Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Tomura
Ujian akhir telah usai, dan aroma kebebasan musim panas mulai tercium di udara Musutafu. Meskipun ada beberapa murid yang harus menghadapi kenyataan pahit mengikuti kelas tambahan, semangat Kelas 1-A tidak luntur. Atas inisiatif Toru Hagakure yang penuh energi, hampir seluruh kelas memutuskan untuk pergi ke Mall Kiyashi Ward untuk membeli persiapan kamp pelatihan.
Mitsuki berdiri di tengah lobi mall yang megah, dikelilingi oleh hiruk-pikuk manusia. Ia tidak membawa koper besar seperti yang lain; ia hanya membawa tas selempang kecil. Baginya, melihat teman-temannya berpakaian sipil adalah sebuah pemandangan yang ganjil namun menarik.
"Wah! Lihat itu! Toko perlengkapan outdoor itu besar sekali!" seru Ashido Mina sambil menarik tangan Tsuyu Asui dan Ochaco Uraraka.
"Mina-chan, tenanglah, kero," ucap Tsuyu dengan suara tenangnya yang khas. "Kita punya daftar belanjaan yang panjang."
Di sudut lain, Tenya Iida sedang mengatur barisan dengan gerakan tangan kaku yang ikonik. Meskipun insiden Hosu meninggalkan bekas, Iida tampak mencoba kembali ke jati dirinya yang disiplin.
"Semuanya! Kita akan berkumpul kembali di air mancur ini dalam dua jam! Jangan sampai ada yang tertinggal atau terlibat masalah!" teriak Iida.
Izuku Midoriya berdiri di sampingnya, tersenyum kecil. Izuku tampak lebih santai, namun matanya terus mencatat apa yang dibeli teman-temannya. Ia memperhatikan Fumikage Tokoyami yang sedang mencari jubah tahan air yang berwarna hitam pekat, dan Eijiro Kirishima yang sibuk membandingkan berat dua jenis sepatu daki yang berbeda.
"Iida-kun, kau terlihat lebih baik," ucap Izuku tulus.
Iida membetulkan kacamatanya. "Terima kasih, Midoriya-kun. Berkat kalian berdua... dan nasihat aneh dari Mitsuki-kun, aku menyadari bahwa pahlawan tidak bisa berdiri tegak jika pundaknya terlalu berat oleh masa lalu."
Mitsuki yang berada di dekat mereka mendengarkan dalam diam. Ia memperhatikan bagaimana Iida kini lebih sering tersenyum, meski senyumnya masih terlihat sedikit dipaksakan.
Kelas pun berpencar. Mitsuki memutuskan untuk mengikuti kelompok Kirishima, Kaminari, dan Bakugo (yang dipaksa ikut oleh Kirishima).
"Hei, Bakugo! Lihat kaos ini! Ada gambar ledakan, cocok untukmu!" Kaminari tertawa sambil menunjukkan kaos berwarna oranye terang.
"JAUHKAN BENDA JELEK ITU DARI WAJAHKU, BODOH!" raung Bakugo. Meskipun berteriak, Bakugo tetap berjalan bersama mereka, tidak benar-benar pergi. Mitsuki melihat ini sebagai bentuk loyalitas yang unik. Bakugo tidak butuh kata-kata manis; keberadaannya di sana sudah merupakan sebuah pernyataan.
Di toko peralatan, Momo Yaoyorozu sedang dikelilingi oleh Jiro Kyoka dan Hagakure. Momo tampak sangat antusias, matanya berbinar melihat berbagai jenis tenda.
"Oh, lihat serat kain tenda ini! Ini poliester densitas tinggi dengan lapisan poliuretan!" Momo menjelaskan dengan detail teknis yang membuat Jiro hanya bisa menggaruk kepala.
"Momo-chan, kau bisa membuat tenda sendiri dengan Quirk-mu, kan?" tanya Jiro.
Momo tersentak, wajahnya sedikit memerah. "A-ah, benar juga... tapi membeli barang bersama teman-teman memiliki nilai sentimental yang tidak bisa diciptakan oleh molekul lemakku!"
Mitsuki mencatat dalam benaknya: ‘Yaoyorozu-san menghargai pengalaman kolektif lebih dari efisiensi individu. Sebuah sifat yang sangat manusiawi.’
Setelah satu jam berkeliling, beberapa murid beristirahat di kedai kopi. Mitsuki duduk bersama Todoroki, Shoji, dan Ojiro.
"Todoroki-kun, apa kau sudah memutuskan agensi mana yang akan kau ambil setelah kamp?" tanya Ojiro sopan.
Todoroki menyesap teh hijaunya. "Aku tetap akan kembali ke agensi ayahku. Bukan untuk dia, tapi untuk mempelajari apa yang membuatnya menjadi nomor dua. Aku tidak bisa mengabaikan sumber kekuatanku lagi."
Mezo Shoji, yang biasanya pendiam, menyahut dengan suaranya yang berat melalui salah satu organ duplikatnya. "Itu pilihan yang berani. Menghadapi apa yang kita benci adalah bentuk latihan yang paling berat."
