Jessica yang mati penuh penyesalan tiba-tiba kembali ke umur 19 tahun dengan membawa semua ingatannya di kehidupan yang telah ia lalui.
Kali ini, dia tidak akan ditindas lagi, dia akan bersinar dan mendapatkan kebahagiaannya sendiri.
"Bagaimana bisa Jessica tahu ada racun di minuman itu?"
"Jessica mendapat nilai sempurna? Bukankah dia selalu peringkat akhir?"
"Aku tidak akan membiarkan Jessica mengambil posisiku, lihat saja, aku akan memberinya pelajaran!"
"Heh! Mau menindasku? Tidak! Jessica kali ini bukan lawan yang sepadan untukmu! Jangan macam-macam kalau tidak mau menyesal!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Tidak bisa lepas dari Nolan
Saat itu, Nolan yang kembali masuk ke cafe kini mendapati Jessica duduk bersama para perempuan yang merupakan Marcella dan teman-temannya.
Wajah Jessica tampak pucat hingga membuat Nolan menjadi panik.
"Jessica," ucap Nolan menghampiri Jessica membuat Jessica mengerutkan keningnya, kenapa pria ini balik lagi?
"Semuanya, minumlah, aku harus berbicara dengannya sebentar," kata Jessica.
Marcella memperhatikan Nolan, mengerutkan keningnya sesaat, sepertinya familiar dengan pria itu, tetapi dia tidak tahu kapan mereka bertemu jadi Marcella hanya mengangguk kan kepalanya dan membiarkan dua orang itu pergi.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Jessica ketika telah berjalan beberapa langkah meninggalkan Marcella dan teman-temannya.
Nolan berbicara, tetapi saat itu Michelle berlari menghampiri Jessica dan memeluk dengan Jessica sambil berkata, "maafkan aku kak Jessica, aku tidak punya pilihan lain, jadi aku memberitahu Kak Nolan kalau kau sedang mengandung."
Jessica membeku menatap Michelle dengan penuh kekesalan, perempuan ini benar-benar pembawa masalah. Keuntungan apa yang didapat Michelle Dengan mengatakan hal itu pada Nolan?!
Dia ingin merahasiakan kehamilannya dan memikirkan jalan keluar yang terbaik untuknya dan anaknya terlebih dahulu, tapi sekarang Michelle yang tidak tahu diri ini malah bertindak seperti pahlawan kesiangan.
"Benar kau hamil?" Tanya Nolan.
Jessica menggeleng, "Tentu saja tidak! Jangan dengarkan kata-katanya, dia--"
"Tapi aku mendengar sendiri kau mengatakannya di toilet. Kau tampak sangat tertekan, jadi aku sangat cemas kau mungkin sedang dalam kesulitan jadi tanpa sengaja aku bertindak impulsif dan memberitahu Nolan supaya dia mungkin bisa menolong mu. Bagaimanapun, kau menolak semua pertolongan yang kuberikan, jadi aku tidak punya pilihan lain selain meminta tolong pada Kak Nolan," kata Michelle.
"Jadi kau benar-benar mengandung anak haram ya," Barto tersenyum mengejek menatap Jessica dengan penuh merendahkan.
"Kakak, tolong jangan berkata seperti itu pada Kak Jessica," ucup Michelle pada kakaknya.
"Ayo ke rumah sakit!" Ucap Nolan segera merangkul Jessica untuk pergi dari sana tetapi Jessica dengan cepat mendorong Nolan.
"Aku Tidak mau!" Tegas Jessica.
Tingkah Jessica yang begitu panik membuat Michelle dan Barto semakin yakin kalau perempuan itu telah hamil dan entah siapa ayah anak yang dikandungnya itu, tapi yang pasti pria itu bukan Nolan, mungkin seorang bajingan yang tidak akan bertanggung jawab!
Ck... Ck... Dasar jallang bodoh!
