NovelToon NovelToon
Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.

"Gus Hilman!"

Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.

Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Hilman mencoba memejamkan mata, namun bayangan layar ponsel itu seolah menempel di pelupuk matanya. Ia bangkit, melangkah ke arah wastafel di sudut kamar, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali. Dinginnya air sedikit meredam gejolak di dadanya, tapi tidak dengan pikirannya yang kacau.

"Tok tok tok!"

"Bang, makan. Disuruh Umi," panggil Zahra, adik bungsu Hilman. Suaranya yang lembut dan sopan seketika membuat Hilman merasa diseret kembali ke kenyataan.

Zahra baru berusia 16 tahun, setahun di bawah Keyla. Namun, penampilannya adalah kebalikan total. Ia mengenakan gamis longgar dan cadar, hanya menyisakan sepasang mata teduh yang menenangkan. Melihat adiknya, Hilman merasa sangat bersalah karena baru saja membiarkan pikirannya dikotori oleh foto nakal Keyla.

"Iya, Zahra. Abang keluar sekarang," sahut Hilman sambil menyambar peci hitamnya.

Di ruang makan, suasana terasa hangat. Abah dan Umi sudah duduk menunggu. Namun, Hilman merasa seperti seorang tersangka yang sedang menyembunyikan rahasia besar.

"Gimana privatnya di rumah Pak Lurah, Hilman? Lancar?" tanya Abah sambil menyendok nasi. "Anak Pak Lurah itu... kabarnya agak dinamis, ya?"

Hilman hampir tersedak air minumnya. Dinamis adalah kata yang sangat halus untuk gadis yang baru saja mengiriminya foto bersinglet.

"Ngg... baru pengenalan, Bah. Beliau memang butuh bimbingan ekstra," jawab Hilman seformal mungkin.

Zahra yang sedang duduk di samping Umi menyahut pelan, "Tadi Zahra lihat Keyla di depan gerbang pesantren, Bang. Dia pakai kaos pendek warna merah, rambutnya dicat cokelat. Dia sempat tanya ke santri putra, 'Gus gantengnya sudah pulang belum?' sambil ketawa kencang. Kasihan santri-santri jadi tidak fokus belajar."

Umi menghela napas panjang, menatap Hilman dengan tatapan penuh arti. "Hilman, Umi tahu ini sulit. Tapi Pak Lurah sudah sangat baik membantu urusan tanah wakaf pesantren kita. Membimbing Keyla adalah cara kita berterima kasih. Tapi ingat... bentengi hatimu sendiri."

Hilman mengangguk pelan. Nasihat Umi terasa seperti beban ribuan ton di pundaknya.

Malam semakin larut. Hilman kembali ke kamar dan dengan ragu mengambil ponselnya dari bawah bantal. Ia bermaksud menghapus foto itu dan memblokir nomor Keyla, namun jemarinya justru mengetik balasan dengan napas tertahan.

Gus Hilman: Mbak Keyla, tolong hapus foto itu. Dan jangan pernah kirim hal serupa lagi. Itu tidak pantas. Tidurlah, sudah malam.

Hanya butuh tiga detik hingga status 'Online' muncul. Keyla sedang menunggunya.

Keyla: Duh, dibalas! Berarti fotonya dilihat lama ya? Hehe. Maaf deh kalau nggak pantas, habisnya di kamarku nggak ada AC, Gus. Gerah banget. Kalau mau aku hapus, besok pas ngaji Gus harus berani natap mata aku 5 detik aja tanpa ngedip. Deal?

Hilman tidak membalas lagi. Ia mematikan ponselnya total dan mencoba merebahkan diri. Namun, bayangan "tantangan" Keyla justru membuatnya terjaga sampai subuh.

Sementara itu, di kamar yang bernuansa merah muda dan penuh dengan poster estetik, Keyla (atau yang sering dipanggil Naila oleh teman-teman kotanya) sedang asyik berguling-guling di atas kasur empuknya. Sifat hyper-nya sedang berada di puncak setelah berhasil memancing balasan dari Gus Hilman.

Tiba-tiba, ponselnya berdering nyaring. Nama

"Sayangku 💋" terpampang di layar. Itu adalah Rian, pacarnya yang berada di kota, yang selama ini menjadi pelarian rasa bosannya selama tinggal di kampung yang sepi ini.

Keyla menghela napas, lalu menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan video call tersebut.

"Sayang! Kenapa tadi nggak sekolah? Aku nungguin kamu di kantin sampai jam terakhir tahu!" suara Rian terdengar protes. Cowok itu tampak masih mengenakan seragam SMA yang acak-acakan.

Keyla memasang wajah manja, ia tetap tengkurap sehingga kaos putih tipisnya sedikit terangkat di bagian pinggang. "Aduh, maaf ya Sayang. Tadi aku pusing banget, kayaknya kena panas matahari kampung deh. Jadi aku izin nggak masuk."

"Beneran pusing? Atau lagi asyik main sama cowok kampung di sana?" selidik Rian dengan nada cemburu.

Keyla tertawa renyah, tawa nakal yang biasanya membuat Rian bertekuk lutut. "Cowok kampung mana sih yang bisa nandingin kamu? Di sini tuh orangnya kaku-kaku, pake sarung terus, nggak asyik!"

Mulutnya berkata begitu, tapi pikirannya justru melayang pada sosok Gus Hilman yang tadi siang tampak sangat panik karena sentuhannya. Ada kepuasan tersendiri bagi Keyla saat melihat pria suci seperti Hilman kelimpungan menghadapinya.

"Ya udah, istirahat gih. Jangan lupa minum obat. Aku kangen banget, pengen peluk," ucap Rian dengan tatapan lapar ke arah layar.

"Iya, aku juga kangen... dikit," goda Keyla sambil mengerlingkan mata. "Udah ya, aku mau ada 'tamu' penting nih. Bye Sayang!"

Keyla mematikan ponselnya tanpa menunggu balasan Rian. Ia langsung bangkit dan berdiri di depan cermin. Ia memandangi pantulan dirinya, lalu tersenyum licik.

"Sori ya Rian, pacar kota emang oke, tapi bikin Gus Hilman jatuh dosa itu kayaknya jauh lebih menantang," gumamnya pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!