Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Before He Left
"Selamat pagi." Security guard di lobi menyapanya. Sudah cukup familier dengan sosoknya, karena Sena sering datang.
"Selamat pagi," balas Sena sambil membungkuk sopan. Dia masuk ke lift dan membetulkan tali tas yang menyampir di bahunya. Itu terus jatuh, membuat Sena berpikir untuk mengenakan sling bag saja lain kali.
Sena naik ke lantai 7, menekan bel dan menunggu dengan sabar sampai seseorang membukakan pintu. Setelah beberapa detik, pintunya terbuka dan Andy berdiri di belakangnya, tersenyum lebar menyambut kedatangannya.
"Hai, Lara. Masuklah."
Sena masuk dan melepaskan tasnya, menggenggam talinya daripada terus mempertahankannya di bahu. Di dalam tas itu, Sena memasukkan camilan untuk dimakan oleh Andy sebelum dia berangkat tur.
Dohyun dan Mia keluar dari salah satu ruangan, dan Sena menyempatkan diri menyapa mereka sebentar. Keduanya tampak lengket, dengan Mia melingkarkan kedua lengan di pinggang Dohyun dan Dohyun melingkarkan lengan di bahu Mia. Mereka juga membicarakan soal tur konser kali ini. Sena terkekeh mendengar Mia merengek karena akan ditinggal oleh sang kekasih.
"Bukannya kau sudah terbiasa ditinggal tur konser olehnya?" tanya Sena.
Mia menghela napas panjang. "Iya, tapi hari-hariku tanpanya adalah sebuah penyiksaan. Oh, aku akan sangat merindukannya," sahut Mia, mengeratkan pelukannya pada Dohyun.
Di tur kali ini, Elements akan menggelar konser di Los Angeles dan Newark sebelum kembali ke Seoul. Setelahnya, mereka akan berkeliling ke negara lain sesuai urutan jadwal. Sebenarnya, mereka tidak akan pergi selama itu. Namun, karena tuntutan pekerjaan, sekalipun tidak sedang ada jadwal tur konser, waktu kebersamaan mereka juga sudah terbatas. Jadi Sena cukup memahami kesedihan Mia atas kepergian Dohyun, sebab mereka sudah saling cocok, seperti potongan puzzle yang akhirnya bertemu.
Mia dan Dohyun lalu pamit untuk kembali ke kamar, sementara Sena ikut Andy masuk ke kamarnya. Andy merebahkan tubuhnya dengan terlentang, sedangkan Sena menyusul dengan posisi tengkurap.
"Aku tidak percaya kita harus berpisah selama ... dua minggu." Sena cemberut.
Andy mengangguk dengan ekspresi menyesal. "Ya. Itu menyebalkan. Tapi, dua minggu masih masuk akal. Artis-artis lain memerlukan waktu lebih dari sebulan untuk menyelesaikan rangkaian tur."
"Kau benar." Kebanyakan idol di Korea hanya mengambil jeda singkat di tengah-tengah tur, antara untuk istirahat atau melakukan promosi album baru, kemudian kembali menjalankan jadwal tur. Sena lega setidaknya Andy punya waktu jeda. Selain karena tidak ingin ditinggal terlalu lama, dia juga tidak mau melihat Andy bekerja secara berlebihan.
"Tapi tetap saja, aku akan sangat merindukanmu," katanya, sambil menunjuk wajah Andy dengan pangkal-pangkal alis hampir menyatu.
Andy tertawa, menertawakan ekspresi Sena yang tampak lucu. Perutnya bergetar karena tawa, sejenak membuat Sena semakin cemberut sebelum akhirnya gadis itu ikut tertawa bersamanya dan berguling mendekat. Sena merapatkan tubuhnya pada Andy, kepala bersandar di lengan dan lengan Sena berlabuh di perut Andy.
Andy tersentak sesaat, cukup terkejut atas gerakan Sena yang tiba-tiba. Namun dia berhasil menenangkan diri dan balas melingkarkan lengan di bahu gadis itu.
"Aku juga akan sangat merindukanmu. Tapi aku janji akan menelepon dan mengirim pesan setiap kali ada kesempatan," janji Andy, seraya mengusap lengan Sena dengan lembut.
Sena mencebik. "Aku sudah membayangkan kau mengirim pesan di jam 3 dini hari, berkata have a good day, karena kau lupa akan perbedaan zona waktu kita."
"Dude," Andy tertawa. "Aku cukup pintar untuk tidak melakukannya, tahu."
"Kau yakin?"
"Kau meragukan kecerdasanku?"
"Iya."
"Wah..." Andy pura-pura merajuk. "Coba tes kalau begitu. Tanyakan beberapa hal, dan aku akan menunjukkan padamu seberapa cerdas diriku ini." Dia berkata penuh percaya diri.
Karena Andy tampak begitu yakin pada kemampuannya, maka Sena mengeluarkan ponsel dan mulai mencari beberapa pertanyaan terkait pengetahuan dasar.
"Jangan mengecewakan aku, ya," katanya, tersenyum miring.
