Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 1 bagian 10-
Keesokan paginya sekolah berjalan seperti biasanya. Dipenuhi siswa yang mulai mempersiapkan kebutuhan tengah semester, anak-anak kelas 10 berjalan kesana kemari dengan buku hafalan hadisnya dan sesekali membicarakan perkemahan yang tampak penuh dengan syarat yang tidak masuk akal. Desas desus tentang Sora dan Bagas sudah mulai menghilang, diganti dengan tatapan tajam yang melirik mereka setiap saat. Semua berjalan normal, tidak ada yang menyadari misi penting yang diemban beberapa siswa.
Sejak kejadian Hani hampir menangis, Daniel tidak lagi berangkat sekolah pagi. Dia akan datang beberapa menit lebih lambat dari sebelumnya. Dia hanya tidak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka. Kelas mereka sudah tidak punya banyak pendukung, jangan pula terpecah belah.
Dia meminta Mas Rian untuk menurunkannya di gerbang samping dan berjalan melalui sudut-sudut yang selama ini belum ia jamah. Ia melewati laboratorium bahasa yang penuh dengan buku dan komputer, taman samping yang didesain dengan kolam ikan yang dipenuhi teratai, hutan kecil, dan terakhir aula yang memisahkan mushola dan ruang musik. Ia berdiri di luar aula cukup lama, memperhatikan satu per satu siswa yang berlalu lalang, menginjak tanah berdebu dan meninggalkan beberapa jejak.
“sneaker kasual yang digunakan di lingkungan sekolah”
Ia hampir tidak pernah melihatnya. Sampai sekelompok siswa melintas di hadapannya. Beberapa diantaranya berpakaian tidak rapi, dan beberapa lainnya tampak seperti siswa teladan dengan kacamata tebal dan dasi yang mencekik leher. Tampak mencolok untuk dibiarkan berjalan beriringan. Kelompok itu terpisah di persimpangan jalan, sebagian kecil menuju mushola, sebagian lainnya masuk ke ruang OSIS dan beberapa anak berpakaian tidak rapi itu duduk di kursi aula. Sayangnya Vito tidak di sana, membuat misi Daniel sia-sia.
Daniel berbalik tepat saat bell masuk berbunyi bersama dengan itu Vito keluar dari balik tembok ruang tari dengan sedikit tergesa. Mereka berpapasan Daniel menyadarinya, tapi ia yakin Vito tidak menyadarinya. Ia terlalu terburu-buru.
Mungkin ini yang disebut kesempatan di ujung tanduk. Bell sudah berbunyi dan Vito sudah masuk ke dalam ruang musik, ini kesempatan bagus untuk mengambil bukti. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia memutuskan bertaruh dengan keberuntungannya. Sepertinya terlambat beberapa menit tidak terlalu mempengaruhi nilainya. Ia langsung mengambil ponselnya dan mengambil gambar jejak sepatu Vito sebelum ada orang yang melihatnya.
“Apa yang dilakukan murid baru nan teladan ini disini?”
Daniel menoleh dan melihat Andre berdiri di dekat lobi.
“Kalian sudah menemukan pelakunya?” tanya Daniel.
“Belum, tapi ada petunjuk bahwa Vito terlibat” jawab Andre pelan.
“Kirim gambar yang kukirim ke Pak Bima, cepat kita perlu pelakunya tetap ada dalam pantauan” ucap Daniel penuh penekanan.
Andre segera melakukan perintah Daniel dan bergegas berlari begitu melihat segerombolan guru mulai keluar dari kantor. Tolong ingatkan bahwa kelas mereka berada jauh dari pintu depan, mereka masih harus melewati lapangan dan 2 koridor panjang untuk sampai ke kelas. Beruntung belum ada guru yang masuk untuk pelajaran pagi, mereka hanya disambut oleh Hani yang sudah berkacak pinggang dan Ida dengan buku kas-nya.
