𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 19
...왕신...
...ー...
Mereka mengaku sebagai penjahat jalanan. Tidak ada posisi bos di antaranya, atau di atasーyang memberi perintah. Dalihnya menculik demi kata yang paling kongkret; 'tebusan'. Menyelipkan ancaman sejenis 'jangan libatkan polisi jika tidak ingin kepalamu hancur', pertukaran terjadi dan selesai.
Masuk akal!
Lim Suyu, wanita tua yang mereka culik adalah berlian berharga. LC Group, salah satu perusahaan raksasa Korea, dia adalah pimpinan entitas induk yang menguasai saham mayoritas atas beberapa anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang.
Memang tangkapan bagus jika berhasil, sayangnya tidak. Selain pada dasarnya memang riskan, usaha mereka sekarang justru digagalkan Shin. Saat ini kesemuanya mendekam dalam tahanan setelah resmi status tersangka.
Akan tetapi, Shin tidak percaya begitu saja apa yang mereka akui, bahwa mereka hanya penjahat sejenis itu. Ada yang janggal menurutnya.
Dia membaca pikiran melalui gestur dan tatapan mata, mengamati dan mengawasi satu per satu orang termasuk para pelaku dengan kejeliannya saat interogasi polisi. Lalu sekarang fokus memindai Lim Suyu yang baru saja menyelesaikan penjelasannya di depan petugas investigasi.
Hanya satu kata yang didapat dari semua penilaian personal-nya sejauh ini, terhadap para penjahat ... juga terhadap Lim Suyu sendiri, “Falsehood!” ーPernyataan yang tidak benar. Tapi cukup di diri sendiri, dia diam sampai akhir.
Sekarang sudah selesai, semua pernyataan diterima oleh petugas, entah itu final, atau masih akan ada penyelidikan lanjutan.
Saat melewati pintu keluar, Shin menghentikan langkah. Karena sedikit hal, dia tertarik untuk bertanya pada Lim Suyu.
“Nyonya tahu mereka bukan bekerja untuk uang tebusan, kenapa tidak berkata jujur pada petugas dan minta mereka menyelidiki yang sebenarnya?” Kali ini juga, tentu saja dia tidak bertanya impulsif, tapi melihat sorot mata redup namun juga terang milik wanita itu, ada menyimpan hal yang sangat besar.
Lim Suyu, usianya sudah cukup banyakー55 tahun, menghentikan langkah lalu menoleh Shin karena pertanyaan yang cukup mengejutkan di telinganya. Ada sedikit perubahan di sudut bibir yang lipstiknya tidak memudar. “Kau cukup pintar membaca ekspresi orang lain, ya, Anak Muda? Padahal aku sudah akting sebisa mungkin, tapi kau mengetahuinya, sayang sekali.”
“Mata dan gerak-gerik tipis Anda, menjelaskan secara nyata.”
Teredam sesaat karena kata-kata itu, Lim Suyu sedang memikirkan sedikit hal sekarangーseperti apakah dia harus jujur tentang isi kepalanya, atau tidak, pada pria muda yang tahu banyak.
Setelah diam beberapa detik, sebuah keputusan kecil hinggap dalam kepala, “Ayo kutraktir makan, mungkin di sana aku bisa menceritakan alasanku padamu, Anak Muda. Sekalian untuk ucapan terima kasih karena sudah memberiku pertolongan di saat tepat.”
Shin tersenyum. “Terima kasih atas tawaran Anda, Nyonya. Tapi maaf, lain kali saja. Aku sudah makan dan minum banyak sekali hari ini. Itu cukup membuat kenyang sampai esok pagi.”
“Begitukah?”
“Hmm.”
“Yeah, aku tidak bisa memaksa jika begitu. Tapi kurasa satu sesapan kopi saja tidak akan membuat kembung.”
“Sepertinya aku sedang dipaksa.”
Lim Suyu hanya mengedik bahu.
“Baiklah. Tidak perlu kopi karena aku butuh tidur malam ini. Kita bisa bicara di mobil sambil mengantar Anda pulang. Sebutkan saja alamatnya.”
Sergapan anak muda itu cukup menarik, Lim Suyu tidak tahan untuk 'tak menarik sudut bibirnya. “Tapi aku bisa minta diantar mereka.” Sekilas matanya mengerling ke bagian dalamーmaksudnya dia bisa minta tolong pada polisi.
“Sebaiknya jangan ganggu pekerjaan mereka! Ayo!”
Kedua kali, senyumnya sedikit lebih melebar. Tanpa menimpal lebih banyak untuk memperpanjang bualan, Lim Suyu setuju. “Baiklah, kau pandai memaksa juga.” Langkah ringan mendorongnya mengikuti Shin, masuk ke dalam mobil yang dikendarai pria 33 tahun dengan tubuh menjulang tinggi 1,86 meter.
Di perjalanan ....
“Siapa namamu tadi?” Lim Suyu menanyakan itu satu jeda setelah menceritakan alasannya tidak meminta polisi menyelidiki siapa para penjahat yang mengusiknya. Tanggapan Shin hanya dua anggukan pertanda paham dan sedikit kata, “Cukup rumit.”
