“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
"Daddy! Kak aya! Benarkah? Benar yang Lio dengar dari Martha?!"
Pagi itu, ketenangan ruang makan pecah oleh suara pekikan Elio. Bocah itu berlari memutari meja makan dengan semangat yang meluap-luap, piyamanya berkibar tertiup angin dari jendela yang terbuka.
Di atas meja, Elio rupanya sudah menyiapkan
kejutan. Sebuah tumpukan pancake cokelat yang bentuknya agak berantakan, hasil kreasi dan bantuan Martha, lengkap dengan taburan meses warna-warni dan setangkai bunga mawar plastik dari vas di ruang tamu.
"Lio, pelan-pelan Sayang, nanti jatuh," ucap Cahaya, mencoba menenangkan, meski wajahnya sendiri masih terasa panas karena kejadian di depan pagar tadi.
"Daddy beneran mau nikah sama Kak Aya? Jadi Kak Aya bakal jadi Mommy-nya Elio sungguhan?" Elio berhenti di depan Jeremy, menatap ayahnya dengan mata bulat yang berbinar penuh harapan.
Jeremy, yang baru saja duduk dan hendak menyesap kopinya, berdeham kaku. Ia melirik Cahaya yang duduk di seberangnya.
"Ehem... ya, begitulah. Kau senang?"
"Lio Senang Daddy! Yeay! Daddy hebat!" Elio melompat ke pelukan Jeremy dan mencium pipi ayahnya berkali-kali. "Tadi
Lio tidak sengaja dengar Daddy bilang calon istri ke kak Alvin. Lio sampai mau lompat dari jendela saking senengnya!"
Cahaya hampir tersedak ludahnya sendiri. Anak ini pendengarannya tajam juga, batinnya.
"Nah, karena Daddy dan Kak Aya mau menikah, Elio mau lihat Daddy sayang-sayangan sama Kak Aya! Seperti di film-film yang ditonton Martha!" seru Elio sambil menarik tangan Jeremy agar mendekat ke arah Cahaya.
Jeremy membeku. "Sayang-sayangan? Lio, Daddy sedang makan—"
"Ayo Daddy! Cium kening Kak Aya! Atau peluk! Elio mau lihat!" paksa Elio sambil bertepuk tangan.
Cahaya mematung, jantungnya berdegup kencang. Ia menatap Jeremy yang tampak sangat tersiksa dengan permintaan putranya.
Namun, melihat mata Elio yang begitu tulus, Cahaya tahu mereka tidak boleh menghancurkan hati bocah itu sekarang.
Cahaya mencondongkan tubuhnya ke arah Jeremy, lalu berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh pria itu.
"Ingat janji kelingking semalam, Om? Om bilang mau menuruti semua kemauan saya. Nah, sekarang saya mau Om akting mesra di depan Elio. Jangan buat dia sedih."
Jeremy melirik Cahaya dengan tatapan tajam yang seolah berkata, 'Kau benar-benar memanfaatkan keadaan, ya?'
"Cepat, Om. Atau saya bilang ke Elio kalau Om cuma bohong," ancam Cahaya lagi dengan senyum manis yang dipaksakan.
Jeremy mengembuskan napas panjang. Dengan gerakan yang sangat kaku seperti robot yang kehabisan baterai, ia mengulurkan tangannya dan merangkul bahu Cahaya. Ia menarik gadis itu mendekat sampai kepala Cahaya bersandar di bahunya yang kokoh.
"Daddy kaku banget kayak es batu!" protes Elio sambil tertawa geli. "Kak Aya, balas peluk Daddy-nya dong!"
Cahaya mengertakkan gigi, lalu perlahan melingkarkan tangannya di pinggang Jeremy. Ia bisa merasakan tubuh Jeremy yang mengeras sesaat sebelum akhirnya pria itu mulai sedikit rileks.
Aroma parfum maskulin Jeremy yang mahal dan wangi kopi menyeruak di indra penciuman Cahaya, membuatnya mendadak gugup luar biasa.
"Daddy dan Kak Aya sudah pelukan. Puas?" ucap Jeremy.
"Satu lagi! Daddy harus panggil Kak Aya sayang lagi kayak di depan pagar tadi!" Elio belum menyerah.
Jeremy memejamkan mata sejenak, meratapi nasibnya yang kini dipermainkan oleh seorang bocah enam tahun dan seorang pengasuh cerewet. Ia menunduk, menatap Cahaya yang juga sedang menatapnya dengan pandangan menantang sekaligus geli.
"Makanlah supmu... Sayang," ucap Jeremy dengan nada yang sangat datar, tapi cukup untuk membuat Elio bersorak kegirangan.
"Ih, geli banget denger Om bilang begitu," bisik Cahaya di telinga Jeremy, membuat bulu kuduk Jeremy meremang karena hembusan napas gadis itu.
"Diam kau, atau aku batalkan kontrak ini sekarang juga," balas Jeremy lewat celah giginya yang terkatup.
"Nggak bisa! Janji kelingking itu suci!" sahut Cahaya tak mau kalah.
Martha yang memperhatikan dari ambang pintu dapur hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum lebar. Ia tahu, meski mereka menyebutnya akting atau kontrak, tatapan mata Jeremy saat menatap Cahaya tadi malam tidak bisa berbohong.
Ada sesuatu yang mulai mencair di dalam hati sang monster dingin Milan.
"Daddy, nanti kalau kalian sudah menikah, Elio boleh tidur bareng Daddy dan kak Cahaya kan?" tanya Elio dengan wajah tanpa dosa.
UHUK!
Kali ini giliran Cahaya yang tersedak pancake-nya. Jeremy langsung menepuk-nepuk punggung Cahaya dengan panik, sementara wajah keduanya sudah semerah tomat matang.
"Itu... itu nanti kita bicarakan lagi ya, Lio. Sekarang makan dulu, nanti telat ke sekolah," potong Cahaya cepat, mencoba menyelamatkan situasi yang semakin canggung.
Pagi itu, meja makan yang biasanya dingin berubah menjadi medan pertempuran rasa malu bagi dua orang dewasa yang sedang terjebak dalam sandiwara mereka sendiri.
Namun bagi Elio, itu adalah awal dari kehidupan impian yang selama ini ia doakan dalam tidurnya.
Di tengah riuhnya tawa Elio, Cahaya kembali berbisik pada Jeremy yang masih merangkulnya.
"Om, siap-siap ya. Karena kontrak ini baru dimulai, dan saya punya daftar panjang permintaan yang harus Om penuhi."
Jeremy hanya bisa mendesah pasrah. Dia merasa baru saja menyerahkan kebebasannya pada seorang pengasuh gila dari Indonesia.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