“Dua siswa kaya, rajin nan teladan ini tiba-tiba terlambat masuk hari ini, ku kira karena sedang melakukan misi penting tapi ternyata sedang menghindar penagihan kas. Bayar uang kas, kalian sudah tidak bayar dari awal semester!” teriak Hani di depan pintu masuk.
Dengan sedikit tidak ikhlas mereka mengeluarkan uang saku mereka.
“Nih buat setahun jangan ada inkaso lagi” ucap Andre sambil berlalu pergi. Daniel menyempatkan tersenyum kecil pada Hani sebelum menyusul Andre.
Tidak berapa lama setelah mereka duduk, guru geografi itu masuk.
“Penangkapan akan dilakukan sebelum perkemahan jika kita bisa mendapatkan sehelai rambut Vito hari ini dan hasilnya cocok ” ucap Andre pelan.
Daniel menoleh cepat, mencoba tidak menarik perhatian.
“Itu benar-benar dia?” tanyanya sambil mengeluarkan bukunya.
“Sore kemarin kami menemukan rekaman CCTV yang memperlihatkan keterlibatan Vito dan korban, dan malamnya dokter forensik memberikan Bima catatan tambahan tentang cincin yang digunakan korban, itu bertuliskan nama Vito dan sehelai rambut pendek yang tersangkut di cincinnya” jawab Andre.
Ilyas dan Jonatan yang duduk di dekatnya diam-diam menguping pembicaraan.
“Nih, ketinggalan di UKS dan sudah pasti punya Vito. Aku melihatnya menyisir dengan itu pagi ini, asal kalian tidak selidiki sidik jarinya saja soalnya pasti ada punyaku” ucap Ilyas sambil memberikan sisir lipat pada Andre.
Belum sempat Andre mengucapkan terimakasih, guru di depan sudah menegurnya.
“Itu yang belakang bisnis apa?”
“Transaksi kriminal pak” jawab Jonatan bercanda.
“Sebenarnya narkoba jenis apa yang kalian konsumsi, tutup buku kalian dan coba jelaskan tentang guntur dan penyebabnya!” Perintah guru itu.
Mereka saling pandang tidak tahu.
“Guntur dalam bahasa Norwegia adalah ‘Thor-don’ yang berarti raungan Thor, masyarakat Norwegia percaya bahwa guntur dan halilintar terjadi karena ayunan palu milik Thor dan masyarakat Swedia menyebutnya ‘as-aka’ yang berarti perjalan dewa di lapisan-lapisan langit. Jadi kesimpulannya guntur dan halilintar adalah sesuatu yang disebabkan oleh Thor dan perjalan dewa” ucap Ilyas asal.
“Kamu terlalu banyak membaca novel, yang lain bisa menjawab?” ujar guru itu pasrah.
“Itu filosofi pak” jawab Ilyas tidak terima.
“Kita sedang membicarakan guntur dalam geografi bukan mitos” ucap guru itu sebelum menunjuk Daniel sebagai anak baru.
“Guntur adalah suara gemuruh keras yang terjadi karena pemuaian udara yang sangat cepat dari kilat petir. Gesekan antar awan membuat gelombang listrik tingkat tinggi dan akan dilepaskan dalam bentuk kilat petir yang akan memanaskan udara dan mengembang sangat cepat seperti ledakan. Terkadang kita lebih dahulu melihat kilat daripada suara gemuruh, itu karna gelombang cahaya bergerak lebih cepat dari suara” jelas Daniel.
Semua orang diam dan sang guru pun diam.
“Kenapa kalian tidak mencatat apa yang merka katakan?” tanya sang guru.
Seketika suara gesekan pulpen dan kertas menjadi ritme halus yang mengisi keheningan ruangan. Daniel tersenyum kecil, dan sedikit puas ketika sepanjang mata pelajaran guru itu tidak lagi memperhatikan apa yang mereka kerjakan. Hingga pergantian jam berlalu, Andre cepat-cepat berlari ke pos satpam untuk memberikan barang bukti itu ke salah satu bawahan Bima yang sudah menunggu.
