Ryuga Soobin Dewangga adalah CEO dingin yang terjebak dalam trauma masa lalu dan konspirasi bisnis yang mengancam nyawanya. Hidupnya yang kaku berubah total saat ia bertemu Kiara Adiningrat, asisten pribadi tangguh yang lebih ahli memegang senjata dan memperbaiki jam antik dari pada menyeduh kopi.
Di tengah ancaman pembunuhan dan pengkhianatan orang terdekat, keduanya terpaksa menjalin kesepakatan tengah malam yang berbahaya. Antara tuntutan profesional, hobi yang saling bersinggungan, dan ego yang setinggi langit, mereka harus menghadapi musuh yang mengintai di balik bayang-bayang.
Mampukah cinta tumbuh di antara peluru dan rahasia, ataukah kesepakatan ini justru menjadi awal kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Kode Rahasia dalam Laporan Keuangan
Suasana di ruang direksi lantai 50 berubah drastis. Proyektor raksasa yang seharusnya menampilkan grafik pertumbuhan kuartal depan kini justru memuntahkan barisan angka yang bergerak cepat sebuah laporan keuangan ganda yang selama ini terkunci rapat di dalam server bayangan Dewangga Group.
Bramasta berdiri mematung, pena di tangannya jatuh ke lantai marmer dengan dentingan yang nyaring.
"Ryuga... apa yang kau lakukan? Kau menghancurkan perusahaanmu sendiri!"
"Bukan perusahaan ini yang kuhancurkan, Paman," sahut Ryuga sambil melangkah mantap menuju meja utama. "Aku hanya sedang melakukan restorasi pada pondasinya yang sudah busuk."
Teka-teki di Balik Angka
Kiara berdiri di samping Ryuga, matanya terpaku pada layar. Sebagai seorang ahli restorasi jam, ia terbiasa melihat pola yang tidak terlihat oleh orang awam. Ia menyadari ada sesuatu yang ganjil pada kolom "Penyusutan Aset Tetap" tahun 2016 hingga 2026.
"Pak Ryuga, lihat angka desimal di kolom itu," bisik Kiara.
Ryuga mengernyitkan dahi. Di setiap akhir laporan bulanan, ada angka desimal yang tidak pernah bulat.
$102,44$, $102,45$, $102,46$.
"Itu bukan angka acak," Kiara menyambar tablet dari meja rapat dan dengan cepat memasukkan barisan angka desimal itu ke dalam algoritma konversi yang pernah diajarkan ayahnya. "Ini adalah koordinat mikro. Jika angka ini digabungkan, mereka membentuk urutan posisi gir pada sebuah mekanisme... mekanisme jam tangan ayah Anda!"
Ryuga terkesiap. "Maksudmu, laporan keuangan ini adalah manual cara membuka microchip yang asli?"
"Bukan hanya itu," Kiara menunjuk ke layar. "Lihat entitas pengirim dananya. Nama-nama perusahaan ini jika diambil huruf depannya secara vertikal membentuk sebuah pesan: 'S-A-M-S-U-L-S-L-E-E-P'. Samsul Tidur."
Dino dan Kesalahpahaman Akuntansi
Di dalam van, Dino mencoba ikut menganalisis data yang muncul di layarnya.
"Waduh, ini laporan keuangan atau mantra pemanggil setan?" Dino menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kenapa banyak sekali biaya untuk 'Perawatan Taman Bawah Air'? Memangnya ikan butuh tukang kebun?"
Dino mengetik cepat. "Tunggu dulu... Biaya 'Taman Bawah Air' ini mengalir ke sebuah panti asuhan di pinggir Jakarta. Dan siapa pengurus yayasannya? Istri Samsul!"
Dino menyalakan mikrofonnya.
"Kiara! Pak Bos! Samsul bukan cuma penghianat karena uang! Dia disandera! Bramasta membiayai seluruh pengobatan anak Samsul yang sakit keras lewat 'laporan keuangan' palsu ini! Samsul terikat kontrak darah dengan Pamanmu!"
