NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Sebar Undangan

...SELAMAT MEMBACA!...

..."Nanti juga cinta sendiri."...

...-Dino Pamungkas...

Seorang laki-laki mendudukkan tubuhnya di kursi kayu, kemudian meluruskan kakinya. Dia bersantai di teras sebuah gedung, yang menjadi basecamp untuk geng motornya. Dino Pamungkas, merupakan ketua geng Ultimate Phoenix.

Ultimate Phoenix dulunya diketuai oleh Rawana Pamungkas, kakek dari Dino yang telah gugur pada 10 tahun lalu. Dino sebagai cucu satu-satunya, menggantikan tempat tertinggi di geng motor dengan solidaritas itu.

Ultimate Phoenix---Phoenix Pamungkas dibentuk saat Rawana berusia 15 tahun. Sama seperti usia Dino saat bergabung di geng ini. Dikarenakan bakat bela diri Dino sangat bagus dan kompeten, para anggota penting pun setuju Dino sebagai pimpinan mereka.

Dino mengangkat kepala, memandang langit yang cerah hari ini. Dia menghela napas berat ketika persoalan hubungannya dengan Dara terlintas. Pasalnya, terlihat jelas bahwa Dara begitu enggan untuk menikah dengannya. Sedangkan dirinya, sangat berharap.

"Gue jalani dulu, aja. Kalau udah nikah, nanti pasti cinta," gumam Dino.

Setelah beberapa saat Dino terdiam di tempat yang sepi, kemudian terdengar suara obrolan dari belakang. Tepat ketika Dino menoleh, dua remaja laki-laki bercanda tawa berjalan keluar dari dalam. Mereka tidak menyadari keberadaan Dino, lantas dia berdeham hingga mereka menghentikan langkah dan menoleh bersamaan.

Dua remaja laki-laki dengan pakaian seragam SMA yang tidak rapi. Mereka mematung di tempat saat Dino menatapnya tajam, sambil tersenyum miring. Dino berdiri dari tempat, mendekati mereka. "Mahen dan Bama bolos sekolah?" ujar Dino.

Mahendra, siswa kelas 2 SMA yang sering mendapatkan absen berhuruf A. Tubuhnya tinggi, ramping, dan berotot. Rambutnya lurus, juga lembut, tetapi berantakan. Dia cengengesan melihat ketua geng itu menegurnya. "Diajak Bama, Kak," celetuk Mahen.

Bama yang berdiri di samping Mahen, lantas menyenggol tubuh temannya itu dengan sikut. "Mahen yang ngajak, Kak," sahut Bama, tidak terima dirinya dituduh.

Arbama Fargareta, teman bolos Mahen. Wajahnya cantik dan tampan, tubuh tinggi dan kulit putih membuatnya menjadi incaran para gadis. Namun, Bama tidak peduli secantik apa orang yang mengejarnya itu.

Mereka bagaikan gula dan semut, jarang terpisahkan. Namun, kepribadian Bama dan Mahen jauh berbeda. Jikalau Bama adalah gula, maka Mahen sebagai semutnya karena selalu menganggu Bama.

"Divisi dua dan wakil divisi dua, mau jadi contoh buruk untuk anggota lainnya?" ujar Dino.

Bama dan Mahen hanya menundukkan kepala, tidak berani melihat Dino yang menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Hari ini pelajarannya gak enak, Kak. Guru yang ngajar tua," ungkap Mahen, dengan sembarangan seperti biasa.

"Gak sopan, Mahen!" tegur Bama.

"Bener kata Bama, kata-kata lo gak baik, Mahen," ucap Dino.

Bama yang mendapat pujian, langsung tersenyum lebar dan menyombongkan diri kepada teman di sampingnya. Sedangkan Mahen, dia berdecak kesal.

"Sebagai hukuman, lari muter lima kali di halaman."

Mahen membulatkan mata. "Gue gak usah ya, Kak?" cecar Bama, dengan senyum lebarnya.

"Ikut," jawab Dino.

Raut wajah bahagia Bama seketika pudar. Lalu, Mahen menarik tangan Bama untuk pergi bersamanya memutari halaman.

Dino melihat adik-adiknya itu berlari di halaman depan. Basecamp mereka ini sederhana, hanya bangunan menyerupai rumah dan halaman di depan, juga di belakang. Ada pula loteng untuk tempat latihan.

Saat siang hari, tempat ini sepi karena aktivitas para anggota di luar sana. Namun, beberapa dari mereka akan berkumpul pada malam hari, bahkan hingga subuh mereka masih bertengger.

Dua pemuda itu berlari menghampiri Dino, kemudian duduk selonjoran di lantai karena lelah. Pundak mereka naik dan turun, keringat memenuhi keningnya. "Gitu doang capek?" seloroh Dino, menatap remeh ke arah mereka. Ketua yang satu itu, memang suka menguji mental.

