Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.
Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?
Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Berperan - POV Nareya
Aku menggerutu dengan frustasi pada diri sendiri di depan cermin. Aku membasuh wajah berkali-kali, dengan harapan bisa menghilangkan rasa maluku. Sialan, pasti Kala sudah menertawakanku tadi karena keraguanku mengambil pakaian dalamnya. Bisa saja dia berfikiran tidak senonoh. Rasanya aku harus keramas agar kepalaku berhenti berisik.
Dingin, sangat dingin sampai kulit jari-jari keriput. Aku tidak mau berangkat dalam kondisi rambut basah. Aku mencoba berkali-kali untuk menata rambutku. Kesialan yang ke dua hari ini, hairdryer rusak. Kempes tanpa volume, lurus tak berbentuk, lebih mirip tikus got. Tidak ada pilihan lain aku harus mengikat model slik, meski aku membenci. Pipiku jadi terlihat lebih berisi. Ku garis stick contour tanpa ragu untuk memangkas lemak pipi. Perfect, meski ini bukan gayaku. Aku cukup cerdik meski kesialan berkali-kali menimpaku.
Kala adalah mantan atasanku yang ku nikahi untuk membayar hutang. Dia sangat kaya raya. Itu sama sekali bukan alasanku masih di sini. Kelicikan dia sebagai pengusaha itu membuatku tertarik untuk mempelajarinya. Dia sangat tertutup, apa lagi keluarganya. Setahun lebih aku tinggal di tempat yang sama bahkan tidak mengerti sifat aslinya. Tapi satu hal yang aku tau, kata orang dia gay.
“Kamu belum juga berangkat?”
Kala duduk dengan laptop menyala di meja makan.
“Belum, lama sekali kamu mandi?”
Kala bertanya singkat dengan suara datar. Bagaimana dia melakukanya? Bahkan meski menyebalkan masih terlihat tampan. Rambut rapi, setelan jas yang aku pilihkan, badan tegap, kulit kecoklatan, meski bodoh tak menanggapi perubahan sebutanku dari “lo” menjadi “kamu”. Aku mengabaikan kekaguman yang tidak semestinya.
“Iya hairdryer rusak, jadi harus menata rambut lebih lama”
Aku berusaha menghilangkan kegugupan dan duduk di sebelahnya. Mengambil sandwich buatanku sendiri untuk sarapan. Untunglah rasanya tidak buruk, jadi aku nggak bakal dapat ejekan Kala lagi.
“Aku mau berangkat ke butik, kamu kasih izin nggak?”
Aku melirik sekilas ke laptopnya, dia lagi meeting sepertinya. Tapi aku gak mau juga terlalu terkesan butuh izin dari Kala. Jadi aku berdiri di detik ke dua dia menyentuh tombol mute di laptop.
“Berangkat dengan saya, kamu bisa siap-siap dulu, saya selesaikan meeting sepuluh menit.”
Kala memintaku menunggu dia selesai meeting dengan cara dia. Dia selalu seperti itu, selalu mau terlihat benar.
“Aku udah siap kok. Baiklah aku tunggu sepuluh menit.”
Aku menurutinya supaya aku semakin dekat dengan dia. Sudah terlanjur jadi istrinya gak mungkin harus jadi janda sia-sia. Setidaknya sekali seumur hidup bisa pegang kelemahan salah satu orang kaya ini. Aku senang setidaknya lebih mudah karena aku dikaruniai satu gen bagus, cantik. Selain itu semua soal gen kemalangan yang tidak ku inginkan.
Bisa-bisanya Kala sama sekali tidak terganggu padahal aku tidak mengalihkan mata sama sekali. Dia membahas soal bisnis, banyak istilah yang tidak ku ketahui. Sangat membosankan. Sepuluh menit itu jadi terasa satu jam. Akhirnya aku menopang dagu di atas meja, karena mengantuk.
“Saya terlalu lama?”
Aku mengikuti dia menuju parkiran. Senang saat Kala memilih salah satu mobil mewahnya.
“Iya lama banget.”
“Oke sebagai gantinya nanti malam kita makan malam di luar.”
“Aku lebih mau ditraktir belanja di mall.”
“Kalau kamu butuh sesuatu tinggal kirim daftar barang nya ke saya. Nanti akan dikirim ke apartemen”
“Nggak seru, aku maunya pilih sendiri, keliling mall.”
“Kalau begitu minta Kirana temani, dia pasti lebih bisa membantu memberi masukan ketika kamu ingin membeli sesuatu.“
“Sama kamu.”
“Saya—ah oke baiklah.”
Kala terdengar ragu menuruti permintaan ku. Itu justru pertanda baik. Sedikit bisa menekan kedamaian dia itu langkah nyata rencanaku akan berhasil.
“Saya perhatikan kamu bicaranya berbeda, kenapa?”
