Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Arion tidak pernah peduli dengan orang lain di sekitarnya. Namun, siang itu untuk pertama kalinya ia tertarik melihat dua orang yang berada di parkiran apartemennya.
Rencananya, ia ingin istirahat di apartemen setelah pulang dari Adhivara Grup, tapi keberadaan Lydia dan seorang laki-laki menarik perhatiannya.
"Kenapa Lydia di sini?" gumamnya sambil melihat sekitar, memastikan dirinya tidak salah memarkirkan motor.
Ia berada di area khusus penghuni apartemen. Melihat Lydia di sana membuatnya bertanya-tanya sedang apa perempuan itu. Tidak mungkin kan Lydia tinggal di gedung apartemen yang sama dengannya?
"Aku tidak bisa," ucap Lydia yang membuat Arion kembali menatap ke arahnya.
Arion bisa melihat Lydia melepaskan cincin dari jarinya, lalu menyerahkan cincin itu pada laki-laki di depannya.
Tanpa sadar, Arion melangkah mendekati tempat mereka. Ada rasa penasaran dalam dirinya yang entah kenapa tidak bisa ia tahan.
Sementara itu, di tempat Lydia, laki-laki yang terlihat bersamanya tidak lain dan tidak bukan adalah Marvin. Setelah selesai membicarakan proyek dengan klien, laki-laki itu menawarkan diri mengantar Lydia pulang.
Marvin tampak bingung melihat Lydia melepaskan cincin pertunangan mereka. Terlebih Lydia menyerahkan cincin itu padanya.
"Ada apa? Kenapa cincinnya dilepas?" tanya Marvin, tanpa berniat mengambil cincin dari tangan Lydia.
Lydia meraih tangan Marvin, lalu meletakan cincinnya di tangan laki-laki itu. Ia benar-benar sudah tidak bisa melanjutkan pertunangan mereka setelah yang terjadi hari ini.
"Aku menyerah. Ayo, kita akhiri semuanya sekarang."
Lydia menatap wajah Marvin setelah kalimatnya berakhir. Ia ingin mempertahankan hubungan mereka, tapi hatinya tidak cukup kuat untuk itu.
"A-apa maksud kamu?" tanya Marvin membelalak.
Ia mengerti Lydia sedih karena dipecat dari tempat kerjanya, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengakhiri pertunangan mereka.
"Kamu pasti kelelahan, lebih baik kamu istirahat," sarannya, berniat memasangkan kembali cincin di jari manis Lydia.
"Sudah cukup," lirih Lydia sambil menepis tangan Marvin sampai cincin yang akan laki-laki itu pasang jatuh ke lantai.
"Kamu benar. Aku memang kelelahan, dan kamulah alasan aku lelah," lanjutnya, tanpa peduli dengan cincin yang jatuh entah kemana.
Sudah cukup kesempatan yang sudah ia berikan pada Marvin selama ini, sekarang ia sudah lelah dan muak. Ia pikir, Marvin akan berubah seiring berjalannya waktu, tapi ternyata ia terlalu naif. Selingkuh seperti penyakit kronis yang sudah melekat pada diri Marvin.
"Kamu tahu kenapa aku dipecat?" tanyanya. Air di matanya kembali menetes, seakan hatinya masih sakit setelah dipecat tidak hormat dari Adhivara Grup.
Marvin hanya menatap bingung Lydia. Ia tidak tahu alasan Lydia dipecat karena Lydia memang belum memberitahunya.
"Aku dipecat karena selingkuhan kamu!" teriak Lydia frustasi.
Ia sudah mencoba terima, tapi kenyataannya menerima ketidakadilan tidak semudah itu. Sejak tadi kepalanya penuh dengan pertanyaan apakah dirinya pantas menerima semuanya.
"Aku merasa sudah berusaha melakukan yang terbaik selama ini. Aku bahkan tidak pernah mengeluh meskipun harus menemani bosku lembur setiap hari. Tapi mereka memecatku karena kamu selingkuh dengan Airin," ujarnya sambil menunjuk dada Marvin.
Laki-laki itu tersentak mendengar nama yang baru saja keluar dari mulut Lydia. Mungkin tidak percaya Lydia mengetahui nama selingkuhannya, atau entah ada alasan lain.
"Aku sudah berusaha menerimanya, tapi dada aku... dada aku sakit."
Lydia terisak dan memukuli dadanya sendiri yang terasa sesak. Ia iri karena selingkuhan Marvin dibela, sementara dirinya dipaksa menerima ketidakadilan.
"Sayang, tolong tenang. Aku bisa menjelaskan semuanya," pinta Marvin, menahan tangan Lydia yang memukuli dadanya sendiri.