"Tidak akan."
Sudut bibir Sena terangkat sebelah selagi ia menarik diri, duduk menghadap Andy agar Andy tidak bisa mengintip jawaban yang ada di ponselnya. Andy sendiri tetap ada di posisinya, setengah rebah di kasur dan menunggu pertanyaan apa yang akan Sena berikan.
"Okay," mulainya, setelah mendapatkan satu pertanyaan yang menurutnya bagus. "Kau siap?"
"Tentu."
"Bagus. Pertanyaan pertama. Apa ibu kota Finlandia?"
Kepala Andy mendongak. Dia menatap langit-langit seolah sedang mencari jawaban di sana.
"Helsinki," jawabnya, setelah hening lumayan lama.
"Benar. Satu poin. Lanjut," Sena menggulir layar ke bawah untuk menemukan pertanyaan lain yang lebih bagus. "Sebutkan lima warna yang menjadi simbol untuk Olimpiade Rings."
Andy memejamkan mata, membayangkan logo olimpiade yang terkenal itu. "Merah, kuning, biru, hijau, dan ... oh, hitam." Dia membuka matanya kembali setelah selesai menjawab, untuk menemukan Sena mengangguk dan memberinya satu poin lagi.
"Pertanyaan ketiga. Siapa yang melukis Mona Lisa?"
"Ah..." Andy mendesah pelan. Ada beberapa nama yang familier muncul di pikirannya, tapi dia tidak yakin yang mana jawabannya.
"Leonardo DaVinci?" jawabnya tak yakin. Untungnya, dia melihat Sena mengangguk untuk yang ketiga kali.
"Kerja bagus. Aku kira kau akan menyebut Leonardo DiCaprio," selorohnya.
"Aku mungkin akan melakukan kesalahan semacam itu."
Sena mengangguk. "Sejujurnya, aku pun sama. Itu adalah kesalahan yang umum terjadi."
"Yea."
Sena kembali fokus pada ponselnya, mencari petanyaan lain. Berulang kali, ia bergumam dan menggeleng saat menemukan pertanyaan yang tidak terlalu bagus menurutnya.
"Dalam tabel periodik, Sn itu simbol untuk unsur apa?" tanya Sena dengan selubung senyum penuh arti. Tahu betul Andy tidak ahli dalam hal-hal berbau sains.
Andy menyipitkan mata dan mencoba mengingat. Dia menarik napas dalam-dalam, mengorek kepalanya untuk menemukan jawaban. Menurut keyakinannya, simbol itu ada di tempat yang tidak terjangkau mata dengan mudah di dalam tabel periodik. Tidak seperti H²O atau yang lainnya. Andy mengerang dan mengigit bibir, sampai tiba-tiba dia ingat dan menatap Sena antusias.
"Timah!"
Jawaban itu membuat Sena terbahak. Masalahnya, ekspresi Andy tampak lucu saat mengatakannya. Tanpa banyak usaha, pria itu tampak seperti komedian paling lucu sedunia.
"Aku tidak pernah melihat seseorang menyebut 'timah' dengan begitu antusias seperti yang kau lakukan barusan." Sena tertawa sampai hampir menangis.
Andy ikutan tertawa, tidak kuasa menahan diri. "Aku hanya ... sangat menyukai timah."
"Iya, kan? Aku tidak mengerti kenapa orang-orang begitu sibuk dengan emas ataupun logam saat di dunia ini ada yang namanya timah."
"Hmm ... timah memang kurang dilirik, sedih sekali."
"Justice for timah."
"Justice for timah."
Keduanya terbahak-bahak lagi setelah membahas betapa sedihnya nasib timah di dalam kehidupan ini. Andy membalikkan badan, menyembunyikan wajahnya di bantal, sementara Sena kembali berbaring dan menyeka sudut matanya yang basah oleh air mata.
"Uhmmm ... Lara," kata Andy, menarik wajahnya dari bantal.
"Hmm?"
"Kalau kau mau, kau bisa datang ke konser di Seoul. Kami punya tiket untuk teman dan keluarga, kau bisa memakainya. Joana dan Mia juga pasti akan datang."
Sena berguling, tengkurap memandang Andy dengan mata dipenuhi binar kebahagiaan. "Boleh?"
"Tentu."
Senyum Sena melebar sampai ke telinga. Dia bergerak heboh, terlampau senang bisa datang ke konser Andy tanpa perlu susah payah mengeluarkan usaha ekstra. Bukan, bukan. Ini bukan soal uang yang harus dia keluarkan untuk membeli tiket sendiri. Kalian harus tahu bahwa membeli tiket konser Elements tidak akan semudah kelihatannya. Punya uang pun belum tentu bisa dapat, karena biasanya tiket mereka akan langsung sold out dalam hitungan detik. Iya, detik. Kalian tidak salah dengar.
Antusiasme Sena meraba tempat paling dalam di dada Andy. Ia tersenyum dengan tatapan yang tak lepas dari sosok Sena. Sungguh di matanya kini, Sena terlihat menggemaskan sekali.
Bersambung....