Sekarang dengan tenang dia menjawab, “Shin.”
“Margamu?”
“Wang.”
“Wang Shin. Hmm." Lim Suyu mengangguk-angguk. “Kau dari marga yang minoritas di zaman ini. Cukup menarik.”
“Ya, mungkin karena itu aku jadi tak banyak teman.”
“Omong kosong!” dengus Lim Suyu. “Lalu Wang Shin ... apa pekerjaanmu?"
“Aku? ... Umm ... hanya seorang bartender di bar tua tidak terkenal.”
“Benarkah?” Lim Suyu memicing, sedikit skeptis.
"Ya, setidaknya aku tidak menganggur. Apa ada yang salah, Nyonya?”
“Tidak ada. Hanya saja ... sayang sekali,” katanya ambigu.
“Apa yang sayang sekali?"
“Kau pandai beladiri, bicaramu juga cerdas, tapi kau hanya seorang bartender?”
“Kenyataannya memang begitu. Kurasa tidak masalah. Aku menjalani pekerjaan yang baik, dibanding memanfaatkan tinjuku sebagai tukang pukul yang menyiksa orang tidak bersalah.”
Senyuman Lim Suyu memaknai kesan menggelitik, namun juga tertarik.
“Jika kutawari pekerjaan, apa kau akan tertarik untuk mencoba?”
“Seperti?”
Sejenak saja diam, Lim Suyu menatapnya kemudian untuk melihat reaksi. “Jadi pengawalku?”
Tepat saat itu mobil sudah berhenti, di depan gerbang pertama bagian kediaman Lim.
Shin tertarik balas menatap. Setelah diam sebentar, lebih dulu dia bertanya sebelum menjawab tawaran inti wanita itu. “Apa yang menarik dengan menjadi pengawal Anda?”
Itu justru memicu kekehan di bibir Lim Suyu, sampai terlihat semua gigi depannya. “Kau tahu, kau itu benar-benar menarik, Wang Shin," ujarnya, kemudian menjawab dengan nada yang terus terang, “Tentu saja uang yang banyak ... dan fasilitas. Selain itu ....” Kali ini memudar sisa senyumnya, mulai serius. “Jika cara kerjamu membuatku sampai terkesan, akan ada banyak bonus lain yang kau terima nantinya.”
Shin nampak berpikir, menimang tawaran yang kedengarannya lumayan bagus. “Sepertinya menarik.”
“Apa kalimat itu mengartikan bahwa kau bersedia?” telisik Lim Suyu, mengandung harapan besar.
Shin diam sebentar saja, tidak memakan detik yang banyak untuk menjawab, “Hmm ... tentu saja. Patut dicoba.”
...----------------...
Tiga hari kemudian ....
Shin menepati janji, datang ke kediaman Lim setelah meminta waktu untuk menyelesaikan lebih dulu urusannya, pada Lim Suyu.
Urusan yang dimaksud tidak dia beberkan detail dan Suyu tidak bertanya lebih mendalam.
Isi dari urusan itu adalah rumah, perannya sebagai pebisnis dan hal lainnya yang cukup penting.
Berhubungan dengan Lim Suyu mungkin akan sangat menguras waktu. Bukan tentang uang, fasilitas dan ragam bonus yang dijanjikan, Shin lebih menujukan perhatiannya pada hal lainーLim Suyu butuh bantuan besar.
Shin bukan pahlawan, bukan juga apostle, dia hanya manusia yang merasa bertanggung jawab untuk membantu dan meluruskan saat sesuatu terasa timpang dan tidak pada tempatnya. Jika tidak bisa menjadi benar-benar baik, tidak perlu menjadi jahat. Manusia hidup ... tidak untuk menggantikan tugasnya setan.
Sambutan menarik di halaman lebar nan hijau kediaman Lim sesaat dia menapakkan kaki.
Beradu tinjuーsebagai ujian masuk pertama kali.
Lim Suyu menurunkan orang-orang terbaik dari satu kesatuan beladiri.
Sejumlah sepuluh orang, menghadang Wang Shin seperti ninja. Sebagian dari mereka dengan senjata, sebagian lain bertangan kosongーmurni mengandalkan otot.
Mulanya satu per satu yang maju, namun dengan tidak sulit, Shin berhasil mengempas mereka, tiga orang tanpa senjata. Dua berikutnya turun bersama, dan lagi ... Shin menunjukkan kelihaiannya tanpa sedikit pun cela.
Pada akhir, mereka terseret dan penasaran. Seorang Wang Shin ... ーya, hanya seorang saja, bisa menumbangkan mereka yang notabene orang-orang terpilih tidak bercela dipoles prestasi dan sabuk tinggi.
“Maju semua yang tersisa.”
Komando dari satu orang, melempar mereka semua ke pertarungan secara ramai ... dan brutal.
“Gerakannya sangat memprovokasi. Dalam sekejap mereka berubah menjadi kucing bersurai." Kalimat itu meluncur dari mulut seorang pria berkacamata yang berdiri di loteng, bersama Lim Suyu yang duduk tenang dengan cangkir teh di tangan kanan, di sebelahnya.
“Kau benar, Tae-ja. Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukan orang yang tepat.”ーLim Suyu.