Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Aroma Keabadian dan Pengepungan Siluman
Bau itu... sungguh tidak masuk akal.
Jika surga memiliki aroma, mungkin seperti inilah wanginya. Bukan bau parfum mahal, bukan pula bau makanan lezat biasa. Aroma yang menguar dari celah tutup Kendi Kyai Plered itu adalah aroma Harapan.
Bagi Alya yang sedang duduk menjaga pintu dapur dengan sutil kayu di tangan, aroma itu membuatnya merasa tenang, seolah ibunya sedang memeluknya sambil menyanyikan lagu nina bobo. Rasa lapar akibat puasa mutih hilang seketika, digantikan oleh rasa kenyang batiniah.
Namun, bagi makhluk lain di luar dinding rumah Joglo, aroma itu adalah Narkotika Spiritual.
Malam pertama penjagaan bubur (H-2 Purnama).
Seno duduk bersila di depan tungku, matanya terpejam, tangannya terentang di atas kendi tanpa menyentuhnya. Dia sedang menyalurkan Prana (tenaga dalam) untuk menjaga suhu didih tetap konstan di titik "simmering" (mendidih pelan). Dia tidak boleh bergerak, tidak boleh makan, bahkan napasnya pun diatur seminimal mungkin. Dia dalam kondisi Trance.
Alya adalah satu-satunya garis pertahanan aktif.
"Gulo," bisik Alya. "Cek jendela depan. Perasaan gue nggak enak."
Gulo, yang sedang sibuk menepuk-nepuk nyamuk di telinganya, melompat tangkas ke ventilasi udara. Dia mengintip keluar.
Sedetik kemudian, Gulo melompat turun kembali dengan wajah panik. Dia mencicit keras, menarik-narik celana Alya, menunjuk ke arah halaman.
Alya mengintip dari celah jendela nako.
Jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Halaman rumah Joglo yang biasanya sepi kini bergerak.
Tanahnya... bergerak.
Ribuan tikus got hitam, kecoak, kelabang, dan ular tanah sedang merayap memadati halaman. Mereka tidak saling serang. Mereka bersatu, bergerak seperti gelombang cairan hitam menuju rumah.
Mereka tertarik pada aroma bubur itu. Aroma yang menjanjikan evolusi. Seekor tikus biasa yang memakan setetes bubur itu bisa berubah menjadi Siluman Tikus yang berumur ratusan tahun.
"Astaga... ini mah bukan tamu, ini wabah," desis Alya.
Di balik pagar rumah, di jalanan yang gelap, Alya melihat sosok-sosok yang lebih besar. Bayangan-bayangan tinggi berbulu lebat dengan mata merah menyala. Genderuwo Liar. Bukan tipe ningrat seperti di meja makan Ordo, tapi tipe pemangsa yang kelaparan.
Mereka menggedor-gedor pagar gaib tak kasat mata yang dibuat Seno.
DUM! DUM! DUM!
Pagar gaib itu bergetar. Alya bisa melihat percikan api biru setiap kali tinju hantu itu menghantam udara kosong.
"Pak Seno lagi meditasi. Gue nggak bisa ganggu dia," batin Alya panik. "Oke, Al. Lu udah latihan. Lu udah pernah naklukin ombak. Ini cuma... tikus. Tikus yang banyak banget."
Alya berlari ke gudang penyimpanan bumbu. Dia mengambil stok garam kasarnya. Tapi garam saja tidak cukup untuk pasukan sebanyak ini. Dia butuh senjata area (Area of Effect).
Mata Alya tertuju pada toples besar berisi bubuk hitam.
Merica Bubuk Lampung. (Lada hitam super pedas).
Alya mencampur garam dan merica itu dalam satu baskom besar.
"Ramuan Pedas Mata," gumamnya.
KREK!
Suara kayu pecah terdengar dari pintu belakang dapur.
Pagar gaib di belakang jebol! Tikus-tikus itu menggali terowongan di bawah pondasi yang tidak terlindungi mantra.
Puluhan tikus werok (tikus got besar) seukuran kucing menerobos masuk ke dapur. Mata mereka hijau lapar. Gigi kuning mereka bergemeletuk.
