lo berani pasang badan buat kita."
Ayra menatap mata Alano, kali ini tidak ada keraguan di sana. "Aku nggak belain kamu, Lan. Aku cuma membela kenyamanan makan sateku. Tapi... kalau itu artinya aku juga membela kamu, ya itu bonusnya."
Alano tersenyum, ia meraih tangan Ayra di bawah meja dan meremasnya pelan. "Apapun alasannya, gue senang kita ada di pihak yang sama."
Malam itu, sate ayam Cak Kumis menjadi saksi bahwa hubungan mereka bukan lagi sekadar status "sepupu" yang dipaksakan, melainkan dua orang yang siap saling menjaga—bahkan dari godaan kakak kelas yang paling menyebalkan sekalipun.