Shoji menoleh ke arah Mitsuki. "Bagaimana denganmu, Mitsuki? Kau selalu terlihat seolah-olah sudah tahu segalanya. Apa kau pernah merasa... takut?"
Pertanyaan itu membuat meja menjadi sepi. Todoroki dan Ojiro menatap Mitsuki, menunggu jawaban.
Mitsuki menatap sukulen kecil yang baru saja ia beli di toko tanaman tadi. "Takut? Aku tidak tahu apakah itu kata yang tepat. Aku hanya merasa... asing. Kadang aku merasa seperti sebuah kata yang salah tulis dalam sebuah kalimat yang indah. Aku tidak takut pada musuh, Shoji-kun. Aku hanya takut jika suatu hari nanti, aku tidak bisa lagi memahami kenapa kalian tertawa."
Todoroki meletakkan gelasnya. "Kau bukan kata yang salah tulis, Mitsuki. Kau mungkin hanya tanda baca yang belum kami pahami fungsinya. Tapi tanpa tanda baca, kalimat itu tidak akan memiliki arti."
Mitsuki tertegun. Ia tidak menyangka Todoroki bisa bicara sepuas itu.
Saat mereka akan bangkit untuk berkumpul kembali dengan Iida, Mitsuki merasakan sebuah perubahan frekuensi di udara. Bukan di dekatnya, tapi di dekat Izuku yang tadi pergi ke toko buku sendirian.
Ia melihat Izuku di kejauhan, sedang duduk di sebuah bangku panjang. Seorang pria kurus dengan hoodie gelap sedang merangkul bahu Izuku. Dari kejauhan, itu tampak seperti dua teman lama yang sedang mengobrol.
Namun, Mitsuki melihat tangan pria itu. Empat jari menyentuh leher Izuku, sementara jari kelima sedikit terangkat.
“Tomura Shigaraki,” batin Mitsuki.
Ia tidak langsung berlari. Ia tahu bahwa satu gerakan salah akan membuat leher Izuku hancur menjadi debu. Mitsuki memberikan isyarat pada Todoroki dengan matanya. Todoroki mengikuti arah pandang Mitsuki dan matanya menyempit.
"Shoji, Ojiro... jangan panik. Ikuti aku, pelan-pelan," bisik Mitsuki.
Mitsuki berjalan mendekat dengan langkah yang sangat tenang, seolah ia hanya ingin menyapa temannya. Ia berhenti sekitar tiga meter dari mereka.
"Izuku, aku menemukan teh hijau yang kau cari," ucap Mitsuki dengan nada datar, pura-pura tidak menyadari bahaya.
Shigaraki menoleh. Mata merahnya yang kering menatap Mitsuki melalui celah rambutnya. "Ah... si Ular. Kita bertemu lagi di luar layar."
Izuku tampak pucat pasi, namun ia mencoba tetap tenang. "M-Mitsuki-kun... jangan mendekat."
"Jangan khawatir, Izuku," Mitsuki menatap Shigaraki. "Tomura Shigaraki tidak akan membunuhmu di sini. Dia terlalu mencintai 'permainannya'. Membunuh pemain kunci di area publik yang penuh saksi akan merusak ritme ceritanya, bukan?"
Shigaraki terkekeh, suara tawa yang seperti gesekan amplas. "Kau benar-benar pintar, anomali. Kau dan pahlawan ini... kalian adalah dua sisi koin yang sama-sama memuakkan. All Might menciptakan dunia yang penuh senyum palsu ini, dan kalian adalah anjing-anjing penjaganya."
Shigaraki melepaskan leher Izuku perlahan. "Nikmatilah kamp kalian. Karena saat kita bertemu lagi, aku akan memastikan tidak ada lagi tempat bagi kalian untuk bersembunyi di balik senyum itu."
Shigaraki bangkit dan menghilang di tengah kerumunan orang banyak sebelum Todoroki atau yang lain sempat mengepungnya.
Izuku jatuh terduduk, menghirup oksigen dengan rakus. Uraraka dan yang lainnya berlari mendekat setelah melihat situasi yang aneh.
"Deku-kun! Apa yang terjadi?!" teriak Uraraka cemas.
Mitsuki hanya berdiri di sana, menatap punggung Shigaraki yang sudah hilang. Ia menyadari bahwa meskipun kelasnya baru saja bersenang-senang, bayangan perang sudah mulai memanjang.
"Semuanya," suara Mitsuki membuat kelas yang sedang panik itu terdiam. "Beli semua perlengkapan medis dan pertahanan yang kalian bisa. Kamp ini... tidak akan menjadi liburan yang kalian harapkan."
Malam itu, saat mereka pulang ke rumah masing-masing, atmosfer kegembiraan telah berganti dengan kewaspadaan yang sunyi. Kelas 1-A baru saja menyadari bahwa menjadi pahlawan berarti tidak pernah benar-benar bisa lepas dari incaran kegelapan.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen