NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RINDU RUMAH

Master Hephaestus bangkit dari kursinya, langkah kakinya yang berat bergema di atas lantai batu saat ia berjalan menuju jendela besar yang terbuka.

Di luar sana, pepohonan pinus meliuk-liuk tertiup angin gunung yang kencang, dahan-dahannya saling bergesekan menciptakan melodi yang kelam. Sudut bibirnya kembali menyunggingkan senyum tipis yang penuh nostalgia.

"Dahulu..." ia memulai dengan suara yang terdengar seperti gema dari masa silam.

"Sir Alaric sang Penakluk adalah ksatria dengan bakat paling cemerlang yang pernah menginjakkan kaki di daratan Eropa ini. Teknik pedang Stormbringer-nya—jurus petir yang membelah cakrawala—pernah menjadi buah bibir di setiap sudut kerajaan, dari pesisir Normandia hingga pegunungan Alpen. Bahkan hingga saat ini, namanya abadi dalam lagu-lagu para pujangga yang mendendangkan kisah kepahlawanannya di kedai-kedai minuman yang ramai atau di depan perapian kastil yang megah."

Hephaestus menoleh sedikit, bayangan jendela menutupi sebagian wajahnya yang keriput.

"Dia bukan sekadar ksatria; dia adalah legenda hidup. Pedang di atas meja itu bukan ditempa dari besi biasa, melainkan dari sisa-sisa bintang yang jatuh saat badai besar melanda seribu tahun lalu. Itulah sebabnya ia bisa menarik jiwa dari dimensi lain. Alaric yang asli tahu cara mengendalikannya, namun kau..." Hephaestus menatap Vion dengan tajam,

"Kau baru saja memulainya."

Master Hephaestus menarik napas panjang, matanya menerawang menembus kabut yang mulai menyelimuti hutan di luar sana.

"Tragedi itu bermula saat Sir Alaric memimpin legiunnya memadamkan pemberontakan di perbatasan Blackwood," bisiknya parau.

"Di tengah keriuhan kancah perang, ia dikhianati dan diracun oleh Ratu Elara dari Kerajaan Northumbria. Racun yang mengalir di nadinya saat itu sama persis dengan racun hitam yang digunakan penyusup untuk menusukmu. Meskipun raga Alaric perlahan membusuk dari dalam, ia tetap berdiri tegak, membawa panji kemenangan pulang, hingga akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di aula agung Istana Valerius."

Hephaestus terdiam sejenak, membiarkan keheningan mengambil alih ruangan itu.

"Setelah kematiannya, seluruh daratan Eropa dilanda kegilaan. Para raja dan bangsawan haus kekuasaan mencari pedang Stormbringer yang selalu dibawa Alaric, namun tak seorang pun mampu menemukannya. Pedang itu menghilang seolah ditelan bumi."

Ia menoleh ke arah Vion dengan tatapan yang sangat dalam.

"Aku memilih untuk bungkam, menyimpan rahasia ini dalam kegelapan. Aku tahu bahwa pedang itu bukanlah sekadar logam mati; ia memiliki kehendak sendiri. Ia menolak untuk dipegang oleh siapa pun, bahkan oleh Raja Richard yang saat itu memimpin kekaisaran dengan tangan besi. Pedang itu hanya mau tunduk pada jiwa yang ia pilih sendiri."

Semenjak pedang Stormbringer itu menghilang dari peti rahasianya, Hephaestus menghabiskan tahun-tahunnya dalam kegelisahan, berkelana dalam bayang-bayang untuk mencari tahu kebenaran.

Ia bahkan sering menyamar di sekitar tembok tinggi Istana Valerius, mengumpulkan serpihan informasi tentang keberadaan mahakarya yang ia tempa khusus untuk sahabat karibnya, Sir Alaric, sang ksatria legendaris.

Beberapa purnama lalu, ia mendengar kabar burung bahwa Sang Putra Mahkota, Alaric muda, terluka parah oleh serangan penyusup misterius di dalam kamar tidurnya. Namun, saat itu Hephaestus belum tahu dengan senjata apa sang pangeran ditikam.

Kabar yang sampai ke telinganya hanya menyebutkan bahwa Alaric menderita akibat racun hitam yang sama—racun Belladonna terkutuk yang dulu merenggut nyawa ayahnya di medan perang.

Hephaestus benar-benar tak menyangka jika putra mahkota itu sanggup bertahan. Secara logika, racun itu seharusnya sudah mengirim jiwa Alaric ke alam baka dalam hitungan menit. Namun, kenyataan yang ia lihat di depan matanya saat ini jauh lebih gila dari sekadar mukjizat medis.

