Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.
Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Badai malam itu menjadi sekutu terbaik bagi Han Feng.
Hujan deras yang mengguyur Kota Awan Terapung menghapus jejak darah dan menyamarkan bau kematian yang menyengat. Di tengah kegelapan yang hanya diterangi oleh kilatan petir sesekali, Han Feng menyeret tiga karung goni basah yang berat menembus jalan setapak berlumpur.
Tujuan Han Feng bukanlah hutan liar atau jurang pembuangan mayat. Han Feng menuju ke area elit tempat para murid inti tinggal—khususnya, ke depan gerbang Paviliun Emas milik Han Lie.
Biasanya, area ini dijaga ketat. Namun, badai yang mengamuk membuat para penjaga malas dan memilih berlindung di pos jaga sambil minum arak hangat, meninggalkan gerbang tanpa pengawasan ketat. Bagi Han Feng yang memiliki persepsi Sutra Hati Naga Purba, menyelinap di antara celah patroli mereka semudah berjalan di taman belakang.
Han Feng tiba di depan gerbang paviliun Han Lie yang megah.
"Kau menginginkan kematianku, Sepupu," bisik Han Feng di tengah deru hujan. "Maka aku membawakanmu kematian. Sayangnya, bukan kematianku."
Han Feng membuka ikatan karung goni itu. Tiga mayat pembunuh dari Kelompok Bayangan Hitam jatuh terguling ke tanah berlumpur. Dengan wajah tanpa ekspresi, Han Feng mengatur posisi mayat-mayat itu.
Han Feng mendudukkan mayat pemimpin pembunuh dalam posisi berlutut menghadap gerbang, seolah-olah sedang memohon ampun. Dua mayat lainnya ditumpuk di kiri dan kanannya sebagai pilar penyangga. Sebagai sentuhan akhir, Han Feng menghunuskan pedang milik si pemimpin—pedang yang sama yang digunakan untuk mencoba membunuh Han Feng—menembus dada mayat itu, memaku secarik kertas yang sudah dilaminasi minyak agar tidak basah ke baju si mayat.
Kertas itu berisi tulisan tangan Han Feng yang besar dan kasar, ditulis menggunakan darah si pembunuh:
"ANJINGMU TERLALU LEMAH. KIRIM SINGA LAIN KALI."
Setelah karya seninya selesai, Han Feng mundur ke dalam bayangan malam, menghilang secepat hantu, meninggalkan "hadiah" itu untuk ditemukan saat matahari terbit.
Keesokan paginya.
Jeritan histeris seorang pelayan wanita memecah keheningan pagi di Paviliun Emas.
"Mayat! Ada mayat!"
Kepanikan segera menyebar. Para penjaga yang baru bangun dengan kepala pening akibat arak semalam berlarian menuju gerbang utama. Wajah mereka pucat pasi saat melihat pemandangan mengerikan itu. Tiga mayat berpakaian hitam, ditata sedemikian rupa sebagai peringatan brutal.
Pintu utama paviliun terbuka kasar. Han Lie melangkah keluar dengan wajah gelap. Jubah tidur sutranya berkibar tertiup angin pagi. Di belakang Han Lie, aura membunuh yang dingin membuat para pelayan dan penjaga berlutut ketakutan.
Han Lie menatap ketiga mayat itu. Han Lie mengenali mereka. Itu adalah tim elit yang disewanya dengan harga mahal. Dan sekarang, mereka hanyalah onggokan daging busuk di depan pintunya.
Han Lie melangkah mendekat, mencabut pedang yang menancap di dada mayat pemimpin, dan membaca kertas berdarah itu.
Tangan Han Lie gemetar. Bukan karena takut, tapi karena amarah yang tak tertahankan.
"Han Feng..." geram Han Lie, suaranya seperti geraman binatang buas yang terluka. "Kau... sampah itu... dia berani memprovokasiku secara terbuka?"
