Dunia terlalu kejam untuk dia yang hanya terus menangis.
Bumi ini sangat jahat untuk wanita yang hanya mengandalkan dirinya sendiri, berbekalkan keberanian dan tekad untuk bisa bertahan hidup di tengah tengah gempuran kesulitan.
Haeyla Seraphine layak mendapatkan kemenangan atas hidup nya, cinta dan ketulusan layak untuk dia menangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pupybear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 26.
Aku dan Reskara sama sama berdiri mematung memandangi satu sama lain. Sementara Cila tampak belum sadar dengan yang terjadi antara kami.
" Maaf ya. Kita lama dateng nya" Cila menghampiri Reskara yang dia sebut Rakha itu.
" Ohh. Aman kok" Melihat itu aku terpaksa harus mendekat agar Cila tidak curiga dengan tingkah ku.
" Rakha kenalin. Ini sahabat aku Haeyla"
Dia diam. Tampak sedang berpikir.
" Aku Haeyla" Aku memperkenalkan diri kepada nya.
' Haeyla? Nama kamu Haeyla? Bukan! Kamu adalah Rembulan Ayodya Seraphine. Kamu adalah Rembulan. Kenapa? Kenapa kamu merubah nama itu?' Batin Rakha saat aku memperkenalkan nama ku.
" Rakha! Kamu kenapa kok bengong? Kenalin dong diri kamu!"
" Aku Rakha"
' Kamu ganti identitas kamu juga Reskara. Aku yakin kamu punya alasan di balik itu semua' Batinku kala mendengar dia memperkenalkan nama barunya. Disana aku mencoba untuk bersikap normal layaknya orang yang baru saja saling mengenal.
" Oiya La. Rakha ini guru privat yang gue ceritain sama lo" Cila memperkenalkan nya sekali lagi kepadaku.
" Iya Cil. Jadi rencana kamu kesini mau apa?" Aku bertanya karena merasa canggung berada di tengah tengah mereka.
" Sebenarnya gue sekalian mau privat sih. Tapi entar lo jadi bengong dong" Jawabnya sambil tertawa.
" Kamu ini. Yauda kamu lanjutin aja. Aku duduk di cafe seberang sana. Nanti kamu telpon aku kalau udah kelar" Ini adalah jalan pintas paling aman. Pikirku saat itu.
Aku berjalan menjauhi mereka berdua. Menuju cafe yang ada di seberang jalan, tak jauh dari tepi danau tadi. Jika aku terus ada disana mungkin Cila akan menjadi curiga karena sikap ku ataupun Reskara.
' Seharusnya kamu gak perlu pergi Laluna ' Reskara menatap langkah Haeyla yang menjauh meninggalkan mereka.
Reskara dan Haeyla terlihat sudah saling mengenal sejak awal pertemuan mereka? Apa yang sebenarnya pernah terjadi antara mereka?.
Sementara saat ini di kediaman Haeyla tampak ada satu motor yang berhenti di halaman rumahnya.
Tok tok tok!
Pintu rumah Haeyla di ketuk.
" Ya sebentar" Lilian membuka kan pintu saat itu juga.
" Siapa ya? Ada perlu apa?" Lilian bertanya.
" Maaf tante sebelumnya. Saya Bumi teman Haeyla" Bumi langsung menyalami tangan Lilian saat itu.
" Oh teman Haeyla. Kebetulan Haeyla nya belum pulang ke rumah Bumi" Bumi sedikit heran mendengar Haeyla belum sampai di rumah. Padahal sudah hampir 2 jam yang lalu mereka pulang sekolah.
" Kalau saya boleh tau. Haeyla kemana ya tante? Mungkin tante tau?" Bumi memastikan keberadaan Haeyla pada Lilian.
" Haeyla gak bilang sama tante dia mau kemana. Jadi tante juga gak tau. Coba kamu telpon dia aja Bumi" Bumi ingin menelpon Haeyla. Tapi sepertinya Haeyla tidak akan menjawab.
" Hp saya lowbat tante. Boleh tante aja mungkin" Bumi beralasan agar Lilian lah yang menelpon Haeyla.
Telpon Haeyla berdering
Mama♡.
" Ya ma. Ada apa?" Aku mengangkat telpon dari mama.
" Sayang. Kamu kenapa belum pulang? Kamu dimana?" Mama bertanya. Sepertinya mama khawatir denganku saat ini.
" Ini ma. Aku nemenin Cila lagi privat sama guru dia. Jadi aku telat pulang. Maaf tadi aku lupa kabarin mama" Aku memang sangat lupa mengabari mamaku. Karena biasanya aku selalu sendiri.
" Jauh? Dimana? Jangan lama lama loh sayang. Mama khawatir. Mama nungguin kamu loh dirumah" Ucap mama dengan nada yang sangat khawatir memang.