“Perlu waktu setidaknya seminggu untuk mendapatkan hasil ujinya. Jo kamu masih ikut klub musik kan?” tanya Daniel.
“Iya, kenapa?” tanya Jonatan balik.
“Tolong awasi gerak gerik Vito beberapa hari ke depan. Ini penting!” tekan Daniel.
“Memangnya kenapa?” tanya Jonatan.
“Jika pelakunya benar-benar Vito, kemungkinan besar dia akan membicarakannya. Jika kau bisa merekamnya itu akan lebih bagus. Semakin cepat kasus ini terkuak semakin cepat pula kita akan bebas dari masalah” jawab Daniel.
Jonatan mengangguk siap, hampir setiap hari ia berada satu ruangan dengan Vito, mengawasinya bukanlah tugas yang sulit. Meski sebenarnya ia tidak begitu faham dengan apa yang dilakukan oleh teman-temannya, tapi ia yakin itu bukan hal yang buruk. Meski itu hal yang buruk dia juga akan mempertimbangkan untuk melakukannya. Kelas mereka sudah tertuduh terkena masalah sejak awal, apa salahnya membenarkan tuduhan itu.
Daniel berfikir sebentar, dia merasa ada sesuatu yang ia lupakan.
“Yas, pertengkaran kepala sekolah dan Vito Minggu lalu, kamu masih menyimpannya kan?” tanya Daniel tiba-tiba.
“Masih, kenapa?” tanya Ilyas.
“Kirimkan ke Andre, petunjuk sekecil apapun itu penting” jawab Daniel.
Sisa hari mereka berjalan tanpa ada yang spesial. Jam istirahat masih penuh dengan gosip dan rumor panas tentang Sora dan Bagas. Kepemilikan Bagas atas senjata berperedam itu dipertanyakan, mengapa seorang siswa SMA bisa memiliki senjata api seperti itu? Dan mengapa Sora dan Bagas belum di drop out setelah apa yang dilakukan masih menjadi bahasan utama.
Bukan hanya di sekolah, masalah ini juga telah masuk ke ranah pekerjaan orang tua mereka. Orang tua Bagas mulai keheningan kolega bisnis karena berita ini. Beberapa donatur utama Dewanta juga menghentikan sementara dana mereka, dan akan kembali meninjau kerja sama setelah semua masalah mereda. Mereka tidak ingin bisnisnya bercampur dengan urusan keluarga yang tidak benar.
Hingga seminggu kemudian Bima kembali ke Rumah Sakit untuk mengambil hasil DNA rambut yang dikirim oleh anak-anak. Diam-diam dia kagum pada anak-anak gigih itu. Hampir semua hal yang berkaitan dengan kasus ini dapat mereka tangani sendiri, dia tampak tidak berguna. Mereka bahkan memberikan beberapa bukti lainnya, seperti rekaman CCTV yang mencurigakan serta gerak gerik terduga pelaku.
Terkadang ia memikirkan apa yang dikatakan Karina seminggu yang lalu. Kepolisian benar-benar seperti cangkang kosong yang tidak berguna.
“Pagi Pak Bima, sudah tidak sabar dengan kenaikan jabatan?” tanya Stevani dari balik meja kerjanya. Hari ini dia menggunakan jas dokternya.
“Aku tidak pernah mengharapkan kenaikan jabatan. Semakin tinggi pohon semakin besar juga anginnya” jawab Bima.
Stefani tersenyum kecil dan menyerahkan amplop kecil yang masih tersegel,
“hasilnya identik. Tapi ingat pak, seorang penyidik tidak boleh berprasangka”.
Bima terdiam sejenak, sebelum berterimakasih dan keluar dari dalam ruangan. Dia mencoba merangkai puzzle yang kini sudah semakin lengkap.
