Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
persiapan perang (cinta)
Fiora hampir saja melempar tubuhnya ke atas tempat tidur king size-nya jika ia tidak ingat bahwa ia masih memakai gaun mahal. Dengan tangan gemetar karena saking bersemangat, ia segera meraih ponsel dan memulai panggilan video grup.
Hanya butuh dua detik sampai wajah Vanya dan Jojo muncul di layar.
"Gais! Gais! Oh my God, gais!" pekik Fiora tanpa aba-aba.
Vanya yang sedang memakai masker wajah langsung mendekatkan wajahnya ke kamera. "Kenapa lo, Fio? Kebakaran? Atau diskon tas naik jadi 90 persen?"
"Lebih dari itu!" Fiora menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan detak jantungnya. "Gue... gue mau tunangan sama GALANG DIRGANTARA!"
Hening sejenak. Vanya melongo sampai maskernya retak, sementara Jojo yang sedang minum langsung tersedak hebat.
"Astaga! Yang bener lu?!" seru Jojo setelah berhasil berhenti batuk. "Galang yang itu? Galang yang dinginnya ngalahin kulkas dua pintu tapi gantengnya mirip dewa itu?"
"Bener! Bokap gue baru aja bilang tadi di ruang tamu!" Fiora memekik kegirangan, menggulingkan tubuhnya di kasur empuk.
"Cie, cie! Akhirnya penantian lo dari zaman kuliah di London membuahkan hasil ya!" goda Vanya sambil tertawa. "Si penguntit rahasia akhirnya naik pelaminan!"
"Ih, gue bukan penguntit ya, gue itu pengagum dalam diam!" ralat Fiora sambil mengerucutkan bibir. "Pokoknya, besok pagi kalian berdua harus ke rumah gue. Bantuin gue pilih-pilih baju buat acara makan malam resmi besok. Dress gue banyak banget, gue bingung mana yang bakal bikin Galang langsung nggak bisa kedip!"
"Oke! Siap komandan!" jawab Jojo semangat. "Gue bakal bawa insting fashion gue. Kita bikin Galang sadar kalau tunangannya ini adalah bidadari Jakarta."
"Oke, bye gais! Love you!" Fiora mematikan sambungan telepon dengan perasaan berbunga-bunga. Malam itu, ia tertidur dengan senyuman lebar, memimpikan masa depannya bersama Galang.
Sementara itu, di kediaman Dirgantara...
Berbeda dengan Fiora yang penuh warna, kamar Galang didominasi warna abu-abu tua dan hitam. Minimalis dan sangat rapi, tanpa ada satu barang pun yang diletakkan sembarangan.
Galang melempar jasnya ke atas kursi kerja. Ia melonggarkan dasinya dengan kasar, seolah benda itu sedang mencekik lehernya. Pikirannya masih dipenuhi oleh pengumuman sepihak ayahnya tadi.
"Tunangan..." gumamnya dingin.
Ia berjalan menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kota. Di matanya, Fiora hanyalah seorang gadis manja yang hanya tahu cara menghabiskan uang orang tuanya. Ia pernah melihat Fiora beberapa kali di pesta bisnis, selalu dikelilingi teman-temannya yang berisik.
Bagi Galang, pernikahan adalah tentang aliansi, bukan tentang perasaan yang ia anggap membuang waktu. Ia tidak peduli seberapa cantik atau terkenalnya Fiora Gabriela di mata dunia.
"Kalau ini yang Papa mau, akan aku ikuti," bisiknya pada kegelapan malam. "Tapi jangan harap aku akan memberikan hati atau waktuku untuk gadis seperti dia."
Galang kemudian duduk di meja kerjanya, membuka laptop, dan kembali tenggelam dalam deretan angka serta grafik saham. Baginya, pekerjaan jauh lebih masuk akal daripada urusan perjodohan konyol ini.
Keesokan paginya, Fiora sudah tidak sabar menyambut hari paling bersejarah dalam hidupnya. Begitu alarm berbunyi, ia langsung meloncat dari kasur, mandi secepat kilat, dan berganti pakaian rumah yang santai namun tetap modis.
Tak berselang lama, deru mesin dari dua mobil mewah terdengar memasuki halaman rumahnya yang sangat luas. Fiora yang sudah menunggu di balkon segera berlari turun ke bawah untuk menjemput sahabat-sahabatnya.
"HAI—GAIIISSSS!" teriak Fiora girang sambil membuka pintu depan lebar-lebar.
"Hai! Semangat amat lu, Fio! Belum juga jam sepuluh pagi," celetuk Vanya sambil melepas kacamata hitamnya.
"Iya dong, harus! Ini hari besar gue! Ayo masuk, masuk!" ajak Fiora menarik tangan keduanya.
Saat melewati ruang tengah, mereka berpapasan dengan orang tua Fiora. "Permisi, pagi Om, Tante," sapa Jojo dan Vanya dengan sopan.
Papa Fiora hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya. "Pagi... kalian berdua mau-mau aja ya diajak Fiora pagi-pagi begini?"
"Biarin lah, Pa. Namanya juga anak muda lagi senang," sahut Mama Fiora sambil tersenyum maklum.
Tanpa membuang waktu, mereka bertiga langsung lari ke lantai atas, menuju walk-in closet Fiora yang luasnya hampir seukuran kamar kos elite.
Di sisi lain, di Gedung Dirgantara Group...
Galang sudah berada di ruang kerjanya. Penampilannya sangat tajam dengan setelan jas navy yang dipesan khusus dari penjahit terbaik. Ia tampak sangat profesional, meski aura dinginnya terpancar kuat.
"Pagi, Pak Galang," sapa sekretarisnya saat mengantar kopi.
"Pagi," jawab Galang singkat tanpa menoleh dari layar laptop.
Namun, saat layar laptopnya menampilkan grafik saham yang membosankan, tiba-tiba bayangan masa lalu muncul di benaknya. Ia teringat sosok Fiora—gadis yang selalu punya seribu satu alasan untuk mendekatinya saat mereka masih kuliah di London dulu. Mulai dari pura-pura salah kelas sampai pura-pura butuh tutor bisnis.
"Sialan... jadi gadis itu yang akan jadi tunanganku?" gumam Galang rendah. Ia memijat pangkal hidungnya, merasa sedikit kesal karena tahu Fiora bukan tipe gadis yang mudah menyerah.
Kembali ke kamar Fiora...
"Ges, ini bagus nggak?" Fiora menunjukkan sebuah gaun merah yang sangat mencolok.
Vanya langsung mengerutkan dahi. "Norak, Fio! Merah nyalang banget gitu, lo mau tunangan atau mau jadi banteng?"
"Terus apa dong? Haish!" Fiora mulai panik dan mengacak-acak gantungan bajunya.
"Hahahaha! Tenang, Darling," Jojo menyela sambil menggeser deretan baju. Tiba-tiba matanya berbinar saat menemukan sebuah gaun berwarna putih tulang dengan potongan yang sangat elegan. "Nih! Gaun ini pas di lo. Lekuk tubuh lo bakal kelihatan dikit tapi tetap sopan. Klasik, tapi berkelas!"
Fiora mengambil gaun itu dan menaruhnya di depan cermin. "Wihhh... iya ya! Ternyata gue punya gaun secantik ini? Kok gue nggak tahu ya?"
"Makanya, punya baju jangan kebanyakan! Sampai harta karun sendiri nggak tahu!" sindir Jojo yang disambut tawa oleh mereka bertiga. "Cepat coba! Kita harus pastikan Galang nggak bisa kedip malam ini!"