"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 9
Dua minggu menuju sidang adalah masa-masa di mana Sasya bertransformasi menjadi "zombie akademik". Ia jarang pulang ke kosan, lebih sering tidur di sofa lab dengan beralaskan jaket almamater. Baginya, setiap detik adalah baris kode yang harus disempurnakan. Ia ingin membuktikan pada Pak Alkan—dan terutama pada Bu Sarah—bahwa dia bukan sekadar "gangguan" dalam karier sang dosen.
"Sya, makan dulu. Lo udah kayak script yang looping nggak berhenti-berhenti," tegur Putri sambil meletakkan sebungkus nasi rames di meja lab.
"Bentar, Put. Gue tinggal push hasil analisis akhir ke server kampus. Habis itu gue makan, sumpah," jawab Sasya tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.
Jari-jarinya menari di atas keyboard. git commit -m "Final Result for Thesis Submission". Klik. Upload dimulai. Sasya menghela napas lega saat melihat bilah progres mencapai 100%. Data penelitiannya kini aman di server cadangan fakultas, syarat mutlak sebelum mendaftar sidang besok pagi.
"Selesai! Besok jam delapan gue tinggal setor berkas ke Kaprodi."
Namun, kelegaan itu hanya bertahan selama lima detik.
Tiba-tiba, layar monitor Sasya berkedip merah. Sebuah pesan error besar muncul: [FATAL ERROR] 403: ACCESS DENIED. FILE NOT FOUND ON SERVER.
Sasya tertegun. "Lho? Tadi kan udah sukses?"
Ia mencoba melakukan refresh. Hasilnya sama. Ia mencoba mengakses direktori pribadinya di server kampus. Kosong. Bukan hanya file yang baru diunggah, tapi seluruh data penelitiannya selama enam bulan terakhir hilang tanpa bekas.
"Put... file gue hilang," suara Sasya bergetar.
Putri langsung mendekat. "Mana mungkin? Kan baru aja lo upload!"
Sasya mencoba melakukan login ulang. Namun, muncul pesan baru: USER ID DISABLED BY ADMINISTRATOR.
Dunia Sasya serasa runtuh. Ini bukan sekadar bug. Ini sabotase. Alamat IP administrator yang memiliki akses untuk menghapus data di jam seperti ini sangat terbatas. Dan Sasya tahu persis siapa yang memegang akses tersebut.
Pukul 23.00 WIB. Kantor jurusan sudah sepi, tapi lampu di ruangan administrasi sistem masih menyala. Sasya tidak lari pulang untuk menangis. Mental Gen Z-nya yang tangguh—yang dibentuk oleh ribuan jam debugging—memaksanya untuk bertindak logis.
Ia langsung menuju ruang Pak Alkan. Tanpa mengetuk, ia masuk. Alkan ternyata masih di sana, sedang berkutat dengan berkas-berkas akreditasi.
"Pak! Seseorang baru saja menghapus akun dan data skripsi saya dari server pusat!" seru Sasya dengan napas terengah.
Alkan langsung berdiri. Wajahnya mengeras. Tanpa banyak tanya, ia menarik kursi di depan komputernya. "Gunakan terminal saya. Saya punya akses root di atas administrator biasa."
Selama dua jam berikutnya, suasana ruangan itu berubah menjadi medan perang digital. Alkan dan Sasya bekerja dalam diam yang intens. Jemari mereka seolah beradu cepat dengan waktu.
"Mereka nggak cuma hapus, Sya. Mereka menimpa (overwrite) sektor datanya supaya nggak bisa di-recovery pakai cara biasa," ujar Alkan, suaranya rendah dan penuh kemarahan yang terkendali. "Ini dilakukan oleh seseorang yang tahu persis letak backup mingguan kamu."
Sasya menggigit bibir. "Bu Sarah nggak punya akses teknis sejauh itu, kan, Pak?"
Alkan terdiam sejenak. "Ayahnya punya. Prof. Handoko adalah pengawas infrastruktur IT kampus ini."
Sasya hampir menangis. "Kenapa mereka sejahat ini, Pak? Ini kan masa depan saya."
Alkan berhenti mengetik. Ia menoleh ke arah Sasya, menatapnya dengan lembut namun penuh keyakinan. "Sya, dengar. Di dunia ini, ada orang yang berpikir mereka bisa mengatur takdir orang lain dengan menekan tombol delete. Tapi mereka lupa, ada Master System yang nggak pernah tidur."
Alkan kembali ke layar. "Saya punya salinan draf kamu di email bimbingan minggu lalu, tapi hasil olah data mentahnya ada di kamu, kan?"
"Ada di harddisk eksternal di kosan, Pak!"
"Ambil. Sekarang. Saya tunggu di sini. Kita akan bangun ulang sistem kamu malam ini juga. Kita tunjukkan pada mereka kalau 'iman' itu punya backup yang nggak bisa mereka sentuh."
Sasya kembali ke kampus dengan motor ojek online secepat kilat. Sepanjang sisa malam, ruangan Pak Alkan menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Alkan mengajari Sasya cara melakukan data restoration tingkat lanjut. Tidak ada bimbingan formal, yang ada adalah dua orang yang sedang berjuang melawan ketidakadilan.
Saat azan Subuh berkumandang dari Masjid Ulul Albab, tombol terakhir ditekan.
System Restore: SUCCESS.
Data itu kembali. Lebih rapi, lebih valid, dan lebih kuat dari sebelumnya.
Sasya menyandarkan punggungnya di kursi, benar-benar lemas. "Pak... kita berhasil."
Alkan menatap layar, lalu menatap Sasya. Di bawah lampu ruangan yang remang, wajah Sasya yang kelelahan tampak sangat cantik di mata Alkan. Bukan cantik karena riasan, tapi cantik karena ketangguhan.
"Pergilah ke masjid, salat Subuh, lalu langsung setor berkas ke Kaprodi begitu kantor buka," ujar Alkan. "Saya yang akan urus soal siapa yang menghapus akun kamu. Saya tidak akan biarkan ini berlalu begitu saja."
Sasya berdiri, hendak pamit. "Pak... makasih ya. Kalau nggak ada Bapak, saya udah jadi pengangguran sebelum lulus."
Alkan tersenyum tipis. "Sama-sama. Dan Sasya... mulai sekarang, simpan semua data kamu di cloud pribadi yang saya buatkan. Jangan percaya server mana pun, kecuali 'server' doa yang kamu kirim tiap malam."
Sasya tertawa kecil, rasa kantuknya hilang seketika. "Siap, Pak Dosen!"
Begitu Sasya keluar, Alkan mengambil ponselnya. Ia mengirim satu pesan singkat ke Prof. Handoko.
Pak Alkan:
"Prof, saya sudah memulihkan data Sasya. Dan saya punya catatan log IP yang melakukan penghapusan semalam. Jika Anda ingin ini tetap menjadi masalah internal dan tidak sampai ke Dewan Etik atau Hukum, tolong hentikan semua intervensi terhadap mahasiswa saya. Karena jika tidak, saya tidak keberatan kehilangan jabatan saya demi menegakkan kebenaran."
Alkan meletakkan ponselnya. Ia merasa lega. Untuk pertama kalinya, logikanya dan hatinya berada di satu frekuensi yang sama.