"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lari Pagi
Cahaya matahari pagi menyusup dengan lancang melalui celah-celah anyaman rumbia di atap kamar. Rosie membuka matanya perlahan, berharap hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit plafon apartemennya yang sudah menguning atau setidaknya tumpukan berkas kantor yang belum selesai dia kerjakan.
Namun, harapan itu hancur berkeping-keping saat pandangannya justru menangkap balok-balok kayu besar dan aroma kayu cendana yang memenuhi ruangan.
"Ah, sial! Kenapa bukan mimpi?" protes Rosie sambil menjambak rambutnya dengan pelan.
Belum sempat dia mengumpulkan kesadaran sepenuhnya, pintu kain kamarnya tersingkap. Laras dan Gendis melangkah masuk dengan sangat pelan, membawa nampan kayu berisi sebuah mangkuk tanah liat yang mengeluarkan asap tipis dengan aroma pahit yang menyengat.
"Obatnya sudah siap, Nona," ucap Laras sambil membungkuk dalam.
Rosie segera menutup hidungnya dengan punggung tangan. "Enggak mau. Singkirkan itu, aromanya bikin mual."
Gendis meletakkan nampan itu di atas meja kayu pendek di lantai tanah. "Nona harus meminumnya. Jika Nona menolak, saya terpaksa melaporkan ini kepada Nyonya Besar. Nona tahu sendiri bagaimana jika Nyonya Besar murka saat Tuan Besar sedang tidak ada di rumah."
Rosie mendengus kasar. Ancaman itu terasa sangat nyata di telinganya. Dengan rasa terpaksa yang luar biasa, dia meraih mangkuk itu dan meneguk isinya dengan sekali jalan. Cairan itu terasa sangat pekat dan meninggalkan rasa pahit yang menempel lama di tenggorokannya.
"Duh, enggak enak banget! Masih mending minum kapsul daripada jamu tradisional begini," gumam Rosie sambil mengusap bibirnya.
Laras menatapnya dengan kening berkerut. "Kapsul? Apa itu, Nona? Tolong jangan bicara aneh lagi, Nona."
"Cepatlah sembuh, Nona. Supaya kepala Nona tidak pening lagi," tambah Gendis dengan nada prihatin.
Rosie menatap kedua pelayan itu yang kini kembali duduk bersimpuh di atas lantai tanah yang dingin, menjauh dari alas karpet pandan yang ada di dekat tempat tidurnya. Dia merasa risih melihat pemandangan itu.
"Kenapa kalian duduk di lantai tanah begitu? Itu kotor. Naik sini," perintah Rosie sambil menunjuk tepi dipannya.
Laras dan Gendis serentak menunduk lebih dalam, tidak berani menatap mata Rosie. Membuat Rosie fokus pada sanggul bawah mereka.
"Ampun, Nona. Sudah sepantasnya pelayan seperti kami berada di bawah. Kami tidak berani melanggar adat," jawab Laras pelan.
"Hadeh, kasta lagi," keluh Rosie sambil memutar bola matanya. Dia merasa gerah dengan protokol yang begitu kaku. "Eh, kalau bicara sama orang itu lihat mukanya! Jangan lihat lantai terus. Lantai itu lebih menarik dari muka aku?"
Laras dan Gendis tersentak, bahu mereka bergetar sedikit karena kaget. "Bukan begitu, Nona!" jawab mereka serempak tanpa berani mengangkat kepala.
Rosie menghela napas panjang, merasa usahanya untuk memanusiakan mereka justru dianggap sebagai ancaman. Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju cermin perunggu di atas meja rias kayu di sudut ruangan.
Dia menatap pantulan dirinya. "Ini emang mukaku sih, tapi Merah bikin kecantikan itu jadi sesuatu yang 'wah' banget." Rosie bergumam sendiri.
Dia memuji kecantikan yang memukau. Kulitnya putih bersih dan halus tanpa celah, sementara rambut hitam legamnya tergerai panjang.
Rosie mulai bergaya di depan cermin, mengamati detail kemben merah bata yang melilit tubuhnya. Dia memegang bahu dan lengannya yang sama sekali tidak tertutup kain.
"Ini dingin banget. Kenapa baju zaman dulu enggak ada lengannya sih?" gumamnya sambil mengusap lengan yang merinding diterpa angin pagi, menyelinap dari celah dinding bambu.
Gendis dan Laras saling bertukar pandang secara sembunyi-sembunyi, seolah sedang melakukan telepati untuk menanyakan apakah Nona mereka benar-benar sudah gila atau sedang dirasuki roh hutan.
Mereka hanya bisa diam saat melihat Rosie terus berbicara sendiri dengan bahasa yang sama sekali tidak mereka pahami.
Rosie menatap ke arah jendela yang terbuka. Rasa penasarannya memuncak. Dia harus tahu apakah dunia ini benar-benar sebuah kerajaan atau hanya akal-akalan sekelompok orang yang menculiknya ke desa terpencil.
