NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Kiara Selia

Kalau ada satu hal yang paling dibenci Kiara Selia di pagi hari, itu bukan bangun kesiangan.

Melainkan suara ibunya.

“KIARAAA! JAM ENAM LEWAT LIMA BELAS!”

Kiara menggeliat di atas kasur, wajahnya setengah tertutup bantal, rambut hitam pendeknya berantakan ke segala arah. Alarm di ponselnya sudah mati entah sejak kapan, kemungkinan besar dimatikan oleh tangannya sendiri dalam keadaan setengah sadar.

“Masih sempat,” gumamnya pelan, suaranya serak.

“MASIH SEMPAT KEPALA KAMU! LIMA MENIT LAGI KAMU TERLAMBAT!"

Kiara mendesah panjang. Ia membuka mata dengan malas, menatap langit-langit kamarnya yang polos, dihiasi stiker bintang fosfor yang sudah mulai mengelupas. Jam digital di meja samping kasur menunjukkan pukul 06.17.

“Yah…,” gumamnya lagi, lalu duduk tegak.

Dengan gerakan cepat tapi tanpa ekspresi panik, Kiara langsung bangkit. Ia memang bukan tipe orang yang ribet. Tidak ada drama teriak-teriak, tidak ada lari-lari sambil loncat-loncat. Semua dilakukan dengan efisien, mandi cepat, gosok gigi, cuci muka, lalu ganti seragam.

Rambutnya hanya disisir sekadarnya. Tidak dikepang. Tidak diikat rapi. Ia membiarkannya tergerai sebahu dengan ujung yang sedikit melengkung ke dalam.

“Kiara, sarapan!” teriak ibunya dari dapur.

“Roti aja!” balas Kiara sambil memasukkan buku ke tas.

Ia menuruni tangga rumah kecil mereka dengan langkah cepat. Di meja makan, ayahnya sudah duduk sambil membaca berita di tablet, sementara adiknya, Rafa, bocah kelas lima SD, sibuk menuang susu terlalu penuh sampai hampir tumpah.

“Eh! Pelan-pelan, bego,” celetuk Kiara otomatis.

“KA!” Rafa langsung protes. “Aku hampir berhasil!”

“Hampir itu artinya gagal,” jawab Kiara datar sambil mengambil roti bakar.

Ibunya, Bu Rina, melotot ke arahnya. “Kiara. Bahasa.”

Kiara mengangkat bahu. “Refleks.”

Ayahnya, Pak Rahmat, menurunkan tabletnya sedikit dan melirik Kiara. “Ujian matematika hari ini, ya?”

“Iya.”

“Siap?”

“Kalau soal pilihan ganda, siap. Kalau esai, kita lihat nanti.”

Pak Rahmat terkekeh pelan. “Jujur amat.”

Kiara menggigit roti bakarnya sambil membuka ponsel. Notifikasi game online muncul, timnya menanyakan jadwal main sore nanti.

“Kiara,” Bu Rina menepuk meja. “Makan dulu. Jangan main ponsel.”

“Aku cuma baca pesan.”

“Kamu selalu bilang begitu.”

Kiara menelan rotinya. “Karena memang begitu.”

Setelah pamit seadanya dan mengambil helm, Kiara berangkat ke sekolah dengan motor matic butut kesayangannya. Angin pagi menyapu wajahnya, membuat matanya yang abu-abu gelap sedikit menyipit.

Hidupnya… normal.

Terlalu normal, malah.

Sekolah SMA Negeri 17 sudah ramai ketika Kiara tiba. Ia memarkir motor di tempat biasa dan berjalan menuju kelas dengan tas diselempangkan satu bahu.

“KIARA!”

Suara nyaring itu hanya bisa berasal dari satu orang.

Kiara menoleh malas. “Apa lagi, Nay?”

Nayla, sahabatnya sejak SMP, berlari kecil menghampiri dengan senyum lebar. Rambut panjangnya dikuncir tinggi, matanya berbinar seperti baru menang undian.

