NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:372
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13Guncangan dari Seberang Samudra

Pagi di Los Angeles terasa sangat dingin, namun keringat dingin yang mengucur di pelipis Hannan bukan disebabkan oleh suhu udara. Di hadapannya, sebuah laptop terbuka, menampilkan layar panggilan video yang masih berdering. Di sampingnya, Amara duduk dengan kaku. Ia mengenakan gamis sederhana dan jilbab merah muda pemberian Hannan semalam. Tangannya dingin, saling bertautan erat di bawah meja, mencoba meredam gemetar yang tak kunjung usai.

"Mas... apakah ini waktu yang tepat?" bisik Amara. Suaranya hampir hilang tertelan degup jantungnya sendiri.

Hannan menoleh, memberikan senyum penguat meski matanya sendiri menyiratkan kecemasan. "Lebih baik mereka tahu dariku sekarang, daripada tahu dari berita atau fitnah orang lain, Amara. Bismillah."

Tepat saat kalimat itu selesai, layar berubah. Muncul wajah seorang pria paruh baya berwibawa dengan sorban putih yang melilit kepalanya, didampingi oleh seorang wanita bersahaja yang mengenakan mukena putih. Mereka adalah Kiai Abdullah dan Ummi Salamah (nama yang sama dengan pemilik rumah tempat Amara mengungsi, namun ini adalah ibu kandung Hannan di pesantren).

"Assalamualaikum, Hannan. Bagaimana kabarmu di sana, Le?" suara Kiai Abdullah terdengar berat dan dalam, khas seorang pemimpin pesantren yang disegani ribuan santri.

Hannan menelan ludah. "Waalaikumussalam, Abah, Ummi. Alhamdulillah, Hannan sehat. Bagaimana kabar Abah, Ummi, dan keluarga di pesantren?"

Percakapan basa-basi itu berlangsung selama beberapa menit, namun atmosfer di apartemen Hannan terasa semakin berat. Hannan melirik ke arah Amara, lalu menarik napas panjang. Ia tahu saatnya telah tiba.

"Abah, Ummi... ada hal sangat penting yang ingin Hannan sampaikan. Ini mengenai kehidupan Hannan di sini," ujar Hannan dengan nada serius.

Layar di seberang sana menegang. Kiai Abdullah mengerutkan kening. Sebagai seorang ayah sekaligus guru, ia memiliki intuisi yang tajam. "Katakanlah, Hannan. Apa yang membuat suaramu bergetar seperti itu?"

Hannan menggeser sedikit posisi duduknya agar Amara masuk ke dalam bingkai kamera. "Abah, Ummi... perkenalkan, ini Amara. Amara adalah... istri Hannan. Kami sudah menikah secara sah beberapa hari yang lalu."

Hening.

Keheningan yang tercipta di antara Los Angeles dan Jawa Timur itu terasa mencekam. Di layar, wajah Ummi tampak pucat pasi, tangannya menutup mulut karena terkejut. Sementara Kiai Abdullah, matanya menajam, menatap Amara dari ujung jilbab hingga ke raut wajahnya yang tertunduk.

"Istri?" Kiai Abdullah mengulang kata itu dengan nada yang sangat rendah, namun penuh penekanan. "Hannan, apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan? Kamu adalah putra mahkota pesantren ini. Kamu di sana untuk belajar, untuk membawa gelar doktor kembali ke sini demi umat. Dan sekarang kamu bilang... kamu menikah tanpa sepengetahuan kami? Dengan siapa?"

Hannan mencoba menjelaskan dengan tenang, meski hatinya perih. "Amara adalah seorang mualaf, Abah. Keadaannya sangat darurat. Dia terancam oleh perdagangan manusia dan fitnah kejam. Hannan menikahinya untuk melindunginya, untuk menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita dan sebagai seorang Muslimah baru."

"Mualaf?" Kiai Abdullah tertawa kecil, namun bukan tawa bahagia. "Hannan, kamu terlalu naif. Berapa banyak wanita di luar sana yang menggunakan agama hanya untuk mendapatkan perlindungan? Siapa keluarganya? Bagaimana latar belakangnya? Apakah dia tahu bagaimana caranya menjadi istri seorang pemuka agama?"

