Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar yang terbenam terlalu dini
Assalamu'alaikum...
Bebu kembali lagi, dengan judul novel baru..
Nama tokoh
Aruna rembulan maharani
Biru Laksmana langit
Abhimana bagas semesta
Maira senja aurora
Happy reading...
Dunia tidak kiamat dengan ledakan besar. Bagiku, dunia berakhir dalam sebuah keheningan yang menyesakkan di sebuah sore bulan Oktober.
Aku masih ingat aroma mawar putih yang memenuhi ruangan itu. Harusnya itu adalah hari koordinasi terakhir dengan vendor katering. Aku sudah mengenakan gaun sederhana, warna krem yang senada dengan janji-janji manis yang ia bisikkan selama dua tahun terakhir. Namun, pria yang berdiri di hadapanku saat itu tidak membawa kabar tentang dekorasi atau daftar tamu.
"Aku tidak bisa, Aruna," katanya. Suaranya datar, nyaris tanpa beban. "Dia... dia sedang mengandung anakku. Aku harus memilih yang pasti."
Dalam satu kalimat, ia membakar seluruh peta masa depanku. Kalimat itu adalah korek api yang dilemparkan ke gudang mesiu. Meledak, menghanguskan, dan menyisakan abu yang terbang tak tentu arah.
Aku tidak berteriak. Aku tidak menjerit atau melemparkan vas bunga ke wajahnya yang tampak merasa bersalah namun lega itu. Aku hanya berdiri di sana, merasakan jantungku berdegup dengan kecepatan yang menyakitkan, sebelum akhirnya... ia berhenti berdenyut dengan cara yang normal.
Saat itu juga, aku bisa merasakan suhu di dalam dadaku merosot tajam. Turun melewati titik beku, terus jatuh hingga mencapai nol absolut.
Aku berjalan pulang menembus hujan yang mulai turun. Orang-orang berlarian mencari peneduh, namun aku membiarkan air dingin itu membasahi kulitku. Anehnya, aku tidak merasa kedinginan. Karena di dalam sini—di balik tulang rusukku—aku telah menciptakan musim dinginku sendiri. Sebuah mekanisme pertahanan yang sempurna. Jika aku menjadi es, maka tidak akan ada lagi api yang bisa membakarku. Jika aku membeku, maka rasa sakit ini pun akan ikut membeku, diam, dan tak bersuara.
Tiga tahun telah berlalu sejak sore itu.
Namaku Aruna. Dulu, ibuku bilang namaku berarti fajar, cahaya yang membawa harapan bagi dunia yang gelap. Tapi sekarang, Aruna yang itu sudah mati. Dia terkubur di bawah lapisan salju abadi yang kubangun dengan tanganku sendiri.
Aku menyukai keheningan ini. Aku menyukai bagaimana apartemenku selalu terasa sunyi, bagaimana kopiku selalu kubiarkan mendingin sebelum kuminum, dan bagaimana aku menatap dunia melalui dinding kaca yang tak terlihat.
Orang-orang di kantor menyebutku "Si Ratu Es". Mereka tidak tahu bahwa es ini bukan untuk melukai mereka. Es ini ada agar aku tidak perlu lagi merasakan perihnya sebuah kehilangan. Karena selama aku tetap membeku, tidak akan ada satu pun musim panas yang bisa menipuku lagi.
Namun, sore itu di sebuah kafe yang lembap karena sisa hujan, seseorang duduk di depanku tanpa izin. Seorang pria dengan jaket biru tua dan mata yang terlalu jernih untuk seseorang yang hidup di dunia yang berantakan ini.
Dia adalah retakan pertama pada dinding esku. Dan aku benci harus mengakui, bahwa kehadirannya mulai membuatku merasa... sedikit tidak nyaman.
Selamat membaca teman-teman, ini novel ku yang baru, semoga suka sama alur cerita yang aku buat.
Semua ini ada ketika aku yang merasakan sendiri bagaimana sakitnya. Hihi curhat dikit...
Agak sedikit aku ubah, jelas. Bukan cerita seperti diriku sendiri, cerita fiksi yang banyak aku taburkan di beberapa kalimat.
Semoga suka dan selamat membaca ya readers, panggil aku bebu aja, aku usahakan up tiap hari ya kalau gak ngopi sih.
Hampir tiap malam soalnya aku ke coffee shop untuk menghilangkan rasa jenuh ini.
Happy reading...
Annyeong...