Target mereka satu: Kendi di atas tungku.
Seno tidak bergerak. Dia tahu ada bahaya, tapi jika dia memutus konsentrasi, bubur itu akan gagal. Dia mempertaruhkan nyawanya pada Alya.
"JANGAN SENTUH BOS GUE!" Alya berteriak.
Dia melempar segenggam campuran garam-merica ke arah gerombolan tikus terdepan.
PUFF!
Efeknya brutal.
Tikus-tikus itu menjerit. Merica membakar mata dan hidung sensitif mereka, sementara garam membakar kulit siluman mereka.
Pasukan depan kacau balau, saling tabrak.
Tapi gelombang kedua datang. Lebih banyak. Mereka melompati teman-temannya yang sekarat.
Alya menarik sutil kayunya (yang baru, terbuat dari kayu ulin yang keras).
Dia berdiri di depan Seno, memasang kuda-kuda.
Satu tikus melompat ke arah leher Seno.
BUK!
Sutil Alya menghantam tikus itu telak di udara. Tikus itu terpental menabrak tembok. Homerun.
"Gulo! Tutup lubangnya!" perintah Alya.
Gulo melompat ke arah lubang di bawah pintu. Dia tidak punya kekuatan fisik besar, tapi dia cerdik. Dia menendang karung arang kayu asem hingga terguling menutupi lubang itu. Lalu dia melompat-lompat di atas karung itu, menahannya dengan berat badannya.
Sementara itu, Alya bertarung sendirian melawan sisa tikus yang sudah masuk. Ada sekitar dua puluh ekor.
Gerakan Alya mulai luwes.
Jurus Mengaduk Bubur.
Sutilnya berputar, menangkis gigitan tikus, lalu membalas dengan pukulan di kepala.
Tak! Tak! Buk!
Alya tidak membunuh mereka (sesuai ajaran Seno: jangan membunuh di dapur suci). Dia hanya memukul titik saraf di belakang leher tikus, membuat mereka pingsan.
Lantai dapur penuh dengan tikus pingsan.
Napas Alya memburu. Keringat dingin mengucur.
"Aman... kayaknya aman..."
Tapi Alya salah.
Dari lubang ventilasi di atas, menetes lendir hijau kental.
Tess... tess...
Lendir itu jatuh tepat di sebelah tungku.
Lendir itu mendesis, lalu memadat. Membentuk sosok manusia kerdil dengan kulit bersisik dan kepala botak licin.
Tuyul.
Tapi ini bukan tuyul pencuri uang. Ini Tuyul Api. Kulitnya merah seperti kepiting rebus.
Tuyul itu menyeringai. Dia tidak peduli pada Alya. Dia langsung melompat ke arah kendi. Tangan kecilnya terulur untuk menjatuhkan kendi itu.
Jarak Alya terlalu jauh. Dia tidak sempat lari.
Seno masih terpejam.
"BAPAK!" Alya melempar sutilnya sekuat tenaga.
Sutil itu melayang berputar.
TUK!
Gagang sutil mengenai kepala tuyul itu tepat sebelum tangannya menyentuh kendi.
Tuyul itu oleng, jatuh ke lantai.
Tapi dia marah. Dia menoleh ke Alya. Matanya menyala api.
Tuyul itu membuka mulutnya, menyemburkan bola api kecil ke arah Alya.
WUSSH!
Alya refleks melindungi wajahnya dengan tangan.
Api itu membakar lengan baju kebayanya.
"Panas!" Alya menepuk-nepuk apinya panik.
Tuyul itu tertawa jahat. Dia bersiap menyembur lagi. Kali ini ke arah Seno yang tak bergerak.
Alya tidak punya senjata lagi. Sutilnya jauh. Garamnya habis.
Dia hanya punya satu benda di pinggangnya. Benda yang dilarang Seno untuk dipakai membunuh.
Pisau Beras Wutah.
Tapi ini darurat. Kalau Seno kena api, buburnya gagal, dan Seno mati.
Alya mencabut pisau itu dari sarung kayunya.
Sring!
Bilah pisau itu berkilau magis, memancarkan cahaya pamor yang berwibawa.
