Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 ~ Hadir Setelah Diceraikan
Kembali ke rumah, entah kenapa rasanya begitu hampa. Seperti ada yang benar-benar hilang dari dirinya. Ruang tengah terasa sepi, ketika menoleh ke arah sofa dia pernah melihat seseorang tertidur disana dengan televisi menyala. Sejenak Marvin duduk di sofa depan televisi itu, hanya diam merenung disana.
Beberapa hari ini kondisi tubuhnya bahkan tidak baik-baik saja. Marvin yang jarang sekali sakit, tiba-tiba muntah setiap pagi, kepala pusing dan tubuh sedikit meriang. Dia juga heran dengan tubuhnya yang jadi lemah seperti ini.
Entah apa yang membuat langkah kakinya pergi menuju kamar dekat tangga. Kamar yang dulu ditempati oleh istrinya. Ketika pintu terbuka, suasana sepi langsung terasa, bahkan keheningan ini membuatnya merasa sesak. Marvin menatap tempat tidur yang rapi, kilas balik ingatan tentang dirinya yang pernah mencambuk tubuh Raina tanpa rasa bersalah disana, memaksanya memberikan hak sebagai seorang istri, tapi dengan cara tidak manusiawi. Rintihan tangisan itu sekarang mulia terdengar, sementara saat itu dia mendadak tuli untuk mendengarnya.
"Sakit Kak... Hiks.. sakit"
Marvin memejamkan matanya, sehingga cairan bening meluncur begitu saja. Bagaimana bisa dia melakukan hal sekejam itu pada perempuan yang berstatus istrinya sendiri. Marvin berjalan ke arah tempat tidur, duduk disana dengan tatapan yang kosong. Tanpa sengaja kakinya menyentuh sesuatu barang di bawah tempat tidur. Marvin berbungkuk dan mengambil sebuah kotak dari bawah tempat tidur.
"Apa ini?"
Dia membuka kotak itu, dan melihat semua foto pernikahan dirinya dan Raina yang berada di dalam kotak. Tersimpan rapi tanpa pernah terpajang. Marvin mengingat bagaimana dia pernah sangat marah hanya karena satu foto pernikahan ini terpajang. Menyiksa Raina sampai hampir kehilangan nyawa.
"Beraninya kau memajang foto sialan ini disini? Kau tahu jika aku tidak akan pernah sudi melihat foto ini terpajang di rumah ini!"
Saat itu, Raina menunduk penuh ketakutan. Marvin melihat air mata yang perlahan lolos. "Maafkan aku Kak, aku akan simpan foto ini dan tidak akan pernah memajangnya lagi dimana pun"
Dan benar, foto pernikahan ini tidak pernah ada terpajang dimana pun. Raina menyimpannya di dalam kotak dan hanya menyimpannya. Bahkan saat dia pergi, tidak membawa serta foto itu, karena Raina sudah ingin mengakhiri semuanya, termasuk foto-foto pernikahan itu.
Air mata menetes begitu saja mengenai foto di tangannya. Dadanya begitu sesak, bahkan rasanya ingin meledak. Marvin menyadari kesalahannya, tapi semuanya terlambat. Berpikir jika melepaskan Raina akan lebih membuatnya lebih baik, tapi dia malah terbelenggu dengan keputusannya sendiri.
"Maafkan aku Raina, karena sudah banyak menyakitimu"
Waktu yang dilalui benar-benar terasa hampa, Marvin hanya hidup karena dia masih diberi nyawa. Fokus pada pekerjaan, dan selain itu dia tidak ada kegiatan lain lagi. Kondisi tubuh yang semakin tidak stabil, sudah satu minggu ini tetap muntah-muntah di pagi hari dan tubuh yang terasa lemas tanpa sebab. Akhirnya dia memilih pergi ke Dokter untuk memeriksakan diri.
Rumah sakit milik keluarga temannya, Andreas, dan dia sedang berada disana jadi ikut menemani Marvin ke Dokter. Namun setelah di periksa, tidak ada tanda-tanda sebuah penyakit serius atau apapun dalam dirinya.
"Semuanya normal, mungkin anda hanya kurang istirahat saja Tuan"
Ketika keluar dari ruangan Dokter, dia masih bertanya-tanya dengan kondisi tubuhnya. Karena jelas sekali jika tubuhnya ini tidak baik-baik saja. Rasa lemas yang sulit di jelaskan, pusing yang sering menyerang, dan muntah yang terkadang tanpa sebab.