Pangeran itu tetap hidup, bernapas, dan berdiri di depannya, namun dengan jiwa orang lain yang terperangkap di dalam raganya—seorang pemuda bernama Vion yang datang dari dunia yang tak masuk akal.

"Jadi... kau adalah wadahnya," gumam Hephaestus sambil menatap Vion dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Pedang itu tidak hanya membawa racun, ia membawa 'pertukaran'. Saat jiwa Alaric pergi, tarikan magis dari Stormbringer menyeretmu masuk untuk mengisi kekosongan itu. Kau adalah anomali, Vion. Sebuah kesalahan takdir yang mungkin saja menjadi satu-satunya harapan bagi kerajaan ini."

Malam itu, Vion dan seluruh ksatria pengawal Von Gardo terpaksa bermalam di pondok batu milik Master Hephaestus.

Berkali-kali Vion membolak-balikkan tubuhnya di atas tumpukan jerami yang dialasi kain wol, namun kantuk seolah enggan menyapa. Pikirannya terlalu penuh.

Akhirnya, ia memilih bangkit. Langkahnya pelan, menghindari derit lantai kayu agar tidak membangunkan Von Gardo yang mendengkur halus di dekat pintu.

Vion membuka jendela kecil di sudut ruangan, membiarkan udara malam yang menggigit masuk, lalu menengadah mengamati bulan sabit yang menggantung tipis di langit kelam.

Seketika, bayangan masa lalunya di dunia asal kembali terlintas—sebuah fragmen memori yang terasa seperti mimpi dari kehidupan lain.

Ia teringat saat-saat ia masih berkumpul dengan arman, Aldy, dan teman-temannya di pelataran parkir yang terang benderang.

Saat itu, bulan di langit berbentuk sama persis dengan yang ia lihat sekarang. Ia ingat betapa sombongnya ia duduk di atas jok motor gede milik Aldy, merasa seperti penguasa jalanan.

Tangannya seolah masih bisa merasakan dinginnya senar gitar di pangkuannya. Ia memetiknya pelan, menyanyikan lagu yang saat itu tengah populer di radio, sementara teman-temannya bersiul menggoda gadis-gadis yang kebetulan lewat di depan kedai kopi tempat mereka nongkrong.

Lalu, ledakan tawa kompak pecah saat mereka mulai saling ejek tentang hal-hal konyol. Tak ada pedang, tak ada racun, tak ada beban mahkota—hanya tawa dan persahabatan yang tulus di bawah lampu kota.

"Ah, aku merindukan mereka semua," gumam Vion pelan.

Tanpa terasa, bibir Vion mengulas senyum tipis yang getir. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar melalui mulut, menciptakan kabut tipis di udara malam yang beku.

Semua ini karena keegoisannya. Andai saja waktu itu Isabella tidak memutuskannya hanya karena dia tidak memiliki kuda pacu seindah milik Aldy, mungkin hatinya tidak akan terbakar amarah.

Seandainya dia tidak memaksakan kehendak pada ayahnya untuk membelikan kuda kavaleri yang mahal, dan tidak melontarkan kata-kata kasar yang menghina kehormatan kedua orang tuanya yang hanya petani biasa, dia tidak akan kabur ke pinggir hutan angker itu dalam keadaan emosi yang meluap.

Takdir memang kejam. Karena pelariannya ke hutan itulah, dia melihat kilatan aneh di langit sebelum akhirnya terbangun di raga Pangeran Alaric yang sekarat.

"Kenapa penyesalan selalu datang saat semuanya sudah hancur?" umpatnya lirih. "Sialan!"

Beberapa kali Vion menghantamkan tinjunya ke kusen kayu ek tua di depannya dengan penuh kekesalan. Tulang jemarinya terasa ngilu, namun tak sebanding dengan sesak di d**anya.

Matanya memanas saat bayangan kedua adik perempuannya yang masih kecil melintas di benak—mereka yang selalu mengejarnya dengan tawa riang di ladang gandum.

Ia teringat senyum ibunya yang teduh saat menyajikan sup kaldu hangat di atas meja kayu yang sederhana, sarapan dengan roti gandum kasar dan sayur-mayur yang dipetik langsung dari kebun belakang rumah. Lalu, ada potongan daging asap yang menjadi hidangan istimewa setiap kali ayahnya pulang membawa upah dari pasar kota.

Astaga, kenapa hal-hal sederhana yang dulu ia anggap remeh kini terasa seperti kemewahan yang paling membahagiakan setelah ia terlempar sejauh ini?

"Ibu, aku merindukanmu..."

"Ayah, maafkan aku..."

Gumamnya lirih, bibirnya bergetar hebat. Ia berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak membasahi pipinya yang kini mulai ditumbuhi janggut tipis khas seorang bangsawan.

"Yang Mulia," sebuah suara rendah menyapa dari kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!