“Kamu tau nggak gosip terbaru?” Nayla langsung membuka percakapan tanpa basa-basi.

“Kalau tentang pacar orang, aku nggak tertarik.”

“Bukan! Ini tentang anak baru di kelas sebelah!”

Kiara menghela napas. “Tetap nggak tertarik.”

Nayla mendengus. “Kamu tuh aneh. Masa ada cowok cakep pindahan dari Jakarta, kamu biasa aja?”

“Cakep itu relatif,” jawab Kiara sambil membuka pintu kelas.

“Kata semua cewek, dia tinggi, putih, sopan, terus suaranya dalem,” lanjut Nayla, tak menyerah.

Kiara duduk di bangkunya. “Aku masih hidup tanpa tau itu.”

Di belakang mereka, Bima, teman sekelas yang terkenal usil, menyenggol bahu Kiara. “Eh, Ki. Kamu dengar nggak? Katanya anak baru itu misterius.”

“Misterius karena belum kenal,” balas Kiara. “Nanti juga ketahuan hobi telat bayar uang kas.”

Bima tertawa. “Kamu kejam.”

“Realistis.”

Pelajaran berlangsung seperti biasa. Kiara mencatat seperlunya, lebih banyak mendengarkan daripada bertanya. Saat jam istirahat, Nayla kembali mengoceh, sementara Kiara sibuk memainkan game di ponselnya.

“Kamu serius main itu terus?” tanya Nayla.

“Ini ranked,” jawab Kiara tanpa mengalihkan pandangan. “Kalau kalah, satu tim bisa depresi.”

“Kamu aneh,” Nayla menggeleng.

“Aku efisien.”

Bel sekolah berbunyi, menandakan jam pulang. Kiara menghela napas lega.

Hari itu, tidak ada hal aneh. Tidak ada kejadian luar biasa. Tidak ada firasat buruk.

Hanya rutinitas.

Sore harinya, setelah membantu ibunya sebentar, Kiara memutuskan keluar rumah. Ia membawa ponsel dan headset, mengenakan hoodie tipis dan celana jeans.

“Taman?” tanya Rafa dari sofa.

“Iya.”

“Main game lagi?”

“Iya.”

“Kamu nggak bosen?”

Kiara berhenti sejenak, menoleh ke adiknya. “Kalau aku bosen, aku tidur.”

Rafa meringis. “Keren.”

Taman kota itu tidak terlalu jauh dari rumahnya. Banyak anak kecil bermain, pasangan duduk di bangku taman, dan beberapa orang tua jogging santai.

Kiara duduk di bangku favoritnya, di bawah pohon besar, agak ke pinggir, tidak terlalu ramai.

Ia memasang headset, membuka game, dan mulai fokus.

“Mid, cover,” gumamnya pelan.

Dunia di sekitarnya perlahan memudar. Semua yang ada di pikirannya hanyalah strategi, map, dan suara notifikasi.

Seseorang lewat di depannya.

Kiara tidak terlalu memperhatikan.

Lalu orang itu lewat lagi.

Dan lagi.

Kiara mendongak sedikit, alisnya berkerut. Dari sudut matanya, ia melihat siluet seorang pemuda yang mondar-mandir di jalur setapak depan bangkunya. Gerakannya aneh, seperti orang yang bingung, berhenti, lalu berjalan lagi tanpa arah jelas.

“Ganggu banget,” gumam Kiara, jempolnya masih bergerak cepat di layar.

Pemuda itu berhenti. Berdiri tepat di depannya.

Kiara mendesah, melepas satu sisi headset, dan mendongak.

“Mas,” katanya datar. “Kalau mau muter-muter, jangan di depan orang main game."

Ia belum tahu.

Bahwa kalimat sederhana itu akan menjadi awal dari sesuatu yang sama sekali tidak normal.

Dan hidup Kiara, yang katanya membosankan, akan segera berubah total.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!