Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan malam.
Ketika malam tiba, malam itu seharusnya berjalan biasa saja.
Aku dan Arven duduk berdampingan di sofa, lampu ruang tengah diredupkan, televisi menyala tanpa benar-benar kami tonton. Aku menyandarkan kepala ke bahunya, menikmati keheningan yang ada, sampai tiba-tiba.
Bel apartemen berbunyi.
Aku tersentak kecil. Suara itu terdengar terlalu nyaring di ruang yang jarang sekali menerima tamu. Bahkan terlalu asing. Selama aku tinggal di sini, tidak pernah ada siapa pun yang datang. Tidak satu pun.
Aku refleks menoleh ke arah Arven.
Wajahnya berubah.
Bukan terkejut. Rahangnya mengeras, tubuhnya menegang.
Aku mulai berdiri. "Aku buka."
Arven bangkit terlalu cepat, hampir menjatuhkan bantal di sofa.
"Biar aku yang buka."
Nada suaranya dingin. Ada sesuatu di sana yang membuat langkahku terhenti. Ia berjalan ke pintu tanpa menoleh ke arahku agi.
Aku berdiri di belakangnya, mencoba menjaga jarak.
Pintu terbuka.
"Haiii~"
Suara itu masuk ke telingaku begitu saja. Suara yang hangat dan ceria.
Dadaku langsung mengencang.
"Maya?" suaraku keluar lebih pelan dari yang kuharapkan.
Arven berdiri di ambang pintu, tubuhnya sedikit menghalangi pandangan, tapi aku tetap bisa melihat wajah Maya di baliknya. Ia tersenyum lebar, seperti tidak ada ketegangan sama sekali di udara.
"Maya, kan?" ucap Arven.
Nada suaranya datar.
"Iya," Maya terkekeh kecil. "Hehe. Sebenarnya tadi aku lihat kalian masuk ke gedung ini, jadi aku tanya pak satpam. Untung aja dia ngasih tahu."
Aku melihat ekspresi Arven mengeras.
"Anda tahu tidak," katanya, suaranya naik sedikit, "itu melanggar privasi?"
Nada itu membuatku refleks melangkah maju.
"Woah, woah," Maya mengangkat kedua tangannya, masih berusaha santai. "Santai dong. Aku cuma mau ketemu temen aku aja. Apa salahnya?"
Aku berdiri di antara mereka sebelum suasana berubah lebih buruk.
"Ven," panggilku pelan, menyentuh lengannya. Otot di balik bajunya terasa tegang. "Nggak apa-apa."
Ia menoleh ke arahku. Tatapannya tajam, lalu melunak sedikit saat bertemu mataku. Aku menggeleng kecil, memohon tanpa kata.
Aku menoleh ke Maya dan tersenyum canggung. "Masuk aja."
Arven tidak langsung bergerak, tapi akhirnya ia mundur selangkah, memberi jalan. Maya masuk dengan langkah ringan, seolah tidak merasakan hawa dingin yang tertinggal di belakang pintu.
Kami duduk di ruang tengah. Maya di sofa, aku di sampingnya. Arven bergerak ke dapur tanpa berkata apa-apa. Aku bisa mendengar bunyi gelas, sendok, sesuatu diletakkan sedikit lebih keras dari seharusnya.
Maya mulai bercerita, tentang hal-hal kecil. Tentang pekerjaannya, tentang rencana pernikahannya, tentang hidupnya yang terasa penuh. Aku mendengarkan, sesekali tertawa kecil, merasa..... normal. Seperti diriku yang dulu, meski aku tak ingat sepenuhnya.
Arven kembali dengan teh dan camilan. Ia meletakkannya di meja, lalu berdiri agak menjauh, bersandar di dinding. Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari kami.
"Eh," kata Maya tiba-tiba, nadanya ceria. "Lain kali kita main bareng yuk."
Kalimat itu jatuh terlalu ringan untuk dampaknya.
Aku merasakan Arven berhenti bergerak. Udara seakan mengeras.
"Tidak," katanya cepat. Terlalu cepat. "Itu enggak perlu."
Aku menoleh kaget. Maya juga.
"Ven!" aku menyentuh lengannya lagi, kali ini lebih kuat. "Cuma main sebentar."
Ia menatapku, lalu ke Maya. Rahangnya kembali mengeras. Aku bisa merasakan ia sedang menahan sesuatu. Karena ada orang lain di sini, ia tidak bisa menutupnya seperti biasa.
"Seren belum pulih," katanya akhirnya, suaranya ditekan rendah. "Aku enggak mau dia capek."
"Aku baik-baik aja," kataku pelan, hampir memohon.
Maya tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Santai aja, mas. Aku juga nggak bakal culik dia."
Aku bisa merasakan tangan Arven mengepal.
Aku menatapnya lama. Ada rasa bersalah di dadaku. Aku tahu ia tidak suka ini. Tapi aku juga tidak ingin Maya merasa ditolak begitu saja.
