NovelToon NovelToon
Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Reinkarnasi / Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:553
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.

Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"

Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.

"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."

Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.

Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.

Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Dingin di Sungai

Shen Yi dan Lian'er berjalan menyusuri tepi sungai kecil yang mengalir di belakang pasar ikan. Matahari pagi baru saja naik, cahayanya masih lemah, membuat air sungai terlihat abu-abu dan diam. Bau lumpur basah bercampur amis ikan dari pasar yang sudah mulai sepi. Beberapa nelayan masih membongkar jaring, tapi gerakan mereka lambat, seperti orang yang takut bernapas terlalu dalam.

Shen Yi membawa botol kaca kecil dan sebatang kayu panjang untuk ambil sampel air dari tengah sungai. Lian'er berjalan di sampingnya, tangannya memegang daun teratai kering yang sudah dia siapkan di sabuk. Keduanya tak banyak bicara—hanya langkah dan napas yang terdengar, seolah kota di belakang mereka sudah mulai menahan napas.

“Kita mulai dari sini,” kata Shen Yi pelan saat mereka sampai di titik di mana sungai membelok tajam, dekat saluran pembuangan dari pasar. “Air dari pasar mengalir ke sini. Kalau ada yang tercemar, pasti di bagian ini.”

Lian'er mengangguk. “Aku rasakan dinginnya lebih kuat di sini. Seperti… ada sesuatu yang hidup di air.”

Shen Yi menurunkan botol ke sungai dengan kayu. Air yang naik tampak jernih pada pandangan pertama, tapi saat dituang ke botol, ada kilau hitam tipis yang mengendap di dasar—sama seperti di sumur kemarin, tapi lebih pekat.

Dia meneteskan ramuan penghangat. Air bergetar. Bintik hitam kecil muncul, berusaha melawan, tapi akhirnya mencair jadi gelembung kecil yang hilang.

“Ini sumbernya,” kata Shen Yi tegang. “Sungai ini tercemar es hitam. Air dari pasar dan kampung nelayan mengalir ke sini, lalu ke sumur-sumur kecil. Penyakit ini menyebar lewat air minum dan masak.”

Lian'er memandang ke hulu sungai. “Hulu sungai ada di bukit belakang kota. Ada mata air kecil di sana. Kalau mata air itu juga tercemar, kita harus tutup aliran ke sungai.”

Shen Yi mengangguk. “Kita periksa sekarang. Kalau mata air bersih, kita bisa tutup saluran dari pasar ke sungai. Kalau tidak… kita harus cari sumber yang lebih dalam.”

Mereka berjalan menyusuri tepi sungai menuju hulu. Jalan semakin curam, rumput liar mulai menggantikan tanah berlumpur. Udara semakin dingin, meski matahari sudah naik lebih tinggi.

Saat sampai di bukit kecil, mata air muncul: sebuah celah batu kecil dari mana air mengalir jernih dan pelan. Shen Yi berlutut, mengambil sampel lagi. Air ini tampak bersih—tak ada kilau hitam.

“ Mata air bersih,” kata Shen Yi lega. “Sumbernya bukan dari alam. Ini dari pasar atau kediaman bupati. Saluran pembuangan di pasar yang bermasalah.”

Lian'er mengangguk. “Kita harus kembali dan perintahkan tutup saluran itu. Dan periksa semua sumur di kota. Kalau masih ada yang tercemar, kita bersihkan dengan ramuan teratai.”

Mereka berbalik hendak kembali, tapi tiba-tiba Lian'er berhenti. Dia memegang dada, wajahnya pucat.

“Shen Yi… aku merasa dingin. Di dalam.”

Shen Yi langsung memeriksa nadi Lian'er. Dingin di meridian paru-parunya—sama seperti pasien di aula. Dia menarik lengan baju Lian'er. Di pergelangan tangannya, bintik hitam kecil muncul—seukuran biji wijen, tapi jelas.

Lian'er menatap bintik itu dengan mata melebar. “Aku… terkena?”

Shen Yi merasa jantungnya berhenti sejenak. “Kau rawat pasien terlalu dekat. Kontak langsung. Aku seharusnya lebih hati-hati.”

Lian'er menggeleng cepat. “Ini bukan salahmu. Aku yang pilih rawat mereka. Tapi… kalau aku sakit, siapa yang bantu kau?”

Shen Yi mengeluarkan daun teratai kering dari sabuk Lian'er, menggosokkan ke bintik itu. Energi putih mengalir, bintik memudar, tapi tak hilang sepenuhnya.

“Kita harus kembali sekarang. Kau butuh akupunktur intensif dan ramuan. Aku tak mau kau memburuk.”

Lian'er memegang tangan Shen Yi. “Aku baik-baik saja. Bintik ini kecil. Kita lanjut cari sumber. Kalau tak temukan, aku juga tak akan sembuh.”

Shen Yi ragu. Tapi dia tahu Lian'er benar. Mereka melanjutkan penyelidikan—kembali ke pasar, periksa saluran pembuangan dari kios ikan. Di salah satu saluran, mereka temukan genangan air hitam pekat yang mengalir pelan dari bawah kios yang sudah tutup.

Shen Yi mengambil sampel. Air itu penuh bintik hitam kecil yang bergerak seperti makhluk hidup.

“Ini sumbernya,” kata Shen Yi tegang. “Air limbah dari kios ikan ini mengalir ke sungai. Seseorang mungkin buang sesuatu yang tercemar es hitam di sini.”

Lian'er mengangguk. “Kita tutup saluran ini sekarang. Dan periksa kios-kios lain. Kalau ada yang sembunyikan barang tercemar, kita temukan.”