Tuyul itu silau. Dia mundur ketakutan. Senjata pusaka Empu Gandring adalah musuh alami bangsa lelembut jahat.
Alya tidak menusuk. Dia ingat kata-kata Seno: Pakai untuk memutus ikatan.
Alya mengacungkan pisau itu ke udara, lalu membuat gerakan memotong horizontal di depan tuyul itu.
Dia memotong Ikatan Elemen si tuyul dengan api.
SRING!
Tidak ada yang tersentuh fisik. Tapi tuyul itu tiba-tiba tersedak. Api di tubuhnya padam seketika. Kulit merahnya berubah menjadi abu-abu pucat. Dia kehilangan kekuatannya. Dia kembali menjadi tuyul biasa yang lemah.
Melihat kekuatannya hilang, tuyul itu mencicit ketakutan dan kabur memanjat ventilasi lagi, menghilang ke dalam malam.
Alya merosot ke lantai, masih memegang pisau itu dengan tangan gemetar.
Lengan bajunya hangus, kulitnya sedikit melepuh.
Tapi kendi itu aman. Seno aman.
Seno membuka matanya perlahan. Dia tidak menoleh, tapi dia tersenyum tipis.
Sangat tipis.
Dari mulutnya yang terkatup rapat, terdengar suara humming (dengungan) rendah. Sebuah nada terima kasih.
Di luar, suara gedoran di pagar berhenti. Para Genderuwo dan siluman lain mundur. Mereka merasakan aura pusaka Beras Wutah yang baru saja diaktifkan. Mereka tahu di dalam rumah itu ada "Penjaga" yang berbahaya.
Mereka mundur untuk sementara. Menunggu malam berikutnya.
Alya merangkak mendekati Seno, memungut sutilnya.
"Satu malam lewat, Pak," bisik Alya serak. "Sisa dua malam lagi."
Gulo turun dari atas karung arang. Dia menghampiri Alya, meniup-niup luka bakar di lengan Alya dengan napas dinginnya. Luka itu terasa adem.
"Makasih, Gulo," Alya mengelus kepala monyet itu.
Alya menatap kendi bubur itu. Warnanya kini semakin pekat, berubah menjadi Emas Cair. Aromanya semakin kuat.
Alya sadar, malam ini baru pemanasan.
Berita bahwa "Pertahanan Joglo bisa ditembus" akan menyebar cepat di dunia gaib.
Malam besok, yang datang bukan lagi tikus atau tuyul kroco.
Malam besok, para Raja Siluman itu sendiri yang akan turun tangan.
Dan Alya harus siap.
Dia menatap pisau di tangannya. Senjata ini menuntut darah. Alya berharap dia tidak perlu memberikannya.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
kukira ini semua akhir dari perjuangan seno.
kukira sang koki melepas nyawa😭.
damai setelah sekian purnama memendam pergolakan hidup dari ribuan kenangan dan janji yang ingin dia tepati.
satu janji sdh terbayar ..
di sisa kekuatan pada tubuh renta, bahagia di dapat , tak apa ,tak ada kata terlambat.
tetep semangat pak seno, ajari alya tentang hidup, kejam dunia bisa di lawan dengan kekuatan cinta dan keluarga.
damai...lanjutkan usaha warung nya.
semoga malam ini bukan malam terakhir buat hidangan
Bangun imajinasi ,hancurkan penhalang dan calon pencuri bubur abadi.
tanpa dendam ,haru biru menyendok makanan ajaib ,campuran dari langit dan samudera .
seperti mereka menyatu dalam kasih lembut.
cinta sekali seumur hidup.
happy valentine thor
Gulo si pemanis alami 🐵🐒
Pak Seno, chef dua dunia 👨🍳👨🍳
makin seru petualangan kalian 🥳🥳🥳
Dan jangan pernah bersinggungan lagi dengan yang ghoib, berat dan menyiksa.
pasrahkan semua ke hadapan yang Maha Kuasa.
menjalani hidup di jalur yang sudah di garis kan .
percaya lah kebahagiaan akan menemani sampai ujung usiamu.
di akhir hayat di tempat tidur yang hangat ,didampingi putri angkatmu dan keluarga ajaibmu : Gulo
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS