Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 : Dalam Gua.
[PoV Shen Yu]
Aku bisa mendengar semuanya.
Dan tentu saja aku bisa. Karena semesta punya selera humor yang buruk dan memutuskan bahwa bayi lima bulan adalah audiens ideal untuk konser kehancuran berskala hukum alam.
Dentuman pertama membuat dinding gua bergetar. Debu halus rontok dari langit-langit, jatuh perlahan seperti salju murahan. Dentuman kedua lebih dekat. Dentuman ketiga … ya, itu yang biasanya menandai bagian cerita di mana orang-orang normal sudah mati.
Jeritan berhenti terlalu cepat.
Aku menghela napas—secara mental. Paru-paru bayi ini belum mendukung ekspresi sinisme tingkat lanjut.
Baiklah.
Kita jelas tidak sedang piknik keluarga.
Tubuhku terbaring di pangkuan Ibu. Lin Mei. Wanita yang seharusnya sedang mengurus bayi, bukan yang harus mengajari bayinya berkultivasi selama beberapa bulan dan bersembunyi di gua sambil menunggu dunia runtuh. Tangannya menggenggam jariku. Erat. Terlalu erat. Seperti orang yang tahu satu-satunya hal yang masih bisa ia lakukan adalah tidak melepaskan.
Telapak tangannya dingin. Tubuhnya panas. Wajahnya pucat. Matanya menatap mulut gua seolah batu bisa tiba-tiba berbaik hati dan berubah menjadi tembok absolut.
Yu Yan di samping kami gemetar. Napasnya pendek-pendek. Bau keringat, besi, dan rasa bersalah bercampur jadi satu. Bau khas seseorang yang baru sadar bahwa keberanian tanpa kekuatan hanyalah bunuh diri yang lebih puitis. Wajar saja jika gadis ini merasa takut, tapi dia cukup tegar untuk gadis yang masih berusia dini.
Di luar gua, dunia sedang berisik.
Logam bertabrakan. Energi meledak. Aura ditekan sampai udara sendiri terdengar menjerit. Setiap benturan merambat masuk ke tulangku sebagai getaran halus, seperti dunia mengetuk-ngetuk sambil bertanya ... Kalian masih hidup?
Aku tahu jawabannya belum lama lagi berubah.
Dan di sanalah pikiranku.
Pikiran orang dewasa yang sudah mati sekali dengan cara paling bodoh mulai bekerja.
Oke.
Kita evaluasi situasi.
Aku bayi.
Mereka memburu kami.
Ini dunia kultivasi.
Peluang hidup? Menggelikan.
Aku tidak bisa bangun tanpa bantuan. Tidak bisa merangkak. Tidak bisa berdiri gagah dan berkata cukup. Kontribusi fisikku sejauh ini adalah, hangat, berat, dan sesekali mengeluarkan cairan biologis tanpa permintaan maaf.
Kalau ini Beijing, aku setidaknya bisa menyindir.
Di sini? Yang keluar dari mulutku hanya suara Gohh … aahh … yang bahkan tidak terdengar seperti protes eksistensial.
Sungguh penurunan karier yang mengesankan.
Lalu tekanan di luar berubah.
Bukan lebih kuat, lebih fokus.
Seperti dunia mengerutkan kening.
Aku merasakannya sebelum Ibu menegang. Sebelum Yu Yan menahan napas. Ada sesuatu di luar sana yang bukan sekadar menyerang, ia mencari. Dan itu tidak mencari mereka.
Ia mencari aku.
Hebat.
Benar-benar hebat.
Reinkarnasi premium edisi diburu sejak bayi.
Ingatan itu muncul tanpa izin.
Pria berjubah abu-abu. Energi gelap yang lengket. Tatapan yang tidak melihat manusia, hanya nilai. Dan cahaya keemasan yang dingin dan mutlak menghapusnya tanpa drama.
Dulu aku menyebutnya mimpi buruk.
Sekarang aku sadar itu trailer.
Aku menoleh ke dalam diriku sendiri. Bukan secara fisik, leher bayi ini bahkan belum bisa menopang kepala, tapi ke dalam, ke tempat yang tidak seharusnya aktif.
Titik kecil di dahiku.
Bukan cahaya.
Bukan energi.
Lebih seperti … tombol darurat yang tidak diberi label.
Tidak ada petunjuk penggunaan. Tidak ada peringatan efek samping. Tidak ada tulisan kecil bertuliskan penggunaan oleh bayi dapat menyebabkan kehancuran regional.
Dunia ini kejam. Ia berasumsi semua penggunanya tahu apa yang mereka lakukan.
Aku tidak mengaktifkan apa pun.
Aku hanya berpikir, dengan kelelahan anak SMA yang sudah terlalu sering kalah.
Kalau aku mati lagi, setidaknya jangan sekarang.
Dan jangan sebagai bayi tak berguna.
Itu saja.
Cahaya itu berdenyut.
Bukan ledakan. Bukan sinar dramatis. Lebih seperti klik kecil atau sinyal yang dikirim ke alamat lama.
Alamat darah.
Dan aku tahu saat itu tersambung.
Lin Jie.
Bukan karena aku melihatnya dengan mata spiritualku. Tapi karena dunia di luar … tersendat. Seperti seseorang yang sedang berlari lalu tiba-tiba menoleh ketika namanya dipanggil.
Dan di situlah aku tahu.
Ah.
Aku baru saja melakukan kesalahan fatal.
Satu denyut.
Satu detik perhatian terbelah.
Cukup bagi satu Jiwa Terkurung untuk menyelinap. Udara di dalam gua mendingin. Bukan dingin suhu yang dingin niat. Seperti konsep kematian sedang merapatkan jarinya.
Ibu berteriak.
“JIE!”
Suara itu pecah. Bukan teriakan minta tolong. Itu teriakan orang yang sadar dunia baru saja melewati garis terakhirnya.
Aku ingin bilang tenang.
Yang keluar hanya ocehan bayi.
Kontribusi konsisten, seperti biasa.
Benturan terjadi.
Aku tidak melihatnya.
Aku merasakannya.
Dari bahu Lin Jie, bukan darah yang keluar.
Cahaya.
Cahaya perak menyembur seperti matahari yang muak hidup sebagai manusia. Jiwa Terkurung menjerit, bukan ke udara, tapi ke struktur keberadaannya sendiri lalu terurai menjadi abu bayangan.
Lenyap.
Aku diam.
Oh.
Jadi begitu.
Tentu saja.
Liontin itu menyala. Tanah bergetar. Retakan menjalar. Simbol-simbol kuno muncul seperti dunia membuka arsip lama dan berkata. Baiklah, kita pakai ini.
Dan kemudian …
Naga perak raksasa muncul.
Tidak marah. Tidak mengaum. Tidak pamer.
Ia hanya ada.
Dan keberadaannya saja sudah cukup untuk membuat semua orang—manusia, senjata serta ego yang menyadari bahwa mereka salah alamat sejak awal.
“KALIAN AKAN MELUPAKAN.”
Bukan ancaman.
Itu keputusan sistem.
Cahaya menyapu. Senjata menyerah. Artefak mati dengan tenang. Para pemburu jatuh, bukan karena diserang, tapi karena konsep perlawanan dicabut dari mereka.
Sunyi.
Naga menghilang. Cahaya padam. Dunia kembali berpura-pura normal.
Lin Jie berlutut. Ibu dan Yu Yan berlari. Semua orang bernapas seperti baru saja lolos dari tagihan yang seharusnya mustahil dibayar.
Dan aku?
Aku mengoceh pelan.
Bukan karena tidak mengerti.
Tapi karena tubuh ini belum mendukung monolog sarkastik dewasa.
Sebelum aku tertidur, satu kesimpulan terakhir mengendap dengan dingin dan jujur.
Perjalanan ini baru saja masuk episode donghua epik.
Dunia ini jelas tidak seimbang.
Dan keluargaku … tentu saja punya naga.
Sial.