Korban adalah gadis berusia 18 tahun yang berteman atau berpacaran dengan Vito. Jejak yang ditinggalkan di TKP adalah jejak kaki Vito, dan rambut yang tertinggal pada cincin gadis itu juga milik Vito. Semua mengarah padanya, mengeser praduga kepala sekolah. Hanya tinggal menunggu pengakuan.
Kring kring
Suara nada dering pesan itu menghancurkan semua puzzle yang tengah ia susun. Dengan enggan ia membuka ponselnya dan membuka pesan yang ternyata dikirim Andre. Isinya pesan suara dan video yang memilik durasi yang sama dengan yang dikirim terakhir. Namun begitu ia membukanya dia menjadi begitu terburu-buru. Ia segera menghubungi kantor untuk membuatkan surat penahanan, dia tidak peduli jika pelakunya adalah siswa di bawah umur.
Siang itu di hari Jum’at pada jam istirahat pertama semua siswa kelas 11 tengah dikumpulkan di aula untuk acara penyuluhan kesehatan. Saat itu lah sekelompok polisi berseragam datang dengan surat perintah. Semua orang berfikir bahwa itu adalah sebagai dari acara. Tidak sampai seorang polisi berjaket hitam berbicara dengan beberapa guru senior, menunjukkan beberapa surat sebelum meminta mic dari moderator untuk mengumumkan sesuatu. Sekelompok polisi juga mulai memblokade pintu keluar.
“Selamat siang teman-teman semua dan apa kabar? Sebelumnya maaf mengganggu kegiatan sosialisasi kalian. Ini hari Jum’at ya penuh keberkahan, jadi hari ini kami juga harus melakukan sesuatu yang menuai keberkahan ya” ucap polisi itu. Dia mengeluarkan sebuah flashdisk dan menganti materi penyuluhan kesehatan itu dengan beberapa kasus kriminal yang terjadi belakangan ini.
Polisi itu menjelaskan dengan rinci satu demi satu kasus. Hingga akhirnya kasus ketiga yang di tunjukkan layar menunjukkan halaman belakang sekolah mereka.
“Woy itu belakang sekolah, tidak ada yang bilang pernah ada pembunuhan disitu” ucap seorang siswa berbadan gempal.
“Wah pantes si Mitha kesurupan disitu” sahut lainnnya. Kericuhan pun terjadi setelah kalimat itu. Desas desus mulai mengalir dalam kerumunan, melirik ganas pada Bagas, Sora, Miki, Harry dan Yulia. Spekulasi ganas mulai terbentuk di otak mereka.
“Adakah salah satu dari kalian yang pernah melakukan pembunuhan?” tanya polisi itu.
“Tidak!” ucap semua orang. Namun beberapa orang menyadari bahwa Vito diam saja.
“Jangan ya teman-teman, itu ilegal. Dan hari ini di tempat ini kita akan menangkap satu tersangka yang telah melakukan tindakan ilegal tersebut. Pelakunya ada disini di tempat ini di dalam aula ini” ucap si polisi dari depan kerumunan.
“Jika pelakunya ada diantara siswa maka usianya belum ada 17 tahun. Apakah hukuman pidana akan berlaku pak? Lalu bagaimana jika dia dari keluarga kaya apakah hukumnya bisa dibeli dengan uang?” tanya seorang siswa lain.
“Saya pastikan hukum akan berjalan, tidak peduli siapa dia dan berapa umurnya” jawab Polisi itu penuh ketegasan.
“Kalau fakta di lapangan tidak seperti apa yang bapak katakan, rumah bapak nanti kita bakar ya!” teriak siswa lainnya, disetujui oleh begitu banyak siswa.
