NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

06. BABY KEL & SEKOLAH

Gavin dan Yudha masih sibuk berdebat di bawah, mencoba memecahkan misteri perubahan sikap Arkan yang drastis. Sementara itu, di lantai atas yang tenang, Arkan menuntun Maya melewati lorong dengan pencahayaan hangat. Ada dua pintu besar di sana, satu dengan nuansa maskulin yang kuat, dan satu lagi pintu putih bersih dengan papan nama kayu bertuliskan BABY KEL.

Arkan membuka pintu kamar bayi itu. “Mari masuk,” ajaknya lembut.

Maya melangkah masuk, dan seketika ia terpaku. Kamar itu didekorasi dengan sangat indah namun simpel, khas kamar bayi laki-laki kelas atas. Tidak ada kesan berlebihan, hanya kenyamanan yang maksimal.

Arkan dengan sangat hati-hati meletakkan Leon di ranjang bayi berteknologi tinggi, lalu menekan sebuah tombol otomatis yang membuat ranjang itu berayun pelan mengikuti irama napas Leon.

“Untuk sementara ini, kamu tidur di kamarku. Aku akan tidur di kamar Yudha di lantai tiga,” ucap Arkan sambil menoleh pada Maya.

Maya tersentak, wajahnya memucat karena gugup. “Ti-tidak usah, Dok. A-aku lebih baik tidur di sini saja, duduk atau di lantai juga tidak apa-apa, asalkan bersama Leon.”

Arkan mengerutkan kening. “Kamar ini belum memiliki ranjang besar untukmu. Jadi, sampai ranjang itu datang besok, tidurlah di kamarku. Itu lebih baik untuk pemulihan operasimu.”

“Kamar tamu? Kalau tidak, aku tidur di kamar tamu saja,” tawar Maya mendesak.

Arkan terdiam sejenak, ia menunduk dan sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di bibirnya. “Di sini tidak ada kamar tamu, Maya. Bahkan kamar pembantu pun tidak ada, karena aku tidak suka ada orang asing yang tinggal terlalu lama di rumahku.”

Maya meremas ujung bajunya, ingatan pahit tentang masa lalunya tiba-tiba menyeruak. “Lalu, bagaimana denganku? Bukannya aku…aku ini seperti pembantu Anda, dr. Arkan? Aku bekerja untuk Anda,” ucap Maya lirih, suaranya bergetar mengingat perlakuan kasar yang pernah ia terima saat menjadi asisten rumah tangga di rumah orang kaya dulu.

Mendengar kata “pembantu” keluar dari mulut Maya, suasana di ruangan itu mendadak berubah. Senyum Arkan hilang seketika, digantikan oleh ekspresi gelap yang menakutkan. Rahangnya mengeras, dan matanya menatap Maya dengan tatapan yang sangat tajam, seolah kata-kata itu adalah penghinaan besar baginya.

“Jangan pernah,” suara Arkan merendah, terdengar sangat berbahaya namun penuh penekanan. “Jangan pernah menyamakan dirimu dengan seorang pembantu di rumah ini, Maya.”

Arkan melangkah mendekat, mengintimidasi ruang gerak Maya hingga gadis itu mundur selangkah dan punggungnya menyentuh dinding.

“Seorang pembantu bisa aku ganti kapan saja dengan uang. Tapi kamu?” Arkan menatap dalam ke mata Maya yang ketakutan. “Kamu adalah ibu susu putraku. Kamu adalah jantung dari rumah ini sekarang. Di mataku, statusmu jauh lebih tinggi dari apa pun yang bisa dibeli dengan uang.”

Melihat raut wajah Arkan yang mendadak gelap dan mengerikan, Maya merasa ruang di sekitarnya sangat berat. Untuk mencairkan suasana yang mencekam itu, ia mencoba tertawa ringan meski suaranya terdengar sedikit dipaksakan.

“Oh…hahaha. Jadi, apa yang benar-benar harus aku lakukan mulai saat ini, dr. Arkan?” tanya Maya, berusaha menenangkan emosi pria di depannya.

Arkan menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. “Kau hanya perlu menjadi ibu peri bagi putraku,” jawabnya singkat.

“Ibu peri?” Maya mengulang kata itu dengan nada heran. Ia melirik baju dasternya yang sudah lusuh dan lembap, lalu menatap telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan akibat kerja keras selama ini. Terakhir, ia secara refleks mencium ketiaknya. Bau keringat yang bercampur dengan aroma obat rumah sakit yang menyengat langsung menusuk hidungnya.

“Hem,” Maya melambaikan tangan di depan hidungnya seolah mencoba mengusir bau itu. “Bahkan aroma tubuhku saja menolak untuk dipanggil ibu peri, Dok.”

Wajah Arkan kembali datar. Tanpa membalas candaan Maya, ia berbalik. “Ikuti aku keluar,” perintahnya pendek.

“Kenapa wajahnya mendadak jadi datar lagi? Aku kan mengatakan hal yang benar,” gumam Maya dalam hati sambil mengekor di belakang langkah lebar Arkan.

Langkah Arkan terhenti di depan pintu besar yang jaraknya hanya beberapa langkah dari kamar Leon. Ia membuka pintu itu lebar-lebar. “Mari masuk.”

“Tapi… tapi itu kamar Anda, Pak Dokter,” ucap Maya tertahan, kakinya terpaku di depan ambang pintu.

“Mulai malam ini, dan sampai ranjang tidurmu datang, kamar ini adalah kamarmu. Sekarang, bersihkan tubuhmu. Di sana ada kamar mandi,” tunjuk Arkan ke sebuah sudut ruangan. “Aku akan mengambilkan baju ganti untukmu.”

Saat Maya hendak membuka mulut untuk menolak lagi, tatapan Arkan mulai menajam, sebuah peringatan tak kasat mata agar ia tidak membantah.

Maya segera membalasnya dengan senyuman pasrah. “Baiklah, aku tidak akan menolak.”

Maya melangkah masuk ke dalam kamar yang sangat luas itu. Matanya menyisir setiap sudut. Kamar itu terlihat sangat indah dengan sentuhan feminim yang masih tersisa di beberapa bagian. Pandangan Maya terjatuh pada sebuah bingkai foto besar di atas nakas, foto pernikahan Arkan dengan seorang wanita yang sangat cantik dan anggun. Maya mengangguk pelan pada dirinya sendiri, seolah mengerti mengapa Arkan begitu protektif terhadap kenangan di rumah ini.

“A-aku akan membersihkan tubuh,” ucap Maya seolah meminta izin pada Arkan yang masih berdiri di depan pintu, memandangnya dengan wajah datar yang sulit dibaca.

Begitu masuk ke dalam kamar mandi, Maya kembali dibuat terpana. Ruangan itu hampir seluas rumah kontrakannya dulu. Ia melihat peralatan mandi yang sangat lengkap. Ada dua handuk yang digantung berdampingan, satu berwarna abu-abu maskulin dan satu lagi berwarna pink lembut.

“Mungkin ini milik almarhum istri Pak Dokter,” gumam Maya dengan perasaan getir.

Ia terus berjalan masuk hingga menemukan sebuah bathtub porselen putih yang besar dan mewah, serta sebuah shower box berbahan kaca transparan berbentuk tabung di sudut lain.

“Benar-benar rumah orang kaya,” pujinya lirih, masih merasa seperti sedang berada di dalam mimpi.

Beberapa menit kemudian, Maya keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang jauh lebih segar. Rambut panjangnya basah kuyup, dan tetesan air dari ujung helainya meninggalkan jejak kecil di lantai. Di atas pinggiran ranjang besar itu, ia menemukan tumpukan baju bersih lengkap dengan pakaian dalam yang masih baru.

Maya segera mengenakannya. Saat ia berdiri di depan pantulan cermin besar, ia terpana. Baju terusan atau midi dress selutut bercorak bunga-bunga kecil itu sangat pas di tubuh mungilnya. Bahannya lembut, jatuh dengan indah, dan memberikan kesan segar pada wajahnya yang semula pucat.

“Indah sekali,” pujinya lirih.

Lirikan matanya kemudian berpindah pada foto pernikahan di atas meja. Di sana dr. Arkan tampak tersenyum lebar, sangat berbeda dengan senyum “serigala” yang dilihat Gavin dan Yudha tadi. Di sebelahnya, berdiri seorang wanita yang sangat anggun, cantik, dan lembut.

“Mereka benar-benar pasangan yang serasi. Aku rasa wanita ini dari kalangan kelas atas,” gumam Maya kagum.

“Ekhem.”

