NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Bocah

Transmigrasi Menjadi Bocah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.

Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.

​Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.

​"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.

"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Om?"

Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

"Luc! Kau dengar aku? Semuanya sudah selesai!" seru melalui intercom yang terpasang di pinggang Luca.

Suasana di luar sana sepertinya sudah mulai mereda, meski sisa-sisa desingan peluru masih menyisakan denging di telinga.

Luca menarik napas panjang, menyandarkan bahunya ke dinding beton ruang bawah tanah yang dingin.

Queen berada di gendongannya dan terlelap.

"Laporannya, Bob," sahut Luca singkat.

"Anak buah Sean Harley habis. Mayat bertebaran di perimeter barat, sebagian lagi pingsan karena gas halon yang tiba-tiba aktif tadi. Tapi, ada satu masalah. Sean tidak ada di antara mereka. Bajingan itu sepertinya tidak ikut terjun langsung atau berhasil kabur sebelum kita sempat mengunci area," ucap Bobby dengan nada geram.

Luca memejamkan mata sejenak. Rahang remaja itu mengeras.

"Dia pengecut. Dia tidak akan mempertaruhkan nyawanya sendiri jika bisa mengorbankan bidak-bidaknya."

"Bagaimana keadaan Queen? Apa dia terluka?" Bobby bertanya saking khawatirnya pada bocah kecil nan menggemskan itu.

Luca menunduk, melirik Queen yang ada di dekapannya. Wajahnya pucat pasi dengan butiran keringat dingin masih membasahi keningnya.

Queen hanya bisa mengerang kecil. Jemarinya mencengkeram kemeja hitam Luca seolah takut dilepaskan.

"Dia baik-baik saja. Hanya kelelahan," jawab Luca pelan, hampir seperti bisikan agar tidak mengusik tidur Queen. "Bereskan semua kekacauan di atas. Jangan tinggalkan jejak. Dan siapkan unit transportasi medis cadangan. Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Mansion ini sudah tidak murni."

"Maksudmu kita akan pindah? Ke tempat persembunyian di pesisir?"

"Ya. Sean sudah tahu koordinat tempat ini. Dia akan kembali dengan pasukan yang lebih besar jika kita tetap di sini," perintah Luca tegas.

"Lalu, bagaimana jika orangtuamu mencari keberadaanmu? Merrka pasti sudah mendengar berita penyerangan ini dari jaringan informannya," tanya Bobby dengan nada serius.

Pertanyaan itu membuat suasana hening sejenak. Hubungan Luca dan Edgar Frederick selalu seperti dua kutub magnet yang saling tolak-menolak. Meski mereka sebenarnya saling menyayangi.

"Kita pikirkan itu nanti. Sekarang, fokus pada evakuasi," tutup Luca sebelum mematikan intercom-nya.

Luca melangkah menuju sebuah tempat tidur kecil yang terletak di sudut ruangan. Ruangan ini sebenarnya adalah bunker perlindungan darurat yang dirancang untuk bertahan dari serangan nuklir sekalipun.

Dengan sangat hati-hati, ia membaringkan Queen di atas kasur.

Queen merintih kecil saat tubuhnya menyentuh sprei.

"Kepala Queen... sakit... angka-angkanya tidak mau berhenti..." gumam Queen mengigau.

Luca tertegun. Ia melihat betapa ringkihnya tubuh itu. Seorang bocah lima tahun yang baru saja melakukan pertahanan digital tingkat dewa hingga otaknya mengalami overheat.

Luca merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya.

Ya, rasa bersalah yang jarang Luca rasakan.

"Kau terlalu memaksakan diri, Kelinci Pink," bisik Luca.

Lantas, Luca bergegas beranjak menuju wastafel kecil di pojok ruangan, mengambil sebuah baskom dan mengisinya dengan air hangat. Kemudian, ia mengambil handuk kecil, memerasnya, lalu duduk di pinggir kasur.

Dengan lembut, Luca menempelkan handuk hangat itu ke kening Queen.

Queen sedikit tersentak. Matanya perlahan terbuka dan menatap Luca dengan pandangan kabur.

"Luca...?"

"Istirahatlah," sahut Luca tanpa menatap mata bocah itu.

"Apa paman jahat sudah pergi? Apa dia akan datang kemari?" tanya Queen dengan suara serak.

"Dia tidak akan pernah masuk ke ruangan ini. Selama kau bersamaku, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu," ucap Luca.

Kalimat itu keluar begitu saja, sebuah janji yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.

Queen tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat, sebelum matanya kembali terpejam. "Terima kasih... Luca. Tapi... jangan lupa... ayam gorengnya..."

Luca mendengus kesal. Bisa-bisanya Queen masih mengingat sial makanan.

"Dasar gila ayam goreng. Dalam keadaan nyaris pingsan pun kau masih memikirkan lemak jenuh itu?!" omel Luca sembari mengompres kening dan tangan Queen yang dingin.

Di bawah remang lampu bunker, sang pangeran es klan Frederick itu tampak seperti orang yang berbeda. Tidak ada pistol di tangannya, tidak ada aura membunuh di matanya.

Yang ada hanyalah seorang pemuda yang seolah sedang menjaga satu-satunya hal berharga yang tersisa di malam yang berdarah ini.

Luca tahu, esok hari segalanya akan menjadi lebih rumit. Sean Harley yang murka ayahnya yang penuh selidik, dan rahasia besar yang tersembunyi di balik otak genius Queen.

Namun untuk saat ini, Luca hanya ingin memastikan napas bocah kecil itu tetap stabil.

"Tidur yang nyenyak," gumam Luca sambil mengusap kepala Queen.

"Luca janji ya, jangan tinggalkan Queen," lirih bocah itu. Padahal, jauh dalam hati Queen mengumpat, kenapa ia harus merengek pada Luca?

"Aku janji tidak akan membiarkanmu melewati ini semua sendirian. Kau puas?" balas Luca.

1
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Ita Xiaomi
Aku jg mau kue gosongnya 😁
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣.
Evi Marena
wkwkwkwwkk
ternyata Sean juga manusia biasa😌
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Kinara Widya
atau jangan2 Edgar dulu yg mencelakai orang tua queen....bakal ribet ni klo benar Edgar...
Ita Xiaomi: Berharap bukan Edgar. Kasihan nanti Sean, Queen ama Luca.
total 1 replies
Tiara Bella
wow Sean sangat mengharukan ...
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
tinie
mulut naga katanya🥺😁😄
Ita Xiaomi
Sama aja kalian berdua tuh kan sama-sama baru belajar tentang kehangatan 😁.
Ita Xiaomi
Sabar Luca. Ini Sean lg belajar menjd hangat😁. Ndak boleh panas.
Ita Xiaomi
Msh mencerna😁
Senja: Wkwkw😭
total 1 replies
Tiara Bella
wah Sean ngerjain Luca ternyata bisa Luca LBH sabar lg
Tiara Bella
cie....merindukan ktnya....Queen msh kecil Luca.....😍
vianty
lanjut KK....
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Keinara_
lanjut yukk,, semangat authorr💙
Keinara_
awas ntar nelen ludah sendiri
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Ita Xiaomi
Ayo Paman Sean latihan senyum😁.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!