Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.
Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.
Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.
Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,
Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melawan Babi Hutan Salju Kosong
Makhluk itu tingginya lebih rendah dari seekor kuda, namun tubuhnya jauh lebih lebar dan berat. Punggungnya melengkung ke bawah, seolah tulang-tulangnya terlalu letih untuk menopang tubuhnya sendiri. Bahkan saat berdiri diam, bentuknya menyerupai gundukan salju kotor yang tak bernyawa.
Bulunya putih kusam, sama sekali tidak berkilau. Seperti salju yang telah diinjak berulang kali. Di beberapa bagian leher, bahu, dan paha, bulu-bulu itu rontok, memperlihatkan kulit abu pucat dengan retakan halus, menyerupai tanah beku yang lama ditinggalkan panas.
Konon, pendekar yang melihatnya untuk pertama kali sering merasakan satu pikiran aneh yang muncul tanpa sebab seperti...
“Aku bisa mengalahkannya… tapi untuk apa?”
Dorongan untuk menyerang melemah, semangat bertarung menguap perlahan, seolah ada kabut dingin yang menyelimuti hati dan mengikis niat membunuh sedikit demi sedikit.
Dan sekarang, Zoran pun juga merasakannya. Dadanya terasa hampa. Tangannya yang memegang pedang sedikit mengendur tanpa sadar. Ada bisikan halus di benaknya, mengajak untuk mundur, untuk menghindar, untuk tidak peduli.
Untuk apa?
Tidak ada artinya.
Namun Zoran menggertakkan giginya. Dia menekan perasaan itu dengan paksa. Jika dia menyerah pada sensasi aneh ini, maka dia tidak akan menjadi kuat.
Zoran menggenggam pedangnya lebih erat, urat-urat di lengannya menegang. Lalu... Dia melesat.
Boom!
Kekuatan Raga Spiritual tingkat satu meledak dari tubuh Zoran. Salju di bawah kakinya terhambur saat dia menebaskan pedangnya ke arah Babi Hutan Salju Kosong dengan seluruh tekad yang dia miliki.
Pedang itu membelah udara bersalju.
Namun tepat sebelum tebasan mengenai tubuhnya, babi hutan itu menoleh lalu melompat dengan gerakannya yang lambat dan tampak santai... Bahkan terlihat malas.
Namun cukup untuk menghindari tebasan Zoran dengan jarak tipis.
Zoran tidak berhenti. Melihat serangannya meleset, dia segera menjejak tanah dan kembali melompat, memutar tubuhnya lalu menebas sekali lagi tanpa memberi celah bernapas.
Babi hutan itu mendarat, tubuh beratnya menghantam salju tanpa suara berarti. Ia kembali bergerak dengan tenang dan tidak panik, tidak terburu-buru, dia menghindari serangan kedua dengan cara yang sama.
Tenang.
Seolah pertarungan ini tidak lebih dari gangguan kecil.
Zoran merasakan tekanan aneh itu kembali menekan pikirannya. Baru saat itulah dia teringat satu kalimat penting dari buku yang dibacanya:
Babi Hutan Salju Kosong adalah binatang spiritual dengan kecerdasan rendah,
namun kekuatannya berada di Raga Spiritual tingkat empat.
Tiga tingkat di atasnya.
Namun karena sifat bawaannya yang malas, Babi Hutan Salju Kosong hampir tidak pernah berlari. Bahkan saat diserang, reaksinya sering kali hanya melompat ringan atau bergerak menyamping dengan langkah santai hingga lebih mirip orang yang menghindari genangan air di jalan daripada makhluk yang sedang diserang.
Dalam banyak kasus, ia bahkan tidak merasa perlu menghindar. Bahkan mungkin bergerak pun terasa merepotkan baginya.
Selain itu makhluk ini juga sangat jarang terlibat pertarungan. Selain karena makanannya hanyalah tumbuhan sederhana seperti rumput liar dan akar beku, ia juga hampir tidak pernah berinteraksi dengan makhluk hidup lain. Padahal, dengan kekuatan setara Raga Spiritual tingkat empat, jika ia mau sedikit saja bergerak, berburu, atau menyerang, ia bisa dengan mudah mendapatkan makanan yang jauh lebih lezat.
Mungkin dia merasa dunia di sekitarnya… tidak cukup menarik.
Wung!
Tiba-tiba kepala Zoran berdengung hebat. Pandangan matanya sedikit kabur, lalu sebuah rasa aneh menyebar cepat di pikirannya yakni perasaan hampa, kosong, kehilangan minat. Keinginan untuk bertarung menguap, digantikan oleh perasaan lelah yang tidak wajar.