Mahen mendongak, menatap Dino yang bangkit dari duduknya. "Lo pikir halaman ini kecil?" tanya Mahen. Lalu, Dino memandang ke arah halaman depan dan menganggukkan kepala sebagai jawaban. Mahen memutar malas bola matanya, kemudian mencoba menetralkan napas memburu itu.

Dino mengangkat lengan jaketnya untuk melihat jam kecil, yang melilit pergelangan tangannya. "Masih jam 8. Kalian bisa kembali ke sekolah," ujar Dino.

"Kak, udah telat itu," sahut Bama.

"Berangkat atau gue tambahin hukuman kalian?" Dino menunduk, melemparkan tatapan mengancam untuk Mahen dan Bama. "Mending hukuman dari guru kalian nanti, daripada dari gue," sambung Dino.

Mahen dan Bama saling menatap, kemudian terdengar helaan napas berat keluar dari bibir mereka. "Iya, Kak," ujar mereka bersamaan.

Dino mengulas senyum tipis, kemudian menepuk pundak Mahen sebelum melenggang masuk.

Mahen dan Bama memandangi punggung Dino, yang kemudian hilang di balik pintu. Bama meninju lengan Mahen hingga cowok itu mengadu kesakitan. "Gara-gara lo, Nyet!" caci Bama, kemudian menghentakkan kaki ke lantai.

"Kayak cewek lo!" gerutu Mahen.

Ruangan luas yang remang-remang dengan sedikit cahaya matahari dari jendela kaca, Dino melangkahkan kakinya sambil mengedarkan pandangan. Seorang laki-laki berdiri ketika mendapati kedatangan Dino. "Gak kerja, Bos?" tanya lelaki itu.

Dino menggelengkan kepala, kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa, diikuti lelaki tadi. "Lo sendiri, gak kerja?" tanya Dino sambil merogoh saku di dalam jaketnya.

"Libur, capek gue," keluhnya, memperlihatkan wajah lesu. Angga, lelaki yang terletak pada ketua divisi tiga. Wajahnya terlihat awet muda, padahal lebih tua dari Dino.

Dino menyodorkan beberapa tumpukan kertas kepada Angga, membuat lelaki itu menaikkan alis sambil menerimanya. "Undangan siapa?" tanya Angga, tanpa melihat nama yang tercantum di sana.

"Gue nikah." Ucapan yang keluar dari bibir Dino sontak membuat Angga membuka lebar matanya. "Besok malam," sambungnya.

"Dateng, ya!"

Ekspresi wajah Angga masih sangat aneh, begitu tidak menyangka dengan kabar ini. Pak ketua yang dikenal cuek dan kasar itu akan menikah?

.....

Gadis itu kalang kabut ketika tidak menemukan baju gantinya di loker. Dia sudah mengecek setiap sudut ruang ganti berulang kali. Namun, benda tersebut tidak ditemukan pengelihatannya. Dara menghela napas berat sambil mendudukkan tubuhnya di kursi.

Dara mengangkat tasnya, kemudian melenggang pergi dari ruangan itu. Terpaksa, dia harus pulang dengan seragam kerjanya.

Baju ini sangat tidak cocok untuk dipakai di luar supermarket. Rasanya panas meski berlengan pendek, juga ketat membuat lekuk tubuh terlihat. Jikalau dikenakan saat bekerja, akan terasa lebih baik karena ruangan ber-AC.

Langkah Dara terhenti ketika netra miliknya menangkap sosok Dino, yang berada di atas motor sambil menatap ke arahnya. Dara mendongak melihat langit malam itu sejenak, tidak ada bintang dan ini bukan mimpi.

Dara berjalan mendekati cowok itu. "Ngapain?" tanya Dara.

"Jemput lo," jawab Dino, singkat. Lalu, dia memakai helm dan menaikkan standar motornya. "Naik!"

Dara hanya diam, bergeming melihat lelaki di depannya. "Eng---"

"Naik, Dara!" Suara berat Dino memecahkan lamunan Dara, gadis itu bergegas naik ke atas motor Dino. "Pegangan!" pinta Dino.

"Eng--enggak mau."

"Terserah lo kalau mau jatuh." Lalu, Dino menyalakan mesin motor besarnya hingga membuat Dara tersentak kaget. "Apa gue bilang? Pegangan!"

"Iya," jawab Dara dengan ketus. Lalu, dia memegang pinggang Dino, meski merasa canggung.

Dara menautkan kedua alisnya karena Dino berhenti di sebuah rumah makan. "Turun!" pinta Dino.

"Mau ngapain?" tanya Dara.

"Makan. Gue laper."

Dengan tidak enak hati, Dara turun untuk menuruti perintah Dino, calon suaminya.

...Absen yang mau dateng ke nikahan merek?☝️😃...

...I'm jadi yang nerima amplop😟...

...🐰...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!