Maya tersentak dan menoleh cepat. Ternyata Arkan sudah berdiri di ambang pintu, memperhatikannya sejak tadi.

“Dia adalah Lily,” ucap Arkan pelan, menyebut nama yang identik dengan kelembutan dan kesucian. Arkan melangkah masuk, mendekati Maya dan mengambil bingkai foto tersebut. Jempolnya mengusap pelan kaca yang menutupi wajah istrinya. “Dia seorang guru di sekolah menengah atas.”

Arkan menjelaskan dengan nada suara yang bergetar rendah, menyimpan kerinduan yang mendalam.

“Maaf, kalau boleh tahu, istri Pak Dokter meninggal karena apa?” tanya Maya sedikit takut-takut, merasa dirinya mungkin sudah terlalu lancang mencampuri urusan pribadi pria itu.

Arkan terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke arah foto tersebut sebelum meletakkannya kembali ke posisi semula.

“Meninggal karena Emboli Air Ketuban,” sahut Arkan datar namun terdengar pedih. “Sebuah komplikasi langka di mana air ketuban masuk ke dalam aliran darahnya saat persalinan. Itu terjadi begitu cepat, bahkan semua ilmuku sebagai dokter tidak mampu menahannya pergi.”

Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Maya bisa merasakan beban rasa bersalah dan kehilangan yang dipikul Arkan. Ternyata di balik kemewahan dan ketegasannya, pria ini menyimpan luka yang sama besarnya dengan luka yang ia miliki.

“Maafkan aku, Dok. Aku tidak bermaksud mengingatkan Anda pada hal sedih,” bisik Maya penuh penyesalan.

Arkan menoleh, menatap Maya yang kini memakai baju milik mendiang istrinya. Ada sesuatu yang bergejolak di matanya, melihat baju Lily dipakai oleh Maya memberikan sensasi aneh yang tak bisa ia jelaskan.

“Tidak apa-apa,” jawab Arkan, suaranya kembali mengeras dan posesif. “Sekarang keringkan rambutmu. Aku tidak ingin ibu susu putraku jatuh sakit karena flu.”

Arkan kemudian berjalan menuju lemari, mengambil sebuah alat pengering rambut, dan secara tidak terduga, ia menarik kursi di depan meja rias. “Duduk di sini. Biar aku yang mengeringkannya.”

Dengan patuh, Maya duduk di depan meja rias. Arkan mulai menyalakan hairdryer, jemari tangannya yang panjang dan hangat masuk ke sela-sela rambut Maya yang panjangnya hingga sepinggang. Maya diam-diam melirik pantulan kaca, melihat betapa telatennya Arkan. Gerakan tangan dokter itu sangat lembut, seolah ia sudah sangat terbiasa melakukan hal ini.

“Almarhum Kak Lily sungguh beruntung pernah memiliki suami seperti dr. Arkan,” batin Maya getir.

Pandangannya beralih pada tangannya sendiri yang berada di pangkuan. Ia menggenggam erat kain bajunya itu hingga kuku-kukunya memutih.

“Sedangkan aku? Aku termakan janji manis Rian. Pria brengsek yang rasanya ingin aku habisi nyawanya karena telah menghancurkan masa depanku dan membunuh bayiku secara tidak langsung,” lanjutnya dalam hati, penuh dengan dendam yang membara di balik wajah lugunya.

Arkan memperhatikan genggaman tangan Maya yang gemetar melalui cermin, namun ia memilih untuk tidak mengungkitnya. Setelah rambut Maya benar-benar kering dan halus, Arkan mematikan alat itu, lalu perlahan memutar kursi Maya hingga mereka saling berhadapan.

“Maya, usiamu berapa?” tanya Arkan dengan nada suara yang sangat serius, seolah sedang melakukan anamnesis pasien.

Maya menunduk dalam, tidak berani menatap mata elang Arkan. “Enam belas tahun,” sahutnya pelan, hampir menyerupai bisikan.

“Kalau sekolah, seharusnya kamu kelas berapa?” tanya Arkan lagi.

“Kelas dua SMA, seharusnya,” jawab Maya lirih.

Ia seharusnya sedang sibuk dengan tugas sekolah dan teman sebaya, bukan terjebak dalam pernikahan siri yang menyiksa dan kehilangan seorang anak.