Untuk apa…
Bergerak itu melelahkan…
Itulah kemampuan unik milik Babi Hutan Salju Kosong.
Sebuah serangan mental pasif yang sangat jarang digunakannya, bukan untuk membunuh, bukan untuk menang, melainkan sekadar agar tidak diganggu.
Zoran terkejut. Dia segera mengangkat tangannya dan mengetuk kepalanya sendiri dengan keras. “Sadar… sadar!” geramnya, memaksa pikirannya tetap terjaga.
Perasaan hampa itu memang sedikit memudar, namun saat dia kembali mengangkat pedangnya dan bersiap menyerang... dia membeku.
Babi Hutan Salju Kosong itu… tidak ada.
“Apa babi itu sudah lari jauh?” pikir Zoran cepat. Namun sebelum pikirannya sempat bekerja lebih jauh...
Brak!
Sebuah benturan keras menghantam punggung Zoran dari belakang.
Tubuhnya terhempas jauh ke depan, menghantam tanah bersalju dan terguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti. Napasnya terhenti sesaat akibat dampak serangan itu.
Saat Zoran dengan susah payah mengangkat kepalanya, dia melihat Babi Hutan Salju Kosong itu.
Makhluk itu berdiri beberapa langkah darinya, lalu… berjalan menjauh dengan santai. Tidak menoleh. Tidak memastikan. Bahkan tidak peduli. Seolah serangan barusan hanyalah gerakan refleks, bukan upaya membunuh.
Zoran terdiam di tanah, darah menetes dari sudut bibirnya. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar menyadari bahwa makhluk ini bahkan tidak menganggapnya sebagai ancaman.
“Sialan!” umpatnya keras.
Dia memang sudah terbiasa dipandang sebelah mata, dianggap sampah, diinjak, diperlakukan seperti tidak ada. Tapi ini pertama kalinya dia diperlakukan demikian oleh seekor babi.
Bukan ditakuti.
Bukan dilawan.
Malah diabaikan.
Boom
Amarah Zoran meledak. Tanpa ragu, dia mencengkeram pedangnya dan melesat ke depan, salju terhambur di belakang kakinya.
“Matilah!!” teriak Zoran sambil menusuk lurus ke arah punggung Babi Hutan Salju Kosong.
Babi itu benar-benar terkejut. Karena terlalu santai… karena terlalu malas… ia bahkan tidak sempat menghindar.
Tusk!
Pedang Zoran menghantam punggungnya, namun wajah Zoran langsung berubah karena pedangnya tidak menembus sepenuhnya. Ujung bilah itu hanya masuk sebagian, tertahan oleh kulit tebal yang keras seperti baja.
“Apa kulitnya terbuat dari besi?!” umpat Zoran kesal, urat di lengannya menegang.
Namun dia tidak berhenti.
Tanpa memberi kesempatan bernapas, Zoran mengerahkan energi spiritual ke seluruh lengannya. Aura samar menyelimuti pedangnya saat dia menekan dengan sekuat tenaga.
Babi Hutan Salju Kosong menjerit kesakitan.
Raungannya dalam, berat, mengguncang udara dingin di sekitarnya. Tubuh besarnya bergetar hebat saat ia mencoba mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri.
Melihat itu, Zoran terkekeh dingin dalam hati. Dia segera melompat ke depan, menggunakan tubuh babi itu sebagai pijakan. Lalu dengan gerakan cepat dan nekat, dia melepaskan genggaman pada pedangnya lalu menarik belati dari pinggangnya.
Dalam satu tarikan napas...
Tusk!
Belati Zoran menghantam mata Babi Hutan Salju Kosong.
Jeritan kali ini jauh lebih keras, penuh rasa sakit dan kemarahan. Darah hangat memercik di salju putih, menciptakan kontras yang mencolok.
Karena Zoran tidak lagi menahan pedang yang tertancap di punggungnya, babi itu akhirnya berhasil melepaskan diri. Dengan tubuh berat yang kini berlumuran darah dan satu mata rusak, ia mengamuk sejenak lalu berbalik.
Dan berlari.
Tidak santai lagi.
Tidak malas lagi.
Ia berlari menjauh dengan langkah berat, meninggalkan jejak darah panjang di salju.
Zoran berdiri terengah-engah di tempatnya, dadanya bergemuruh, belati masih meneteskan darah.