" Aku di dekat danau Cempaka ma. Sekitar 30 menit dari rumah. Udah mama jangan khawatir. Sebentar lagi aku pulang kok" Aku menutup telpon dari mama. Sebenarnya aku ingin pulang, tapi kelihatan nya tidak ada satupun ojek online yang melintas dari sini. Karena memang tempat ini sangat jauh dari kota sebenarnya.
Back Kediaman Haeyla.
" Bumi. Haeyla di dekat danau Cempaka. Katanya nemenin teman nya privat disana. Tapi tante khawatir sebenernya" Lilian tampak sangat cemas karena mendengar tempat itu lumayan jauh dari rumah mereka.
" Tenang aja tante. Biar aku yang susulin Haeyla kesana. Tante tunggu disini. Aku pergi dulu tante" Saat itu juga Bumi langsung bergegas menuju danau Cempaka tempat Haeyla berada saat ini.
Mata Haeyla terus tertuju dengan Cila saat ini. Wanita manja itu tampak sangat gembira berada di dekat Reskara. Wajahnya sangat ceria. Senyum nya terus menerus merekah saat mereka bersama.
' Ternyata Reskara laki laki cool yang kamu maksud Cil. Kamu kelihatan sangat bahagia Cila. Reskara berhasil membuat kamu tersenyum kembali seperti Cila yang dulu. Terimakasih untuk itu Reskara ' Gumam ku saat itu menatap mereka yang tampak akrab di seberang sana.
" Halooo!!!, Rakha! Kamu lihat apa sih?" Cila bertanya karena melihat Rakha yang terlihat melamun saat itu.
' Rembulan. Bertahun tahun aku gak pernah melihat dan mendengar kabar dari kamu lagi. Dan sekarang kita harus bertemu sebagai dua orang yang harus berpura pura tidak saling mengenal ' Batin Reskara.
" Woyy!" Teriakan Cila berhasil membuat Rakha terkaget.
" Maaf maaf. Tadi saya lagi gak fokus aja" Alasan nya kepada Cila.
" Lagian liatin apaan sih? Serius banget kayanya?" Cila terus bertanya karena merasa aneh.
" Yaudah ayo kita lanjut lagi. Lagian ini juga udah mulai sore Cila" Rakha mengalihkan pembicaraan.
Dari kejauhan tampak suara motor yang tidak asing di telinga. Motor itu? Itu motor milik Bumi. Tapi kenapa dia bisa ada disini?
Aku melihat ke arah suara motor yang sangat tidak asing di telinga ku. Dan benar saja. Itu adalah Bumi. Bagaimana dia tahu kalau aku ada disini?
Bumi memberhentikan motor miliknya tepat di depan Haeyla saat ini.
" Haeyla. Kamu ngapain disini?" Dia bertanya sebelum melepas helm miliknya.
" Aku nunggu Cila privat disini" Aku menunjuk ke arah Cila dan Reskara berada.
" Ayo pulang. Mama kamu khawatir Haeyla" Tiba tiba saja Bumi mendekatiku dan menarik pergelangan tangan ku pelan.
" Ehh. Kamu dari rumah aku?" Pantas saja dia tahu keberadaanku. Ternyata dia ada disana sewaktu aku menelpon mama tadi.
" Ayo Haeyla. Biarin mereka. Untuk apa kamu tunggu mereka? Mereka berdua disana. Sementara kamu sendiri kaya orang bego disini" Kali ini dia benar benar menarik pergelangan tangan ku untuk berdiri dan ikut dengan nya.
" Aku pamit dulu sama Cila. Tunggu ya"
" Bareng aku " Bumi mengikuti ku menemui Cila.
" Cila! Aku pulang duluan gapapa kan?" Aku bertanya pada Cila Karena takutnya dia masih ingin di temani.
" Eh. Ada Bumi juga? Sejak kapan?" Cila heran karena melihat Bumi yang tiba tiba ada disana.
" Barusan kok. Dia jemput aku Cil "
" Jemput kamu?" Reskara tiba tiba bertanya kepada Haeyla dan membuat semua menoleh ke arah nya.
" Siapa La?" Tanya Bumi padaku
" Dia. Dia guru privat nya Cila" Jawabku seadanya.
" Oh. Ayo kita pulang Haeyla " Lagi lagi Bumi menggenggam lenganku. Dan yang lebih parahnya lagi kali ini tepat di depan Reskara.
" Tunggu! " Bentakan Reskara membuat Bumi terhenti.
" Rakha. Kenapa?" ucap Cila
" Kenapa? " Bumi menjawab Reskara dan merasa sedikit heran.
" Jangan sentuh " Satu kata yang berhasil membuatku hampir berhenti bernafas. Kenapa dia harus bereaksi seperti itu. Jelas Bumi dan Cila akan curiga dengan perkataan Reskara barusan.
Bersambung.