Telat sekali dia baru membahas ini sekarang. Pantas orang kantor dulu menyebarkan rumor dia gay. Trik pasaran begini saja lambat memahami.
“Kamu bilang, istri sesungguhnya kan.”
Aku dengan lantang menjawab pertanyaan itu. Meski itu artinya membuat Kala senang. Langsung terangkat sudut bibirnya. Tersenyum bangga? Ya biarkan saja dahulu dia senang kali ini, sebelum mengetahui yang sebenarnya.
“Baguslah, jadi terdengar lebih beradab dibandingkan yang sebelumnya. “
Beradab kata dia? Tidak sesuai dengan skenario yang aku harapkan. Bukanya memuji malah meledek aku lagi. Ah, tapi sisi baiknya, dia semakin terlihat gay. Pria normal harusnya memuji dan menyambut usahaku. Aku tidak perlu terlalu takut kalau dia akan meminta berhubungan. Tapi tetap saja perkataan nya itu menyebalkan.
“Maksudnya sebelumnya aku nggak beradab?”
“Maksud saya kalau kamu terpaksa harus menghadapi keluarga saya juga tidak perlu menyesuaikan lagi.“
Aku tidak menerima alasan dia sama sekali, tetap saja dia menyebalkan. Tapi penjelasan dia membuatku teringat Kirana. Haruskah aku melakukan drama ini juga di depanya?
Kurasa perlu. Aku belum bisa sepenuhnya percaya dia di pihakku. Selama ini kan memang ketika aku mempercayai seseorang selalu mengecewakan.
“Hemm”
Aku hanya bergumam lalu melihat sibuknya jalanan. Itu sedikit mengurangi keinginan ku untuk mengumpati nya karena berani mengatai ku.
***
Kemampuanku mengendalikan emosi hari ini cukup baik. Semua rencana ku untuk menjadi istri Kala yang baik berjalan lancar. Reaksi Kirana di butik juga sangat memuaskan. Dia sungguh-sungguh percaya.
Sesuai janji Kala aku akan ditemani ke mall. Aku lupa kalau menekan Kala di publik sama saja aku juga dapat tekanan yang sama. Aku mengingatnya karena Kala sekarang memakai topi dan masker hitam. Bisa-bisanya aku lupa, bisa saja di mall ada pendukung Sabreena yang akan menyerang ku. Tapi kekhawatiran ku sedikit menghilang saat Kala menyodorkan topi dan masker yang sama.
“Pakai ini supaya tidak tertangkap media. “
“Oke, tapi.. Hempt haha”
Mulutku tidak bisa menahan untuk menertawakan dia. Astaga, pakai jas formal tapi pakai topi non formal. Itu sungguhan aneh.
“Kalau begini gimana?”
Kala melepas jas nya lalu menggulung lengan kemeja. Dia langsung mengerti mengapa aku tertawa.
“Kemeja yang kamu pakai terlalu terlihat mahal.”
“Sebentar tunggu lima menit, saya minta orang untuk membelikan hoodie.”
“Hhhh ribet juga ya jadi orang kaya.”
“Heum? Tidak terlalu, kata eyang lebih susah saat dulu beliau muda, kekurangan materi sampai harus terbiasa menahan lapar. “
“Iya itu juga sulit, aku belum lama melewati masa itu.”
Orang berbaju hitam yang sama saat aku naik bus untuk pulang ke rumah, membungkukan badan di depan pintu Kala. Aku langsung mengenalnya karena gaya berjalan dia yang kaku. Dia menyodorkan kantong belanja coklat saat Kala membuka pintu. Lalu langsung pergi.
“Pakai hoodie ini. “
Kala menyuruhku memakai hoodie dengan warna yang sama. Maksudnya supaya terlihat seperti pasangan? Astaga, ini memalukan. Sudah seperti anak SMA saat malam minggu.
“Gimana cara pakainya? Sebelah maana sih toiletnya?”
“Ganti di sini saja, saya gak akan mengintip jika itu yang kamu khawatirkan. “
“Ya kalau orang lain yang lihat bagaimana?”
“Baiklah biar saya yang ganti duluan, baru mengawasi keadaan agar tidak ada yang melihat.”
Kala langsung melepas satu persatu kancing kemejanya. Tanpa sadar aku malah memperhatikan Kala berganti baju.
“Malah kamu yang kayaknya suka lihatin saya.”
Kala terkekeh dengan wajah jahil. Tapi tidak lama dia keluar dan aku dengan cepat mengganti baju.
Malam ini selain bahagia karena bisa berburu pakaian lucu, juga bisa membuat Kala sangat kesal. Karena aku mengajaknya keliling mall sepuluh lantai dari jam tujuh malam sampai mall tutup di jam sebelas. Puas sekali membalasnya dengan membuatnya mengikutiku berbelanja selama empat jam.