NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

35. TGD.35

Pagi itu, Desa Makmur tampak bersolek. Namun, bukan dekorasi mahal yang dipamerkan, melainkan deretan inovasi yang tumbuh organik dari tanahnya. Kirana, yang kini sudah duduk di bangku SMP dan dikenal sebagai orator cilik desa, berdiri tegak di depan gerbang "Omah Tandur" dengan mikrofon di tangan.

Di hadapannya, tiga mobil hitam berpelat merah berhenti. Keluar dari sana Kepala Dinas Pertanian Provinsi beserta jajarannya dan beberapa ahli teknologi pangan dari universitas ternama.

"Selamat datang di masa depan kedaulatan pangan kami," suara Kirana menggema, tenang dan berwibawa, mewarisi karisma Bumi. "Di sini, Bapak dan Ibu tidak akan melihat petani yang mengeluh tentang harga pupuk, melainkan kreator yang mengelola ekosistem."

Rombongan tersebut diajak menuju lahan percontohan. Aksara sudah menunggu di sana dengan tablet di tangannya. Ia tidak lagi mengenakan kaos penuh oli, melainkan kemeja batik yang lengannya digulung hingga siku.

"Ini adalah Kresna 01," jelas Aksara saat traktor bertenaga suryanya bergerak otomatis tanpa pengemudi. "Alat ini terhubung dengan sensor cuaca milik Ayah saya dan database pasar milik Ibu saya. Ia tahu kapan harus membajak berdasarkan tingkat kelembapan tanah, bukan berdasarkan kalender semata."

Kepala Dinas tampak tertegun melihat traktor itu bermanuver dengan halus. "Biaya produksinya berapa, Dek?" tanya salah satu ahli mesin.

"Satu unit ini setara dengan harga motor matic," jawab Aksara percaya diri. "Tapi penghematan solarnya dalam dua tahun bisa membeli satu unit lagi. Kami membangunnya dengan prinsip *circular economy*."

Setelah demo lapangan, rombongan diajak ke pendopo Omah Tandur. Di sana, Padi telah menyiapkan "Jamuan Mandiri"—semua hidangan yang disajikan berasal dari radius 1 kilometer dari tempat mereka duduk.

Bumi, yang kebetulan sedang pulang dari Jakarta untuk riset tugas akhirnya tentang kebijakan pangan, ikut bergabung di meja utama. Di sinilah terjadi "pertempuran" intelektual yang menarik. Para pejabat mulai bicara tentang subsidi dan impor, sementara Bumi dengan tenang memaparkan data.

"Pak," ucap Bumi sambil menyodorkan tablet berisi grafik dari koperasi ibunya. "Subsidi itu seperti obat pereda nyeri. Ia menghilangkan sakit sesaat, tapi tidak menyembuhkan luka. Yang dibutuhkan petani bukan sekadar uang, tapi akses ke teknologi seperti yang dibuat Aksara dan akses pasar yang dipotong rantai distribusinya oleh Ibu saya."

Shelly hanya mendengarkan dari balik pintu dapur, hatinya bergetar. Ia melihat anak-anaknya bukan lagi sekadar membantunya, tapi mereka telah menjadi pilar-pilar yang kokoh.

Saat suasana formal mulai cair, Mentari berlari masuk membawa sebuah pot kecil berisi tanaman padi yang tampak berbeda—batangnya lebih pendek tapi bulirnya sangat rapat.

"Ini apa, Kecil?" tanya Kepala Dinas sambil tertawa ramah.

"Ini 'Padi Mentari'," jawab Mentari tanpa rasa takut. "Aku dan Kak Padi mencampurkan bibit lokal dengan teknik penyilangan yang diajarkan Kak Bumi. Dia nggak butuh banyak air, cocok buat musim kemarau panjang nanti."

Para ahli dari universitas itu langsung saling berpandangan. Mereka baru saja melihat hasil eksperimen genetika sederhana namun efektif yang dilakukan oleh seorang anak SD dan kakaknya di kebun belakang rumah.

Sebelum pulang, Kepala Dinas menjabat tangan Arkan dan Shelly erat-erat. "Saya datang untuk memberikan bantuan alat pertanian, tapi sepertinya saya yang harus minta bantuan dari keluarga ini. Kami ingin menjadikan Desa Makmur sebagai *pilot project* nasional untuk Desa Mandiri Teknologi."

Arkan tersenyum, menatap Shelly yang matanya berkaca-kaca.

Malamnya, setelah semua tamu pulang, keluarga itu berkumpul di ruang tengah. Shelly membagikan teh hangat.

"Bu," ucap Padi pelan. "Dinas tadi mau beli sepuluh unit Kresna buatan Mas Aksara."

"Dan mereka mau aku jadi pembicara di konferensi pemuda internasional bulan depan," tambah Kirana kegirangan.

Shelly menarik napas dalam, mencium aroma tanah basah setelah hujan sore tadi. "Ingat," bisiknya pada keenam anaknya. "Semakin tinggi dahan kalian menjangkau langit Jakarta atau dunia, pastikan akar kalian tetap di sini. Di tanah yang memberi kalian makan."

Di luar, bintang-bintang bersinar terang di atas hamparan sawah. Omah Tandur bukan lagi sekadar rumah; ia telah menjadi rahim bagi masa depan bangsa yang baru saja lahir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!