Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Janji di Bawah Hujan Abu
Tian Shan melintasi sebuah desa terpencil di kaki pegunungan yang gersang.
Desa itu tampak seperti sisa-sisa peradaban yang terlupakan; tanahnya pecah-pecah dan udaranya terasa berat oleh debu.
Di sebuah gubuk yang nyaris rubuh, ia mendengar suara batuk yang menyakitkan, diikuti oleh isak tangis seorang anak kecil.
Langkah kaki sang Legenda Naga terhenti. Seharusnya ia terus berjalan menuju puncak langit, namun ada sesuatu pada nada tangisan itu yang menarik jiwanya kembali ke bumi—sebuah frekuensi penderitaan yang sangat ia kenali.
Di depan gubuk itu, seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun sedang berusaha menumbuk akar-akar kering dengan batu.
Mereka berdua hanya dua kakak beradik sebatang kara karena orang tuanya sudah meninggal dunia.
Tangannya lecet dan berdarah, wajahnya kotor oleh jelaga, namun matanya memancarkan tekad yang sanggup meruntuhkan gunung.
"Kenapa kau memberikan obat pahit itu pada seseorang yang sudah dijemput maut?" tanya Tian Shan, muncul dari balik bayang-bayang.
Anak itu terlonjak, namun ia tidak lari. Ia menatap Tian Shan dengan mata yang merah karena kurang tidur. "Kakakku... dia tidak boleh pergi. Dia satu-satunya yang kupunya. Selama aku masih bernapas, aku akan mencari cara untuk menyembuhkannya."
Tian Shan melangkah masuk ke dalam gubuk. Di atas ranjang bambu yang keras, seorang wanita muda terbaring lemah.
Kulitnya pucat pasi, napasnya pendek dan berbunyi serak. Tian Shan meletakkan tangannya di atas dahi wanita itu.
Sebagai Pendekar Langit, ia bisa merasakan aliran energi kehidupan yang hampir padam.
"Penyakit ini telah memakan jiwanya," ucap Tian Shan datar. "Bahkan obat surgawi pun tidak akan bisa mengembalikan apa yang sudah hilang."
"Tidak! Kau bohong!" teriak anak itu. Ia meraih jubah hitam Tian Shan dengan tangan mungilnya yang bergetar. "Tuan, kau terlihat kuat. Kau punya pedang besar. Kau pasti bisa melakukan sesuatu! Tolong... ambil nyawaku saja, berikan padanya!"
Tian Shan menatap anak itu. Kehampaan di dadanya terasa berdenyut.
"Dunia tidak melakukan pertukaran semudah itu, Nak. Kematian adalah satu-satunya hal yang adil di dunia ini; ia tidak bisa disuap dengan nyawa orang lain."
Selama tiga hari berikutnya, Tian Shan tetap berada di sana.
Bukan karena ia peduli, melainkan karena ia ingin melihat seberapa jauh tekad seorang manusia bisa bertahan melawan takdir.
Ia melihat anak itu mendaki tebing curam di tengah malam hanya untuk mencari setetes embun pagi, ia melihat anak itu memberikan porsi makannya yang sedikit kepada kakaknya yang bahkan tak bisa menelan.
Hingga pada malam keempat, tubuh kecil anak itu menyerah.
Kelaparan, kelelahan, dan udara dingin pegunungan menghisap habis sisa tenaganya.
Anak itu jatuh tersungkur di samping tempat tidur kakaknya. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan susah payah.
Tian Shan mendekat, mengangkat tubuh anak yang ringan itu ke dalam pelukannya. Cahaya di mata anak itu mulai meredup, namun ia masih berusaha bicara.
"Tuan..." bisiknya, suaranya nyaris hilang ditelan angin malam. "Aku... aku gagal. Aku tidak bisa menjaga kakakku lagi."
"Kau sudah melakukan lebih dari yang bisa dilakukan seorang pria dewasa." sahut Tian Shan.
Anak itu mencengkeram tangan Tian Shan dengan sisa kekuatannya. "Tuan... kumohon. Kakakku... dia tidak punya siapa-siapa. Jika aku mati, dia akan mati dalam kedinginan. Aku tahu ini lancang... tapi kumohon... menikahlah dengannya. Jadilah suaminya. Bukan karena cinta... tapi agar ada yang merawatnya, agar dia tahu ada seseorang yang melindunginya di dunia yang kejam ini... berjanji padaku..."
Tian Shan terpaku. Menikah? Seorang pembantai yang berjalan di atas tumpukan mayat, seorang pengelana hampa yang tidak tahu cara mencintai, diminta untuk menjadi pelindung seorang wanita yang sedang sekarat.
"Aku adalah maut, Nak. Aku bukan pelindung." ucap Tian Shan pelan.
"Tapi... kau manusia," bisik anak itu dengan senyum terakhir yang menyayat hati. "Dan kau... ada di sini."
Tangan anak itu terkulai. Napasnya berhenti. Ia mati dengan sebuah permohonan yang mustahil di bibirnya.
Tian Shan berdiri di tengah gubuk yang sunyi. Di depannya ada dua raga; satu telah pergi, satu lagi sedang menunggu giliran.
Ia bisa saja pergi, terbang kembali ke langit dan melupakan kejadian ini. Namun, kata-kata terakhir anak itu—Dan kau ada di sini—terus bergema di kepalanya.
Ia mendekati sang kakak yang tiba-tiba membuka matanya sedikit.
Wanita itu telah mendengar segalanya dalam keadaan setengah sadar. Air mata mengalir dari sudut matanya yang sayu.
"Kenapa..." suara wanita itu sangat lemah. "Kenapa dia memintamu menanggung beban seperti aku?"
Tian Shan duduk di pinggir ranjang. Ia mengambil tangan wanita itu yang dingin. "Karena dia percaya bahwa bahkan monster sepertiku memiliki ruang untuk satu orang lagi."
Tian Shan menatap langit melalui atap gubuk yang bocor. "Aku tidak tahu apa itu pernikahan. Aku tidak tahu bagaimana menjadi suami. Tapi jika ini adalah cara untuk memberi makna pada kematian adikmu, maka mulai hari ini... kau adalah tanggung jawabku. Langit menjadi saksiku, tak seorang pun akan menyentuhmu selama pedang naga ini masih ada di tanganku."
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Tian Shan tidak terbang.
Ia tetap di bumi, menyalakan api untuk menghangatkan wanita yang kini menjadi istrinya di mata takdir, meski ia tahu bahwa ia hanya sedang menjaga sebuah lilin yang akan segera padam.
Sang Legenda Naga, yang biasanya membelah awan, kini duduk diam menyuapi air ke bibir wanita yang sakit itu, menyadari bahwa menyelamatkan satu nyawa yang rapuh ternyata jauh lebih berat daripada membunuh seribu musuh.