Lydia kembali menepis tangan Marvin, menolak ditenangkan oleh orang yang membuatnya seperti ini.
"Kamu pasti berpikir aku akan dengan mudah merima perselingkuhan kamu karena aku tidak punya siapa-siapa. Tapi aku sudah tidak sudi menerima kamu lagi. Kamu sudah membuatku muak," ungkapnya.
Marvin menggeleng lemah. Ia tidak pernah berpikir seperti itu. Alasannya berselingkuh hanya karena ia membutuhkan seseorang yang hadir saat dirinya membutuhkan seseorang, tapi Lydia tidak ada.
"Aku mohon, jangan bicara seperti itu," pintanya dengan air mata yang mulai menetes.
Ini bukan pertama kalinya ia ketahuan selingkuh, tapi baru sekarang ia melihat Lydia sehancur ini karena perselingkuhannya.
"Jangan sentuh aku," ucap Lydia, menolak saat Marvin hendak memeluknya.
Dulu, pelukan Marvin membuatnya merasa nyaman dan aman. Tapi sekarang, Marvin sudah menjadi alasan karirnya hancur dalam satu hari.
"Kita jalan masing-masing saja sekarang. Aku tidak peduli kamu mau dekat dengan siapapun," terang Lydia sebelum pergi meninggalkan Marvin di parkiran. Ia bahkan melupakan barang-barangnya yang masih ada di dalam mobil.
"Tunggu, Lydia!" teriak Marvin, berharap Lydia menghentikan langkahnya dan menyelesaikan masalah mereka.
Namun, Lydia tidak menghentikan langkahnya sedikitpun, sampai akhirnya perempuan itu hilang dari pandangan Marvin.
"Cincinnya," gumamnya baru teringat dengan cincin Lydia.
Ia berusaha mencari di tempat cincin itu terjatuh, bahkan sampai ke kolong mobil, tapi cincinnya tidak bisa ditemukan.
"Lydia hanya sedang emosi sekarang, aku harus mencari cincinnya dan menjelaskan setelah Lydia merasa tenang," ucapnya pada diri sendiri.
***
Arion mengikuti langkah kaki Lydia. Matanya melirik sekilas cincin di tangannya, sebelum kembali memperhatikan Lydia dari belakang.
Marvin tidak berhasil menemukan cincin Lydia karena cincin itu sudah diambil oleh Arion. Saat Lydia dan Marvin sedang ribut tadi, Arion diam-diam memungut cincin yang terjatuh di bawah kakinya.
Arion tidak tahu untuk apa cincin itu, tapi ia tetap membawanya. Mungkin saja Lydia akan mencari cincinnya nanti.
"Maaf," gumamnya menatap punggung Lydia. Ia merasa bersalah telah membuat perempuan di depannya itu hancur.
Ia tidak memikirian dampak atas perbuatannya sebelum datang ke Adhivara Grup memecat Lydia, dan sekarang ia merasa sangat bersalah.
"Paman Jevan benar, Lydia pasti tidak akan mau kembali ke Adhivara Grup setelah ini," lirihnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Lydia.
Entah kenapa, dadanya ikut sesak setelah mendengar semua yang Lydia katakan. Pasti hidup Lydia sebagai yatim piatu selama ini tidak mudah, pikirnya.
Arion terus mengikuti Lydia sampai mereka memasuki lift. Lydia sama sekali tidak sadar bahwa orang yang satu lift dengannya adalah Arion.
Tanpa diduga, ternyata mereka memiliki tujuan yang sama, lantai enam. Unit apartemen Arion berada di lantai itu dan sepertinya Lydia menuju lantai yang sama dengannya.
"Kalau mau menangis, menangis saja," ucap Arion, menyadari Lydia berusaha menahan air matanya sejak mereka memasuki lift.
Lydia spontan menoleh ke arah Arion, ia tidak percaya berada dalam satu lift dengan laki-laki yang baru memecatnya pagi ini.
"Sejak kapan Anda di sini?" tanyanya dengan mata dan hidung yang tampak memerah karena habis menangis.
Arion tidak menjawab, hanya memandangi wajah Lydia lama. Ia ingin meminta maaf, tapi tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Saya sudah tahu yang sebenarnya. Seharusnya kamu protes saat saya memecatmu," ujarnya, mengatakan hal lain. Padahal, ia sangat ingin meminta maaf pada Lydia, namun malah kata itu yang keluar.
Lydia terdiam cukup lama, sampai ia mengatakan sesuatu yang membuat Arion semakin merasa bersalah terhadapnya.
"Protes? Apa saya berhak untuk itu?" tanyanya.