“May, kamu ingin melanjutkan sekolahmu lagi?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Arkan, membuat Maya tersentak kaget. Ia mendongak, matanya yang sembab menatap Arkan dengan tidak percaya. Harapan yang sempat ia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan piring kotor dan cucian di rumah Rian, tiba-tiba ditarik paksa ke permukaan oleh pria ini.

“Maksud, maksud dokter? Tapi aku sudah tidak punya apa-apa. Surat-surat ditahan oleh Ibu Aminah,” ucap Maya putus asa.

Arkan sedikit mencondongkan tubuhnya, tangan besarnya tanpa sadar bertumpu pada kedua lengan kursi Maya, mengunci gadis itu dalam jangkauannya. “Jangan khawatirkan soal itu. Jika kamu mau, aku bisa mengatur semuanya. Kamu bisa sekolah lagi, dan kamu tidak perlu kembali ke lingkungan kumuh itu lagi. Tapi—”

Arkan menggantung kalimatnya, matanya menatap Maya dengan tatapan posesif yang semakin dalam. “Tapi syaratnya, kamu harus tetap berada di sini, di bawah pengawasanku. Setidaknya sampai Leon tidak lagi membutuhkanmu.”

Maya mengangguk pelan, namun sesaat kemudian ia mengernyitkan dahi, keraguan besar melintas di matanya yang sayu.

“Tapi, aku suda pernah hamil, Dok. Sekolah mana yang mau menerima siswi dengan latar belakang sepertiku?” tanya Maya dengan suara bergetar, membayangkan cemoohan orang-orang jika mereka tahu rahasia kelamnya.

Arkan tersenyum kecil, sebuah senyum yang tampak sangat tenang dan penuh keyakinan. “Kebetulan aku punya sahabat yang orang tuanya memiliki yayasan sekolah menangah atas. Itu sekolah swasta elit dengan sistem yang sangat tertutup dan terjaga privasinya. Kalau kamu mau, besok kita akan berjumpa dengannya untuk mengatur semuanya.”

“Leon, bagaimana dengan Leon, Pak Dokter?” tanya Maya gelisah.

“Tentang Leon, kamu tidak perlu cemas. Sebelum pergi ke sekolah, kamu bisa menyetok ASI di kantong penyimpanan. Tentang siapa yang menjaganya, kamu tenang saja. Aku dan Yudha sudah terbiasa, dan aku akan memanggil perawat professional untuk membantunya saat aku di rumah sakit,” jelas Arkan panjang lebar. Ia menatap Maya. “Jadi, apakah kamu masih mau melanjutkan sekolahmu?”

Maya terdiam sejenak, menatap telapak tangannya yang kasar, lalu beralih menatap Arkan. Kesempatan ini adalah satu-satunya jalan baginya untuk membuktikan bahwa ia bisa berdiri tegak kembali.

Maya mengangguk mantap. “Iya, Dok. Aku mau.”

...❌ Bersambung ❌...

1
sari. trg
setajam apa?
Manyo
iya dek
Manyo
Yang sabar ya, Pak dokter
Manyo
O mak. Tajam kali
Manyo
karena kau bodoh
sari. trg: Antara bodoh dan bucin
total 1 replies
Manyo
Di bab ini, aku terharu.
sari. trg: Terima kasih sudah terbawa suasana
total 1 replies
Manyo
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Manyo
Hanya nikah siri. Kalau nikah siri berarti Maya tidak harus m3makai surat cerai
Manyo
Iya, suaminya yang tak berguna.
Manyo
Kerja kau. Buat malu kaum lakik aja.
Manyo
Baru baca sampek bab 3. Tpi emosinya sampai ke ubun-ubun
Manyo
Keputusan yang bagus
Manyo
Akhirnya dia mau terlepas dari suaminya
Manyo
Sudah tau suami dan mertuanya kayak gitu, tapi kenapa bertahan. Ini perempuan bodoh kurasa. Udah dihamili, disuruh banting tulang sampek keguguran. Iiiiih gerem kali aku
Manyo
Ternyata suaminya berbohong. Bjir, demi duit segitu
Manyo
Ketika takdir dipertemukan dengan cara yg unik.
Manyo
Traumanya dalam
Manyo
pingin kucabaein.
Manyo
Taeee...aku kira beneran sedih karena istrinya keguguran
Evi Lusiana
zavier terlalu sadis thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!