Akhirnya, Arven menghela napas panjang.
"Baiklah," katanya, suaranya terdengar terkontrol dengan susah payah. "Tapi harus kabarin aku."
Ia menoleh ke arahku. Tatapannya tajam tapi penuh tuntutan.
"Jangan jauh-jauh," lanjutnya. "Kalau enggak main di sini aja."
Aku mengangguk cepat. "Iya."
Maya tersenyum lebar, seolah tidak menangkap apa yang sebenarnya baru saja terjadi. "Deal!"
Ia berdiri tak lama kemudian, pamit dengan pelukan singkat ke arahku. Saat pintu tertutup kembali, apartemen itu terasa lebih sempit dari sebelumnya.
Aku berdiri di tengah ruang tengah, teh di meja sudah dingin.
Arven tidak langsung menoleh.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa kedatangan Maya bukan sekadar kunjungan.
Lebih seperti kesempatan untukku bisa lebih bebas.
Pintu akhirnya tertutup pelan setelah Maya pamit. Bunyi kuncinya nyaris tak terdengar, tapi keheningan yang menyusul justru terasa jelas, menggantung di udara.
Aku masih berdiri di dekat pintu, ponsel di tanganku. Nama Maya baru saja tersimpan. Ada rasa hangat kecil di dadaku karena kembali menemukan potongan masa lalu, tapi bersamaan dengan itu muncul rasa tidak enak yang samar.
Aku menoleh ke arah Arven.
Ia berdiri tidak jauh dariku. Wajahnya tenang, tapi aku bisa melihat rahangnya sedikit mengeras, lalu mengendur lagi, seolah ia sedang menahan sesuatu. Tatapannya turun sebentar ke lantai, bukan ke arahku, bukan ke pintu.
"Kamu tukeran nomor sama dia," katanya akhirnya.
Nada suaranya datar, hampir lembut. Tidak ada marah di sana. Hanya sebuah pernyataan yang keluar dengan hati-hati.
Aku mengangguk pelan. "Iya..dia kan temen lama aku."
Arven menarik napas dalam-dalam. Dadanya naik, lalu turun perlahan. Ia mengangkat kepalanya, menatapku.
Tatapannya membuatku semakin merasa bersalah.
"Oke," ucapnya singkat.
Hanya satu kata, tapi cara ia mengatakannya seperti orang yang sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Tangannya terangkat, lalu berhenti di udara sejenak, sebelum akhirnya ia mengusap tengkuknya sendiri, kebiasaan kecil yang selalu muncul saat ia gelisah.
"Aku cuma," Ia terdiam, alisnya sedikit berkerut. "Aku cuma kaget aja."
Aku ingin bilang maaf. Ingin menjelaskan bahwa semuanya terjadi begitu cepat, bahwa aku tidak ingin menolak Maya di depan pintu. Tapi saat melihat wajah Arven seperti itu menahan emosinya, membuatku terdiam.
Ia melangkah mendekat, jaraknya cukup dekat sampai aku bisa melihat lelah di matanya. Tapi senyum kecil muncul, tipis, hampir dipaksakan.
"Kamu seneng ketemu temen lama," katanya pelan. "Itu wajar."
Nada itu membuat dadaku terasa semakin berat.
Arven mengulurkan tangannya, Ia hanya menyentuh pergelangan tanganku sebentar, sentuhan ringan, seolah memastikan aku tidak takut padanya.
"Lain kali," lanjutnya hati-hati, "kalau ada apa-apa bilang aku dulu ya."
Perkataannya seperti permintaan yang ia turunkan setinggi mungkin agar tidak terdengar mengikat.
Aku mengangguk lagi, kali ini lebih cepat. Rasa bersalah menekan dadaku, membuatku sulit menatapnya lama-lama.
"Iya," bisikku.
Arven menghela napas, lalu tersenyum kecil. Senyum yang lembut, matanya lagi-lagi tidak sepenuhnya ikut tersenyum. Ada sisa emosi yang ia kubur rapi, demi aku.
"Yaudah," katanya, suaranya kembali hangat. "Udah malem. Kamu istirahat ya."
Ia berbalik lebih dulu, berjalan ke arah sofa, seolah memberi jarak agar aku tidak merasa terpojok. Televisi dinyalakan, volumenya rendah, hanya untuk mengisi ruang yang terlalu sunyi.
Aku duduk di sampingnya beberapa detik kemudian. Bahu kami hampir bersentuhan.
Arven menyandarkan punggungnya, menatap layar tanpa benar-benar fokus. Tangannya terletak di dekat tanganku, ia tidak lagi menggenggam tanganku, tapi cukup dekat untuk membuatku tahu ia ada di sampingku, tanpa dia bilang aku tahu. Arven sedang menahan banyak hal yang tidak ia ucapkan, hanya karena aku adalah Seren.