NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13~Langkah menuju hari esok

Sudah hampir setahun sejak taman itu selesai dibuat.

Sekarang, setiap kali aku melewati Taman Alya, selalu ada saja orang yang duduk di sana — anak kecil, orang tua, bahkan mahasiswa yang sedang belajar.

Aku suka memperhatikan mereka dari jauh. Kadang aku senyum sendiri, membayangkan Raka pasti bangga kalau lihat taman kecil ciptaannya jadi tempat yang hidup.

Tapi akhir-akhir ini, aku jarang bisa main ke sana.

Kuliah makin padat. Aku harus menyusun proposal penelitian buat semester akhir, dan di sisi lain, Raka juga mulai sibuk luar biasa dengan proyek besar pertamanya sebagai asisten arsitek.

Kami masih sering berkomunikasi, tapi waktunya makin sempit.

Kadang cuma satu dua pesan dalam sehari.

Aku tahu itu normal — kami sama-sama tumbuh, sama-sama berjuang. Tapi di sisi hati yang paling dalam, ada rasa khawatir kecil yang nggak bisa diabaikan.

Sore itu, aku duduk di balkon kos sambil menatap langit senja.

Ponselku bergetar — pesan dari Raka.

Raka: “Maaf banget, Ly. Hari ini aku nggak bisa ketemu. Rapatnya molor.”

Alya: “Nggak apa-apa, Rak. Fokus dulu aja. Aku ngerti 😊.”

Balasanku cepat dan ringan, tapi setelah itu aku hanya menatap layar lama.

Aku sadar, “nggak apa-apa” adalah kata yang sering kupakai akhir-akhir ini.

Bukan karena aku benar-benar nggak apa-apa, tapi karena aku tahu, cinta yang tulus kadang berarti belajar menunggu tanpa protes.

Beberapa hari kemudian, kami akhirnya punya waktu untuk bertemu.

Raka menjemputku di kampus. Wajahnya terlihat sedikit lelah, tapi matanya masih menyala seperti biasa.

“Maaf ya, udah lama nggak ketemu,” katanya pelan.

Aku tersenyum. “Aku ngerti kok. Kamu sibuk banget, kan?”

Dia menghela napas. “Iya, tapi aku takut kamu ngerasa aku mulai jauh.”

Aku menatapnya lama. “Raka, kamu nggak perlu takut. Aku tahu kita lagi di fase yang beda — bukan yang bisa ketemu tiap hari, tapi yang saling percaya.”

Dia menatapku lega. “Kamu selalu tahu cara bikin aku tenang.”

Aku tersenyum. “Karena aku belajar dari kamu.”

Kami berjalan pelan ke arah taman yang dulu kami buat.

Bunga-bunga di sana bermekaran lebih indah dari biasanya. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan rumput segar.

“Lihat, Rak,” kataku sambil menunjuk salah satu sudut taman. “Bunganya tambah banyak, ya.”

Dia mengangguk pelan. “Iya. Taman ini tumbuh kayak hubungan kita — nggak cepat, tapi pasti.”

Kami duduk di bangku kayu, tempat yang sama seperti dulu.

Langit mulai memerah, matahari perlahan turun di ufuk barat.

“Ly,” katanya tiba-tiba, “kamu pernah takut nggak, sama masa depan?”

Aku menatapnya penasaran. “Kenapa nanya gitu?”

Dia menarik napas panjang. “Kadang aku takut nggak bisa kasih yang terbaik. Dunia kerja itu keras banget, Ly. Banyak hal yang nggak pasti.”

Aku terdiam sebentar, lalu menatap matanya. “Rak, kamu tahu nggak kenapa aku percaya sama kamu?”

Dia menggeleng pelan.

“Karena kamu nggak pernah berhenti berusaha. Kamu nggak sempurna, tapi kamu selalu jujur. Dan buatku, itu lebih dari cukup.”

Raka terdiam lama.

Lalu dia tersenyum kecil, senyum yang lembut tapi penuh makna. “Aku beruntung banget punya kamu.”

Aku tertawa pelan. “Kamu sering bilang gitu.”

Dia mengangkat bahu. “Karena itu fakta.”

Beberapa hari kemudian, Raka dapat kabar bahwa proyek taman berikutnya akan dikerjakan di luar kota.

Dia datang ke kampusku sore itu, membawa kabar itu dengan wajah setengah bahagia, setengah bingung.

“Ly, aku dapet kesempatan magang enam bulan di Surabaya,” katanya hati-hati.

Aku terdiam. Kata “Surabaya” langsung mengingatkanku pada masa SMA dulu — waktu dia pernah pindah ke sana juga.

“Berarti kita bakal LDR lagi?” tanyaku akhirnya.

Dia menatapku dengan ekspresi penuh rasa bersalah. “Kayaknya iya. Tapi cuma enam bulan. Ini kesempatan besar, Ly. Aku bisa belajar langsung dari arsitek nasional.”

Aku menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Kalau itu yang terbaik buat kamu, aku dukung.”

Dia terlihat lega, tapi aku bisa lihat matanya sedikit sendu. “Kamu nggak marah?”

Aku tersenyum tipis. “Aku udah janji, kan? Aku nggak akan menahan kamu tumbuh. Karena kalau cinta cuma bisa bertahan pas semuanya mudah, berarti itu belum cinta.”

Raka menarik napas dalam, lalu menggenggam tanganku. “Kamu tahu nggak, setiap kali aku takut kehilangan arah, aku selalu inget kalimat kamu waktu hujan dulu — ‘selama disiram, cinta nggak akan layu’.”

Aku tersenyum, air mataku hampir jatuh. “Dan kamu masih nyiram, kan?”

Dia mengangguk pelan. “Setiap hari.”

Hari keberangkatannya tiba seminggu kemudian.

Aku datang ke stasiun untuk melepasnya.

Langit mendung, seperti mengerti perasaan kami. Tapi kali ini, aku tidak sedih seperti dulu.

Kami berdiri berhadapan di peron, dikelilingi suara peluit dan langkah penumpang yang tergesa-gesa.

Raka menatapku lama, lalu berkata, “Aku bakal balik, Ly. Sama seperti dulu.”

Aku menatap gelang hijau di tanganku. “Aku tahu. Karena cinta kita nggak pernah berhenti di satu musim.”

Dia tersenyum — senyum yang menenangkan seperti selalu.

Kereta mulai bergerak pelan, dan aku melambaikan tangan sambil tersenyum.

Aku tidak menangis.

Aku hanya merasa hangat — karena kali ini, perpisahan bukan akhir, tapi bagian dari perjalanan menuju hari esok yang lebih besar.

Malamnya, aku kembali ke kamar dan menatap tanaman kecil di jendela.

Daunnya bergoyang pelan diterpa angin malam.

Aku tersenyum, memegang pot itu dan berbisik,

“Dia lagi tumbuh di tempat lain. Tapi akarnya masih di sini.”

Langit malam cerah, bintang bertaburan.

Dan di antara cahaya-cahaya itu, aku tahu — masa depan mungkin penuh ketidakpastian, tapi selama cinta masih dirawat dengan sabar, ia akan selalu menemukan jalan untuk pulang.

✨ Bersambung ke Bab 14

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!