Mereka kembali ke kediaman bupati dengan cepat. Raden Arya menunggu di aula timur, di mana pasien sudah bertambah jadi tujuh puluh orang. Beberapa mulai mengigau dingin, beberapa sudah tak sadar.

Shen Yi melapor langsung. “Sumbernya dari saluran pembuangan di pasar ikan. Ada genangan air hitam pekat. Ini yang mencemari sungai dan sumur. Kita harus tutup semua saluran dari pasar ke sungai. Bersihkan dengan ramuan teratai dan bakar barang yang tercemar.”

Raden Arya mengangguk. “Aku akan perintahkan sekarang. Tapi… ada kabar buruk. Paman ayahanda sudah kumpulkan massa lagi di luar gerbang. Mereka bilang kalau karantina diperpanjang, mereka akan serang aula timur untuk bebaskan pasien. Mereka bilang pasien diisolasi untuk dikorbankan.”

Lian'er tersentak. “Mereka gila. Pasien itu butuh rawat, bukan dibebaskan.”

Shen Yi menatap Raden Arya. “Yang Mulia… kita butuh waktu. Kalau massa serang aula, pasien akan mati lebih cepat. Kita harus bicara lagi dengan rakyat.”

Raden Arya menggeleng. “Mereka tak mau dengar. Paman ayahanda sudah sebarkan rumor bahwa kau dan Nona Lian sengaja sebarkan penyakit untuk dapat hadiah dari bupati.”

Shen Yi diam sejenak. Lalu dia berdiri. “Aku akan ke alun-alun lagi. Sendiri. Biar mereka lihat aku tak takut. Aku akan rawat pasien di depan mereka kalau perlu.”

Lian'er memegang lengannya. “Tidak! Terlalu berbahaya. Mereka bisa lempar batu atau lebih buruk.”

Shen Yi memandangnya. “Kalau aku tak coba, mereka akan serang aula. Pasien mati. Kau sakit. Aku tak bisa biarkan itu.”

Lian'er menatapnya lama. Lalu dia mengangguk pelan. “Baik. Tapi aku ikut. Kita berdua.”

Shen Yi menggeleng. “Kau sakit. Bintik di tanganmu masih ada. Kau tetap di aula. Lindungi pasien. Aku akan kembali.”

Lian'er ingin protes, tapi melihat mata Shen Yi—tekad yang tak bisa digoyahkan—dia akhirnya mengangguk. “Janji kembali. Janji.”

Shen Yi mencium kening Lian'er. “Janji.”

Dia berjalan keluar kediaman bupati, menuju alun-alun. Raden Arya mengikuti dari belakang dengan beberapa tentara, tapi Shen Yi mengangkat tangan menghentikan mereka.

“Biarkan aku sendirian dulu. Kalau tentara ikut, mereka akan semakin marah.”

Shen Yi berjalan ke alun-alun. Kerumunan sudah menunggu—ratusan orang, obor masih menyala meski pagi sudah terang. Pangeran Wijaya berdiri di depan, dikelilingi pengikutnya.

Shen Yi berjalan ke tengah alun-alun, berdiri di depan massa tanpa senjata, tanpa perlindungan.

“Rakyat!” katanya dengan suara yang tenang tapi menggema. “Aku Shen Yi. Aku tahu kalian takut. Aku tahu kalian marah. Anak-anak kalian sakit. Orang tua kalian sakit. Aku juga takut. Istriku sekarang sakit karena rawat pasien. Tapi aku tak lari. Aku di sini. Aku rawat siapa pun yang mau. Tanpa bayaran. Tanpa syarat. Kalau kalian percaya, ikut aku ke aula timur. Aku akan rawat kalian di depan mata kalian. Kalau tak percaya… lempar batu sekarang.”

Kerumunan diam. Beberapa orang menangis. Seorang ibu maju, membawa anaknya yang sudah bintik hitam di leher.

“Tolong anakku… dia demam sejak kemarin.”

Shen Yi berlutut di tanah alun-alun, mengeluarkan jarum akupunktur. Dia menusuk titik paru-paru anak itu dengan cepat dan tepat. Anak itu tersentak, lalu napasnya lebih lega. Bintik hitam memudar sedikit.

Ibu itu menangis haru. “Terima kasih… terima kasih…”

Beberapa orang lain maju. Shen Yi rawat satu per satu di alun-alun—akupunktur, ramuan, kompres teratai. Kerumunan mulai mendekat, bukan untuk serang, tapi untuk lihat. Beberapa mulai percaya.

Pangeran Wijaya berteriak dari belakang. “Jangan dengar dia! Ini tipuan!”

Tapi suaranya tenggelam. Massa mulai bertepuk tangan pelan. Beberapa berlutut, meminta rawat.

Shen Yi terus bekerja. Keringat membasahi dahinya. Tapi dia tak berhenti.

Di kediaman bupati, Lian'er memandang dari jendela aula timur. Dia tersenyum tipis meski bintik hitam di tangannya masih ada.

“Shen Yi… kau selalu bisa.”

Malam itu, karantina tetap berlaku. Massa bubar dengan tenang. Raden Arya mengumumkan perpanjangan karantina dengan dukungan rakyat.

Tapi di aula timur, pasien masih bertambah. Bintik hitam masih menyebar.

Dan di dalam tubuh beberapa pasien, dingin itu mulai bernapas lebih dalam—seperti menunggu momen untuk bangkit lagi.

1
Kashvatama
Ceritanya semakin jauh bab semakin menegangkan. tidak cuma bercerita tentang drama tetapi konflik eksternal
Kashvatama
yuk follow akunku untuk dapat info update terbaru. sebentar lagi aku release judul baru nih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!