Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.
"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.
Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.
Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Alma dan Armand berlanjut
Di kediaman ibu Olivia.
"Alma?" Ibu Olivia yang terkejut sekali setelah membuka pintu dan ternyata Alma tengah menangis sembari menggendong Arkan dan menenteng tas berisi perlengkapan Arkan. "Kenapa kamu menangis? Armand mana?" Lanjutnya dengan celingukan mencari sosok Armand namun tak dijumpainya.
Alma seketika memeluk mama nya. Sesenggukan nya semakin bersuara ketika menyebut nama Armand telah mengajukan tes DNA terkait Arkan diam-diam.
"Apa?" Semakin terkejut ibu Olivia mendengarnya. "Armand tes DNA diam-diam terkait Arkan. Keterlaluan, Armand." Lirih ibu Olivia marah pelan. Ibu Olivia berlanjut menenangkan Alma, lalu menghubungi pak Hanung dan menceritakan semuanya.
Sesaat kemudian mobil Armand terdengar berhenti di halaman rumah ibu Olivia. Ya, sengaja Armand ingin meminta maaf kepada Alma terkait tes DNA yang itu hanya prasangka buruk nya saja. Karena hasil tes DNA positif Armand adalah ayah biologis dari Arkan dan Alma harus tahu itu. Namun rupanya tidak semudah itu Armand ingin menyampaikan permintaan maafnya kepada Alma. Ibu Olivia menyuruh Armand menunggu pak Hanung karena itu pesan dari suaminya bahwa dia tidak boleh membiarkan Armand membawa Alma dan Arkan kembali bersama Armand.
"Tapi, mah. Aku harus bicara dengan Alma." Mohon Armand kepada ibu Olivia yang hendak menutup pintu rumahnya.
"Armand, jujur mama kecewa sama kamu. Mama nggak sangka kamu sampai berani menuding Alma mengandung anak yang bukan anak kamu. Itu menyakitkan buat keluarga kami, Armand." Ibu Olivia dengan raut wajah kecewanya.
"Iya, ma, Armand salah. Armand minta maaf. Tapi tolong izinkan Armand bicara dengan Alma, ma. Sebentar saja." Pinta Armand dengan wajah kasihan nya.
"Tunggu papa saja! Tadi pesan begitu. Lagi pula Alma sedang mengurus baby Arkan." Tidak berani ibu Olivia membiarkan Armand bertemu Alma.
"Alma, aku mau minta maaf, Alma. Alma keluarlah!" Teriak Armand yang mencoba memberitahu Alma terkait kedatangan nya.
Membuat Ibu Olivia geleng-geleng kepala dan dengan segera menutup pintunya.
Alma yang tengah mengurus baby Arkan, mendengar samar-samar suara Armand. Mencoba keluar bedroom dan kebetulan di depan pintu sudah ada mama nya. "Seperti suara mas Armand, ma." Alma yang berusaha melihat ke ruang tamu namun ibu Olivia dengan segera mengajak Alma masuk ke dalam bedroom dan menutup pintunya.
"Nggak ada siapa-siapa." Bohong ibu Olivia.
Sementara di teras rumah. Pak Hanung yang sudah datang dengan segera menghampiri Armand.
Armand dengan segera bersimpuh di kaki papa mertuanya. Menangis dan meminta maaf kepada papa nya. "Armand janji tidak mengulangi lagi, pah. Tapi tolong, bujuk Alma supaya mau pulang bersama Armand." Mohon Armand dengan sangat kepada papa mertuanya.
Pak Hanung yang melihat menantunya begitu seketika menyuruh Armand berdiri. "Papa mau lihat hasilnya!" Pak Hanung yang kemudian menerima selembar kertas hasil tes DNA dari rumah sakit. Dimana disitu tertulis jika hasil menunjukkan positif jika Arkan adalah anak dari Armand. "Papa sudah duga, jika Alma tidak mungkin berkhianat di belakang mu. Tapi kamu tidak mendengarkan papa." Ucapnya menyesalkan perbuatan Armand yang tergesa-gesa.
"Sekali lagi Armand meminta maaf, pa." Dengan wajah menunduk nya.
"Hanya bisa begini kan yang kamu lakukan." Pak Hanung yang melengos karena masih diliputi rasa kecewa kepada Armand.
"Armand salah, pah. Tolong izinkan Armand bertemu Alma dan Arkan." Armand dengan penuh penyesalannya.