"Kita ke rumah sakit untuk membuktikannya! Aku juga ingin melihat seberapa mulia nya perempuan yang mengatakan dirinya lebih baik dari seluruh anggota keluarga wijaya!" Kata Barto dengan tegas.
Jessica sangat kesal, tapi dia menahan kekesalannya dan dengan tegas berkata, "aku tidak hamil, dan kalian tidak punya hak untuk memaksa aku melakukan pemeriksaan!"
"Aku punya hak!" Tegas Nolan tanpa aba-aba langsung membawa Jessica ke gendongan nya dan berlari keluar cafe.
"Ayo cepat ikuti mereka!" Kata Michelle bersama-sama dengan kakaknya mengikuti dua orang itu.
Sementara Jessica yang di gendongan Nolan, dia berkata, "lepaskan aku!" Sambil meronta ronta.
Nolan sama sekali tidak memperdulikan rontahan Jessica, dia memasukkan Jessica ke mobil dan menyuruh asistennya segera berangkat ke rumah sakit.
Begitu duduk di mobil, Jessica meremas gaunnya, 'apa yang harus kulakukan sekarang?' pikir Jessica dalam hati.
Di hanya ini hidup tenang, jauh dari keluarga Sanjaya dan keluarga Wijaya, tapi kenapa begitu sulit?
"Aku tidak hamil!" Kata Jessica kemudian dengan suara yang serak tanpa berani menatap mata Nolan.
"Kita akan tahu setelah dokter melakukan pemeriksaan," ucap Nolan menatap Jessica dengan mata dipenuhi kerinduan.
"Sudah kubilang, kau tidak punya hak untuk memaksa aku melakukan pemeriksaan itu! Cepat turunkan aku di sini!" Tegas Jessica.
"Tentu saja aku punya hak, kalau kau hamil, maka anak itu juga anakku. Aku tidak akan membiarkan kau dan anakku hidup menderita, jika benar kau hamil, kita pun segera menikah!" Tegas Nolan.
Mata Jessica berkaca-kaca, 'benarkah kau tidak akan membiarkan aku dan anak ini menderita? Jika itu memang benar, maka di kehidupan sebelumnya aku tidak akan mengalami penderitaan yang terlalu berat sampai-sampai kakek yang sama sekali tidak berdosa harus terseret ke dalam masalahku,' ucap Jessica dalam hati sambil menahan agar air matanya tidak menetas ke pipi.
Nolan yang sedari tadi memperhatikan Jessica bisa melihat Jessica yang berusaha menahan diri untuk tidak menangis, jadi dia mengambil sapu tangannya dan meletakkannya di tangan Jessica.
"Kalau mau menangis, menangislah. Kalau seandainya kau memberitahu apa salahku, maka aku akan memperbaiki semuanya. Tapi jika yang kau keluhkan ialah tentang Luna hari itu, aku dengannya sama sekali tidak ada hubungan," kata Nolan.
Jessica tidak berkata apapun, diam menatap sapu tangan di tangannya namun tetap berusaha untuk tidak meneteskan air matanya.
"Aku sungguh tidak hamil, tolong turunkan aku di sini," kata Jessica dengan suara yang semakin serak.
"Apapun yang kau katakan, aku tidak akan menurunkan mu di sini. Kalau kau memang tidak hamil maka kau tidak perlu takut untuk melakukan pemeriksaan," kata Nolan.
Pada akhirnya Jessica tidak bisa berbuat apapun lagi, hanya bisa duduk sambil memejamkan mata, 'apa yang bisa kulakukan untuk dapat lepas dari pria ini? Kalau aku menikah dengannya, maka anakku sudah benar-benar ditakdirkan untuk mati,' pikir Jessica dalam hati, begitu takut membayangkan kegugurannya untuk kedua kalinya.
kata balik keduli ini ga di prediksi sama Jessica
maling teriak maling😎
semangat thor 💪