Mendengar suara Dino dari earpiece Ryuga yang sengaja di-loudspeaker, Samsul yang berdiri di sudut ruangan tertunduk lesu. Tangannya yang memegang senjata perlahan gemetar.
"Itu benar, Tuan Muda," suara Samsul parau. "Sepuluh tahun lalu, anak saya butuh operasi jantung.
Tuan Bramasta adalah satu-satunya yang menawarkan bantuan... dengan imbalan saya harus memastikan kecelakaan orang tua Anda berjalan 'lancar'."
Ryuga merasa dunia seolah runtuh.
Pria yang ia anggap sebagai figur ayah kedua ternyata adalah orang yang memotong kabel rem mobil orang tuanya hanya demi uang operasi.
"Kau membunuh mereka demi nyawa anakmu?" Ryuga melangkah maju, amarahnya meluap, namun Kiara menahan lengannya.
"Ryuga, lihat angkanya lagi!" teriak Kiara. "Di laporan tahun 2016, biaya operasinya sudah lunas! Tapi Bramasta terus memalsukan laporan untuk mengancam Samsul! Samsul, kau tidak berhutang apa-apa lagi pada pria ini! Dia membohongimu selama sepuluh tahun!"
Samsul mendongak, matanya merah karena kemarahan yang baru saja tersulut. Ia menatap Bramasta yang kini mencoba merayap menuju pintu keluar.
Ryuga merasakan nafasnya sesak.
Di satu sisi ia ingin menghancurkan Samsul, disisi lain ia melihat betapa kotornya permainan pamannya.
Kiara menggenggam tangan Ryuga dengan sangat erat, menyalurkan ketenangan yang luar biasa.
"Jangan biarkan amarahmu merusak restorasi ini, Ryuga," bisik Kiara lembut. "Gunakan hukum, bukan peluru."
Ryuga menatap Kiara lama, lalu perlahan menurunkan kepalan nya. "Kau benar."
Ia berbalik menghadap dewan direksi yang masih terpaku. "Laporan keuangan ini adalah bukti konspirasi, pembunuhan berencana, dan pencucian uang. Detik ini juga, Bramasta Dewangga resmi diberhentikan secara tidak hormat."
Pintu ruang rapat didobrak oleh pihak kepolisian yang dipandu oleh informasi dari Dino. Bramasta berteriak histeris saat borgol melingkar di tangannya. Samsul menyerahkan senjatanya dengan tenang, menatap Ryuga untuk terakhir kalinya dengan tatapan penuh penyesalan sebelum dibawa pergi.
Setelah petugas kepolisian menggiring Bramasta keluar, ruang direksi yang megah itu mendadak terasa sangat luas dan hampa. Para pemegang saham lainnya bubar dengan wajah pucat, meninggalkan Ryuga dan Kiara di tengah ruangan yang masih menampilkan barisan kode keuangan di layar raksasa.
Ryuga berdiri terpaku menatap kursi kosong di ujung meja kursi yang selama sepuluh tahun diduduki oleh pria yang membunuh orang tuanya dengan tinta dan angka. Bahunya yang terluka tampak merosot, beban emosional yang ia pikul selama satu dekade akhirnya luruh, namun meninggalkan lubang besar di dadanya.
"Ini sudah berakhir," bisik Ryuga, suaranya hampir tidak terdengar di antara dengung AC ruangan.
Kiara melangkah mendekat, tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di samping Ryuga, membiarkan bahu mereka bersentuhan. Ia tahu, dalam perjalanan hubungan mereka, terkadang kehadiran lebih bermakna daripada kata-kata penghiburan yang klise.
Misteri di Balik Desimal Terakhir
"Tunggu," Kiara memicingkan mata ke arah layar. "Ada satu baris angka yang tidak masuk dalam algoritma laporan keuangan tadi. Lihat di bagian paling bawah, di kolom 'Cadangan Tak Terduga'."
Angka itu adalah 00:00:01.