Amara, yang sejak tadi hanya diam, memberanikan diri untuk mendongak. Air mata sudah menggantung di kelopak matanya. "Maafkan saya, Kiai, Ummi... Saya tahu saya tidak pantas untuk putra Anda. Saya tidak memiliki ilmu agama yang luas, saya juga memiliki masa lalu yang sangat berat. Tapi Mas Hannan adalah orang yang menyelamatkan hidup saya. Saya masuk Islam karena saya melihat cahaya di dalam dirinya, bukan hanya untuk perlindungan."

Ummi akhirnya bersuara, suaranya parau karena menahan tangis. "Hannan... bagaimana bisa kamu setega ini pada kami? Di sini, Abahmu sudah menjanjikanmu untuk dijodohkan dengan putri dari pesantren mitra kita setelah kamu pulang. Bagaimana wajah kami di depan para santri dan wali santri jika mereka tahu putra kami menikah diam-diam di luar negeri dengan wanita yang baru masuk Islam?"

"Ummi, pernikahan ini sah di mata Allah," bela Hannan.

"Sah secara hukum agama, tapi cacat secara adab, Hannan!" bentak Kiai Abdullah. Suaranya menggelegar lewat pelantang laptop. "Adab adalah di atas ilmu. Kamu memiliki ilmu yang tinggi, tapi kamu meninggalkan adab kepada orang tuamu. Mulai hari ini, jangan bawa nama pesantren jika kamu masih mempertahankan pernikahan yang tanpa restu ini!"

Klik.

Panggilan itu diputus secara sepihak oleh Kiai Abdullah. Layar laptop berubah hitam.

Amara langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tangisnya pecah seketika. "Mas... aku sudah bilang. Aku hanya akan menjadi beban bagimu. Keluargamu membenciku. Pesantrenmu... martabatmu... semuanya hancur karena aku."

Hannan menutup laptopnya dengan gerakan perlahan. Tubuhnya terasa lemas, namun ia tidak membiarkan dirinya rubuh. Ia beranjak dari kursinya, lalu berlutut di samping Amara yang masih terisak. Ia memeluk istrinya dengan sangat erat, membiarkan air mata Amara membasahi baju kokonya.

"Dengarkan aku, Amara," ujar Hannan dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan. "Dulu, Nabi Ibrahim harus meninggalkan keluarganya demi perintah Allah. Nabi Muhammad pun dimusuhi oleh keluarganya sendiri saat membawa kebenaran. Menikahimu bukanlah kesalahan. Kesalahan adalah jika aku membiarkanmu hancur di tangan orang jahat."

"Tapi Abahmu..."

"Abah adalah orang yang keras karena ia mencintaiku dengan caranya sendiri. Dia mencintai pesantren melebihi apapun. Tapi aku yakin, waktu dan kesungguhan kita akan melunakkan hatinya. Kita tidak akan berpisah, Amara. Justru sekarang, kita harus membuktikan pada dunia, dan pada keluargaku, bahwa pernikahan ini adalah ibadah, bukan sekadar pelarian."

Hannan mengusap jilbab merah muda Amara. "Mulai hari ini, kita hanya punya satu sama lain di sini. Aku akan menjadi gurumu, suamimu, dan pelindungmu. Jangan pernah berpikir untuk menyerah, karena aku tidak akan pernah melepaskanmu."

Di luar sana, musim dingin di California semakin terasa menusuk tulang, namun di dalam apartemen kecil itu, sebuah api tekad baru saja dinyalakan. Hannan tahu, tantangan ke depan bukan lagi tentang Ryan atau Bastian, melainkan tentang bagaimana ia mempertahankan rumah tangganya di tengah badai pengucilan dari darah dagingnya sendiri.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Hannan mengimami Amara salat Tahajud. Dalam sujud yang panjang, Hannan menangis sejadi-jadinya, memohon agar Allah menjaga hatinya dan hati istrinya, serta membukakan pintu maaf di hati orang tuanya di seberang samudra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!