Han Lie meremas kertas itu hingga hancur, lalu membakarnya dengan semburan Qi api dari telapak tangannya hingga menjadi abu. Han Lie tidak boleh membiarkan orang lain melihat pesan itu. Jika tersiar kabar bahwa seorang "Tuan Muda Jenius" gagal membunuh "Sampah Klan" bahkan setelah mengirim pembunuh bayaran, reputasi Han Lie akan hancur.
"Bersihkan sampah ini!" perintah Han Lie pada penjaga. "Bakar mayat-mayat ini sampai tak bersisa. Dan ingat, jika ada satu orang pun yang membicarakan kejadian pagi ini di luar, aku akan memotong lidah kalian semua!"
Para penjaga mengangguk panik dan segera menyeret mayat-mayat itu pergi.
Han Lie berbalik dan kembali masuk ke paviliunnya. Namun kali ini, langkah kakinya tidak seangkuh biasanya. Ada benih keraguan yang mulai tumbuh di hati Han Lie. Bagaimana mungkin Han Feng, yang seminggu lalu hanyalah samsak tinju, bisa membantai tiga kultivator Tingkat 3 dalam satu malam tanpa terluka parah?
"Ada yang salah," pikir Han Lie. "Aku harus berhati-hati. Sebelum turnamen bulan depan, aku tidak boleh gegabah lagi. Biarkan dia sombong sesaat. Di atas arena nanti, aku akan menghancurkannya di depan seluruh klan, di mana dia tidak bisa menggunakan trik kotor apa pun."
Sementara Paviliun Emas sedang gempar, Han Feng sedang menikmati sarapan bubur daging di sebuah kedai sederhana di pinggir Pasar Klan.
Han Feng terlihat tenang, seolah-olah pembantaian semalam hanyalah mimpi buruk orang lain. Di saku Han Feng, 50 koin emas hasil rampasan terasa berat dan menyenangkan.
"Kekuatan fisikku sudah mencapai Tingkat 3 Puncak," analisis Han Feng sambil menyuap bubur. "Tapi aku masih bertarung dengan tangan kosong. Cakar Naga memang kuat, tapi jangkauannya pendek. Jika aku melawan pengguna tombak atau pedang panjang yang ahli menjaga jarak, aku akan kesulitan."
Han Feng membutuhkan senjata. Sebuah senjata yang bisa menahan kekuatan fisiknya yang mengerikan. Senjata biasa akan hancur jika Han Feng menggunakannya dengan kekuatan penuh.
Setelah membayar makanannya, Han Feng berjalan menuju Paviliun Senjata Keluarga Han.
Paviliun Senjata adalah bangunan batu dua lantai yang dipenuhi aroma besi panas dan oli. Di lantai satu, dipajang ratusan senjata standar untuk murid biasa: pedang baja, tombak kayu besi, kapak, dan busur. Di lantai dua, terdapat senjata tingkat tinggi yang ditempa dari material langka.
Han Feng melangkah masuk. Seorang pelayan toko muda segera menghampiri, namun senyumnya memudar saat mengenali jubah Han Feng yang sederhana dan wajah yang familiar sebagai "si sampah".
"Lantai satu untuk melihat-lihat, jangan menyentuh jika tidak membeli," kata pelayan itu ketus, bahkan tidak repot-repot menyapa dengan sopan.
Han Feng mengabaikan sikap kasar itu. Han Feng sudah kebal. Mata Han Feng menyapu deretan pedang yang dipajang di rak dinding. Han Feng mengambil sebilah pedang baja standar, lalu menjentikkan jarinya ke bilah pedang itu.
Ting!
Suara berdenting nyaring terdengar. Han Feng menggeleng.
"Terlalu ringan. Terlalu rapuh," gumam Han Feng. "Jika aku mengayunkan ini dengan Kekuatan Sepuluh Banteng, pedang ini akan patah sebelum menyentuh musuh."