"Kamu pikir semudah itu, apa yang kamu lakukan sudah menyakiti aku dan putri ku. Sekarang kamu pulang! Karena aku tidak akan biarkan Alma dan Arkan bertemu dengan kamu lagi. Pergi!" Usir pak Hanung kepada menantunya. Dimana Armand semakin terlihat apatis.
Langkah Armand menuju mobilnya tidak bersemangat. Ternyata sekedar ingin melihat istrinya dan anak nya, Armand terhalang pak Hanung yang tidak mengizinkan nya. Armand memandangi jendela kaca di lantai dua yang terbuka. Berharap Alma tahu kehadirannya. Armand masih menunggu mana tahu Alma menengok ke bawah dimana ada dirinya yang berdiri di dekat mobilnya sembari menatap ke arah jendela itu. Namun sampai dimana hari sudah gelap bahkan turun hujan, Alma tak kunjung mendekati jendela tersebut. Armand bahkan membiarkan dirinya terguyur hujan bercampur dengan air mata penyesalan. "Alma." Teriaknya malam itu ditengah derasnya hujan.
Sedangkan di balik bedroom. Alma sebenarnya tahu jika Armand sengaja membasahkan dirinya di tengah hujan deras malam itu. Alma tak kalah sedihnya. Sekelebat pertengkaran nya dengan Armand pagi tadi menyelinap di kepala. Hampir seharian terngiang-ngiang betapa sakitnya Alma ketika suaminya ternyata selama ini berpura-pura. Lalu apa yang dilakukannya waktu mengajak dinner setelah kedatangannya dari Amerika? Belanja keperluan Arkan yang semua nya seolah tidak terjadi apa-apa. Semua ingatannya perlahan muncul ke permukaan. Armand yang memanjakan nya semua pura-pura. Padahal dia sedang tidak percaya jika Arkan bukanlah anak nya. Semakin sesenggukan Alma meratapi hubungan rumah tangga nya dengan Armand. Melihat wajah Arkan tanpa dosa, membuat nya semakin kecewa terhadap Armand. Tubuh Alma luruh, terduduk bersandarkan dinding bedroom sembari melihat Armand dari kejauhan bercampur dengan kesedihannya yang mendalam malam itu.
Setelah itu ibu Olivia mengetuk pintu. Mengantarkan makan malam Alma. "Sudah, kamu yang sabar ya." Ibu Olivia yang memeluk Alma dimana Alma berulang kali menyeka air matanya. "Sekarang kamu makan, mama suapi, demi baby Arkan." Ibu Olivia yang juga menguatkan dirinya saat menatap Alma di hadapannya karena tidak tega. Melihat Alma yang tidak hentinya menangis sejak pagi membuat ibu Olivia mengkhawatirkan kesehatan Alma.
Setelah Alma selesai makan malam. Ibu Olivia berbincang serius dengan pak Hanung di bedroom nya. "Apa? Jadi papa sudah tahu." Ibu Olivia terkejut saat suaminya mengatakan hal dimana sudah mengetahui lebih dulu atas tindakan Armand yang mengajukan tes DNA terkait Arkan. "Astaghfirullah, Armand." Ibu Olivia semakin kecewa kala mendengar cerita suaminya bahwa Armand mengajukan tes DNA setelah Arkan lahir. "Apa yang mendasari Arkan sampai berpikir sejauh itu? Apa papa tidak bertanya padanya."
"Iya, dia menjelaskan karena Alma terkesan menyembunyikan kehamilannya saat Armand di Amerika."
"Hanya itu?" Ibu Olivia menelisik lebih lanjut.
"Entahlah, Armand pun punya curiga dimana Alma berkhianat padanya. Kata Armand, Alma punya ruangan rahasia di rumahnya. Dimana Armand tidak boleh tahu hal itu. Tapi Armand berusaha mencari tahu dan disitulah mengapa Armand memutuskan pergi ke Amerika." Jawab pak Hanung sangat hati-hati sembari mengingat-ingat apa yang disampaikan Armand.
"Alma punya ruangan rahasia?" Isi kepala ibu Olivia menyelam seolah berada di rumah Alma. "Dimana ruangan rahasia Alma?"
Pak Hanung menggeleng.
"Apa hubungan nya dengan ruangan rahasia milik Alma?"
"Ya, aku baru ingat, kekecewaan Armand dengan Alma bermula dari ruang rahasia itu. Aku sendiri juga belum tanya ke Alma."
Bersambung