Ryuga mengerutkan kening. "Satu detik?"
"Bukan angka mata uang. Itu durasi," Kiara dengan cepat menyambungkan kembali tabletnya ke sistem. "Ini adalah perintah eksekusi yang tertunda. Bramasta bukan hanya mencuri uang, dia memasang logic bomb di server utama perusahaan.
Jika dia ditangkap dan tidak memasukkan kode verifikasi setiap 24 jam, seluruh data operasional Dewangga Group akan terhapus dalam satu detik."
✨✨
Di dalam van, Dino yang tadi sudah sempat merayakan kemenangan dengan sisa bakwan, tiba-tiba tersedak.
"WADUH! Kiara! Pak Bos!" teriak Dino lewat saluran radio. "Sistemnya mulai menghitung mundur! Layarku berubah jadi merah semua! Ini lebih buruk daripada saat aku tidak sengaja menghapus folder foto mantan!"
Dino mengetik dengan kecepatan cahaya, namun keringat dingin membasahi dahinya. "Ini enkripsi tingkat tinggi. Aku butuh kunci fisik! Kunci itu ada di dalam jam tangan yang kau bawa, Kiara! Roda gir nomor 4 yang kau bilang magnetik itu, itu bukan cuma penyimpan data, itu adalah dongle fisik!"
Restorasi Terakhir di Meja Direksi
Kiara segera meletakkan jam tangan perak itu di atas meja direksi yang terbuat dari kayu mahoni mahal. Dengan tangan yang stabil tangan seorang ahli restorasi yang tidak boleh meleset satu milimeter pun ia membuka casing belakang jam tersebut menggunakan ujung pisau lipatnya.
"Ryuga, saya butuh bantuan Anda," ucap Kiara tegas. "Tahan roda imbangan ini agar tidak berputar saat saya memasukkan microchip-nya ke slot server meja ini."
Ryuga mendekat, jari-jarinya yang panjang dan artistik menyentuh mekanisme jam yang halus. Jarak mereka begitu dekat hingga Ryuga bisa merasakan detak jantung Kiara yang berpacu. Di tengah ancaman kehancuran perusahaan, momen ini terasa seperti restorasi paling intim yang pernah mereka lakukan.
"Sekarang!" teriak Kiara.
Klik.
Detik di layar berhenti di angka 00:00:00.01. Satu milidetik sebelum kehancuran total.
Seluruh lampu di gedung Dewangga Tower berkedip sekali, lalu kembali normal. Di layar muncul tulisan sederhana: AUTHENTICATED. ACCESS RESTORED.
Satu Detik Menuju Selamanya
Ryuga melepaskan nafas yang sejak tadi ia tahan. Ia menatap jam tangan di tangan Kiara, lalu menatap wanita di depannya.
"Kau menyelamatkan segalanya, Kiara. Lagi," ucap Ryuga lembut.
Kiara tersenyum tipis, mulai merapikan peralatan kecilnya. "Itu tugas asisten, kan? Memastikan bosnya tidak bangkrut dalam satu detik."
Ryuga meraih tangan Kiara, menahannya agar tidak pergi. "Tidak. Ini bukan soal pekerjaan. Kau merestorasi hidupku yang sudah mati sejak sepuluh tahun lalu."
Di luar jendela kaca besar, matahari mulai terbenam di ufuk Jakarta, menyiram ruangan itu dengan cahaya keemasan. Perasaan di antara mereka kini terasa begitu nyata, seperti detak jam yang akhirnya kembali sinkron setelah sekian lama rusak.
"Ayo pulang," ajak Ryuga.
"Ke mana? Mansion Anda atau apartemen sempit saya?" goda Kiara.
Ryuga terdiam sejenak, lalu tersenyum—senyum tulus pertama yang pernah Kiara lihat. "Kemanapun, asal kau yang memegang kuncinya."
ini juga teman kocak si Dino gangguin aja, 🤣🤣
tp seru dan tegang.. penasaran kode apa itu ya?