Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Little-little
"Sa, duduk sini sama gue." ucap gadis yang duduk di bangku paling depan. Namanya Mayra, teman sekelas sekaligus siswa yang paling khawatir saat dirinya sakit kala kegiatan pramuka tempo hari, padahal Sasa hanya pura-pura. "sengaja gue keep buat lo." lanjutnya.
Sasa mengamati kelasnya, tiap bangku yang menurutnya strategis sudah terisi semua terutama barisan paling belakang. Dan Ridwan ada disana dengan ponsel yang sudah miring padahal mereka baru saja selesai upacara. Semua gara-gara menanggapi omongan Sheila dirinya jadi kebagian bangku sisa.
"Sa, tunggu apa lagi? duduk." ucap Mayra.
"Kenapa sih May, lo mesti ambil bangku paling depan? nggak seru ih." berhubung tak ada lagi bangku kosong mau tak mau Sasa meletakan tas yang tadi hanya ia simpan asal karena buru-buru ke lapang upacara ke bangku miliknya.
"Ini bangku paling bagus loh, Sa. Kita bisa face to face langsung sama guru, jadi lebih cepat paham." jelas Mayra.
"Lebih cepat paham dari mana? yang ada gue makin cepat ngantuk." balas Sasa, "kita tuker sama bangku Ridwan aja yuk. Dia suruh di depan biar nggak maen HP terus." lanjutnya seraya menunjuk Ridwan yang sudah sibuk dengan ponselnya.
"Jangan, Sa. Udah kita duduk disini aja. Lo mending jangan deket-deket sama Ridwan deh, dia main HP terus takut lo ketularan, Sa. Kayaknya anaknya nggak baik deh, dari awal MPLS dia sibuk sama HP terus. Membaurnya cuma sama anak-anak yang main HP juga."
Sasa melirik Ridwan yang balas menatapnya seolah bertanya ada apa? Sasa menggeleng.
"Itu karena lo belum kenal. Ririd anaknya baik kok, tapi emang suka ngeselin."
"Kayaknya lo kenal banget yah sama Ridwan? Manggilnya sampe jadi Ririd." Mayra ikut menoleh sekilas ke arah Ridwan. Tampan tapi terlalu cuek dan screening terus menerus.
"Kenal banget lah, orang dia tetangga gue. Pas banget depan rumah, kakaknya Ririd tuh calon istri kakak gue." jelas Sasa.
"Kenapa nanya-nanya soal Ririd? naksir?" tebak Sasa.
"Nggak ih. Kan lo yang mulai duluan tadi, jadi merembet kemana-mana."
Perbincangan mereka berhenti saat guru mata pelajaran pertama sudah datang. Rutinitas di jenjang yang baru sama dengan saat dirinya SMP dulu, meski sudah kenalan selama seminggu MPLS nyatanya setiap ada guru yang masuk setiap siswa disuruh perkenalan kembali. Banyangkan, seminggu ada tujuh belas pelajaran maka mereka semua harus melakukan perkenalan selama tujuh belas kali. Bosan? tentu tidak, meski mengulang hal yang sama tapi pembawaan setiap guru berbeda, membuat perkenalan dalam setiap mapel lumayan seru. Ada yang memulai perkenalan dengan qoute hari ini, tokoh panutan hingga cita-cita dan hobi juga tak lepas dari pembahasan.
"May, kalo calon kakak ipar gue ditanyain cita-citanya apa pasti jawabnya jadi istrinya My Dirgantara." bisik Sasa saat salah satu teman mereka sedang membahas cita-cita di depan kelas.
"Jadi istri yang punya bandara?"
Ck! Sasa berdecak lirih. "Dirgantara itu kakak gue, May!"
"Gue taunya Dirgantara itu nama Bandara, Sa."
"Bukan, kakak gue. Cakep, ketos SMK Persada. Disana juga cowoknya cakep-cakep loh, kapan-kapan kita main kesana yuk!" Sasa jadi asik sendiri. Tiba-tiba ia teringat Tama, dia lagi ngapain yah? alih-alih fokus pada perkenalan Sasa malah pengen kenal lebih jauh dengan teman calon kakak iparnya.
Tuk! tuk!
Sasa tersenyum santai saat guru mengetuk mejanya berulang kali.
"Giliran saya, bu?"
"Iya. Dari tadi ibu perhatikan kamu sibuk sendiri." guru bahasa inggris itu lumayan jutek.
"Maaf, Miss. Tadi saya sibuk ngapain perkenalan pake bahasa Inggris biar jadi murid kesayangan miss Tri." jawabnya beralasan.
"Kalo gitu langsung maju saja sekarang." jawab Miss Tri. "Anak-anak perhatikan, Sasa mau perkenalan menggunakan bahasa inggris katanya." lanjutnya sambil kembali ke tempat duduk guru.
"Beneran bisa, Sa?" bisik Mayra.
"Little little lah." Mayra menghela nafas, tak yakin dengan kemampuan teman sebangkunya. Jawabannya aja 'little-little' ditambah sedari tadi malah membahas hal-hal yang menurutnya unfaedah. Mayra jadi mikir-mikir mungkinkah ia salah memilih teman sebangku?
.
.
.
Tahan guys like komen dulu
Mayra dari PESONA GADIS BAYARAN udah hadir nih
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