NovelToon NovelToon
Mencintaimu Jalur Langit

Mencintaimu Jalur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: Moch Sufyandi

Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
​Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
​Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
​Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
​Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Makan Malam dengan Iblis

​The Peak Resort Dining, Dago Pakar. Pukul 19.30 WIB.

​Udara malam di kawasan Dago Pakar terasa menusuk tulang, jauh lebih dingin daripada di kontrakan Fatih yang pengap. Di ketinggian ini, kerlap-kerlip lampu kota Bandung terhampar di bawah sana seperti lautan kunang-kunang. Indah, namun bagi Fatih malam ini, pemandangan itu terasa seperti mulut raksasa yang siap menelannya.

​Fatih memarkirkan motor Supra-nya di area parkir paling ujung, tersembunyi di balik deretan Pajero dan Alphard. Ia tidak malu miskin, tapi ia tahu etika tempat seperti ini. Motor bututnya akan merusak pemandangan para tamu VIP.

​"Kamu siap, Zal?" tanya Fatih sambil membantu melepaskan helm Zalina.

​Zalina merapikan kerudung pashmina nude-nya. Ia mengenakan gamis terbaiknya, memadukannya dengan blazer kerja agar terlihat formal. Wajahnya sedikit pucat, tapi matanya tajam. Tangannya mencengkeram tas tangannya erat-erat—di dalamnya, ponsel sudah diset pada mode Voice Recorder.

​"Siap, Mas. Inget, jangan makan atau minum sembarangan. Kita nggak tau mereka masukin apa," bisik Zalina waspada.

​Fatih mengangguk. Ia menggenggam tangan istrinya, menyalurkan kehangatan. Mereka berjalan menuju pintu masuk restoran mewah itu.

​"Reservasi atas nama Bapak Handoko," ucap Fatih pada resepsionis yang menyambut mereka dengan tatapan menilai.

​Mendengar nama "Handoko", sikap resepsionis itu berubah 180 derajat menjadi sangat hormat. "Oh, tamu VVIP Pak Handoko. Mari, silakan ikuti saya. Beliau sudah menunggu di Private Room lantai 3."

​Mereka dibawa naik lift kaca, melewati lantai reguler yang ramai, menuju lantai teratas yang sunyi dan eksklusif. Ruangan itu berdinding kaca 360 derajat, menyajikan pemandangan kota Bandung yang spektakuler tanpa gangguan.

​Di tengah ruangan, duduk seorang pria paruh baya di sebuah meja bundar besar. Ia mengenakan kemeja batik sutra lengan panjang yang terlihat sangat mahal. Rambutnya disisir klimis ke belakang, sedikit beruban di pelipis, menambah kesan karismatik. Di jari manisnya, melingkar cincin batu bacan hijau yang besar.

​Dua orang pria berbadan tegap dengan setelan safari hitam berdiri patung di sudut ruangan.

​Handoko. Sang Politisi dan Mafia Tanah.

​Melihat Fatih dan Zalina masuk, Handoko tidak berdiri. Ia hanya melebarkan senyumnya—senyum ramah yang tidak mencapai mata.

​"Selamat malam, Mas Fatih. Dan... Ibu Zalina ya? Wah, ternyata aslinya lebih cantik daripada di foto," sapa Handoko. Suaranya bariton, empuk, dan berwibawa.

​"Selamat malam, Pak Handoko," jawab Fatih datar. Ia menarik kursi untuk Zalina, lalu duduk di sebelahnya.

​"Silakan duduk. Jangan tegang begitu. Kita kan cuma mau ngobrol santai sesama pecinta properti," Handoko memberi kode pada pelayan. "Keluarkan menunya. Mas Fatih suka apa? Steak Wagyu di sini juara lho. Atau Lobster Thermidor?"

​"Terima kasih, Pak. Kami sudah makan," tolak Fatih sopan. (Padahal mereka baru makan roti gandum ganjal perut). "Kami pesan air mineral saja."