"Oh iya, aku kan mau keluar!" serunya tiba-tiba.
Tanpa aba-aba, Rosie langsung berlari keluar dari kamarnya. Sontak saja, Gendis dan Laras yang tadinya menatap lantai langsung mendongak.
"Nona!" teriak Gendis dan Laras serentak.
Rosie berlari melintasi ruang tengah, melewati kain-kain penutup pintu dengan gerakan yang sangat tidak anggun bagi seorang bangsawan niaga.
Di balai belakang, Putih dan Melati sedang sibuk menata makanan di atas wadah-wadah tanah liat. Mereka berdua terpaku saat melihat bayangan merah melesat melewati mereka tanpa menyapa sedikit pun.
"Nona Merah!" seru Putih dengan wajah pucat.
Rosie tidak peduli. Dia terus berlari keluar dari bangunan utama rumah dan dikejar oleh dua pelayannya dari belakang. Begitu kakinya menginjak halaman luar, dia tertegun sejenak. Kediaman Jati Jajar dari luar tampak jauh lebih luas dan megah daripada yang dia bayangkan.
Ada pagar bambu yang tertata rapi mengelilingi bangunan-bangunan kayu yang kokoh. Rosie melompati ambang pagar bambu dan terus berlari tanpa arah yang jelas. Laras dan Gendis mengejarnya dari belakang dengan napas terengah-engah.
"Nona! Tolong jangan lari! Tidak baik bagi seorang perempuan terhormat bertingkah seperti ini, Nona!" teriak Gendis dengan suara melengking.
Orang-orang di luar kediaman sudah mulai beraktivitas sejak fajar menyingsing. Para pedagang kecil yang membawa bakul di atas kepala dan warga desa yang hendak menuju sungai terhenti seketika saat melihat Merah berlari seperti orang dikejar hantu.
Bisik-bisik mulai menjalar dengan sangat cepat di sepanjang jalan setapak.
"Lihat itu, Kirana Merah Trajuningrat ... benar kabar itu, dia sepertinya sudah hilang akal," bisik seorang pria yang sedang memikul kayu bakar.
"Kemarin dia berteriak-teriak tidak jelas, sekarang lari-larian tanpa alas kaki. Kasihan Tuan Menjangan punya anak seperti itu," timpal seorang wanita paruh baya.
Saat itu, Rosie merasa yakin seyakin-yakinnya. Ini bukan sekadar desa terisolasi atau set syuting film.
Semua yang dia lihat—mulai dari bentuk rumah-rumah rakyat dengan atap rumbia, peralatan rumah tangga dari gerabah, hingga kendaraan berupa gerobak kayu yang ditarik kerbau—memberikan fakta bahwa dia memang sedang berada di dunia lain. Ini benar-benar dunia dongeng kerajaan yang dia baca di buku ibunya.
Lari Rosie belum terhenti saat dia melewati deretan gudang rempah di pinggiran kediaman. Di sana, dua orang pria berbadan tegap sedang sibuk menata karung-karung cengkeh hasil setoran warga.
Salah satu dari mereka memiliki bahu yang lebar dan lengan yang kokoh, terlihat sangat bertenaga saat memindahkan beban berat. Rekannya yang sedikit lebih tinggi mengenakan ikat kepala kain polos yang menutupi sebagian rambut hitamnya yang dipotong pendek.
Mereka berdua hanya mengenakan rompi kain kasar tanpa atasan, memperlihatkan kulit cokelat mereka yang mengkilap oleh keringat pagi.
"Jaka! Wira! Cepat kejar Nona Merah! Dia kabur!" teriak Gendis yang sudah hampir kehabisan napas.
Dua pria yang sedang memanggul karung itu langsung menjatuhkan muatan mereka hingga debu rempah berhamburan. Mereka terperangah melihat Nona mereka melesat cepat menuju arah hutan dekat tebing.
"Ada apa dengan Nona Merah?" tanya pria yang lebih tinggi itu dengan wajah bingung.
"Jangan banyak tanya! Kejar sekarang sebelum dia masuk ke Lembah Kabut!" perintah pria berbahu lebar itu sambil mulai berlari sekencang mungkin mengejar bayangan Rosie yang semakin menjauh di antara pepohonan besar.
Rosie tidak menyadari bahaya yang mengintai di depannya. Pikirannya hanya dipenuhi oleh keinginan untuk melihat ujung dari dunia ini, mengabaikan teriakan para pelayan dan penjaganya yang kini menciptakan keributan besar di sepanjang pinggiran Sungai Amerta.
Coba kalian kasih aku bintang 5, like, komen, gift gratisan juga gapapa, biar aku semangat update bab gitu, terimakasih cintakuhhh
Terus subscribe cerita ama follow juga boleh
maaf yak banyak minta hihi /Shy/