"Kau mempekerjakan Dokter dengan benar 'kan? Kenapa dia tidak bisa mengetahui tentang penyakit dalam tubuhku? Padahal jelas aku merasa tubuhku tidak baik-baik saja selama beberapa hari ini"
"Tentu saja, dia Dokter terbaik. Dan mana mungkin dia salah mendiagnosa. Mungkin benar kalau kau hanya kurang istirahat. Lagian jangan terlalu di forsir kerjanya, Vin. Kau tidak mau mati muda 'kan?"
Marvin hanya diam mendengar ucapan Andreas. Selama ini dia memang hanya fokus pada pekerjaannya, dan mungkin itu yang membuatnya sakit.
"Entahlah apa yang terjadi dengan tubuhku ini? Aku juga merasa bingung dengan kondisiku sendiri"
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan, yang penting kau harus lebih banyak istirahat"
*
Sementara di tempat berbeda, Raina terbangun di tempat yang cukup asing baginya. Ruangan yang serba putih dan bau obat yang khas mengganggu penciumannya. Dia ingat jika tadi masih melakukan wawancara kerja, tapi kenapa tiba-tiba berada disini.
"Sudah bangun, Neng"
Raina menoleh saat mendengar suara lembut itu. Ibu berdiri disana bersama Wahyu, tatapan keduanya sedikit berbeda pada Raina. Seperti ada sebuah hal yang ingin mereka tanyakan, tapi mereka canggung. Apalagi saat melihat wajah Wahyu yang seperti kecewa.
"Maaf Bu, aku kenapa ada disini?" Baru menyadari jika ada sebuah selang infus yang terpasang di tangannya. Raina ingat jika dia sempat merasa pusing ketika wawancara kerja, tapi setelah itu dia tidak ingat apapun lagi. "Apa yang terjadi padaku, Bu? Kang, bukannya tadi saya sedang berada di Kantor untuk wawancara kerja ya"
Ibu melangkah lebih dekat ke ranjang pasien. Mengelus kepala Raina seperti pada anaknya sendiri. "Kalau kamu ada masalah dan datang ke Kota ini hanya untuk berlari, sebaiknya jangan Nak. Karena berlari tidak akan menyelesaikan apapun"
Raina mengerutkan keningnya bingung, kenapa bisa Ibu mengatakan hal seperti itu. Apa mungkin mereka tahu tentang Raina yang diceraikan sebelum dua bulan pernikahan?
"Maksud Ibu apa?"
Tangan Ibu beralih ke arah perut Raina yang rata, membuat Raina semakin bingung dengan sikapnya ini. Apalagi melihatnya yang sampai meneteskan air mata.
"Bayi dalam kandungan kamu tidak salah apapun. Kamu harus bisa meminta tanggung jawab pada pria yang telah menghamili kamu, Nak"
Deg... Dunia seakan runtuh dalam seketika, Raina terdiam dengan wajah yang bukan hanya terkejut, tapi juga bingung dan takut. Bagaimana bisa dia tidak menyadari akan kehadiran nyawa lain di dalam dirinya. Bahkan dia tidak begitu merasakan tanda-tanda apapun.
"Mak-maksudnya Bu?"
"Sahila, kamu tidak perlu berpura-pura tidak mengerti. Dokter sudah memeriksa kamu, dan mengatakan jika kamu sedang hamil 8 minggu" ucap Wahyu dengan nada sedikit sarkas. "Dan dimana Ayah anak kamu itu? Kamu perlu meminta pertanggungjawaban darinya"
Raina hanya diam, menatap langit-langit ruangan berwarna putih itu. Air mata mengalir dari sudut matanya, mengenai bantal. Dadanya berdebar kencang, rasa takut mulai menyelimuti hati. Kehamilan yang tidak seharusnya terjadi.
"Kenapa bisa seperti ini? Aku harus bagaimana sekarang?"
Tangisannya akhirnya pecah, mengingat ada calon bayi dalam kandungannya di saat dia sudah resmi bercerai dengan Marvin. Lalu, apa yang akan dia lakukan setelah ini?
"Kamu harus memberitahu Ayah dari bayi ini, Neng" ucap Ibu yang mencoba untuk menguatkan Raina yang menangis sesenggukan.
Dadanya sesak, dunia seakan runtuh dan menindihnya dengan beban yang begitu berat dan dia hampir tidak bisa menahannya.
"Aku tidak bisa memberitahunya, Bu. Hiks.. Karena dia tidak akan pernah menginginkan anak ini. Hiks.."
Bersambung