​Handoko tertawa kecil. "Sederhana sekali. Sifat yang bagus untuk arsitek muda. Tapi malam ini saya yang traktir. Jangan tolak rezeki."

​Handoko memesankan dua porsi steak termahal tanpa bertanya lagi. Itu adalah power move pertama: Menunjukkan siapa yang pegang kendali, bahkan untuk urusan perut.

​Setelah pelayan pergi, suasana hening sejenak. Handoko menatap Fatih lekat-lekat, seolah sedang menilai barang dagangan.

​"Saya kagum sama kamu, Fatih," buka Handoko. "Saya dengar kamu berhasil menjinakkan Baron. Preman satu itu susah diatur. Saya kasih dia duit, dia minta lagi. Tapi kamu kasih dia 'mimpi', dia tunduk. Cerdas."

​"Baron bukan butuh mimpi, Pak. Dia butuh kepastian hidup," jawab Fatih tenang. "Sesuatu yang jarang diberikan politisi."

​Handoko tersenyum miring, tidak tersinggung. "Tajam juga lidahmu. Saya suka. Kamu mengingatkan saya pada diri saya waktu muda. Idealis. Berapi-api. Mengira bisa mengubah dunia dengan sketsa bangunan."

​Handoko memutar gelas wine-nya (yang berisi jus anggur merah mahal, bukan alkohol, karena dia sedang menjaga citra religius).

​"Tapi Fatih... kamu salah memilih kendaraan. Grand Horizon? Gunawan? Cih," Handoko mendengus jijik. "Mereka itu lintah darat dari Jakarta. Mereka datang ke tanah Sunda ini cuma buat ngeruk untung, ninggalin ampas, terus kabur. Mereka nggak peduli sama warga sini. Proyek 'Pasar Rakyat' kamu itu? Paling cuma bertahan setahun, habis itu digusur jadi ruko komersial."

​Fatih terdiam. Ia tahu ada benarnya ucapan Handoko. Pengembang besar memang sering ingkar janji.

​"Lalu apa bedanya dengan Bapak?" potong Zalina tiba-tiba. "Saya dengar Bapak membiarkan proyek di Cimahi mangkrak tiga tahun lalu supaya harga tanahnya jatuh, lalu Bapak beli murah. Itu peduli warga?"

​Mata Handoko berkilat menatap Zalina. "Itu bisnis, Neng. Business is war. Yang kuat yang menang."

​Makanan datang. Steak Wagyu yang aromanya menggugah selera diletakkan di depan mereka. Fatih tidak menyentuh pisau dan garpunya.

​"Langsung saja ke intinya, Pak Handoko," kata Fatih. "Kenapa Bapak mengundang kami?"

​Handoko meletakkan serbet di pangkuannya. Wajahnya berubah serius.

​"Saya mau kamu mundur dari proyek Grand Horizon."

​"Saya sudah tanda tangan kontrak," jawab Fatih cepat.

​"Kontrak bisa dibatalkan. Penalti bisa dibayar," Handoko menjentikkan jarinya.

​Salah satu ajudan berbadan tegap maju, meletakkan sebuah koper aluminium kecil di atas meja.

​Klik. Klik.

​Koper itu dibuka.

​Mata Fatih dan Zalina terbelalak.

​Tumpukan uang merah. Uang seratus ribuan yang masih terikat pita bank, tersusun rapi memenuhi koper itu. Baunya khas: bau uang baru. Bau kertas dan tinta yang memabukkan.

​"Satu Milyar Rupiah. Tunai," ucap Handoko santai, seolah sedang membicarakan harga kacang goreng.

​Jantung Fatih berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Satu Milyar.

​Dengan uang itu, dia bisa membeli rumah yang layak untuk Zalina. Dia bisa memberangkatkan ibunya haji plus. Dia bisa membangun kantor Langit Arsitektur yang megah. Dia tidak perlu pusing memikirkan token listrik yang habis atau motor Supra yang sering mogok.

​Semua masalah hidupnya bisa selesai malam ini juga.

​"Ini bukan suap," kata Handoko halus, melihat keraguan di mata Fatih. "Anggap ini... signing bonus. Saya mau merekrut kamu. Saya mau kamu jadi Kepala Arsitek di perusahaan saya, PT. Bumi Sentosa. Tinggalkan Gunawan. Bergabunglah dengan putra daerah. Kita bangun Bandung Barat bersama."

​Tawaran itu terdengar sangat logis dan menggoda. Pindah kerja, dapat bonus besar, aman dari teror. Win-win solution.

​"Apa syaratnya?" tanya Fatih, suaranya parau.

​Handoko tersenyum lebar, merasa ikannya sudah memakan umpan.

​"Gampang. Kamu mundur dari proyek Grand Horizon dengan alasan sakit atau tidak sanggup. Tapi sebelum mundur..." Handoko mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya mengecil. "...Kamu serahkan blue print dan data struktur tanah yang sudah kamu riset ke saya. Dan pastikan ada 'sedikit' kesalahan hitung di desain drainase yang kamu tinggalkan buat mereka."

​Darah Fatih yang tadinya panas karena godaan uang, mendadak dingin sedingin es.

​Handoko memintanya melakukan sabotase. Membuat kesalahan desain yang bisa menyebabkan banjir atau longsor di kemudian hari, agar proyek Grand Horizon gagal total dan dibenci warga.

​Fatih menatap tumpukan uang itu lagi. Kini, uang itu tidak lagi terlihat seperti penyelamat. Uang itu terlihat seperti darah.

​Zalina di sebelahnya diam, tidak berani bersuara. Ia menyerahkan keputusan sepenuhnya pada suaminya. Ia meremas tangan Fatih di bawah meja, memberi sinyal: Apapun keputusan Mas, aku ikut.

​Fatih menarik napas panjang. Ia teringat wajah ibunya. Teringat Pak Yusuf yang bangga padanya. Teringat Pak Burhan yang membelanya.

​Dan teringat janjinya pada Allah di sepertiga malam: Mencari rezeki halal.

​Sabotase adalah kejahatan. Itu bukan rezeki. Itu bara api neraka.

​Fatih perlahan menutup koper itu.

​Bam. Suara koper tertutup terdengar nyaring di ruangan sunyi itu.

​Senyum Handoko perlahan luntur. "Maksudnya apa ini?"

​Fatih berdiri. Zalina ikut berdiri.

​"Terima kasih atas tawaran makan malamnya, Pak Handoko. Steaknya kelihatan enak, tapi sayang, saya diajarkan Ibu saya untuk tidak memakan makanan yang dibeli dari uang menyakiti orang lain. Nanti perut saya sakit."

​Wajah Handoko mengeras. Aura ramahnya lenyap seketika, berganti menjadi aura pembunuh.

​"Kamu menolak 1 Milyar? Kamu sadar siapa kamu? Kamu cuma arsitek miskin yang tinggal di kontrakan petak! Istrimu menderita hidup sama kamu!" bentak Handoko.

​"Istri saya bahagia, Pak," potong Fatih tegas. "Karena saya kasih makan dia pake uang keringat, bukan uang darah."

​"Dan soal tawaran Bapak," lanjut Fatih, matanya menatap tajam ke mata Handoko. "Saya arsitek, Pak. Tugas saya membangun, memastikan bangunan kokoh dan aman buat manusia di dalamnya. Bapak nyuruh saya bikin kesalahan struktur? Bapak nyuruh saya mencelakakan orang? Maaf, iman saya tidak dijual. Bahkan seharga satu triliun pun tidak."

​Fatih menggenggam tangan Zalina. "Permisi. Assalamu'alaikum."

​Mereka berbalik badan, berjalan menuju pintu keluar.

​"FATIH!" teriak Handoko menggelegar.

​Fatih berhenti, tapi tidak menoleh.

​"Kamu keluar dari ruangan ini, berarti kamu menabuh genderang perang," suara Handoko dingin dan menakutkan. "Jangan harap proyekmu lancar. Jangan harap hidupmu tenang. Saya akan pastikan kamu hancur, sehancur-hancurnya sampai kamu ngemis di kaki saya!"

​Fatih menoleh sedikit.

​"Pak Handoko," ucap Fatih tenang. "Bapak punya uang, Bapak punya kekuasaan, Bapak punya preman. Tapi Bapak lupa satu hal."

​"Apa?!"

​"Saya punya Jalur Langit. Dan pemilik langit itu jauh lebih kaya dan lebih berkuasa daripada Bapak. Hati-hati, Pak. Doa orang yang didzalimi itu nggak ada penghalangnya."

​Fatih membuka pintu kaca itu dan keluar.

​Begitu pintu tertutup, Handoko berteriak marah dan membanting gelas wine-nya ke lantai hingga pecah berkeping-keping.

​Di dalam lift.

​Kaki Fatih lemas seketika. Ia hampir jatuh kalau tidak ditopang Zalina.

​"Mas... Mas hebat banget," bisik Zalina, air matanya menetes. Ia memeluk Fatih erat-erat di dalam lift yang turun itu. "Aku bangga banget sama Mas. Bangga banget."

​Fatih memeluk balik istrinya, menyandarkan keningnya di bahu Zalina. Keringat dingin membasahi punggungnya. Menolak 1 Milyar itu sakitnya luar biasa secara manusiawi, tapi leganya juga luar biasa secara imani.

​"Kita baru aja bangunin raksasa tidur, Zal," bisik Fatih. "Mulai besok, hidup kita bakal kayak neraka."

​"Nggak apa-apa," jawab Zalina mantap. "Kita hadapi bareng. Kita punya rekaman suaranya tadi. Kalau dia macem-macem, kita punya kartu As."

​Mereka berjalan keluar dari gedung mewah itu, kembali ke motor Supra butut di parkiran pojok. Malam itu, mereka pulang dengan tangan kosong, tanpa uang sepeser pun. Tapi hati mereka penuh. Harga diri mereka utuh.

​Namun, Handoko tidak menggertak.

​Keesokan harinya, serangan sesungguhnya dimulai. Bukan lagi teror fisik seperti kabel putus, tapi serangan birokrasi yang mematikan.

​Pukul 10.00 pagi.

​Fatih mendapat telepon dari Pak Gunawan. Suaranya panik.

​"Fatih! Gawat! Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk proyek Cluster Griya Harapan tiba-tiba dibekukan oleh Dinas Tata Kota! Katanya ada ketidaksesuaian analisis dampak lingkungan (AMDAL)."

​"Apa? Tapi kan semua dokumen sudah lengkap, Pak!"

​"Ini permainan Handoko. Dia pake koneksinya di Pemda. Kalau IMB nggak keluar dalam seminggu, investor Grand Horizon bakal narik dananya. Proyek batal. Dan kamu... kontrak desainmu batal demi hukum. Kamu nggak dapet apa-apa."

​Fatih menutup telepon dengan tangan gemetar.

​Inilah cara main Handoko. Dia tidak membunuh orangnya, dia membunuh sumber nafkahnya.

​Fatih menatap Zalina yang sedang menyetrika baju di sudut kontrakan.

​"Zal..."

​"Kenapa Mas?"

​"Proyek distop. IMB dibekukan."

​Setrika di tangan Zalina berhenti bergerak.

​Mereka baru saja menolak 1 Milyar semalam, dan pagi ini mereka kehilangan satu-satunya harapan pendapatan mereka.

​Ujian "Jalur Langit" baru saja naik ke level berikutnya: Tawakkal Tingkat Dewa.

​Apakah mereka akan menyerah dan kembali memohon pada Handoko? Atau mereka akan menemukan celah hukum untuk melawan tirani birokrasi ini?

​Fatih butuh bantuan. Dan bantuan itu mungkin datang dari masa lalu yang tak terduga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!