Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 BERHALA-BERHALA DINGIN
Angin di ketinggian ini tidak lagi sekadar berhembus, ia adalah napas dari sesuatu yang sudah lama mati namun menolak untuk dikubur. Abimanyu melangkah di atas padang rumput yang membeku, di mana setiap helai ilalang tampak seperti kristal kaca yang siap pecah di bawah beban langkahnya. Di sini, matahari hanyalah sebuah piringan perak yang menyilaukan namun tanpa nyawa—cahaya tanpa kehangatan, persis seperti janji-janji yang sering ia dengar di ruang-ruang rapat senat universitas.
Di hadapannya, menjulang sebuah struktur beton yang tampak seperti luka yang dipaksakan pada kulit bumi yang liar. Itu adalah sebuah pos perbatasan tua, sisa-sisa dari upaya keras manusia untuk memberi garis pada sesuatu yang tak terbatas. Di samping pos itu, berdiri sebuah monumen batu yang kaku, dihiasi dengan pahatan lambang-lambang kekuasaan: segel negara yang angkuh dan moto universitas yang ditulis dalam bahasa Latin yang sudah tidak lagi dimengerti oleh mereka yang mengucapkannya.
Abimanyu berhenti. Ia menatap monumen itu bukan dengan rasa hormat, melainkan dengan rasa ingin tahu seorang anak yang sedang melihat tumpukan sampah kuno.
"Negara adalah nama dari monster paling dingin di antara semua monster dingin," desis Abimanyu, membiarkan suaranya ditelan oleh deru angin. "Bahkan ketika ia berbicara, ia berbohong dengan cara yang paling halus. Ia berkata: 'Aku, Sang Negara, adalah Rakyat.' Itu adalah dusta yang membeku! Rakyat adalah mereka yang menciptakan kehidupan, pemimpi yang menari di bawah bintang. Negara hanyalah pencuri yang mengklaim tarian itu sebagai miliknya demi ketertiban yang mematikan."
Ia mendekat, menyentuh permukaan beton yang sedingin es. Di Lembah Nama, batu-batu seperti ini dipuja sebagai fondasi peradaban. Orang-orang rela menghabiskan seluruh usia produktif mereka hanya untuk mendapatkan hak agar nama mereka dipahat di atasnya, lengkap dengan deretan gelar yang panjang. Mereka menyebutnya 'Pengabdian'. Namun, bagi Abimanyu yang kini memandang dengan mata yang telah membasuh diri dari debu perpustakaan, ia melihat sesuatu yang lain: itu adalah nisan bagi kehendak bebas.
Ia teringat pada masa-masa ketika ia masih menjadi arsitek di dalam monster dingin ini. Ia teringat bagaimana ia menghabiskan berbulan-bulan menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dengan ketelitian seorang pembuat jam, memastikan setiap detik pertemuan terukur dalam kerangka Outcome-Based Education (OBE).
"Kita memberikan mereka RPS seolah-olah masa depan seorang manusia bisa dijadwalkan dalam empat belas kotak yang rapi," pikirnya dengan rasa mual yang mendalam. "Kita mengklaim telah mendidik, padahal kita hanya sedang mencetak komponen yang pas untuk mesin industri. Kita memuja OBE seolah-olah 'hasil' adalah segalanya, sementara 'proses' pencarian jiwa dianggap sebagai variabel pengganggu yang harus dihilangkan."
Ia merogoh saku ranselnya, menyentuh sisa-sisa kalkulasi yang pernah ia buat—proyeksi populasi penduduk usia kerja berdasarkan tingkat pendidikan. Dulu, angka-angka itu adalah dunianya. Sekarang, ia melihatnya sebagai cara monster dingin itu memandang manusia: bukan sebagai jiwa, melainkan sebagai angka dalam tabel distribusi labor force.
"Kita menghitung manusia seperti menghitung ternak," gumamnya. "Kita memproyeksikan kegagalan dan keberhasilan mereka berdasarkan ijazah yang kita keluarkan sendiri. Berhala-berhala dingin ini tidak peduli pada api di dalam dada mahasiswa, mereka hanya peduli apakah 'produk' kita sesuai dengan spesifikasi pasar."
Langkah Abimanyu membawanya memutari monumen itu. Di sisi belakang, terdapat prasasti kecil yang mencatat daftar donatur dan pencapaian akademik institusi tersebut—deretan angka h-index, jumlah sitasi, dan peringkat universitas dunia.
"Inilah pasar yang sesungguhnya," ucapnya sambil tertawa mengejek. "Bukan pasar tradisional yang riuh dengan aroma rempah, melainkan pasar abstrak di mana para pemikir menjual harga diri mereka demi angka sitasi. Mereka menyebut diri mereka pencari kebenaran, namun mereka lebih gemetar di hadapan statistik daripada di hadapan ketidaktahuan. Mereka memuja angka seolah angka memiliki napas."
Ia melihat kembali ke arah Lembah Nama yang kini hanya tampak seperti gumpalan asap di kejauhan. Di sana, kawan-kawannya masih saling menjilat demi posisi, saling menjatuhkan demi hibah penelitian, dan memastikan bahwa setiap tindakan mereka 'terakreditasi'. Mereka merasa aman di bawah ketiak monster dingin itu, tidak menyadari bahwa kedinginan itu perlahan-lahan merambat ke jantung mereka, membekukan setiap percikan orisinalitas hingga yang tersisa hanyalah kepatuhan yang efisien.
Abimanyu mengambil botol abu yang selalu ia bawa—abu dari masa lalunya. Ia tidak menaburkannya dengan kemarahan Singa, melainkan dengan ketenangan seorang Anak yang sedang bermain pasir. Abu hitam itu jatuh di atas pahatan lambang OBE dan proyeksi tenaga kerja, menutupi angka-angka yang dulu ia anggap suci.
"Aku tidak lagi butuh petamu untuk berjalan di atas bumiku sendiri," deklarasi Abimanyu. "Aku tidak butuh RPS-mu untuk menentukan apa yang layak kupelajari dari kesunyian gunung ini. Hukumku bukan lagi hukum yang ditulis dengan tinta dingin di atas kertas yang akan menguning. Hukumku adalah detak jantungku yang bebas."
Ia merasakan sebuah kedaulatan baru yang meluap-luap. Monster dingin itu tidak bisa menjangkaunya di sini. Birokrasinya tidak memiliki tangan yang cukup panjang untuk menariknya dari ketinggian ini. Di sini, tidak ada akreditasi untuk oksigen yang ia hirup. Tidak ada indikator kinerja utama untuk tawa yang ia lepaskan ke langit.
Ia membalikkan badan, meninggalkan pos perbatasan dan monumen beton itu di belakangnya. Biarlah benda-benda itu tetap beku dalam kesombongannya sendiri. Ia terus mendaki, masuk ke dalam area hutan yang lebih liar di mana tidak ada lagi papan penunjuk jalan buatan manusia. Di sana, pohon-pohon berbicara dalam bahasa yang tidak mengenal tata bahasa birokrasi, dan setiap langkah adalah sebuah penemuan yang tidak bisa diproyeksikan oleh tabel mana pun.
"Biarlah yang mati mengubur yang mati," bisiknya. "Aku membawa api, dan gunung ini adalah tempat di mana api itu akan menjadi matahari."
Matahari perak di atas sana mulai turun, memberikan warna ungu pada hamparan es. Abimanyu terus berjalan, ringan tanpa beban, bergerak menuju kesunyian yang lebih dalam, di mana berhala-berhala dingin itu akhirnya hanya akan menjadi debu di bawah kakinya.