Vito yang merasa tidak nyaman dengan kondisi saat ini mulai berkeringat dingin. Ia mengamati layar proyektor yang menampilkan pondok halaman belakang yang sudah ditutup dengan garis polisi. Dalam hatinya gundah, rencananya sudah sempurna ia tidak mungkin ketahuan. Jika ia ketahuan hukuman berat pasti menimpanya, bukan hanya karena usianya sudah 18 tahun, keluarganya juga bukan orang kaya. Ia ingin segera pergi dari tempat tapi semua pintu sudah ditutup.
“Aku tidak suka dikhianati dan orang yang mengkhianati ku pasti akan mati” ucap polisi itu tiba-tiba, “pernah dengar kalimat itu?”
Semua orang terdiam dan saling pandang satu persatu. Sampai proyektor yang tadinya menggambarkan halaman belakang kini beralih ke video berdurasi 1 menit. Video itu diambil di ruang musik sekolah yang memperlihatkan Vito yang sedang mengobrol dengan seorang temannya.
“Memangnya kenapa jika aku membunuhnya? Dia berkhianat, dan dia tahu apa yang akan aku lakukan pada penghianat” teriak Vito.
“Vit, kamu bunuh orang? Hana pacarmu?”
“Sudah ku bilang aku tidak mentolerir penghianatan. Jika salah satu dari kalian mengkhianatiku, maka aku pastikan kalian akan bernasib sama dengan Anna. Langga sepertinya sudah mendaftar lebih dulu” ucap Vito lagi.
Video itu berhenti tepat setelah Vito memukul Bisma dan berjalan keluar dari ruang musik. Seketika suara gaduh kembali terjadi.
“Aku bersumpah aku tidak merekamnya” teriak Bisma.
Vito yang merasa terpepet pun akhirnya mencoba melarikan diri, ia menendang beberapa polisi sebelum akhirnya dilumpuhkan oleh yang lainnya. Polisi yang menjadi moderator di depan akhirnya mengeluarkan sebuah dokumen resmi dan mengatakan,
“Kami segenap petugas kepolisian ditugaskan untuk menangkap seorang siswa bernama Vito Hermawan yang diduga kuat melanggar pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang pembunuhan berencana. Anda punya hak untuk diam, membela diri, dan didampingi pengacara”
Dia melambaikan tangan dan memerintahkan kepada seorang anggotanya untuk membuat berita acara penangkapan pada keluarga terduga pelaku.
Dalam hitungan menit seluruh sekolah ricuh dengan gosip-gosip tidak terkendali dan teriakan histeris dari beberapa siswi. Meninggalkan 4 anak IPS yang tengah memojokan Daniel untuk meminta kejelasan.
“Jelaskan sekarang atau aku akan lebih kejam dari Vito” ucap Hani.
“Vito membunuh Hana di luar wilayah sekolah, mungkin Hana sempat memberontak dan menjambak rambut Vito membuat helaian rambutnya terangkut di cincinnya. Lalu malam hari ketika mobil kepala sekolah menganggur, Vito menggunakannya untuk mengambil jasad Anna dan menguburkannya di pondok belakang setelah jam patroli pertama. Ia menyalakan rokok untuk mengusir nyamuk dan meninggalkan puntungnya begitu saja, itu lah kenapa tidak ada satu pun DNA di puntung rokok pertama. Aku curiga dia sempat bersembunyi saat anak-anak itu masuk ke dalam pondok, ini yang menyebabkannya merusak loker dan menyebarkan teror pada Bagas dan Harry. Mungkin dia takut salah satu dari mereka tahu dia ada disana, dia punya akses untuk semua kunci loker, mempermudahnya untuk melakukannya. Dan untuk teror, dia punya banyak teman, tentu ia akan meminta pertolonganan, setelahnya kalian tahu ceritanya” jelas Daniel malas.
“Lalu kenapa arwahnya lebih memilih menempel pada Mitha bukan Vito?” tanya Jonatan.
Daniel berfikir sebentar sebelum berkata,
“Mungkin kodam pelindung itu benar-benar berfungsi dan membuat arwah Hana tidak bisa mengganggu Vito”